Jona: Jika ada seribu lagi kesempatan untuk jatuh cinta, aku akan tetap memilih Jordy. Aku tidak jatuh cinta pada seorang yang salah, meski mungkin pada waktu yang salah. Andai aku sepuluh tahun lebih tua.
Livi: Dari begitu banyak wanita cerdas, cantik dan dewasa mengapa Ayah memilih Jona? Sahabatku, yang tak mungkin menggantikan Ibu?
Jordy:
Pada kekurangan dan kelemahannya aku benar-benar jatuh hati. Ah, Jona!
Terdiri dari bab 1-42 (End).
Bab selanjutnya extended season.
Cerita ini mengandung konten dewasa pastikan cukup umur sebelum membacanya. 21+
Terima kasih untuk semua bentuk dukungan Sobat Gorgeous. Salam supportive penuh berkah. 😘😘
27 Juni, I'm done! Sebagai creator cerita saya menyatakan selesai. Selanjutnya, cerita ini saya serahkan kepada Dear Readers Tersayang anak2 tiriku. Jadi, jika kalian punya usul, ide, atau koreksi meliputi typo atau miss-information, jangan sungkan untuk kasih saran masukan. Karena mulai sekarang, cerita ini milik: KITA BERSAMA!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arwen CTB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sacrifice
Silvy sudah mendapatkan perawatan. Jordy dan Iwan duduk bersebelahan di bangku tunggu. Mereka diam, menekuni pikiran masing-masing. Iwan cukup ciut nyali untuk memulai percakapan terlebih dulu. Sementara Jordy, sibuk dengan pikiran-pikiran tentang hubungan abnormalnya dengan Jona yang ditentang keluarga juga rencana perjodohannya dengan dokter Evi.
Jordy melirik ke arah sahabatnya dan melihat betapa gelisah dan cemas laki-laki muda itu. Sehingga dia memutuskan untuk mulai bicara duluan, meskipun hatinya masih jengkel karena kata-kata penghinaan yang keluar dari mulut Iwan terlanjur melukainya.
"Wan, gue tau lo ada rasa ama Silvy."
Iwan menoleh, mengangkat kedua alis sambil memajukan bibir. Tidak menyangka bahwa Jordy sudah mengetahui apa yang dia rasakan. Ekspresi Iwan benar-benar menunjukkan keheranan, seolah dia sedang mengatakan, "Dari mana lo tahu?"
"Kalau emang lo suka, kenapa gak lo perjuangin?" Kali ini pertanyaan Jordy benar-benar mengusik Iwan. Selama ini dia sudah banyak berjuang dan berkorban demi Silvy. Lalu maksud Jordy berjuang yang bagaimana lagi? Sebenarnya, Iwan tidak terima jika Jordy mengira bahwa dia tidak melakukan apa-apa.
"Maksud lo?" Iwan memasang wajah polos ketika melayangkan tanya itu sehingga membuat Jordy tertawa. Masa iya, seorang Iwan belum paham.
"Ya, berjuang buat perasaan lo sendiri."
Iwan menggeleng, ragu. Dia bukannya tidak berpikir sampai sana, akan tetapi cowok itu merasa belum bisa. Belum sanggup.
"Kenapa? Bukannya lo cinta Silvy? Lagipula cewek mana sih, yang bisa nolak cowok sekeren lo? Cowok paling kece seantero Jakarta. Hahaha."
"Dih! Sue lo, Bro."
Seketika kebekuan di antara mereka mencair. Iwan juga ikut menertawakan candaan garing Jordy. Sejenak mereka melupakan baku hantam di basement beberapa waktu sebelumnya. Iwan menarik napas. Menata diri, menata hati untuk selanjutnya menyampaikan isi kepala serta isi hati kepada Jordy.
"Gue ngrasa nggak pantes buat Silvy, Bro. Lo kan tau gue kaya apa."
Mendengar itu Jordy merasa kemarahannya benar-benar reda. Beda dengan ketika Iwan bicara dengan emosi dan nafsu. Kali ini dia bicara dengan hati. Maka benarlah apa kata orang pintar, yang datang dari hati akan juga sampai ke hati. Jordy mengambil posisi sebagai orang yang lebih berpengalaman, lebih dewasa, mencoba memahami dan mengerti. Iwan telah berhasil membuat Jordy bersimpati.
"Gue rasa lo akan jadi partner yang baik buat Silvy."
"Tapi gue nggak berani."
