Renata tidak menyangka pria yang dijodohkan dengannya adalah pria yang pernah ia permainkan cintanya saat SMA.
Ricky menerima perjodohannya setelah tahu kalau calon istrinya adalah yang mempermainkan cintanya saat SMA, dan inilah saatnya dia membalas dendam dengan menikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-20 Kembali bersama Ricky
Ricky menatap Renata lalu pada ibu Renata.
“Mau apa kau kemari?” tanya ibu Renata.
“Aku mau membawa Renata pulang,” ucap Ricky.
Ibu Renata melihat kepada putrinya.
“Aku tidak mau ikut denganmu!” ujar Renata.
Ricky menoleh pada ayahnya Renata yang menatapnya tanpa bicara apa-apa. Lalu pada ibunya.
“Besok bawa ayah berobat, aku yang akan menanggung biayanya sampai sembuh, kalian kembalilah ke rumah yang dulu,” ucap Ricky, lalu menatap Renata.
“Mau tidak mau kau ikut aku pulang,”
“Aku tidak mau, keluargaku tidak perlu kau kasihani!” tolak Renata.
“Kau selalu saja membangkang apa kataku. Apa aku menyuruhmu melakukan hal yang tidak baik? Aku tidak mau melihatmu seperti ini!” ucap Ricky setengah berteriak.
“Apa pedulimu?Percuma kau membawaku hanya untuk menyakitiku!” bentak Renata.
“Kau masih istriku dan aku belum menjatuhkan talak, apa kau tidak mengerti juga?” Ricky menatap Renata dengan tatapan tajam, dia kesal menurutnya Renata selalu bertindak semaunya, lalu menoleh pada ibunya Renata.
“Bu aku bawa Renata. Besok supirku akan membawa ayah ke rumahsakit,”
Tanpa menunggu ijin dari Renata, Ricky memanggul Renata ke pundaknya.
“Hei, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” teriak Renata, tapi tangan Ricky memegang kaki Renata dengan kuat. Diacuhkannya Renata meskipun berteriak teriak dan memukul mukul punggungnya.
Dibukanya pintu mobil dan memasukkan Renata ke mobil lalu menguncinya.
Kemudian dia pun masuk ke mobil dan menjalankannya.
“Bukakan, aku mau keluar! Aku tidak mau ikut denganmu!” seru Renata, mencoba mendorong pintu mobil tapi tidak menghentikan mobilnya, bahkan menjalankannya dengan cepat.
“Sebenarnya apa maumu ?” teriak Renata. Ricky tidak menjawab, wajahnya merah padam menahan marah. Kenapa Renata susah sekali diurus, selalu membangkang.
Karena usahanya sia-sia akhirnya Renata menyerah, diapun diam. Mungkin kalau ada kesempatan dia akan pergi dari apartemen Ricky.
Sampai di gedung apartemennya, Ricky memegang tangan Renata dengan kuat, kalau tidak begitu dia yakin Renata akan kabur. Akhirnya mereka sampai di apartemen Ricky.
Ricky membawanya masuk dan kembali mengunci pintu apartemennya.Kini dia menarik tangan Renata dibawa masuk ke kamarnya. Kembali mengunci pintu kamar dan mengantongi kuncinya. Diapun menuju kamar mandi,
menyalakan air hangat untuk Renata mandi.
“Aku sudah menyiapkan air hangat, cepatlah mandi!” ucapnya.Renata diam saja. Melihat Renata diam saja, Ricky kembali menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.
“Kau mau apa?” teriak Renata.
“Kau mau mandi atau aku yang memandikanmu?” bentak Ricky.
“Kau fikir aku ini barang apa, harus selalu nurut apa katamu!” ucap Renata. Melihat sikap Renata masih seperti itu, akhirnya Ricky membuka paksa baju Renata sampai sobek, tidak peduli Renata menolak, dia memandikannya dengan air hangat.
Diambilnya piyama handuk dan dipakaikannya pada tubuh Renata, lalu menariknya keluar kamar mandi.
