NovelToon NovelToon
THE OTHER SIDE

THE OTHER SIDE

Status: tamat
Genre:Misteri / Petualangan / Barat / Tamat
Popularitas:188.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Mira Akira

Cerita ini sangat panjang dan menakutkan bagiku. Jika ditanya apa penyesalan terbesarku, maka aku akan menjawab tanpa ragu. Aku menyesal meninggalkan Negeri Bintang untuk belajar ilmu kebatinan.

Buruknya, giliran itu semakin mendekat padaku. Aku tak bisa menghindar darinya, karena dia selalu bersamaku. Begitu juga kalian. Dia selalu mengikuti kalian.

Jika cerita ini sampai pada kalian, berarti giliranku telah sampai. Setidaknya, aku bisa memberitahu kepada orang-orang Negeri Bintang, ada seseorang bernama Algol Perseus.

Cover by Pinterest

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISI KEDUA PULUH: AYO BERBURU!

"Hei, aku sangat heran tentang ini."

Algol menoleh pada Alphard yang tengah melompat untuk mengambil daun dari pohon rendah di depannya. Setelah itu, Alphard merobek-robek daunnya, dan menghamburkannya ke udara.

"Apa yang otak be*ngsekmu pikirkan?" tanya Algol jengkel.

"Kenapa kita membawa mayat itu bersama kita? Bukankah merepotkan?" tanya

Alphard sambil menunjuk pada Hamal yang sedang dibaringkan oleh Sadir di tanah.

Alni yang kini menggunakan jubah milik Sadir, duduk diam di samping Hamal. Sejak tadi gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya terus mengeratkan jubah yang melekat di tubuhnya, dan menundukkan kepalanya.

Algol menghela napasnya, "Hatimu benar-benar dimakan anj*ng. Bisakah kau melupakan dendam masa lalu sekarang? Posisi kita sama dengan Hamal."

"Kau tak akan mendapat ucapan terima kasih dari orang itu nantinya."

Sadir tertawa pelan, "Ucapan terima kasih tak akan membuatmu selamat sampai esok hari. Sungguh, aku tak perduli lagi dengan ucapan semacam itu."

Alni tersenyum pedih, "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita tidak bisa kembali ke pusat kota?"

Tangan Sadir dengan lembut mengusap kepala Alni. Ia tak bisa mengatakan apa-apa pada gadis di hadapannya. Sadir hanya bisa mengalihkan pandangannya pada Algol yang tengah mengusap lengannya.

"Sekarang kita diburu oleh dua pihak. Kita tak akan bisa kembali ke pusat kota dengan mudah."

SREK

Alni tiba-tiba membuka jubah Sadir dengan cepat. Ia mendatangi Algol dengan tergesa-gesa. Tangan kecilnya mencengkeram kerah baju Algol.

"Apa maksudmu kita diburu oleh dua pihak? Bukankah hanya Mizar dan kelompoknya yang berusaha membunuh kita?" tanya Alni kalap.

Algol berdecak, dan melepaskan tangan Alni dari kerahnya. Jika ditanya siapa yang paling berubah dalam beberapa hari ini, maka Algol akan langsung menunjuk pada Alni. Gadis ini seperti kehilangan keanggunannya, dan terlihat sangat frustasi.

"Ini bukan waktunya untuk ketakutan, Alni."

Alni berdecak, "Kau pikir ini mudah bagiku? Keadaan br*ngsek ini membuatku sangat ketakutan. Aku tidak segila Alphard, tidak juga setenang kau, apalagi sekuat Sadir. KAU PIKIR INI MUDAH BAGIKU?"

Alphard dengan segera menutup telinganya. Sadir dengan cepat meraih Alni agar tidak menyerang Algol.

"Tenanglah, Alni. Kepanikan kita yang diharapkan oleh mereka. Mereka memang sengaja membuat kita semua panik, dan membuat kita melakukan tindakan yang akan kita sesali "

PLAK

Tangan Alni mendarat di pipi Sadir, "Tenang katamu! Bagaimana jika kalian meninggalkanku nantinya? Aku tak bisa bertahan di tempat s*alan ini."

Gadis ini sudah kehilangan akal sehatnya. Dia bahkan tak segan-segan untuk memukul Sadir. Algol tak akan heran jika menang Alni yang membunuh Atria hanya karena perdebatan. Alni adalah tipe orang yang langsung menyerang tanpa perduli dengan keadaan.

BUK

Alphard melempar buku bersampul merah ke kepala Alni. Wajah jengkel terlihat dari Alphard, "Algol, ambilkan buku milikku kembali."

"KENAPA KAU MELEMPARKU, BR*NGSEK?"