"Dengerin gue. Mulai sekarang putusin semua cewek-cewek lo. Mulai fokus sama Silvy. Lo nggak akan selamanya kayak gini, kan?"
"Emmmh...."
"Dan lagi, lo udah sampai pada tahap paling tinggi dalam mencinta. Bahkan gue sendiri belum sampai di tahap itu."
"Heh?" Iwan melongo demi mendengar pernyataan Jordy. Setengah tak percaya dan sisanya penasaran. Tahapan dalam mencinta saja dia tidak mengerti, apalagi tahap paling tinggi....
"Melepaskan, Wan. Tahap tertinggi dalam cinta adalah melepaskan." Jordy menepuk bahu kawannya sambil menjelaskan sebelum bangkit berdiri dan melangkah pergi. Dia harus segera ke ruang kerja. Jordy sudah memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak sewa kantornya.
Tidak banyak yang perlu dibereskan Jordy. Hanya dua buah foto, beberapa catatan temple yang belum sempat dibersihkan, alat tulis yang tidak pernah digunakan, juga dua buah kotak folder. Semua itu harus disingkirkan dari meja kerja demi kenyamanan penyewa berikutnya.
Jordy menimang mug Liverpool kesayangannya di pantry. Lalu memutuskan untuk meninggalkannya di sana. Dia masih punya beberapa yang lain di rumah. Itu pasti akan bermanfaat. Dia pernah mendengar bahwa ketika merelakan sesuatu, haruslah sesuatu yang masih disukai. Tidak seperti seorang kikir yang menghibahkan makanan basi untuk pengemis. Itu sungguh perbuatan yang jauh dari kata terpuji. Tak lama setelah itu, Iwan dan Silvy datang.
"Kamu udah baikan?" Jordy menunduk, agar bisa menatap mata Silvy. Gadis itu mengangguk lemah.
"Jangan pakai kamu-kamu dong," protes Iwan cemburu.
"Hahaha. Iya deh maaf, Bos."
"Lo beneran cabut, Bro?" Kali ini Iwan bertanya dengan nada berat. Ketiganya duduk mengelilingi meja bundar di tengah ruangan.
"Iya. Mungkin ini yang terbaik buat kalian."
Silvy dan Iwan saling berpandangan. Jordy melanjutkan, "Kamu tau kan kalau Iwan suka sama kamu? Eh, maksud gue lo. Tar kena semprot lagi kamu-kamuin Silvy."
Lagi-lagi Silvy mengangguk. Sepertinya gadis itu belum sepenuhnya menguasai diri, atau bisa jadi emosi.
"Bagus kalau gitu. Gue tunggu undangan kalian."
"Eh, apaan sih, Bro," sanggah Iwan malu-malu.
"Oh, iya, satu lagi. Jona itu nggak seperti yang lo kira, Wan. Dia cewek baik-baik. Gue juga tulus sayang sama dia, sebagai wanita dewasa."
"Maafin gue, Bro. Tadi gue kelewat emosi."
"Iya. Gue puas kok udah gebukin lo, haha."
"*****! Awas lo ya. Hahaha!"
Ketiga manusia itu pun larut dalam tawa. Lalu saat perpisahan pun tiba. Tepat lima menit setelah kepergian Jordy, Silvy menerima cinta Iwan.
"Gue janji bakal bahagiain lo, Vy. Membuat ingatan lo tentang Jordy hilang sama sekali."
"Thanks, Wan. Sejak awal, emang lo yang paling baik dan perhatian sama gue."
"Meski belum ada cinta, ayok kita jalani sama-sama."
Silvy tersenyum setuju ditingkahi oleh sikap kekanakan Iwan yang meloncat kegirangan sebelum akhirnya mereka saling memeluk, saling berjanji untuk selalu bersama. Cinta dan ambisi, sering kali tak seiring sejalan. Cinta dan pengorbanan juga tak selalu sejalan, tetapi pada keduanya ada benang merah yang kerap menghubungkan.
*
Jordy berkendara dalam perasaan lega. Lega karena telah meninggalkan Iwan dan Silvy yang mungkin akan segera bahagia. Sekaligus lega bisa lebih dekat dengan Jona. Membayangkan wajah cantik Jona membuat perasaanya tenang dan bahagia. Namun seketika dia ingat Livi. Bukankah seharusnya dia senang karena bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Livi?
