NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:213
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Jebakan di Altar Inti

Keheningan malam di markas besar Klan Badai Angin terasa semakin pekat saat jam menunjukkan waktu tengah malam. Angin yang bertiup di koridor batu tidak lagi bersuara wajar. Udara bergeser dengan frekuensi rendah yang tajam, menandakan sirkulasi energi pelindung klan sedang berada di titik rotasi terendah.

Di bawah bimbingan Zian, Kala bergerak laksana bayangan hitam yang menyelinap di antara celah-celah menara pengawas ketiga. Zian menggunakan kuas tembaga kunonya untuk menorehkan simbol-simbol pengacau frekuensi pada setiap batu fondasi yang mereka lewati, memastikan bahwa fluktuasi energi mereka berdua melebur sempurna dengan udara sekitar.

Di bawah bimbingan Zian, Kala bergerak laksana bayangan hitam yang menyelinap di antara celah-celah menara pengawas ketiga. Zian menggunakan kuas tembaga kunonya untuk menorehkan simbol-simbol pengacau frekuensi pada setiap batu fondasi yang mereka lewati, memastikan bahwa fluktuasi energi mereka berdua melebur sempurna dengan udara sekitar.

Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah pelataran terbuka yang melingkar. Di pusat pelataran itu, berdiri Altar Inti Badai Sembilan Langit.

Altar itu berbentuk panggung batu giok hijau raksasa yang di atasnya melayang sebuah kristal badai purba berukuran rumah. Kristal itu memancarkan kilatan petir hijau dan pusaran angin topan mini yang menjadi sumber daya utama dari seluruh Formasi Dewa pelindung klan. Namun, atmosfer di sekitar altar ini terlalu sunyi. Tidak ada satu pun pengawal yang terlihat berjaga.

"Senior, ada yang salah," Zian mendadak menahan langkah Kala, wajahnya memucat saat matanya menyapu pola lantai giok. "Garis-garis energi di lantai ini... strukturnya telah diubah! Ini bukan lagi rotasi formasi biasa. Ini adalah Formasi Pengunci Jiwa Sangkar Langit! Seseorang sengaja memancing kita ke sini!"

Belum sempat Zian menyelesaikan kalimatnya, sebuah tawa yang menggelegar dan penuh kemenangan meledak dari kegelapan di atas altar.

"Hahaha! Zian, adik tiriku yang cacat... kau benar-benar membawa tikus jubah hitam itu langsung ke kandang pembantaian!"

Dari balik bayangan kristal badai raksasa, melangkah keluar seorang pemuda berjubah hijau mewah dengan sulaman elang angin di dadanya. Dia adalah Zian Rui, saudara tiri Zian sekaligus dalang di balik kehancuran nadi kultivasi Zian. Rui berada di Ranah Pengendali Jiwa Tingkat Puncak.

Namun, bukan Rui yang membuat atmosfer tempat itu mendadak mencekam. Dari balik pilar-pilar giok, melangkah keluar empat orang pria tua berambut putih yang mengenakan jubah kebesaran klan. Tekanan batin (pressure) yang mereka pancarkan meledak serentak, membuat retakan instan pada lantai pelataran batu.

Mereka adalah Empat Tetua Agung Klan Badai Angin. Tiga di antaranya berada di Ranah Raja Bumi Tingkat Puncak, dan pemimpin mereka—seorang pria tua dengan jenggot panjang bernama Tetua Feng—telah mencapai Ranah Penguasa Langit (Sky Sovereign) Tingkat Menengah.

"Zhuo Yan dari Klan Api Berkobar telah mengirimkan pesan spasial kepada kami tiga hari lalu," Tetua Feng melangkah maju, matanya yang tua berkilat kejam dan serakah menatap jubah Kala. "Dia bilang, ada seorang iblis waktu bermata hitam yang meratakan Perguruan Pedang Langit dan sedang berjalan menuju klan kami. Kami sengaja membiarkan sisa cetak biru formasi itu bocor agar kau dan anjing pelarian klan ini masuk ke dalam jebakan mutlak kami!"

Tetua Feng menghentakkan tongkat kayu anginnya ke tanah.

BOOM!