"Lihatlah, sifat aslimu sudah keluar. Itulah mengapa kau dibuang oleh kaisar."

Algol mengerenyitkan keningnya saat Alphard membuka persoalan ini. Ini adalah persoalan yang sensitif untuk Alni.

Alni mengambil buku bersampul merah itu di tanah, dan melemparnya pada Alphard kembali, "Apa yang kau tahu?"

"Kejiwaanmu itu tidak stabil. Kaisar menyadarinya setelah kau meneror selir-selir lainnya. Bagaimana rasanya ketakutan Alni?" tanya Alphard kejam.

Alni melotot pada Alphard, "Kau berkata seperti itu karena kau merasa dendam padaku kan? Aku tidak ikut campur dalam pembunuhan kekasihmu."

Kedua orang ini hanya membongkar rahasia masing-masing. Semakin mereka berbicara, semakin terlihat keburukan mereka.

Algol melihat ini sebagai bukti dari persaingan di antara selir-selir kekaisaran. Algol memahami itu, dia sering melihat kakaknya yang seringkali berniat jahat pada selir-selir lainnya.

Ini cukup aneh, tetapi selama ini mereka berdua bertingkah seperti baru mengenal. Alni tidak pernah mengungkit tentang selir kaisar, yang merupakan kekasih Alphard. Begitu pun Alphard, dia bertingkah seolah tak pernah mengenal Alni sebelumnya.

Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?

Alphard tertawa kelu, "Tidak iku campur katamu? Bukankah kau yang merobek wajah Meissa dengan kuku bab*mu itu?"

Meissa?

Algol pernah mendengar tentang itu dari bibi-bibi di sekitar kediaman Algol. Algol sebelumnya tak perduli dengan persaingan di kekaisaran, meskipun kakaknya merupakan salah satu anggota harem. Ia hanya mendengarkan berita itu dengan malas.

Seorang selir kaisar ditemukan bunuh diri di istana Mirfak, istana para selir. Gadis itu bernama Meissa Veer. Selir yang masuk dalam jajaran harem kaisar ketika berusia empat belas tahun. Kemudian, bunuh diri setelah mengalami kecelakaan yang membuat wajahnya rusak parah.

Seperti yang dikatakan oleh Alphard, gadis itu memang sudah tiada.

Kecantikan ialah satu-satunya hal yang menjadi daya tarik para selir di mata kaisar. Jika Meissa kehilangan wajah cantiknya, maka ia tak punya apa-apa lagi.

Benar-benar sampah!

Siapa saja bisa tahu jika itu bukanlah kecelakaan. Itu pasti perbuatan para selir lainnya. Algol tak akan terkejut jika kakaknya juga akan terlibat dalam insiden kematiannya Meissa.

"Jadi, kau dibuang karena terlibat dalam pembunuhan Meissa Veer?" tanya Algol tanpa basa-basi lagi.

Alphard berdecih, "Kau pikir hanya itu?"

Algol mengerutkan keningnya saat menyadari pertanyaan retoris dari Alphard. Ia tak merasa Alphard bertanya padanya, tetapi mengingatkannya.

"Aku tahu, kau merencanakan untuk membalas kematian Meissa padaku," ucap Alni dengan keras.

"Seandainya Meissa bisa kembali, maka aku akan merobek wajah sombongmu. Lalu, kau yang akan menjadi lukisan tersenyum itu," jawab Alphard santai.

Itu benar.

Alphard mencintai Meissa, senyum Meissa, dan dia mencintai darah. Algol yakin, Alphard sudah mengabadikan kecantikan Meissa dengan sebuah lukisan. Tentu saja dengan darah Meissa sebagai penambah keindahannya. Ini gila.

"Aku akan bertahan dari ujian ini. Kaisar hanya menguji diriku, dia akan menjemputmu nanti," ucap Alni yang seperti orang gila.

Algol mendadak ingin menampar gadis ini. Dia berbicara dengan seluruh keegoisannya, dan bermimpi setinggi bukit Dubhe.

Semua orang tahu, meski kaisar memiliki banyak selir, tetapi Kaisar Sirius tidak memiliki permaisuri. Itu sudah menjelaskan semuanya. Kaisar tidak mencintai para selirnya.

Lagipula....

"CUKUP," bentakan Sadir terdengar.

Sadir merenggut bahu Alni dengan keras. Alni tak berani bersuara lagi setelah itu. Saat ini, tak ada lagi Alni yang polos dan canggung. Algol hanya melihat manusia yang rela melanggar batasan kebenaran untuk meraih kekuasaan.

"Kau dibuang karena menghancurkan wajah selir Meissa?" tanya Sadir keras.

