"Kematian adalah kepastian. Kabar baiknya, kau bisa menentukan bagaimana cara kau akan mati. Apakah dengan cara terhormat, ataukah terlaknat."
#Arsyelin
Arsyelin Wangsaguna adalah sorang detektif muda berbakat. Lulusan akademi detektif ternama dengan reputasi yang diakui seluruh dunia. Dalam petualangannya mengasah kemampuan, ia bertemu dengan sosok jin yang menyeretnya paksa untuk menemukan pembunuh teman manusianya. Sialnya, sosok jin dengan paras rupawan itu tak mau pergi meninggalkannya meskipun kasus kematian temannya telah berhasil ia ungkap.
Dan sungguh diluar dugaan, ternyata kasus kematian dengan organ yang hilang itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es di lautan dalam. Yang mana kasus-kasus itu membawanya bertemu dengan sosok pangeran terbuang yang pernah dilelang di perdagangan budak.
Petualangan seperti apa yang akan dilakukan oleh gadis yang merupakan turunan dari bangsawan Jawa itu?
Ikuti kisah mereka hanya di The Death Blossom.
Nb: source materials cover from Pinterest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richa Susilo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20. Finally Found You
Setelah mendapatkan kotak harta karun dengan jumlah tak ternilai itu, Arsyelin yang menyadari bahwa benda terkutuk sialan itu sudah pasti telah mendarat ke dasar danau, memutuskan untuk tidak segera meluncur naik ke permukaan. Masih ingin kembali mencoba keberuntungannya untuk menemukan benda itu.
Beruntungnya, gelombang air danau malam ini tidak begitu kuat. Yang mana tidak akan membuat benda itu terbawa arus dengan cepat, atau jika tidak, akan membuat peluangnya semakin kecil untuk menemukan benda itu.
Jika bukan karena nyawa Elan yang dipertaruhkan, sudah pasti ia tak akan mau repot-repot menyelam tengah malam ke dasar danau, berapa pun jumlah uang yang ditawarkan.
Sebetulnya, Arsyelin memang menyukai tantangan dan hal-hal baru yang menguji adrenalin. Namun, bukan hal gila seperti ini juga yang ia harapkan.
Tetapi, ia tidak akan menyerah. Pantang baginya
membuat lawannya tertawa riang di atas kegagalannya. Yang ada, siapa pun lawannya, harus membuka mulut tak percaya dengan apa yang telah ia berhasil lakukan. Terutama jika sebelumnya mereka mengganggap remeh kemampuan dirinya, sebuah tekad kuat segera saja memancar tak terbendung dari dalam dirinya ketika situasi itu terjadi. Membuatnya sungguh tak sabar untuk menyeringai penuh kebanggan ketika melihat lawannya harus dilanda kekecewaan sekaligus penyesalan karena sikap arogan yang mereka miliki sebelumnya.
Dan kali ini, ia sungguh ingin membuktikan pada pria terkutuk menjengkelkan itu siapa dirinya. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya bukanlah gadis lemah yang akan dengan begitu mudah ditindas, apalagi dipermainkan. Dirinya sangat berharga dan bernilai. Itulah yang ingin ia tanamkan dalam benak si pria
sialan di atas sana yang berbuat semena-mena itu.
Bara semangat dalam diri Arsyelin segera berkobar
seiring kuatnya keinginan yang seolah mengaliri seluruh nadinya dengan arus yang begitu kuat.
Gerakan tangannya semakin gesit, mencongkel dan
membongkar paksa bongkahan kerak dan karang yang mana ia melihat ada benda menyerupai benda sialan yang tengah ia cari. Sorot matanya menajam, memperhatikan dengan penuh kejelian setiap sudut yang terjangkau penglihatannya.
Sampai keanehan pun terjadi. Ketika ia mengerahkan
tenaganya untuk mencongkel bebatuan di depannya, yang mana energinya ia alirkan pada pisau lipat serbaguna yang katanya begitu berharga itu, sebuah benda bergerak ke arah tangannya dari dalam bebatuan tempat ia mencongkel-congkel. Benda
itu bergerak cepat seolah ada daya yang begitu kuat menariknya.
Dan betapa terkejutnya Arsyelin ketika tahu bahwa
benda yang melesat ke arah tangannya yang memegang pisau itu ternyata adalah benda sialan yang selama ini ia cari.
Senyum lebar langsung mengembang dari bibirnya yang nyaris membeku karena dinginnya air danau. Terlebih lagi, benda itu kini telah menempel kuat pada bilah pisau yang tengah ia pegang.
Tanpa menunggu lagi, gadis itu langsung meraih benda itu dalam genggamannya. Mencengkeramnya kuat dan menciumnya dengan gaya seseorang yang baru saja mendapat medali emas setelah memenangkan suatu ajang bergengsi tingkat internasional.
“Akhirnya aku menemukanmu, benda terkutuk sialan milik pria sinting sialan! Mari kita lihat bagaimana reaksi makhluk terkutuk itu ketika melihatku masih hidup dan berhasil menemukanmu!” batin
Arsyelin dengan seringai lebar penuh kemenangan. Tak lupa, ia juga mencium pisau lipat keberuntungannya setelah memasukkan benda yang menjadi penentu nasibnya dan Elan itu ke dalam saku celana. Memastikan bahwa benda itu tak akan
hilang ketika ia meluncur naik.
Setelah memastikan semua benda miliknya aman, Arsyelin segera menghentakkan kedua kakinya, meluncur ke atas. Mendorong tekanan air dengan kakinya yang ramping dan kokoh.
