Tidak ada suami yang bisa memilih antara sang Ibu dengan Istrinya, begitupun dengan Yusuf. Lalu, apa yang bisa Yusuf lakukan? Jika, sang Ibu mengaggap istrinya tidak seperti anak sendiri? Dan mampukah Febri Ayundi mempertahankan pernikahannya dengan sang suami? Dimana selalu ada Ibu Marsella sang mertua yang ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka. Saksikanlah, kisah penuh menguras emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febrianis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Pulangkan Aku Pada Ayahku
Yusuf melajukan motornya dengan kecepatan 100 meter per jam dan hampir menabrak pengendara lain. Cemburu yang dirasakan membuatnya hilang akal untung saja masih diberikan umur oleh yang maha kuasa. Dia pun sampai di kantor. Hal yang pertama yang ia lakukan masuk ke ruang kebersihan dan mengambil sapu dan mulai pekerjaan dengan menyapu halaman. Tak lama Bosnya pun datang siapa lagi kalau bukan Pak Martin. Yusuf menatapnya dengan penuh kebencian. Martin yang merasakan tatapan Yusuf seperti ingin memakannya hidup-hidup. Pak Martin pun menghampirinya.
"Udah sehat kamu, Suf?. Kemarin Febri bilang kamu sakit, sakit apa kemu memangnya," sapa Pak Martin basa-basi, padahal aslinya ia malas sekali menyapa Yusuf yang notabenya hanya ob tapi berhubung Yusuf adalah suami Febri. Pak Martin pun terpaksa.
"Alhamdulillah sudah sehat, Pak. Cuma demam saja. Maklum saya hanya naik motor jadi kalau panas kepanasan, kalau hujan kedinginan."
"Oooo gitu ya sudah saya masuk dulu, Suf."
"Silahkan pak." Jawab Yusuf dengan senyuman. Saat tubuh Martin sudah tak terlihat senyumnya pun berubah menjadi muram.
"Jika benar yang dikatakan Pak Martin di lampu merah tadi jika dia akan mengambil Febri dari pelukan ku. Aku tak akan membiarkannya. Andaikan aku mapan seperti pak Martin pasti hidupku baik, punya harta berlimpah dan ibu yang penyayangang pasti aku tidak perlu mencemaskan akan kehilangan Febri. Arrrgh…. Aku harus secepatnya menjemput Febri dirumah ayah." Yusuf menyambak rambutnya dengan frustasi.
"Enggak, aku gak boleh menyerah sebelum berperang. Iya, aku pasti bisa membawa kembali Febri ke rumah. Aku harus menyelesaikan pekerjaan hari ini dengan cepat biar nanti bisa jemput istriku. Dek tunggu kakak, ya."
Yusuf mencoba menyemangati dirinya sendiri. Sambil mempercepat kegiatan bersih-bersihnya biar lekas pulang.
********
Dirumah Febri sedang sibuk bekerja secara online. Walaupun Mona telah menggantikan nya di kantor tetap saja ia tak lepas tangan dengan tanggung jawabnya. Febri meminta berkas-berkas dan laporan dikirim kepadanya nanti setelah selesai dan sudah ditanda tangani akan dikirim kembali ke Mona. Sedangkan ayahnya minum kopi kesukaanya sambil memperhatikan anaknya bekerja.
"Nak, kok masih otak atik laptop. Bukannya kamu lagi cuti."
"Iya Yah. Walaupun aku cuti tetap harus mantau laporan kerja karyawan juga. Gak mungkin lah temenku kerjalan semua pekerjaanku. Sedikit aja kok."
"Terserah kamu aja, Nak. Yang penting jangan kerja terlalu dulu takutnya nanti kamu malah jadi setres. Nikmati masa liburmu dengan baik."
"Siap Boskuuh." Dengan tangan diatas kening seperti hormat. Febri menjawab.
"Hmmm lanjutkan aja kerjaanmu. Kamu mau ga kopi ini bapak bikin dua"
"Gak Yah, aku mau ngurangin minum kopi. Asam lambungku akhir-akhir ini sering kambuh."
"Iyakah?. Makannya jangan telat dan kurangi stres. Sesekali bertamsya lah untuk menghilangkan penat."
"Mungkin nanti yah."
Tiba-tiba datanglah anak sulung RT disitu yang baru duduk dikelas tujuh bernama jamal, datang dengan membawa cangkul.
"Assallamualaikum, Om Brama."
"Walaikumsalam ada apa Jamal.? Masuk dulu nak." Pak Brama membuka pintu dan mempersilahkan Jamal masuk.
"Gak perlu om. Aku kesini disuruh bapakku buat ajak om kerja bakti bersihkan parit yang banyak mampet karna sampah. Seluruh laki-laki di RT kita disuruh pada kumpul dipos biasa tempat jaga malam" Jelas Jamal.
"Ya sudah kamu duluan aja nanti saya nyusul."jawab Pak Brama
"Baik om makasih sebelumnya udah mau batuin bapak." Jamal
"Iyaaa itu sudah kewajiaban saya sebagai warga di RT sini jamal."
"Kalau begitu aku pamit Om. Mau ajak warga lain." Jamal pun berlalu. Pak Brama masuk kembali kedalam rumah.
"Siapa Yah?." Tanya febri penasaran
"Jamal anak RT katanya disuruh bapaknya ajak wa, ayah mau kerja bakti dulu kamu dirumah sendirian gak papa kan?." Tanya pak brama
"Gak papa kok yah, oh ya kapan ayah pulang." Febri ingin memastikan kepulangan ayahnya.
