🏥🏥
"Saya bersedia merawat dan membesarkan Bayi itu sampai 5 tahun, tanpa perlu ada kontrak pernikahan." ucap seorang gadis.
Dia adalah Ananda, seorang perawat baru di sebuah rumah sakit. Ibunya sakit dan harus melakukan operasi jantung.
Di tengah kesedihan tentang kondisi Ibunya serta biayanya yang Mahal.
Tiba-tiba seorang wanita datang menawarkan untuk membayar Administrasi, dengan syarat merawat cucunya yang lahir prematur dan telah kehilangan sosok Ibu karena bunuh diri.
Namun syarat yang di minta bukan hanya itu, tetapi juga terikat dengan sebuah pernikahan dari Ayah, anak malang tersebut.
Akan kah Ananda menerima bantuan bersama syaratnya? Ananda tahu tidak akan ada cinta dalam pernikahan itu. Tapi yang tidak di ketahuinya adalah, dialah yang akan menjadi orang ke-3.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesanan
"Mama, Kelvin mau main," kata Kelvin setelah Omanya, Laily pergi.
"Iya, sayang."
Ananda mengelus kepala Kelvin dan tersenyum menyetujui kemauan Kelvin. Ia mengandeng salah satu tangan anak itu agar Kelvin tidak hilang dari jangkauan nya.
"Papa."
Mario melihat sebelah tangan Kelvin yang terulur minta di gandeng juga. Menurut Kelvin, akan sangat menyenangkan jika kedua tangan di pengang oleh Mama dan Papa.
"Boleh Papa pegang Kelvin, Kelvin tidak takut lagi sama Papa?" tanya Mario berturut karena senang dengan ajakan Kelvin.
"Tidak, Papa."
Kelvin menggeleng dan Mario dengan senang hati meraih tangan kecil itu, sebelah tangan nya masih setia memegang Paper Bag berisi baju pilihan Monika.
"Kelvin mau main itu."
Kelvin menunjuk permainan outdoor dan ada beberapa anak yang juga tengah bermain.
Ananda dan Mario pun melangkah menuju Arena agar Kelvin memilih mobil yang anak itu inginkan.
"Ayo di pilih, sayang. Mau naik mobil yang mana?" tanya Ananda.
"Kelvin tidak mau yang ini," kata Kelvin.
"Tadi Kan Kelvin tunjuknya mau main ini," ujar Ananda dengan lembut.
Kelvin melihat sekeliling dan dalam jangkauan mata kecilnya menunjuk ke arena lain, di mobil yang lebih besar yang bisa di naiki oleh orang dewasa.
"Kelvin mau main sama Papa dan Mama," kata Anak itu sambil menunjuk keinginannya. Di sana ada beberapa ayah yang bermain dengan putranya dan berputar-putar dalam arena, dan tentunya bukan cuma satu mobil yang tengah berjalan.
"Ayo."
Mario meraih tangan kecil Kelvin dan menuruti kemauan anak itu. Ananda hanya mengikuti dari belakang Bapak dan anak itu.
"Pegang bajuku."
Mario memberikan Paper Bag yang ia pegang pada Ananda karena Kelvin mau bermain dengannya.
"Mama," ujar Kelvin setelah dia dan Mario sudah siap bermain dan telah berada di atas permainan.
"Tidak sayang, Mama di sini saja. Mama tidak mau main," tolak Ananda dan Kelvin tidak memaksa. Wajah nya tetap ceria walau hanya bisa bermain dengan Mario.
"Siap?" tanya Mario pada Kelvin.
"Siap!" ujar Kelvin nampak sangat semangat.
Kelvin sangat ceria saat mobil mereka terus berjalan dan sesekali menabrak mobil lain dan membuat anak itu semakin senang karena Ayahnya sangat jago dalam memenangkan permainan.