Begitu pandangan gadis itu membentur lambung kapal yang sepertinya tidak terlalu jauh, ia segera melepas segala peralatan menyelamnya. Kembali menyimpannya ke dalam saku celana. Menyeringai penuh rencana.
Ia tidak ingin pria arogan itu melihat segala peralatan canggihnya. Ia ingin melihat tampangnya yang seperti kuda nil idiot ketika melihatnya kembali tanpa kekurangan suatu apa pun. Pasti akan sangat menyenangkan memberinya kejutan seperti itu, bukan?
Sementara Arsyelin merasa begitu riang dengan segala rencananya, si pria yang sudah tak tahan lagi ketika berulang kali melihat arlojinya dan menyadari bahwa gadis keras kepala itu telah pergi selama sejam
lebih dan tak kunjung kembali, dengan gerakan tergesa menyambar peralatan menyelam yang tergelatak tidak jauh dari tempatnya berdiri, yang memang dengan sengaja ia siapkan beberapa menit yang lalu. Pria itu seolah kehilangan kepribadiannya. Ia sendiri tidak tahu kenapa berbuat demikian. Satu hal yang pasti, ada perasaan tak ingin gadis itu mati yang tiba-tiba muncul dari dasar hatinya.
Namun, belum sempat ia mengenakan peralatan
menyelamnya, sorot matanya yang setajam elang melihat sebuah gerakan seperti manusia yang tengah berusaha mencapai permukaan.
Dan betapa gembiranya ia ketika manusia itu ternyata
adalah Arsyelin Wangsaguna, satu-satunya gadis yang berani memakinya dengan begitu kasar.
Ketika gadis itu tampak begitu gesit berenang ke
arahnya, senyuman lebar penuh kelegaan tak mampu ia sembunyikan, terukir indah di parasnya yang rupawan. Semakin berkilau ketika diterpa cahaya keperakan rembulan yang menawan. Membiarkan keterkejutannya muncul kemudian.
Seakan baru tersadar akan sesuatu, pria itu seketika terbeliak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tubuhnya mematung. Keterpanaan terpancar jelas dari raut wajahnya.
Kedua bola matanya jelas-jelas menangkap seorang gadis yang kini telah begitu gesit memanjat lambung
kapal dengan bantuan seutas tali yang terjulur, yang mana sempat gadis itu hentak beberapa kali untuk memastikan kekuatannya. Dimana keberadaan tali itu sungguh tak ia disadari sebelumya. Bagaimana bisa ada tali tambang di sana? Apakah anak buahnya telah begitu teledor tak mengembalikan tali itu setelah menggunakannya yang entah untuk apa?
Namun, urusan tali itu hanya menyita perhatian si pria
sekejap saja. Karena kini perhatiannya sepenuhnya terarah pada seorang gadis yang tengah memanjat laksana tupai yang membawa buah kenari di sebelah
tangannya.
Kening pria itu mengernyit semakin dalam begitu jarak
mereka telah begitu dekat. Ia bahkan tak mampu menyembunyikan keterpukauannya saat Arsyelin melentingkan tubuhnya dan mendarat dengan sempurna di sampingnya.
Pria itu mengamati Arsyelin dari ujung kaki hingga
ujung kepala tanpa berkedip. Tepat sekali sebagaimana yang dipikirkan Arsyelin. Pria menjengkelkan ini seolah tengah menatap hantu. Mengernyit dalam dengan sorot mata penuh penilaian. Seolah tengah memastikan bahwa gadis di hadapannya sungguhan manusia dan bukannya mayat hidup.
“Kau baik-baik saja?” tanya si pria pada akhirnya. Menatap lekat ke manik sewarna madu Arsyelin, seakan tengah berusaha menyelami isi pikiran gadis di hadapannya yang kini tampak menyeringai pongah itu.
“Tentu saja aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu kecewa, Tuan. Karena sepertinya, Tuhan memang masih menghendakiku hidup untuk
menjalankan misi kehidupan. Jadi, bagaimana pun cara yang kau gunakan untuk melenyapkanku dari dunia ini, pasti hanya akan menemui kesia-siaan jika Tuhan tak mengizinkan aku mati,” sahut Arsyelin dengan nada arogan yang begitu kental.
Namun sepertinya, keterkejutan pria di hadapannya
sungguh mengalahkan harga dirinya yang setinggi langit. Membuat pria itu bukannya berseru marah akan sikap kasar Arsyelin, sebaliknya, ia justru menatap
gadis itu penuh tanya, ekspresinya begitu polos. Mengingatkan Arsyelin pada sepupunya yang masih berusia lima tahun.
“Bagaimana kau bisa bertahan hidup di bawah sana tanpa bantuan alat pernapasan? Apakah kau sungguh manusia?”
padahal ini cerita yang paling aku suka.
aku sampai membaca ulang beberapa kali sambil nunggu cerita ini di lanjutin, karna cerita ini memang seseru itu
selamat membaca 😊😊
good job outhor.. 👍👍
kapan-kapan
*SELESAIKAN APA YG SDH KAMU MULAI *
BIAR GK ADA HUTANG DIANTARA KITA ,
HABIS AQ CEK KARYA AUTHOR NGEGANTUNG SMUA ... ENK TU FINISH 1 BKIN LAGI IGAN LONCAT2 ,BIAR GK BERSA SAKIT DITINGGL PAS SYNG2NYA wkwkwkwk...😁
OVERALL NICE STORY , SO IM WAITING UR UPDTE OKAY ,,,,😊
THANKS BE4