Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 - Penolakan
"Pak Danang." Fathan heran sosok yang akan membantunya mencari bukti kejadian 3 tahun lalu datang menyapa dan bilang mau ikut?
Pria paruh baya itu tersenyum mengangguk, menghampiri Fathan yang siap masuk ke dalam mobil.
"Boleh saya ikut mengantarkan kamu?"
"Bapak tahu rumah saya dari mana?" tanya Fathan heran, dia tidak merasa memberitahukan alamat rumahnya, lalu menoleh pada Aldi. "Elo yang ngundang?"
"Bukan Aldi tapi ibu yang ngundang," sahut Bu Rima dari dalam mobil.
"Hah! kalian saling kenal?" seru Aldi dan Fathan bersamaan.
"Ibumu teman saya dulu di kampung," balas pak Danang.
Mata Fathan menyipit, menatap ibunya penuh curiga lalu menatap pak Danang. "Teman apa mantan?"
"Huss, jangan banyak ngomong kamu, buruan masuk! Mau nikah tidak?"
"Ya mau lah Bu," balas Fathan ikut masuk juga lalu berucap pada pak Danang. "Pak, saya butuh penjelasan."
Yang di tatapan tersenyum tanpa menjawab hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Om, kalian punya hubungan?" tanya Aldi penasaran berbisik.
"Doakan saja," balasnya singkat.
Mata Aldi terbelalak. "Oh tuhan, ini kejutan, jadi bener kalian mantan?"
*******
Alea tidak percaya Fathan datang bersama rombongan, ia pikir cuman Fathan sama ibunya saja tapi ternyata ngajak banyak orang.
Sekarang Alea makin kebingungan mencari cara agar mereka di terima dengan baik oleh bapak dan yang lainnya. Jika sudah begini dia harus apa sekarang?
Gavin sendiri membiarkan saja, dia sudah di kasih tahu Bu Rima soal ini dan Gavin dukung saja terpenting Alea nikah.
"Mas, gak salah bawa orang selain ibu? Kalau sampai orang-orang di sana marah dan menolak jangan salahkan aku dan Om, ya." Alea kebingungan takut tak sesuai harapan.
"Sebenarnya juga gak mau Yank, tapi ibu yang ngatur dan mengejutkannya di bantu pak Danang mantan ibu untuk menyiapkan semua ini," balas Fathan syok sama kenyataan barusan.
Ibunya cerita Pak Danang memang mantan ibunya saat di kampung dan saat masa remaja.
"Jadi kamu nyalahin ibu nih? Salahin saja Danang yang maksa ikut dan beli barang-barang," balas ibu kesal juga sama tingkah aneh orang masa lalunya.
"Kok jadi nyalahin saya? Kan kata kamu mau di abadikan sebab ini momen langka dan katanya pernikahan kedua Fathan sama mantan istrinya, ya udah sekalian aja supaya jadi momen dan banyak doa buat mereka," balas pak Danang tak mau kalah.
"Kan saya udah bilang gak usah soalnya cuman kunjungan saja, eh kamu malah kekeh ingin ikut," balas Ibu sewot.
"Kalian ini kenapa malah ngerumpi sih? Mau berangkat tidak?" Celetuk Gavin sudah ada di dalam mobil siap nyetir.
"Jadi!!"
"Jadi Om, kita ikut juga," seru Vale dan Ayumi baru saja tiba di depan rumah Alea. Mereka turun dari taksi online lalu beralih naik ke mobil yang di tumpangi Gavin.
"Kalian siapa yang ngabarin? Gue gak ngabarin ya," seru Alea seraya melangkah masuk ke mobil Gavin.
"Om Gavin lah," balas keduanya kompak.
"Alea kamu bareng kita aja semobil sama saya dan Bu Rima," ujar Pak Danang.
Langkah Alea berhenti, masih dengan Azka di gendongannya ia pun mengangguk. Jadinya Alea, Azka, Fathan, Bu Rima dan pak Danang semobil menggunakan mobil pak Danang.
Di mobil Gavin ada Vale, Ayumi, serta Aldi juga ikut gabung bareng Gavin dan mobilnya di titip di rumah Alea.
3 mobil meninggalkan pekarangan rumah Alea, 2 berisi manusia dan 1 mobil membawa banyak barang untuk Alea.
****
Sepanjang perjalanan, Fathan diam mendengarkan celotehan Alea, Azka, dan pak Danang sesekali Bu Rima menimpali. Bukan tidak banyak bicara tapi lebih ke berpikir apa akan di tolak atau diterima sama ayahnya Alea.