Alni menolak untuk menatap Sadir. Alphard juga tak mengatakan apa-apa lagi, dia hanya dengan santai membaca buku kembali. Seolah mereka tak pernah membicarakan kematian orang yang dicintainya.

"Alphard, kau berniat untuk membalas dendam pada Alni?" tanya Algol langsung.

Kepala Algol terasa sakit sekali.

Alphard dengan nyaman menggigit jarinya sendiri. Tapannya masih fokus pada buku yang sedang dibacanya.

"Aku sudah memiliki lukisannya, itu lebih indah dari aslinya. Jadi, silahkan j*lang itu berkeliaran, aku tak berniat untuk membunuhnya. Lagipula bukan hanya dia yang terlibat di dalamnya," Alphard membalik halaman dari buku yang dibacanya.

Dasar gila!

"Berhentilah berdebat. Kau akan membangunkan cacing yang tertidur di tanah. Jika sudah selesai, mari kita bicarakan rencana kita selanjutnya," ucap Algol sekali lagi menengahi.

Sadir menatap Alni dengan kecewa. Alni tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu tidak lagi terlihat ketakutan.

Alni bersungut-sungut saat melihat Alphard yang bersantai. Sepertinya Alni selama ini selalu merasa was-was dengan Alphard.

Apalagi, Alphard juga memiliki hubungan dengan dosa yang dilakukan Alni sebelumnya.

Akan tetapi, siapa yang berhak menghakimi dosa seseorang di dunia ini?

"Aku tak perduli dengan perbuatan sampah yang kalian lakukan sebelumnya. Namun kita dibuang di sini karena kesalahan yang kita buat. Berhenti berdebat, kita harus bisa bertahan hidup."

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Alphard.

"Atria mengatakan, jika kita tidak mati, merekalah yang akan mati. Mereka pasti akan memburu kita sampai berhasil membunuh kita. Jadi..."

"Kita punya dua pilihan," ucapan Alphard membuat semuanya menoleh pada pria itu.

Algol hanya bisa menghela napasnya berat, "Pilihan itu pasti hanya berasal dari satu ide, bukan?"

Alphard menganggukkan kepalanya, "Pertama, kita menghindar dari mereka sebisa mungkin. Jika nyawa kita terancam, kita harus melawan mereka."

"Mereka tak mudah untuk dihentikan," ucap Alni lemah.

"Jika memang sulit untuk sekadar melawan, bunuh mereka," Alphard melambai-lambaikan tangannya dengan malas.

Algol menghela napasnya. Sudah saatnya Algol untuk berhenti menggunakan pedangnya sebagai alat pembuka gaun pelac*r. Pedangnya mungkin akan berguna sesuai fungsinya.

"Pilihan kedua, bunuh mereka secepatnya, sebelum mereka menemukan kita."

Benar, membunuh mereka hanyalah jalan satu-satunya.

***

Mizar memasuki ruangan yang telah dipenuhi oleh aroma karat. Matanya menatap angkuh pada seonggok mayat yang sudah dikerubungi oleh lalat. Bahkan rambut Atria yang terkena darah mulai mengering layaknya sapu berwarna merah.

BRUKK

Mizar melemparkan kantung kain yang berisi kentang ke lantai. Belanjaan yang baru saja dibelinya jauh-jauh di kota Dubhe, tak ia pusingkan lagi.

"Gemma, Alphecca," panggilnya keras.

Bocah bernama Gemma itu berlari lebih cepat daripada saudaranya untuk menghadap pada Mizar. Baru saja ia ingin berceloteh, tatapannya langsung tertuju pada mayat Atria.

Matanya terbelalak. Dengan gemetar ia menghampiri mayat Atria yang bersimbah darah. Ia menatap tak percaya pada darah yang mengotori ruangan itu sekarang.

"Bagaimana cara kita membersihkan lantainya sekarang?" tanya Gemma kesal.

Alphecca yang baru datang langsung menuju kentang-kentang yang berhamburan. Dengan sabar gadis kecil itu memungutinya, dan memasukkannya ke dalam keranjang jerami.

"Anda tidak bisa membuang bahan makanan, nona. Ini semua dibeli dengan uang," ucap Alphecca datar.

Baru setelah itu Alphecca menatap mayat Atria yang mengenaskan. Ekspresi datar di wajahnya tidak berubah. Ia berdiri, dan mendekati saudara kembarnya.

"Gemma, bersihkan kekacauan ini."

Gemma menggaruk kepalanya, "Eehhh? Kenapa Atria yang mati, kita yang repot? Harusnya dia mati di luar rumah Ini saja."

"Berhenti berbicara, dan kerjakan," perintah Alphecca lagi.

