Asmara dan Andra jarang mengobrol walau pun sudah 10 tahun bertetangga, dan rumah mereka berseberangan. Namun suatu kejadian tragis malah mendekatkan mereka. Herannya, masalah datang bertubi-tubi, sampai Asmara mendapati kalau Andra adalah Boss baru di kantornya.
Sejak itu mereka saling mengamati. Lagipula... Tetangga itu memang adalah CCTV terbaik, bukan?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekretaris Oh Sekretaris
"Halah… Ngatur jadwal sama David Yudha, saya sendiri juga bisa kali." dengus Hector lewat telepon.
Asmara mencibir atas sikap Hector yang kadang menyebalkan, namun ya bagaimana, beliau berkuasa.
“Pak David itu, disuruh ketemuan sama tukang gorengan juga dia mau aja.” sambung Hector. “Dia se-available itu. Selalu ada waktu, kegemarannya bersosialisasi.”
“Bagus dong Pak, dia nggak tinggal di goa. Siapa tahu tukang gorengannya buat goreng saham.” timpal Asmara
“Kok kamu tahu jokes bapak-bapak saya?!”
“Saya kan ibu-ibu Pak.”
“Hehe.” Hector terkekeh. “Kamu belum pantas dipanggil ibu-ibu tahu nggak? Kamu nikahnya kecepatan jadi masih kelihatan muda walaupun anak kamu sudah abege.”
“Saya menikah saat saya siap, walaupun takdir berkata lain, ternyata dia bukan suami yang pantas untuk saya. Atau saya yang malah tidak pantas untuk dia.”
“Ya jelas kamu yang tak pantas untuk dia, harusnya kamu untuk saya. Hahahahaha!”
Asmara mengambil nafas panjang untuk mengumpulkan kesabarannya. Sejak perceraian terjadi, stock sabarnya setipis sayap capung. Sudah tipis, transparan pula.
Padahal jelas-jelas koleksi cewek cantik Hector setaraf artis Netflix. Masih saja ia gigih menggoda Asmara kalau ada kesempatan. Dia bahkan sampai tahu di mana Asmara tinggal, dan tahu kalau Andra adalah tetangganya. Segigih itu dia mengintai.
Hector pernah beberapa kali mengirimkan bingkisan dan kue-kue mahal langsung ke rumah Asmara setelah Adit tak ada. Ditulis di kartu sih untuk menghibur hati yang kesepian. Tapi di bawah kartu dituliskannya nomor pribadi. Tentu saja tak Asmara pedulikan.
“Jadi boleh tidak Pak saya booking ruangan Apsari setengah harga untuk pertemuan ini?” tanya Asmara malas-malasan.
“Langsung nembak setengah harga? Gratis kalau kamu mau kencan sama saya. Saya booking Menara BCA untuk pertemuan bersejarah kita. Andra belum nembak kamu kan ya? Bilang ke dia kalau kelamaan saya tikung nanti.”
“Saya tidak butuh ditembak siapa-siapa, nanti saya mati dua kali.”
“Hahahahahahaha!! Astagaaa, dingin banget sih, tapi kenapa saya malah merinding ya!” terdengar suara menggelegar Hector dari seberang.
“Kalau memang seberat itu meminjamkan ruangan di hotel, saya akan cari hotel lain ya Pak, Masih ada Garnet dan Jarvas. Baik Pak, terimakasih waktunya-”
“Jangan doooong! Iya deh saya diskon setengah harga! Kalau perlu kamar gratis buat kamu.”
“Tanpa CCTV di dalam kamar ya Pak.”
“Kok kamu tahu lagi?!”
“Kan saya yang memesan CCTV buat cewek-cewek bapak.”
“Ah! Iya juga. Kayaknya semua kartu AS saya sudah ketahuan sama kamu. Itu tandanya kita berjod-”
“Terimakasih ya Pak, Selamat Siang.” Asmara menutup teleponnya tanpa menunggu kalimat basa-basi Hector.
Lalu setelah itu Asmara pun mengecek jadwal selanjutnya. Di antara yang tertera adalah menghubungi notaris untuk persiapan resign Andra dari kantor lamanya. Menduduki posisi sebagai Direktur di dua perusahaan berbeda memang diperbolehkan sesuai Undang-undang negara ini, namun, karena ada kalanya Bank tempat Andra bekerja sekarang kemungkinan besar bisa saja bekerjasama dengan Kencana Life sebagai perusahaan asuransi, untuk menghindari berbagai kemungkinan buruk, Andra lebih memilih resign dan fokus ke Kencana Life saja.
Jadi Asmara butuh koordinasi dengan sekretaris di kantor lama Andra, mengenai dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Lalu…
“Bu Asmara, bisa bicara sebentar?” Airi, Kepala Divisi Corporate Secretary dan Rani, si drama queen, sudah berdiri di depan Asmara sambil menatapnya tajam.