"Masih jauh gak tempatnya, Lea?" tanya pak Danang sedang menyetir.
"Sudah dekat, Pak. Tinggal melewati pesawahan ini dan kebun sayur saja, sampailah di kampung halaman," kata Alea menjelaskan jalan mana yang harus mereka lewati.
Seperti yang dibilang Alea, mereka pun sampai di tujuan utama. Tempat yang terbilang cukup ramai penduduk dengan berbagai perkebunan menghiasi perjalanan serta suasana sejuk dengan berbagai macam pohon di sekitar rumah masing-masing masih terlihat asri. Gunung-gunung tinggi juga menjulang kala mereka melewati jalan, bahkan kampung halaman ayahnya Alea berada di bawah kaki gunung.
Satu persatu turun dari mobil, Azka kini beralih di gendongan Fathan. Anak itu udah mulai menerima Fathan lagi setelah di kasih paham sama Alea dan Gavin.
"Ini lumah siapa Mah?" tanya Azka, mata polosnya memperhatikan setiap sudut tempat.
"Keluarga mama, nanti kamu diam aja ya, harus nurut kata mama dan yang lainnya," ucap Fathan menasehati.
"Jadi patung?" tanya Azka polos.
"Iya, sekalian gak usah gerak aja, Tante kutuk jadi patung," sahut Ayumi seperti biasa suka iseng.
"Tante atu tutuk jadi koyok."
"Bicara dulu yang bener baru jawab," balas Ayumi terkekeh gemas.
"Udah benel kok, Mama Tante Ay ngecelin," seru Azka mengadu. Pipinya mengembung kesal, bibir mungilnya manyun dan pipinya berpaling kesal.
Tingkahnya menggemaskan membuat yang lihat terkekeh gemas.
Interaksi mereka diperhatikan oleh orang yang ada di dalam rumah, seorang wanita paruh baya mengintip dibalik tirai.
"Apa-apaan ini? Dia datang bawa orang banyak sedangkan dia cuman ngasih 2 juta, mana cukup?" gumamnya hanya di dengar sama diri sendiri. Segitu aja harusnya bersyukur eh malah ngomel, ini namanya gak tahu rasa bersyukur.
"Kamu sedang apa, Yuni?"
Yang ditanya menoleh ke belakang. "Tuh anak haram mu datang kesini," celetuknya bernada sinis.
"Mau ngapain lagi dia kemari?"
"Sudah aku bilang anak itu hanya bikin malu saja, dia itu anak dari selingkuhan istrimu. Dia datang kesini mau ngapain coba selain bikin malu kita. Seharusnya bapak tegas sama dia untuk tidak mengusik kita lagi, seharusnya bapak gak berinteraksi lagi sama anak dari mantan istrimu."
Raut wajah pria itu datar, tatapannya kosong, "kita ke luar sekarang!"
Di luar.
Alea diam namun tubuhnya berubah tegang, tiba-tiba saja dia menggenggam tangan Fathan yang ada di samping kirinya dan Gavin pun bisa merasakan ketidaknyamanan Alea, dia juga menggenggam tangan Alea sehingga kini Alea berada di tengah dua lelaki tampan.
Perubahan pada Alea bisa dapat Fathan rasakan terlebih cara Gavin menenangkan membuatnya makin penasaran mengenai hubungan Alea dan ayahnya.
Pintu rumah di depannya di buka memperhatikan seorang laki-laki bertubuh tinggi, berkumis tipis serta janggut tipis. Matanya tajam dengan aura menyeramkan dan terlihat berbeda.
"Mau ngapain kamu kesini? Masih berani datang lagi kesini setelah saya tolak berkali-kali? Pergi sana! Saya tidak mau berurusan sama keluarga pengkhianat seperti kalian!" katanya begitu tegas dan juga terdengar menyeramkan. Mata bersorot marah, nada tinggi terkesan mengusir, dan terlihat muka tidak suka.
Mata Alea berkaca-kaca, ini yang paling Alea takutkan jika menemui pria ini.
Reaksi pria tua depan rumah membuat yang lainnya terkejut, reaksi pemilik rumah tidak seperti dugaan mereka.
"Tunggu dulu, ini ada apa ya? Kenapa kamu main usir anakmu sendiri? Apa kamu tidak pernah merindukan anakmu? Baru datang sudah main usir saja, situ waras?" Bu Rima mulai membela, dia tidak suka sama cara pria tua di depannya.
"Jelas saya tidak mau berurusan sama dia karena dia bukan siapa-siapa bagi saya. Dia anak haram dari wanita yang pernah saya nikahi! DIA BUKAN ANAK SAYA!"