Dengan kesal Gemma berjalan untuk membuka pintu, membuka lagi, dan lagi. Sampai ia menemukan sebuah pintu geser yang sangat kotor tampilannya.

Gemma membukanya, dan bau busuk langsung keluar dari sana. Ruangan ini sangat jauh di ujung rumah. Banyaknya lapisan pintu ini dibuat agar bau busuk di dalamnya tak akan tercium sampai ke bagian tengah rumah. Tempat mereka tinggal.

Baru saja Gemma ingin meraih kaki Atria untuk menyeretnya, suara denting pedang Mizar terdengar.

"Hey," protes Gemma yang hampir terkena sabitan pedang.

SRET

Kaki Atria yang tengah dipegang oleh Gemma terpisah dari badannya. Melihat itu, Gemma langsung melemparkan kaki Atria kembali ke lantai. Tidak ada darah segar lagi yang keluar dari potongan Mizar itu. Menunjukkan bukti bahwa Atria sudah lama mati.

"Nona, jika anda memotong-motongnya itu akan membuat pembersihan bertambah sulit," tegur Alphecca.

"Tinggalkan dia. Kita harus mengurus sampah yang lebih banyak dari ini."

Gemma menggaruk kepalanya dengan kasar. Ia menatap Alphecca yang kini telah mengambil pedang besar miliknya.

"Hey, haruskah kita membunuh mereka? Kau tidak tahu betapa gilanya pikiran pembunuh bertali itu. Dia juga ada di sana."

Tak lama Gemma mengeluarkan beberapa pisau perak dari sakunya. Mencoba ketajamannya pada mayat Atria yang tergeletak. Gemma menciptakan berpuluh-puluh sayatan di sana.

Pisau itu sangat tumpul.

Mizar mengikat rambutnya lebih tinggi, "Orang-orang yang tak ingat dengan dosanya sendiri patut dihukum."

Gemma menginjak kepala Atria, "Sayang sekali. Padahal aku suka mendengar cerita aneh dari kakak pucat itu."

Mizar memasang penutup wajahnya, "Ayo, berburu!"

***

Selamat membaca :D

Letakkan jempol pada tempatnya. Berikan apresiasi kalian untuk cerita ini. Tinggalkan kritik dan saran yang mendukung, agar cerita ini terus berkembang nantinya.

Saya suka membaca komentar, jadi jangan segan-segan untuk berkomentar. Mari kita berdiskusi.

Terima kasih bagi kalian yang menunggu cerita ini untuk terus up. Sudah sisi kedua puluh ya, mereka akan mulai berburu yang sebenarnya.

Mari bertemu di chapter selanjutnya.

Adhios~

1
Evan Dirga
cerita yang sangat kelam.

penggambaran setiap karakternya menunjukkan tingkat depresi yang sangat tinggi dalam kehidupan mereka sebagai bangsawan, dimana keidealisan hidup sejatinya memang sulit dicapai.
Evan Dirga
sayangnya algol lupa pada alphard aries.
Evan Dirga
sudah aku duga
Evan Dirga
bukankah dengan mengambil posisi kepala keluarga, alphard juga punya kesempatan untuk merubah kebusukan bisnis keluarganya ?
Evan Dirga
pada luka sadir
Evan Dirga
kumpulan orang gila yang sengaja dibuang.
Evan Dirga
jika ingin selamat, jangan pernah mengeluh atau menunjukkan penderitaan.
Evan Dirga
patahan kuku carina
Evan Dirga
sampai sejauh ini, aku masih mencurigai algol sebagai pelaku pembunuhan
Evan Dirga
algol yang selalu bersama sadir dan alni. sadir .. bukan hamal.
Evan Dirga
jangan jangan pelakunya adalah Algol dalam kepribadiannya yang lain ?
Evan Dirga
buah kelapa ? di hutan ?
Evan Dirga
sepertinya anak anak bangsawan ini dikirim bukan untuk pelatihan, tapi dikirim untuk dibuang.

mungkin akan diadu domba nantinya agar saling membunuh satu sama lain.
Nadira angraini
thor . ceritamu emang the best lah... rasa"na kyk bikn candu...pengen baca trus...
Fia Rahmi
sambil emak nungguin yi hua up mampir kesini dlu.. eh baru 2 episode udah seru😍😍
dyz_be
Hei Hoi...
Aku balik lagi..
Baca lagi, meski dengan akun baru karena akun lamaku gx bisa login
Cerita yg menarik, bikin penasaran, & seru
👍👍👍👍
😍😍😍😍😍
$uRa
diantara mereka semua ...mana yang ingin kalian bela
$uRa
suka tapi masih bingung.penuh teka teki dan misteri
$uRa
serem juga ceritanya
$uRa
salam..baru baca..keren...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!