Ayah macam apa yang lebih mementingkan pacar ketimbang putrinya sendiri? Sesungguhnya pikiran itu sangat mengganggu Jordy. Membuatnya merasa bersalah. Ayah terbaik adalah gelar yang semakin jauh dari dirinya.
Jordy kembali ke Rumah Sakit demi memenuhi janjinya. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam ketika dia sampai dan bertemu dengan Jona dan juga Rudian.
Cowok itu menjenguk Jona dan memberikan salinan catatan agar Jona tak ketinggalan pelajaran. Ketika Jordy datang, Rudian menatapnya kaku, seolah bisa membuat Jordy mundur. Hanya saja, yang ditatap pun melakukan hal sama. Walau bagaimanapun, dia tak suka bila sang kekasih didekati laki-laki lain. Terlebih itu adalah Rudian, cowok yang di mata Jordy hanyalah cowok ingusan.
Demi menunjukkan posisinya yang memang sudah kuat, Jordy membelai kening Jona sambil bertanya, "Sudah baikan, Sayang?" Tak biasa-biasanya ayah Livi mau menunjukkan kemesraan di hadapan orang. Rudian benar-benar merasa terintimidasi sekaligus tereliminasi ketika Jona membalas dengan senyuman tulus dan hangat perlakuan Jordy.
Hatinya benar-benar kacau akibat rasa cemburu namun sebisa mungkin suaranya dibuat agar terdengar biasa. Dia tak ingin terlihat begitu kalah di hadapan Jordy, saingan beratnya. Orang yang juga dihormatinya.
"Aku pulang dulu, ya."
"Baguslah, lagipula sudah malam. Tidak baik anak sekolah berkeliaran malam-malam," timpal Jordy menyindir.
"Kak... Apaan deh?" Balas Jona, tidak ingin membuat temannya sakit hati.
"Iya, Jona. Aku sudah ditunggu Ibu di rumah."
"Tunggu apa lagi?" tantang Jordy jumawa.
"Balik dulu, Jo."
"Oke. Makasih banyak, Rud."
"Sama-sama. Pulang dulu, Om."
"Ati-ati," jawab Jordy basa-basi. Padahal dalam hati dia ingin berkata, cepatlah pergi dan jangan kembali. Benar-benar membuat cemburu!
"Aku senang kamu datang," ucap Jona yang tengah menggenggam tangan Jordy, beberapa saat setelah Rudian pergi. Ketika belum menjawab, Mbah keburu datang membawa roti bakar.
"Loh, mana temanmu tadi?"
"Udah pulang, Mbah tadi nggak papasan?"
"Tidak, kok, buru-buru sekali?"
Mbah tidak tahu bahwa pemuda bernama Rudian itu baru saja merasakan pedihnya melihat kemesraan Jona dan Jordy. Wanita itu juga tidak tahu bahwa Jordy telah dengan halus mengusirnya.
"Mungkin mau belajar, Mbah," jawab Jona menghilangkan kecurigaan Mbah. Jona mengira jika Mbah tahu tentang persaingan antara Rudian dengan Jordy dalam memperebutkan dirinya, pasti wanita tua itu akan mendukung Rudian.
"Dokter bilang sebentar lagi aku boleh pulang," lapor Jona pada sang kekasih.
"Itu kabar yang bagus. Aku pasti akan mengurus semuanya. Kamu jangan khawatir." Jona mengangguk, begitu juga dengan Mbah yang tadinya cemas memikirkan tagihan rumah sakit selama Jona dirawat, terlebih sejak cucunya itu dipindahkan ke ruang rawat kelas satu.
Jordy berpamitan setelah merasa puas memandang wajah kekasih dan bertukar pikiran serta cita-cita. Dia juga perlu membahas satu dua hal penting dengan Livi segera. Saat Jordy pulang, sesungguhnya hati dan pikirannya tetap tinggal. Bersama Jona terkasihnya.
Halo, Teman-teman cantik dan ganteng. Terima kasih sudah sampai di sini. Juga untuk semua bentuk dukungan berupa views, vote dan commentsnya. Sampai sini semoga ada manfaat yang bisa diambil dari cerita ini, kalau nggak aku akan ngelist satu per satu pesan moralnya biar mirip buku PPKn. Haha&
Jordy sudah dewasa. mandiri. tidak bergantung secara materi dg org tuanya. biarkan ia bahagia sesuai keinginannya😄
klw bisa cinta yg tak menentu atau takdir cinta