Kemudian mengambil baju dalam lemari. “ Kau mau dibaju sendiri atau
aku yang memakaikannya?” Tanya Ricky sambil melempar baju itu ke kasur.
Akhirnya Renata meraih baju itu dan memakainya.
“Aku tunggu di meja makan!” ucap Ricky. Meraih kunci kamar di sakunya, lalu keluar dari kamar itu.
Di meja makan, Ricky membukakan makanan delivery, entah kapan dia memesannya.
Renata sudah berpakaian dan berdiri di pintu dapur. Dilihatnya makanan di meja itu terlihat sangat lezat, perutnya terasa melilit menahan lapar.
“Makanlah, aku membuatkan minuman hangat untukmu!” ucap Ricky, menunjuk pada segelas minuman jahe.
Renata dengan ragu duduk di kursi, dia memang sangat lapar sekali, diapun akhirnya makan dengan lahap. Begitu juga dengan Ricky,makannya sangat lahap. Bukankah dia tadi makan di restoran? Fikir Renata.
Ricky melihat piring Renata yang kosong.
Dia pun bangkit dan mengeluarkan sesuatu dari kantong plastic yang teronggok di meja. Ternyata humburger, mata Renata langsung berbinar melihatnya, tadi dijalan dia hanya bisa meliahat humberger itu. Tapi dia tidak mau terlihat seperti orang kelaparan dimata Ricky. Tapi melihat tampilannya humberger yang menggoda membuatnya tidak tahan untuk memakannya. Akhirnya dia makan humberger itu sampai habis.
“Apa kau masih mau?” tanya Ricky, menatap wanita itu yang sekarang terlihat lebih segar. Renata menggeleng. Perutnya terasa begitu kenyang. Tiba-tiba Renata merasa mual yang amat sangat, sampai tidak tertahankan, dia menutup mulutnya dengan tangannya, berlari ke toilet. Ricky tampak bingung, dan berlari menyusul.
“Apa kau baik baik saja?” tanyanya. Hanya dijawab suara muntahan Renata.
Oeeek.ooeekkk. Renata muntah tidak behenti henti, semua makanan yang dimakannya keluar semua.
Ricky memegang leher belakang Renata, seperti yang dia lihat di film film kalau ada yang muntah seperti itu.
Cukup lama Renata memuntahkan isi perutnya, bahkan sudah terkuraspun rasa mualnya tidak hilang, sampai cairan yang keluarpun tidak meredakan mualnya.
Wajah Renata tampak sangat pucat, keringat dingin membasahi keningnya.
“Aku akan memanggil dokter,” ucap Ricky bergegas keluar dari kamar mandi dan langsung menelpon dokter keluarganya.
Setelah menelpon, dia membawa Renata ke kamarnya, wanita itu tampak kesakitan dan lemas.
“Apa kau mau minum, mungkin bisa mengurangi sakitmu,” ucapnya, sambil memberikan air putih hangat, Renata langsung meminumnya.
“Aku sudah menelpon dokter, kau berbaringlah,” ucap Ricky lagi, Renata tidak banyak bicara, kepalanya terasa sangat pusing, perutnya masih begitu mual padahal seluruh isi perutnya sudah keluar semua.
Ricky menyelimuti Renata yang memejamkan matanya, saat terdengar suara bel berbunyi.
Ricky segera membukakan pintu.”Dokter Ramli, tolong periksa istriku, dia muntah-muntah, sekarang berbaring di kamar” ucap Ricky.
Dokter Ramli segera memeriksa Renata, dia mengerutkan dahinya.
“Apa istrimu sama sekali belum memeriksakan kandungannya?” tanya Dokter Ramli, membuat Ricky tersudut, dia suami yang tidak baik, tidak memperhatikan istrinya yang sedang hamil, tapi bukankah dia sudah mengajak Renata hanya Renatanya yang tidak mau?
“Dia butuh obat untuk mengurangi rasa sakit, kalau seperti ini dia akan dehidrasi,” kata Dr. Ramli.
