( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma penghianatan
Dan waktu berlalu bagai desing
peluru yang melesat begitu cepat.
Sudah satu bulan Taani menjadi Guru di panti, bukan hanya menjadi Guru
melukis wanita itu juga merangkap menjadi Guru Matematika dan pelajaran yang lain
seperti halnya yang diajarkan di Sekolah sekolah formal.
Taani menikmati hari harinya di panti,
Membantu penjaga Panti membuat kue, berkumpul bersama Anak anak untuk bercerita dan mendongeng.
Sudah satu bulan ini juga Taani jarang bertemu dengan Pria yang meskipun hidup satu atap dengannya.
Bertemu hanya di meja makan ketika sarapan, tidak ada percakapan panjang, hanya
basa basi yang selau terdengar canggung.
Di dua minggu pertama Rizwan rajin menanyakan perkembangan Anak anak di
panti memperhatikan Taani dengan antusias saat bercerita
Tapi sekarang.
Sudah hampir dua pekan ini Rizwan pulang ke rumah ketika Taani sudah
terlelap, dan berangkat pagi pagi sekali, mengantarkan istrinya ke panti hanya dengan diam.
Bahkan, akhir pekan pun pria yang beberapa hari ini begitu pucat itupun masih harus keluar rumah.
Dua minggu ini kehidupannya Rizwan kembali berubah, semakin menjauh dengan Taani.
**
Malam ini Taani menunggu suaminya di ruang tengah.
Suami?
Eh
Wanita itu mengenakan dress rumahan bermotif bunga tulip, duduk dengan mata yang menahan kantuk, sesekali melirik jam dinding yang sudah menunjukan waktu hampir tengah malam.
“Kemana dia?” bertanya pada dirinya sendiri.
Taani kembali merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang yang terbuat
dari rotan, matanya sedikit terpejam.
Deru suara motor yang sudah tidak asing di telinganya terdengar berhenti di halaman rumah, membuat Taani membuka matanya lebar lebar.
Beranjak dari duduk, membuka pintu menatap Rizwan yang selarut ini baru
sampai di rumah.
Taani tahu kalaupun ada lembur di kantor tidak akan pernah sampai
selarut ini.
Memperhatikan wajah lelah pria yang berjalan menghampirinya dengan
kemeja yang sudah terlihat acak acakan.
“Kau baru pulang?”
Rizwan mendongakkan kepala, menatap wajah istrinya yang masih terlihat cantik
meski dalam keadaan mengantuk sekalipun.
“Belum tidur?” menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
“Belum. Kau darimana?” Taani mengikuti langkah Rizwan, sekilas menghirup aroma
aneh dari tubuh Rizwan saat melewatinya.
Ada apa ini? Tidak mungkin! batin Taani menjerit.
Satu bulan lebih hidup bersama dalam satu rumah membuatnya hafal aroma dari tubuh Pria dihadapannya ini.
Dan ini bukan parfum suaminya.
Rizwan duduk di kursi rotan, melepas kacamata anti radiasi, memijit pelipisnya yang terasa pening.
“Aku lembur, mungkin akan setiap hari pulang malam.” Menatap wajah Taani yang berdiri di hadapannya.
Bohong!
Dia bohong kan!
“Kau sudah makan? Mau aku panaskan air untuk mandi?" Taani kembali memberikan penawaran.
Mencoba melunakkan suara, berusaha membuang jauh jauh perasaan dihatinya yang
seperti mencium aroma penghianatan.
Rizwan menggeleng, "Terima kasih." Kemudian beranjak dari duduknya, menatap Taani dengan tatapan sendu.
“Aku bisa menyiapkannya sendiri kau istirahat, besok masih harus mengajar kan?” tersenyum hangat kemudian
meninggalkan Taani yang masih berdiri di ruang tengah.
Ya tuhan Dia pria yang
baik kan ? tidak mungkin dia melakukan hal yang nista!
Taani mengusap dadanya yang terasa sesak, duduk di kursi rotan bulir
bulir air mata sudah mengalir di wajahnya, hatinya terasa begitu sakit.
Tapi dirinya belum
sepenuhnya yakin dengan semua dugaannya.
Dia percaya Rizwan, bisa jadi setelah Taani berhenti dari perusahaan itu
ada perubahan sistem lembur untuk karyawannya.
Taani mencoba menenangkan hatinya.
Risya.
Hanya Risya yang bisa menjawab semua pertanyaan nya ini.
Buru buru masuk kedalam kamar mengambil ponsel mencari nama sahabatnya.
Mencengkram pinggiran tempat tidur, kembali menatap layar
ponselnya, menghubungi Risya
sedetik dua detik tidak ada jawaban.
Tidak di angkat.
**
Semalaman Taani hanya berguling di atas tempat tidur, matanya sulit terpejam
berusaha mengusir rasa penasarannya, namun nihil.
Matanya tetap terjaga.
Taani ingat sesuatu.
Mbak Tika, wanita yang dulu pernah diceritakan Risya yang mempunyai
hubungan khusus dengan Rizwan.
Mengambil ponselnya, mulai mencari sesuatu.
Mencari aplikasi yang sudah satu tahun ini di hapus nya, karena terlalu banyak
kenangan di sana.
Awalnya ragu ragu, tapi demi rasa penasarannya Taani kembali meng-install
aplikasi itu, peduli amat dengan semua kenangannya.
Mulai mencari sesuatu.
Akun milik sahabatnya Risya.
Memangnya siapa lagi wanita yang paling tahu tentang kehidupan pribadi
orang orang penting yang bekerja di kantor selain Risya.
Dulu dengan heboh Risya bercerita bahwa dia melihat bu Tika meng-upload
foto liburannya di kota XX.
Terus mencari
Bukan.
Yang ini?
Bukan!
Kenapa ada begitu banyak nama yang sama namun wajah yang berbeda di akun yang diikuti sahabatnya ini.
Cari, Taani terus mencari.
Ah ini dia
Taani menemukan nama akun yang dicarinya, lengkap dengan foto yang di
hafal taani.
Wanita dengan pakaian sopan tersenyum cantik itu.
Taani menarik nafas, Meyakinkan diri bahwa semuanya tidak akan sesuai
dengan apa yang difikirkan.
Mulai menggerakkan jarinya.
Apa ini?
Deg, ponsel yang di genggamnya terlepas, jatuh di atas tempat tidurnya.
Bersambung...
sukses
semangat