Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikrar
Aku mengenakan baju yang menurutku paling cantik hari ini. Tak peduli dikata-katain teman-temanku. Aku berdandan hanya untuk seseorang hari ini. Orang spesial yang judes pada orang lain, tapi lembut padaku.
Aku memperhatikan kalau ia suka saat melihatku dengan balutan warna tanah, dengan dress agak seksi yang memperlihatkan lekuk tubuh, namun dia juga kurang nyaman kalau orang lain melihat tubuhku, yang dari masa pubertas memang sudah seksi.
Jadi kupilih warna coklat muda pada dress one piece. Untuk menutupi lekukanku, aku membawa cardigan panjang rajutan, akan kukenakan kalau berhadapan dengan orang lain. Tapi kulepas kalau bersamanya.
Kulihat dari jendela, mobilnya sudah ada di depan gerbang kost. Dengan agak terburu-buru aku menyemprotkan parfum aroma bunga di area leher, dan sedikit lipgloss matte anti nempel.
Aku berencana melakukan tindakan yang sedikit provokatif kali ini. Aku tahu tindakanku ini sedikit ceroboh. Sudah kupikirkan semalam, kucari profil keluarganya, kupelajari kasus perceraiannya. Memang dalam waktu singkat, tapi paling tidak aku sudah memiliki gambaran secara umum, nggak buta-buta amat sama gosip yang beredar.
Keluarga Pak Felix sebenarnya orang kaya lama, tapi memutuskan untuk tidak terekspos. Kebanyakan keluarganya berkarier di luar negeri. Makanya menantu mereka banyak yang dari barat dan Eropa. Namanya keluarga Ranggasadono, sekitar pertengahan tahun 50an, sang leluhur menemukan emas 2 ton di halaman belakang rumahnya. Dengan emas itu mereka investasi kecil-kecilan di bidang properti dan Transportasi.
Kulihat keluarga Pak Felix memang mix race, jadi mereka juga tidak terlalu mementingkan bibit-bebet-bobot.
Pak Felix ini satu dari beberapa cucu yang berhasil berkarier di luar negeri. Seperti dijelaskan di awal, Pak Felix mengurus usaha Finance dan Asuransi di Amerika. Sepertinya itu milik mertuanya. Saat dipinang Garnet, ia akhirnya tertarik, dan pulang ke kampung halaman sambil melengos sedikit tanam saham di Beaufort Co dan Amethys.
Sepertinya saat dia memutuskan pulang, dia sudah tahu mengenai perselingkuhan Felicia.
Tinggal cari waktu tepat untuk mengungkapannya ke publik saja. Terbayang betapa hancur hatinya saat mengetahui orang yang paling dikasihinya malah berkhianat.
Aku paling tahu sakit hatinya saat kita sudah habis-habisan untuk seseorang, tapi effort kita dianggap Nol. Malah Minus.
Masa lalu kami tinggal di belakang. Tidak dilupakan untuk pengingat agar tidak salah jalan di masa depan, juga tidak diratapi karena hikmah dari sana tak ternilai.
Pembelajaran bertahun-tahun membuat kami semakin dewasa, unik sekali saat Tuhan menentukan jodoh makhluknya. Terus terang saja, untuk sampai ke tahap ini aku harus berjibaku dengan macam-macam kejadian, sehingga sang kekasih hati jadi jauh lebih berharga.
Itulah Perjuangan.
Sesuatu yang didapatkan dengan berjuang susah payah, historis tinggi, akan lebih bernilai di hati.
Aku pun membuka pagar, lalu menghampiri mobilnya. Kubuka pintu mobilnya, kupastikan ia sendirian di dalam.
Pak Felix tersenyum lembut saat melihatku, aku bisa melihat kilatan matanya saat memandang belahan dadaku.
Aku pun duduk di kursi penumpang di sampingnya, menutup pintu, dan mendekat ke arahnya.
Aku menciumnya.
Ya, aku kaget, dia pun kaget sampai tidak bisa bereaksi.
Tanganku menangkup rahangnya, kulepaskan sesaat, kutatap matanya yang masih bingung, dan kucium lagi.
Kali ini ada balasan, kurasakan tangannya di leherku, menarikku mendekat ke arahnya.
Dengan tangannya yang berjemari panjang itu menggenggam tanganku yang ada di rahangnya.
Ciuman pagi kami terasa manis.
"Pagi-pagi udah semangat ya si Bu Cin," godanya saat kami selesai.
"Dicuekin seminggu, gimana dong?!" balasku.
"Kondisi aman?"