Seketika, Formasi Pengunci Jiwa Sangkar Langit di bawah kaki mereka menyala terang benderang dengan cahaya hijau pekat. Sebuah kubah energi angin berbentuk sangkar raksasa mengunci radius seratus meter di sekeliling altar. Di dalam sangkar ini, gravitasi melonjak hingga sepuluh kali lipat, dan aliran udara mendadak mengeras laksana semen beku, mengunci pergerakan fisik dan menghambat aliran Qi di dalam tubuh Kala dan Zian secara paksa.

Zian langsung tertekuk, berlutut dengan napas tersengal-sengal di atas lantai giok karena tidak kuat menahan beban gravitasi formasi. "Senior... maafkan aku... aku tidak menyangka mereka akan memodifikasi formasi inti secepat ini!" ratap Zian dengan darah yang mulai menetes dari hidungnya.

Zian Rui tertawa puas dari atas altar. "Mati kalian berdua! Setelah kami mencungkil matamu dan merebut pedangmu, Klan Badai Angin akan mempersembahkannya kepada Istana Langit demi mendapatkan keabadian!"

Kala berdiri tegak di tengah sangkar gravitasi tersebut. Meskipun zirah hijau samaran yang dipakainya mulai retak dan hancur berkeping-keping akibat tekanan formasi, tubuhnya tetap tidak bergeming satu senti pun. Di balik kain kasa hitamnya, netra Black Hole miliknya berputar dengan ketenangan yang mengerikan. Peringatan yang diberikan oleh Putri Liana beberapa jam lalu terbukti sepenuhnya benar. Tempat ini adalah jebakan maut.

Tetapi, mereka semua melakukan satu kesalahan fatal. Mereka mengira Formasi Dewa bisa mengunci segalanya. Mereka tidak tahu bahwa di hadapan Hukum Waktu yang absolut, bahkan takdir pun bisa dijeda.

“Kala, formasi ini terhubung langsung dengan Kristal Badai Purba di atas altar,” suara wanita yang misterius dari sarung pedang kayu Yggdrasil bergaung dengan nada taktis di dalam kepalanya. “Empat Tetua Agung itu mengalirkan seluruh Qi batin mereka untuk menyokong inti sangkar ini. Ini adalah target yang sempurna. Gunakan mata kiri Black Hole-mu untuk menelan formasi mereka dari dalam waktu yang berhenti!”

Kala mengambil satu langkah maju, memecah tekanan angin di sekitarnya dengan gaya gravitasi halus dari tubuhnya. Tangan kirinya mencengkeram sarung pedang putih perak Yggdrasil, sementara jari-jari tangan kanannya mengunci gagang pedang Jian hitam yang tipis bagai kertas.

"Kalian mengira telah menjebakku di dalam sangkar?" Kala menggumam datar, suaranya sedingin es kutub yang menembus gemuruh angin formasi. "Hari ini, aku akan menunjukkan kepada kalian... bahwa sangkar ini adalah kuburan yang kalian gali sendiri."

Ibu jari tangan kanan Kala mendorong pelindung gagang pedang.

CHIIING!!!

Dentingan pedang yang paling nyaring dan paling dingin memotong malam kosmis Benua Tengah. Kala menarik bilah pedang hitam tipisnya sepanjang tepat sepuluh sentimeter.

DENG!!!

Gelombang distorsi waktu berbentuk lingkaran yang sangat masif meledak dari pusat tubuh Kala, menyapu seluruh area Altar Inti dalam fraksi milidetik. Seketika, seluruh semesta kehilangan seluruh warnanya, berubah menjadi abu-abu monokrom yang sunyi senyap.

Kubah sangkar angin hijau yang tadinya berputar kencang melepaskan bilah-bilah pisau udara mendadak membeku kaku di atmosfer, jalinan energinya mengeras laksana kristal es yang mati. Empat Tetua Agung klan terpaku dalam posisi menyalurkan energi; Tetua Feng mematung dengan tongkat yang masih menempel di lantai giok, urat-urat di wajah tuanya menegang kaku. Zian Rui membatu di atas panggung dengan tawa angkuh yang terkunci di bibirnya.

Bahkan gravitasi sepuluh kali lipat yang menekan bumi mendadak lenyap, karena Hukum Sepuluh Senti telah menjeda seluruh fungsi fisika dan hukum alam semesta di dalam radius seratus meter ini.