"Mama!" teriak Kelvin melihat Ananda dan Ananda melambaikan tangannya sambil tersenyum, Mario juga itu bahagia melihat pancaran ceria yang belum pernah ia lalui bersama Anaknya itu.
Ya, selama ini Mario hanya bertanya pada Ananda mengenai perkembangan Kelvin. Kecuali saat anak itu masih balita, sesekali Kelvin menggendongnya jika saat pulang Kelvin belum tidur.
****************************
"Kelvin senang?" tanya Ananda setelah Kelvin dan Mario selesai bermain.
"Hu,um. Sangaattt senang!" ujar Kelvin mengekspresikan kebahagiaan nya sampai tangannya ikut membetuk lingkaran besar.
Mario jadi merasa bersalah, mungkinkah Kelvin sebahagia ini juga saat tidak main bersamanya.
"Terimakasih, Pak," ucap Ananda tiba-tiba.
"Untuk apa?" tanya Mario sedikit bingung walau wajahnya biasa saja.
"Sudah mau menemani Kelvin bermain. Jika Kelvin keluar bersama ku dan Ibu Laily, Kelvin tidak sebahagia hari ini," tutur Ananda dengan rasa terimakasih yang terlihat sungguh-sungguh.
Mario memperhatikan Kelvin yang masih berwajah ceria, sepertinya selama ini Mario sudah menelantarkan anak itu dan terlalu sibuk bekerja, dan terus menghabiskan waktu di kantor bersama dokumen-dokumen pekerjaan.
Mario tidak membalas ucapan Ananda namun terdiam dengan wajah tanpa ekspresi dan berjongkok menyamakan tinggi nya dengan Kelvin.
"Kelvin mau pulang atau masih mau main?" tanya Mario.
Ia berencana akan menghabiskan waktu hari ini bersama anaknya itu agar Kelvin semakin bahagia.
"Kelvin tidak mau main," jawab Kelvin.
Mario mengernyit dan berpikir sejenak.
"Mau jalan-jalan di tempat lain?" tawar Mario.
Ia merasa sangat bersalah, maka hari ini harus di habiskan waktunya bersama Kelvin agar anak itu bisa mengenang kebersamaan mereka selamanya.
"Mau!" ujar Kelvin semangat dan kepala kecilnya mengangguk riang setuju.
"Pak, sebaiknya kita berhenti untuk makan dulu. Nanti Kelvin sakit kalau melewatkan makan siangnya."
Hari memang sudah hampir siang, Ananda sudah memperkirakan akan makan tepat waktu saat sudah sampai di rumah jika pulang sekarang. Tetapi jika mereka masih ingin bersenang-senang di luar sebaiknya mengisi perut terlebih dahulu agar tidak terkena sakit.
Mario setuju dan mereka pun menuju restoran dan masih berada di gedung yang sama, sehingga tidak memerlukan waktu lama mereka sudah berada di meja dan telah duduk di kursi masing-masing.
"Mau pesan apa, Pak?"
Seorang pelayan menghampiri mereka dan bertanya pada Mario.
Mario menyebutkan jenis makanan yang di pesannya.
"Ibunya Mau apa?"
Pelayan itu mengira mereka ini adalah pasangan suami istri dan pasti suami lah yang akan memesankan untuk istrinya. Karena pengalaman nya seperti itu sehingga dia tidak ragu bertanya pada Mario.
"Mengapa tanya padaku? Tanya saja orangnya!"
Pelayan itu sedikit terkejut dan takut karena Mario menatap dingin dirinya, Mario tidak suka karena pelayan itu malah bertanya padanya mengenai makanan apa yang akan Ananda pesan.
Mengapa bertanya padanya? Tanya saja orangnya langsung! Kerja tidak becus dan pertanyaan bukan pada tempatnya.
Seperti itulah kira-kira rasa kesal Mario akan sikap pelayan itu.
"Maaf, Pak."
Pelayan itu membungkuk sambil memegang buku dan pulpen untuk mencatat pesanan pelanggan.