“Aku berikan resep. Segera tebus di apotik, badan istrimu sangat lemah, itu tidak baik untuk kandungannya,”
“Berapa usia kehamilannya Dokter?”
“ 6 minggu, harusnya dia sudah diberi obat untuk mengurangi mual dan penguat kandungan. Jangan cape dan stress, beberapa hari harus bedrest, jangan melakukan pekerjaan apapun kalau tidak mau dia jatuh sakit. Selanjutnya periksa kandungannya ke Dokter spesialis kandungan, supaya perkembangan janinnya sehat,”
“Baik Dr, terimakasih,” ucap Ricky.
Setelah Dr. Ramli pulang, Ricky bergegas ke apotik, menebus resep yang Dokter Ramli tulis.
Disiapkannya beberapa butir pil dari apotik itu.
“Sayang, ayo bangun, kau harus minum obat ini,” ucap Ricky, menyentuh pipi Renata. Renata menajamkan pendengarannya, apakah dia tidak salah dengar kalau Ricky memanggilnya sayang? Diapun mencoba bangun meskipun pandangannya buram dan berputar putar. Ricky membantunya minum obat, kemudian
Renata kembali berbaring.
Ricky meraih tangan Renata menyusupkan jarinya pada jari Renata. Dia duduk dikursi meja rias yang dia posisikan di samping tempat tidur.
“Kata Dokter kau tidak pernah memeriksakan kandunganmu. Kau jangan menyiksa diri. Melihatmu dengan keadaan seperti ini aku merasa bersalah, aku terlalu keras padamu,” Ricky mencium jemari tangan Renata.
“Apa kalau aku memutuskan Alice, kau mau tetap bersamaku? Aku tidak mau membiarkanmu sendirian menjalani kehamilan ini,” Ricky kembali mencium jemari Renata. Tidak ada jawaban dari wanita itu.
Ricky kembali menyelimuti Renata, kemudian dia mengambil laptop dan naik ke tempat tidur, bersandar sambil melonjorkan kakinya mengerjakan sesuatu di latopnya. Diliriknya Renata yang tidur membelakanginya, kemudian
kembali mengerjakan pekerjaannya.
Sebenarnya Renata mendengar jelas apa yang dikatakan Ricky, dia akan meninggalkan Alice. Apa benar? Ricky memilih dia daripada Alice? Entahlah Renata merasa tidak percaya kalau Ricky belum benar-benar membuktikannya.
Kalau seandainya Ricky meninggalkan Alice, apa dia mau menerima Ricky?
“Kau membutuhkan sesuatu?” tanya Ricky, ketika melihat pergerakan dari Renata.
“Mulutku terasa sebal, apakah ada sesuatu yang segar?” tanya Renata.
“Sesuatu yang segar apa? Sepertinya tidak ada apa-apa di kulkas,” jawab Ricky lalu menyimpan laptopnya.
“Kau mau apa? Besok aku akan membelikannya,” ucap Ricky, memiringkan tubuhnya menghadap Renata .
“Mulutku terasa sebal sekarang, sepertinya makan jeruk akan terasa enak,” gumamnya, lalu kembali tidur.
Ricky melihat jam sudah menunjukkan hampir jam 10 malam, toko-toko pasti sudah tutup. Diapun turun dari tempat tidurnya, mengambil jaketnya, keluar dari kamar itu.
Ricky sudah berputar putar mencari supermarket yang masih buka, ternyata tidak didapatkannya. Sekarang sudah jam 11 malam. Kemana dia harus mencari buah jeruk selarut ini? Hingga terbersit di fikirannya, mencari ke pasar tradisional. Ya biasanya pasar tradisional berjualan dini hari, siapa tahu ada yang berjualan jeruk. Ricky pun menjalankan mobilnya, menuju pasar tradisional yang lumayan jauh. Dilihatnya jam tangannya sudah menunjukkan hampir jam 12 malam, ketika dia sampai di pasar tradisional yang begitu ramai hiruk pikuk orang menurunkan sayuran sayuran.
***************