NovelToon NovelToon
The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yaya haswa

Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.

Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.

Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.

Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.

Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.

Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.

Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kondisi Keana

"Keana!"

"Keana"

"KEANAAA!!"

Suara Tari, Tania, dan Arlo terdengar samar, tenggelam di antara gemertak api di kepalanya. Arlo mengguncang bahunya kuat-kuat, sementara Tari dan Tania sudah menangis histeris memegangi tangannya yang sedingin es. Namun, tubuh Keana tetap kaku, terkunci dalam labirin traumanya sendiri.

Hingga akhirnya, pasokan oksigen ke otaknya menipis akibat napas yang terlalu memburu. Pandangan Keana menggelap sepenuhnya, dan tubuhnya ambruk, luruh ke dalam pelukan Arlo yang dengan sigap menangkapnya. Keana pingsan.

"Kea! Bangun, Kea! Jangan bikin gue takut!" teriak Arlo panik, menepuk-nepuk pipi Keana yang pucat pasi.

"Arlo, Keana kenapa?! Tolongin Keana!" tangis Tari pecah, sementara Tania berusaha mencari bantuan di tengah kerumunan murid yang masih berlarian.

Seorang guru laki-laki yang sedang mengevakuasi murid di koridor menyadari kegaduhan itu dan langsung berlari mendekat.

"Ada apa ini?! Astaga, dia pingsan? Kenapa wajahnya pucat sekali?"

"Dia syok lihat api, Pak! Tolong, Pak, napasnya tadi sesak banget!" sahut Tania dengan suara bergetar.

Melihat kondisi Keana yang memprihatinkan, guru tersebut tidak membuang waktu.

"Biar Bapak bopong ke parkiran! Kita bawa dia ke rumah sakit pakai mobil Bapak sekarang!"

Arlo dengan sigap membantu guru tersebut menggendong tubuh Keana yang terkulai lemas. Mereka berlari cepat membelah kerumunan menuju area parkir guru. Tubuh Keana segera dibaringkan di kursi belakang mobil, ditemani oleh Tania dan Tari yang terus menggenggam tangannya sambil terisak. Arlo duduk di kursi depan, matanya terus terfokus pada wajah pucat kekasihnya dengan kepalan tangan yang mengerat menahan cemas.

Mobil sang guru langsung melaju kencang, membelah jalanan sekolah yang kacau. Tepat saat ban mobil melintasi gerbang utama sekolah, suara raungan sirine dari dua armada pemadam kebakaran terdengar bersahut-sahutan dari arah jalan raya, berpapasan dengan mereka untuk menjinakkan api yang masih berkobar di dalam kantin.

Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan menuju rumah sakit, atmosfer terasa begitu mencekam. Mereka semua hanya memikirkan satu hal, keselamatan Keana.

Rumah sakit

Mobil sang guru berhenti mendadak dengan derit ban yang memekik tepat di depan lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD). Belum sempat mobil berhenti sempurna, Arlo sudah membuka pintu depan dan melompat keluar dengan kepanikan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.

"SUSTER! DOKTER! TOLONG! ADA PASIEN PINGSAN!!" teriak Arlo lantang, suaranya menggema membelah koridor lobi rumah sakit yang bising.

Arlo berlari masuk ke dalam area IGD, melambaikan tangannya dengan panik ke arah pos perawat.

"Suster, cepat! Di dalam mobil ada siswa pingsan, napasnya sesak dan badannya dingin!"

Mendengar teriakan darurat itu, dua orang perawat dengan sigap langsung menarik sebuah brankar dan berlari mengikuti Arlo menuju mobil. Guru Keana bersama Tari dan Tania segera membuka pintu belakang. Dengan cekatan, Arlo membantu petugas mengangkat tubuh Keana yang terkulai lemas untuk dipindahkan ke atas brankar.

"Dorong cepat, Sus! Tolong!" seru Arlo lagi, napasnya memburu, ikut memegangi sisi brankar yang kini didorong cepat menuju ruang tindakan utama. Tari dan Tania berlari di samping mereka sambil terus menangis memandangi wajah Keana.

Pintu lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD) terbuka lebar, diikuti oleh derit roda brankar yang melaju cepat membelah kebisingan rumah sakit. Papa Arland, yang baru saja melangkah keluar dari ruang operasi dengan wajah lelah, seketika membeku. Matanya menangkap sosok familiar di atas brankar yang didorong oleh gurunya, diikuti oleh Arlo, Tari, dan Tania yang wajahnya khawatir.

"Keana!" seru Arland, suaranya parau namun sarat akan kepanikan yang luar biasa.

Ia langsung berlari, menyambar sisi brankar, menatap wajah putrinya yang pucat pasi dengan mata terpejam rapat.

"Apa yang terjadi?! Kenapa dia seperti ini?!"

Arlo yang membawa Keana, yang napasnya masih terengah-engah, menjelaskan dengan cepat.

"Dokter, tadi di sekolah ada kebakaran di kantin. Keana panik luar biasa, dia langsung sesak napas dan pingsan begitu melihat api."

Arland memeriksa nadi Keana. Tachycardia. Denyutnya sangat cepat, indikasi kuat adanya syok psikis. Ia menatap Arlo dan teman-teman Keana yang tampak terguncang.

"Terima kasih sudah membawanya dengan cepat," ucap Arland.

Tak lama kemudian, Mama Soraya tiba setelah mendengar dari suster jika putrinya ada di rumah sakit. Wajahnya yang semula tenang berubah pias saat melihat suaminya berdiri di dekat pintu ruang tindakan dengan tangan gemetar.