Ada apalagi ini… keluh Asmara dalam hati.
Tapi lalu ia teringat,
Posisi mereka saat ini setara.
Intimidasi mereka tidak akan berdampak.
dan Asmara bekerja di Kencana Life jauh lebih lama dari Airi dan Rani.
Mereka memang memiliki banyak ‘follower’ dan mulut mereka berbisa. Tapi…
yah harus diakuinya sekarang, Asmara memiliki backing yang jauh lebih kuat.
“Ada urusan apa Mbak Airi? Ini masih jam kantor. Kalau mau ngajak saya ngopi bisa di jam istirahat saja.” desis Asmara sambil menekan tombol untuk menghubungi Asisten Andra di kantor lamanya.
“Langsung saja, siapa sih yang kamu jilat untuk berada diposisi ini?! Apa hubungan kamu dengan Pak Andra?” sembur Rani.
“Tolong bertanya dengan sopan ya Rani. Saya bukan pembantu kamu.” Asmara mendongak sambil tersenyum. “Lagipula, siapa kamu sampai berhak tahu hal itu?”
“Kalau begitu, mungkin saya bisa gali informasi kenapa kamu tidak berada di bawah manajemen Corsec? Sebelum saya bertanya lebih lanjut ke Bu Vica?” sahut Airi.
“Bu Vica bekerja berdasarkan peraturan perusahaan, dan penunjukan Asisten Pribadi di luar divisi Corsec diperbolehkan di sini.” kata Asmara.
“Kalau begitu mulai sekarang kamu tidak usah bertanya-tanya ke saya mengenai dokumen apa saja yang dibutuhkan untuk perusahaan ya! Kamu kan bekerja sendirian di sini! Mulai sekarang tidak boleh ada koordinasi antara sekretaris pribadi dengan Corsec!” suara Airi menggelegar.
Terlihat sekretaris yang lain yang duduk di belakang malah meringis sambil tepuk jidat. Karena mereka tahu persis bahwa justru Corsec-lah yang harusnya menjalin kerjasama dengan sekretaris pribadi karena semua data yang lebih spesifik dipegang oleh sekretaris pribadi.
“Kalau kamu butuh laporan OJK-”
“Bisa saya minta dari Keuangan.” potong Asmara
“Atau butuh KTP para direksi-”
“Bisa saya minta dari bagian legal.”
“Booking ruang meeting-”
“Saya akan hubungi bagian umum.”
“Annual report-”
“Saya bisa minta data ke Akunting.”
“Kalau-”
“Mbak Airi, kamu ingat tidak minggu depan Pak Dominic ulang tahun? Dia kan Presdir Induk? Kamu sudah pesan catering? Bunga papan bagaimana? Sudah pesan hampers? Sudah tanya dia ke luar negeri atau tidak? Mau dirayakan ke sini atau booking restoran? Kalau nggak salah ada gosip dia punya cewek baru, jadi sepertinya harus pesan dinner table untuk dua orang agar Pak Dominic terkesan dan mau lebih memperhatikan Kencana Life.”
“...”
Airi pun terdiam. Sudah pasti ia lupa mengenai ulang tahun semua orang penting. Di Perusahaan sendiri saja tak ingat apalagi di induk perusahaan.
“Anak Pak Menteri besok lusa resepsi, kamu sudah pesan bunga papan kan?” tanya Asmara lagi.
Airi terpekik, lalu segera berbalik dan lari ke mejanya sendiri, berikutnya dia sibuk di sana menghubungi banyak orang.
“Rani,” Asmara menunggu nada sambung dari seberang. “Pak Andra meminta saya bekerja sama dengan kamu. Jadi tolong untuk beberapa saat sampai proyek ini jalan dan penyusunan struktur perusahaan dibentuk, kamu tidak usah cari musuh. Percaya saja, saya sedang sangat malas berdebat dengan orang gila. Jangan kamu pikir saya tidak tahu mengenai perselingkuhan kamu dengan suami saya dulu ya, buktinya masih saya simpan.”
Rani menggebrak meja Asmara, lalu kembali ke mejanya sendiri dengan wajah dongkol.
“Beaufort Bank, dengan Seven di sini.” terdengar sapaan dari telepon seberang.
“Ya Pak Seven, Nama saya Asmara, Sekretaris Pak Diandra Rangga di Kencana Life. Saya menghubungi perihal rencana resign Pak Andra dari Beaufort, apakah ada perkembangan kabar dari manajemen?” dan Asmara pun kembali bekerja sesuai porsinya.
**
aahh, aku ralat.. yang KEREN ADALAH MADAM @Angspoer
yakin madam makannya hanya nasi dkk doank? canggih banget sumpah isi otaknya.... aku padamu madam.. @Angspoer