"Pak, jangan membuatnya takut," ujar Ananda membantu pelayan itu dan ikut mendapatkan tatapan mematikan dari Mario, namun Ananda mencoba abai agar pelayan restoran ini tidak semakin takut.
"Kak, saya pesan...."
Ananda pun menyebut jenis pesanannya dan juga Kelvin.
Saat pesanan untuk Kelvin, pelayan itu mencatat hampir selembar kertas penuh sangking banyaknya ini dan itu pada pesanan Kelvin.
Dari minuman dan makanan, setiap jenisnya sangat banyak yang harus di kurangi dan di tambahkan dengan ini dan itu.
Mario sampai tidak bisa berkata-kata mendengar pesanan Ananda untuk Kelvin dan pelayan itu juga baru pertama kali mencatat pesanan serumit itu.
"Jangan sampai salah dari apa yang dia sebutkan," peringat Mario pada pelayan itu. Karena ini makanan untuk Kelvin, dan memang Kelvin harus mengonsumsi yang terbaik.
Pelayan itu mengiyakan walau ada sedikit gurat keraguan pada wajahnya. Namun biarlah, biar Koki yang mengurusnya karena dia hanya melayani tanpa membuat masakan.
"Baik, Pak," katanya dan berlalu pergi.
Tidak berselang lama, pesanan mereka mulai di hidangkan di atas meja satu-persatu. Ada dua pelayan yang mengantarkan pesanan itu karena satu orang tidak sanggup membawanya.
"Makasih kak," ucap Ananda berterima kasih kepada kedua pelayan itu sebelum mereka berdua pergi.
Kedua pelayan itu membungkuk dan tersenyum lalu pergi.
Ananda hanya memesan satu makanan dan minuman untuk nya, tapi lain hal dengan Kelvin yang ada 3 jenis makanan untuk porsi anak-anak.
"Kelvin, ayo di makan."
Kata Mario menyodorkan salah satu makanan di depan Kelvin tapi anak itu tidak langsung mengambilnya.
"Tunggu dulu," cegah Ananda walau Kelvin memang tidak menyentuh makanan itu.
Mario kembali mengernyit heran, dan ingin marah karena Ananda langsung mengambil piring berisi makanan itu, dan mengendusnya lalu mencicipi sedikit makanan tersebut.
"Oke, pas."
"Ini sayang, makanlah," kata Ananda memberikan makanan yang banyak mengandung sayuran itu.
"Iya, Mama."
Kelvin mulai memakan makanan yang Ananda berikan, Ananda juga melakukan hal yang sama pada menu berbeda lainnya, dan semua makanan itu adalah makanan 5 sehat 4 sempurna.
Kelvin pintar dan merupakan anak pemilih dalam makanan, namun mulai terbiasa karena Ananda terus mengajarinya untuk makan dengan benar dan mensyukuri semua jenis makanan.
Itulah mengapa Kelvin selalu sehat walau kemarin sempat sakit. Namun hal itu karena dia tidak bisa berpisah dengan Ananda.
"Pak, Anda makanlah juga," ujar Ananda pada Mario yang dari tadi terdiam menyaksikan tingkah Ananda.
"Ah, iya."
Mario langsung memakan makanannya saat di tegur oleh Ananda.
Mario tidak pernah memperhatikan makanan Kelvin yang rupanya serumit itu, jika mereka makan bersama keluarga di rumah, Kelvin jarang ikut makan dan Ananda selalu bilang kalau Kelvin sudah selesai makan. Ya, karena Ananda sangat menjaga waktu makan Kelvin dan tidak pernah melewatkan jam nya.
Berikan dukungan kepada penulis berupa; Like, komen dan hadiah 🌹 nya juga Vote, jika kalian suka dengan ceritanya👆🙏🙏🙏
Follow juga Author Jumli agar tidak ketinggalan Update terbaru 🤗
And for you my dear Amanda Just Leave from here Amanda, Go get your Dream.