"Nanti sore mungkin, Nak. Kamu jaga rumah ya." Jawab pak Brama
"Okeh. Ayah kalau capek pulang aja. Jangan dipaksa." Febri berkata sambil mencium tangan ayahnya.
"Kamu tenang aja tua-tua begini ayah masih mampu kerja bakti. Ayah berangkat dulu Assallamualaikum." Pak berama berkata sambil menenangkan anaknya
"Walaikumsalam."
Febri mengantarkan pak brama sampai teras. Setelah tubuh pak Brama tak terlihat lagi Febri pun masuk dan melanjutkan kerjanya.
Sore pun datang mencipatakan semburat warna jingga dilangit barat.
Bruummm… ciit.
"Seperti suara mobil parkir, bener ada mobil tapi mobil siapa yaa kita-kira?. Ah mungkin mobil tetangga yang numpang parkir."
Tak lama ada ketukan.
Tuk…. Tuk… tuk…
Febri berjalan keruang depan lalu membuka pintu. "Loh pak Martin ngapain?.kok bisa tau saya ada disini."
"Ekhem, gak disuruh masuk dulu. Pegel nih kaki berdiri."
"Gak bisa pak. Dirumah hanya saya sendiri ga enak diliat tetangga. Mending kita duduk diteras saja."
"Baiklah Feb."
"Kamu apa kabar?. Saya khawatir sama kamu yang tiba-tiba minta ijin cuti seminggu. Kamu sakitkah atau ada masalah?."
"Enggak kok pak saya mau rehat sebentar saja dari tempat kerja."
"Jangan bohong saya sudah tau semuanya dari Mona. Kamu ada masalhkan dengan suamimu lalu ditalak dan dipulangkan kerumah orang tuamu."
(Duh… ember banget sih mulut Mona bisa-bisanya dia cerita semua sama pak Martin). Kesal yang dirasakan Febri karna sahabatnya malah membocorkan masalahnya kepada bos mereka.
"Tenang saja Feb, jika kamu sudah terlepas dari Yusuf dan sudah lewat masa iddah mu. Tangan saya akan terbuka lebar untuk menjadikan mu belahan jiwa saya."
Marti berkata sambil memegang tangan Febri. Agar Febri tau jika dia mencintainya dan serius untuk menikahi febri. Syok dan terkejut itu lah yang dirasakan dia sempat tertegun. Dia tersadar saat terdengar teriakan.
*************
Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore, waktunya pulang. Semua karyawan keluar tak kecuali Yusuf. Dengan motor butut ia melaju menuju rumah mertuanya. Dia bahkan belum mandi, saking terburu-burunya. Demi mejemput istri tercinta.
Akhirnya ia pun sampai dirumah pak Brama. Tapi ada mobil terparkir dihalaman rumah.
"Kayak kenal…. Loh ini kan mobil Pak Martin." Ujarnya.
"Pasti dia mencari kesempatan dalam kesempitan tidak boleh biarakan ini."
Diteras terlihat Febri dan Bosnya tersebut. Dan benar saja ada Pak Martin disana sedang berpegangan tangan dengan istrinya. Anehnya ia tak melihat Pak Brama.
"Bans*t!!!." Yusuf langsung memberi Martin bogem mentah miliknya.
"Ini gak seperti kakak lihat. Ini cuma salah paham." Dengan cepat Febri menarik tangan nya dari Martin.
"Tidak ada lagi kah wanita lain diluar sana sampai kau ingin merebut istriku?." Tanya Yusuf dengan menekankan setiap kalimatnya.
Martin terus bertahan, sesekali ia menangkis pukulan demi pukulan yang dilayangkan Yusuf kepadanya. Kendati dia babak belur demikian ada rasa bahagia dihatinya karna dengan begini makin cepat lah Febri pisah dengan suaminya.
Pak Brama yang bersama Jamal baru pulang dari kerja bakti pun kaget menyaksikan menantunya yang sedang berkelahi dengan laki-laki lain.
"Dan kau febri, benar kata ibu kau bukan istri setia teganya kau menghianatiku. Dasar wanita jala*g." Maki Yusuf sambil menunjuk Febri.
"Istigfar Nak . Jamal bantu om" Pak Brama melerai mereka dengan menahan Yusuf di banatu Jamal.
"Iya om."
Dengan sigap jamal menangkap Yusuf yang sedang kesetanan. Febri membantu Martin berdiri. Melihat itu Yusuf naik pitam.
"Ternyata sudah lama kau bermain gila dengannya pantas saja kau senang bekerja sampai lembur. Tak kusangka demi uang kau rela membiarkan laki-laki lain menyentuhmu."
"Stoop Yusuf, aku gak pernah melakukan sesuatu seperti yang kau tuduhkan. Semua itu cuma fitnah."
"Halah saat ketangakapan seperti ini kau bilang fitnah, jika tidak ketahuan pasti kali akan melakuakannya. Cuih ... Aku tak sudi lagi menjadikan mu istriku. Tetap lah disini biar aku urus percerain kita."
"Baiklah jika itu maumu aku turuti. Kita akan ketemu lagi dipengadilan agama." Tandas Febri karna menjelaskannya ke Yusuf pun dia tidak akan mendengarkan.
Bersambung
sabar yak, Febri😌