"Papa! Ada apa dengan Kea?!" teriak Soraya, langkahnya terhenti saat melihat brankar Keana didorong masuk ke ruang observasi khusus.

"Dia syok berat, Ma," jawab Arland getir, menahan istrinya agar tidak langsung masuk.

"Kita dokter, tapi kita tidak bisa menanganinya sendiri. Aku spesialis bedah, kau spesialis kandungan. Ini ranah psikiater dan neurologi."

Arland segera memanggil rekan sejawatnya, dr. Rian, seorang spesialis neurologi yang ahli menangani kasus-kasus trauma saraf dan gangguan psikis akut.

"Rian, tolong periksa putriku," pinta Arland dengan nada yang sangat profesional namun matanya berkaca-kaca.

"Dia mengalami serangan PTSD akut setelah terpapar pemicu kebakaran. Flashback. traumatisnya memicu sinkop (pingsan)."

Dr. Rian segera mengambil alih.

"Baik, Dokter Arland. Kalian tenanglah dulu."

Di dalam ruang observasi, tim medis bergerak cepat. Karena Keana berada dalam kondisi shock trauma yang memicu penurunan kesadaran.

Mereka memasangkan masker oksigen (NRM) karena saturasi oksigennya sempat turun akibat hiperventilasi sebelum pingsan, kemudian pemasangan infus NaCl 0,9% untuk menjaga hidrasi dan kestabilan tekanan darah, mengingat tubuhnya sempat gemetar hebat dan dehidrasi ringan akibat serangan panik.

Dokter juga memasang lead EKG untuk memantau ritme jantung Keana, memastikan tidak ada gangguan irama jantung serius akibat lonjakan adrenalin yang ekstrem. Mengingat Keana masih dalam kondisi sangat gelisah dalam tidurnya, dokter memberikan injeksi diazepam dosis rendah secara intravena untuk merelaksasi sistem saraf pusat dan menghentikan respon panik yang masih terbawa ke alam bawah sadarnya. Dokter Rian memantau respons pupil dan refleks batang otak untuk memastikan tidak ada cedera fisik saat Keana ambruk.

Papa Arland dan Mama Soraya hanya bisa berdiri di balik kaca, menatap putrinya yang kini terbaring dengan berbagai kabel sensor menempel di tubuhnya. Bagi mereka, melihat putri yang mereka jaga dengan penuh kasih sayang harus kembali berhadapan dengan monster dari masa lalunya adalah luka yang lebih dalam daripada pisau bedah mana pun.

Arlo, Tari, dan Tania, serta Guru duduk di kursi tunggu dengan lemas, masih tidak percaya bahwa acara makan siang biasa bisa berakhir seperti ini.

Papa Arland melangkah mendekati ketiganya. Ia berdiri di depan mereka dengan wajah khawatir namun penasaran.

"Sebenarnya bagaimana bisa terjadi kebakaran di sekolah?"

"Awalnya kami akan makan siang, dok, di kantin. Kami juga sudah memesan makanan pada ibu kantin, tapi saat pesanan kami di buat tiba-tiba terjadi kebocoran gas, api seketika merambat turun ke pusat gas, lalu meledak" jelas Arlo

Papa Arland mendengarkan penjelasan Arlo dengan seksama, rahangnya mengeras pelan membayangkan betapa mencekamnya situasi di kantin tadi. Sebagai seorang dokter, ia tahu betul bagaimana trauma masa lalu bisa terkunci rapat dan meledak seketika saat dipicu oleh kejadian yang serupa.

"Lalu setelah ledakan itu, bagaimana Keana?" tanya Papa Arland lagi, suaranya melembut namun getaran cemas di dalamnya tidak bisa disembunyikan.

Tari, yang sejak tadi menyeka air matanya dengan tisu yang sudah basah, mendongak.

"Awalnya Keana ikut lari sama kita, dok. Sampai kita berhasil keluar ke koridor yang aman. Tapi..." Tari kembali terisak, membuat Tania terpaksa melanjutkan kalimat sahabatnya itu.

"Tapi pas sudah di luar, Keana tiba-tiba balik badan, terus melihat ke arah kantin yang udah kebakaran besar. Di situ Keana langsung kaku. Aku sempat dengar, Kea sebut 'Ibu' sama 'Ayah' sambil gemeteran hebat, terus langsung ambruk dan pingsan. Kita semua panik karena napasnya pendek-pendek, kayak orang kecekik."

Arlo menunduk dalam, menatap kedua telapak tangannya yang sempat memegang tubuh lemas Keana tadi.

"Maaf, Dok... saya tidak tahu kalau Keana punya trauma mendalam soal api. Saya harusnya gak biarkan dia berbalik melihat kebakaran itu."

Melihat rasa bersalah yang begitu besar di wajah anak-anak muda di depannya, Papa Arland menghela napas panjang. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, lalu menepuk pundak Arlo dengan hangat.

"Ini bukan salah kalian. Tidak ada yang bisa memprediksi musibah seperti ini," ucap Papa Arland dengan tulus.

"Kalian justru sudah bertindak sangat cepat. Jika kalian tidak segera melarikannya ke sini, kondisi sesak napasnya bisa berakibat jauh lebih fatal bagi otaknya. Terima kasih, ya, dan juga pak guru."

Sang guru yang duduk di sebelah Arlo mengangguk pelan.

"Sudah kewajiban kami, Dokter. Kami hanya berharap Keana bisa segera pulih."

Tepat setelah itu pintu ruang observasi terbuka. Dokter Rian melangkah keluar sambil melepas stetoskop yang melingkar di lehernya. Papa Arland dan Mama Soraya langsung mendekat dengan cemas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!