"Lumayan. Sidang Tommy 3 bulan lagi. Pak Felix gimana?"
"Restruktur saya tolak. Biar saja mereka colaps. Amethys sedang mengajukan penawaran untuk pembelian seluruh saham Rahadja,"
"Pak, kalau kita mau memulai suatu hubungan, saya ingin yang serius,"
"Kamu itu masih 25, jalan kamu masih panjang. Harusnya itu kata-kata saya,"
"Saya suka anak kecil, saya ingin punya anak. Kalau tak bisa, adopsi yang banyak boleh juga!"
"Kita pacaran aja belum kamu udah ngomongin-"
"Saya juga maunya rumah yang tanpa konflik, di daerah yang dingin aja. Jakarta Panas Pak, sumpek! Daerah Sentul oke kali ya? Rumah satu lantai tapi kamarnya banyak, halamannya luas, biar anak kita bebas lari-lari!"
"Hah?"
"Saya juga inginnya jadi ibu rumah tangga Pak, tapi impian saya bisa buka cafe sederhana di rumah. Yang dari jendelanya ada hamparan taman penuh bunga. Jadi enak sambil ngopi sambil baca novel di sana,"
"Hm…."
"Saya tidak tertarik dengan kapitalisme, biarlah itu jadi urusan bapak saja. Mau pulang sekali seminggu juga terserah asal bapak setia sama saya-"
Dia menciumku lagi.
Kali ini dengan sesapan yang in tim dan tidak menungguku maju.
"He, bawel…" desisnya sambil mengelus bibirku dengan ibu jarinya. "Enak saja ninggalin bisnis ke saya sendiri, kamu tunjuk dulu Pjs kamu, baru kamu bisa resign jadi IRT!"
"Susah banget saya pake nunjuk pengganti saya! Itu kerjaan SDI Pak!"
"Jangan panggil saya pakai 'Pak' lagi, dong…" keluhnya sambil melepaskanku.
"Om?"
"Kamu nih…"
**
Pak Dimas menatapku sambil mengernyit.
Lalu menatap surat yang barusan kuletakkan di mejanya.
Lalu kembali menatapku.
Dengan sinis, ia juga menoleh ke arah Felix yang duduk di cabinet sebelah meja kerja Pak Dimas.
Felix hanya cengengesan
"Kemarin itu baruuuuu saja kamu minta di mutasi ke Malang. Sekarang malah ngajuin resign! Jangan bilang kamu mau nikah sama ni Sambel Cobek makanya kamu mengajukan pengunduran diri,"
"Tapi kan dari kemarin saya terus yang kerja Paaaak, sekali-kali saya pingin ngerasain jadi istri yang di rumah. Kalau bosan yaaa ngelamar lagi di sini, hehe,"
"Ya nggak bisa dong, mana mungkin saya mau nerima istrinya komisaris sendiri haaaah?!" desis Pak Dimas.
"Yaaah saya udah nyaman di sini, kamu aja yang resign deh, fokus sama yang dua itu aja," tawarku ke Felix.
"Apakah?! Cuan di sini lebih gede," gerutu Felix menimpaliku.
"Kamu sudah tulis tanggal resmi resignnya. Hm… Dua bulan lagi?" Pak Dimas menatapku sambil mengangkat alis.
Aku mengangguk,"Sambil jalan proses administrasi di KUA. Nikah KUA aja kan ya kita?"
"Hm," gumam Felix menimpaliku.
Aku pun tersenyum.
"Ini perlu diumumkan atau tidak?" tanya Pak Dimas.
"Nggak usah biar nggak heboh, gue males ribut-ribut…"
"Justru kalo tau-tau lo berdua udah nikah, jatohnya bukan heboh lagi. Gempar segedung!"
"Saya tunjuk Kenanga untuk jadi Pjs boleh ya Pak?"
"Kenanga ya? Kamu training dulu ya. Direktur Bisnis yang baru lumayan saklek loh orangnya,"
"Oh udah ada ya kandidatnya?" tanya Felix.
Pak Dimas mengangguk. "Bukan saklek lagi, beringasan!"
"Siapa sih? Theo bukan?"
"Ya dia,"
"Waaaah, bisa-bisa semua kena semprot hehe. Kalau gitu, Beb, teman kamu ditatar baik-baik. Salah dikit nangis darah tuh,"
Aku mencebik, "Apa'an udah Bab Beb Bab Beb aja. aku maunya dipanggil Yang,"
"Udah biasa itu..."
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
sesuka itu aq pada karyamu thor