Seteguk darah segar keluar dari sudut bibir Kala. Menahan pergerakan satu Master Ranah Penguasa Langit dan tiga Master Ranah Raja Bumi sekaligus membuat dada Kala bergemuruh hebat. Waktunya sangat terbatas.

"Dua detik," bisik Kala dalam keheningan total.

Kala tidak menyerang tubuh para Tetua terlebih dahulu. Dia melesat maju, melompati udara yang membeku laksana kilat perak, langsung menuju ke arah Kristal Badai Purba raksasa yang melayang di atas altar.

Dalam satu detik, Kala sudah berdiri di atas kristal membatu tersebut. Pupil kiri mata Kala yang berbentuk Black Hole melebar secara ekstrem, berputar berlawanan arah jarum jam dengan kecepatan kosmis.

"Menelan Inti Semesta!" raung Kala dalam batinnya.

Sebuah pusaran kegelapan hampa udara absolut meledak dari mata kirinya, membungkus seluruh Kristal Badai Purba raksasa itu di dalam ruang waktu yang berhenti. Gaya tarik gravitasi nihilisme yang tak terbatas menyedot paksa seluruh esensi energi angin purba, batu spiritual fondasi, hingga seluruh pasokan energi formasi pelindung klan untuk masuk ke dalam pusaran mata kiri Kala.

WUUUSH!

Energi angin kosmis yang sangat pekat mengalir deras masuk ke dalam tubuh Kala, meledakkan garis meridian jiwanya dan memaksa basis kultivasinya yang berada di Ranah Penempa Jiwa Tingkat Puncak untuk mendobrak batas kemanusiaan, melompat langsung menuju Ranah Raja Bumi Tingkat Awal.

Di detik kedua yang tersisa, Kala berbalik di udara, menarik pedang Jian tipis hitamnya keluar sepenuhnya dari sarung kayu Yggdrasil.

"Tebasan Nihilitas: Pemutus Badai!"

Kala mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan diagonal yang sangat halus ke arah empat Tetua Agung yang masih membeku di bawah. Tebasan itu memotong ruang fisik secara horizontal. Sebuah garis hitam pekat setipis benang meluncur lambat di udara hampa, memotong jalinan takdir dan tubuh keempat Tetua Agung serta Zian Rui secara absolut.

Setelah tebasan itu selesai, Kala mendarat di tanah dengan anggun, langsung mendorong bilah tipis hitamnya kembali masuk ke dalam sarung kayu Yggdrasil dengan presisi mutlak.

KLIK.

Dua detik keheningan abadi berakhir. Waktu semesta kembali diputar dengan dentangan yang keras.

BRUUUK! PRANGGG!!!

Kristal Badai Purba raksasa di atas altar tiba-tiba hancur menjadi bubuk abu putih tak berharga karena seluruh energinya telah habis dihisap. Bersamaan dengan runtuhnya kristal, kubah sangkar angin pelindung klan langsung buyar menjadi udara kosong.

Detik berikutnya, di atas pelataran giok, tubuh Empat Tetua Agung Klan Badai Angin beserta Zian Rui mendadak terbelah menjadi dua bagian secara diagonal. Potongan tubuh mereka jatuh berhamburan ke atas lantai giok, menyemburkan darah segar yang mengalir pekat. Mereka semua tewas seketika tanpa sempat menyadari atau merubah ekspresi wajah mereka dari tawa kemenangan menjadi ketakutan. Pilar-pilar kekuasaan klan suci pertama di Benua Tengah telah runtuh total hanya dalam waktu dua detik di dalam keheningan waktu.

Zian bangkit berdiri dengan tubuh gemetar, menatap pemandangan mustahil di depannya dengan mata melotot tak percaya. Saudara tirinya yang licik dan para Tetua Agung yang ditakuti seluruh benua, kini telah menjadi potongan daging tak bernyawa di bawah kaki Senior berjubah hitamnya.

Kala menyeka darah di bibirnya, netra Black Hole-nya kini memancarkan kilatan rasi bintang yang jauh lebih terang dan berwibawa setelah menembus ke Ranah Raja Bumi.

"Klan Badai Angin... telah dihapus," ucap Kala parau, menatap ke arah gerbang dalam kota yang mulai riuh oleh kepanikan ribuan murid klan yang menyadari formasi pelindung mereka telah musnah. "Zian, ambil alih kendali kota ini. Target kita berikutnya... adalah Klan Api Berkobar

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!