untuk cerita kali ini aku akan menceritakan kisah cinta Lardo Devhan Sanjaya
buat yang belum paham kalian bisa baca dulu novel turun menurunnya.
1. CEO JATUH CINTA
2.ALVARO SANJAYA
semoga kalian suka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Ferdina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke paris
Risa sedari tadi menunggu bosnya keluar dari ruangan, tapi tidak ada tanda tanda Lardo akan keluar.
padahal jam kerja sudah selesai, bahkan harusnya mereka sudah pulang.
apa mungkin dia belum baca kertas itu ya../Risa
sebenarnya Risa ingin sekali mengatakan kalau dia juga memiliki perasaan pada Lardo, namun mulutnya susah untuk berkata jujur saat berhadapan langsung.
krek....
pintu ruangan Ceo terbuka, terlihat Lardo berdiri tanpa menatapnya.
"kamu mau pulang?" tanya Risa
"hmmm...." Lardo menatap dingin Risa
"apa kamu jadi pergi ke paris, dan berapa lama kamu disana?" tanya Risa begitu gugup melihat tatapan dingin Lardo
"bukan urusanmu" ucap Lardo berlalu meninggalkan Risa begitu saja.
Deg....
perasaan Risa begitu sakit saat melihat Lardo tidak sehangat dulu, bahkan sikapnya berubah seperti pertama kali bertemu.
apa kamu belum baca kertas itu..., aku cinta kamu.../Risa
air matanya menetes begitu saja, sikap Lardo yang berubah membuatnya sakit dan kecewa.
Risa membereskan meja kerjanya dan segera ingin pulang ke rumah.
Lardo yang baru saja tiba di parkiran langsung di sambut oleh Juan...
"apa ingin pulang dulu, lagi pula pesawat akan berangkat jam 7 malam" ucap Juan
"majukan sekarang juga, gue mau kita berangkat segera" ucap Lardo dengan datar
"lo kenapa?" tanya Juan
"lakuin, jangan banyak tanya"
Juan merasa ada yang tidak beres dengan bos nya itu, Juan sangat yakin jika ada sesuatu yang terjadi.
"apa lo sudah membawa semua berkasnya?" tanya Juan
"bukannya semua ada di lo?" tanya balik Lardo menatap heran pada Juan
"hmmm... berkasnya masih ada di meja lo, bukannya tadi lo minta"
"****... gue lupa"
ck... dan akhirnya dengan terpaksa Juan balik ke dalam kantor, berlari kecil menuju lift khusus untuk keruangan Lardo.
bahkan Juan bertemu dengan Risa, tak jauh beda, namun wajah Risa terlihat sendu dan habis menangis. keyakinan Juan semakin kuat, jika terjadi sesuatu.
dan sampainya Juan di dalam ruangan Ceo, segera Juan mendekati meja bosnya yang di penuhi berkas berkas penting.
namun matanya tak sengaja melihat secarik kertas yang berisi sebuah tulisan.
Juan mengambil kertas tersebut lalu membacanya...
betapa terkejut Juan melihat tulisan yang ada di kertas itu, bahkan tangannya bergetar, seolah itu surat cinta untuk dirinya.
dengan cepat Juan merapikan berkas berkas yang akan di bawa ke paris, tak lupa secarik kertas yang ditemukannya juga di selipkan di kantong jas miliknya.
Juan berlari menuju parkiran kantor, dengan keringat dingin juga nafas tersengal sengal.
"ini berkasnya..." ucap Juan menghirup nafas sebanyak banyaknya.
bahkan baju kemeja yang di gunakan basah oleh keringat.
"lo kenapa?" tanya Lardo
"gak apa apa, cuma gue tadi nemuin sesuatu penting" ucap Juan yang masih menetralkan nafasnya agar normal.
"ck... cepat ke bandara, gue ingin segera sampai di paris" ucap Lardo
"ta..tapi ini penting" ucap Juan
"gak ada yang lebih penting dari perusahaan gue" sewot Lardo menatap tajam ke Juan
oke fine... awas aja lo menyesal bod*h.../Juan
"lo sudah izin ke nyokap bokap?" tanya Juan memastikan
"gue sudah kirim pesan dengan papa dan mama"
"lo yakin gak mau denger sesuatu penting dari gue?" tanya Juan lagi, ingin sekali memancing Lardo
"gak..." ucap Lardo dengan dingin dan langsung memejamkan matanya
***
Adel dan Varo memilih untuk kembali ke New york, selain masih kesal dengan putra mereka, juga ada urusan pekerjaan yang harus di tangani oleh Varo, bahkan Bian juga harus ikut membantu papanya.
"ma... aku masih betah disini, pleas ma" mohon Bian
"No, bantu papamu, kamu harusnya berubah ar, kasian papa yang sudah berumur harus mengerjakan semuanya, kakak kamu juga sibuk" ucap Adel
"maksud mama apa papa sudah berumur, mama ngatain papa tua?" ucap Varo yang tidak terima dengan ucapan istrinya.
"kan papa emang sudah tua, bahkan anak anak sudah pada dewasa pa" sahut Adel
"umur papa emang tua ma, wajah papa masih seumuran Bian" Varo begitu pede berbicara.
Adel dan Bian menahan tawa mereka agar tidak meledak di depan sang papa, bisa bisa ngamuk nantinya.
"iya papa masih terlihat seperti aku..." ucap Bian
"kenapa kalian seperti kurang yakin, asal kamu tau Ar, papa masih bisa membuatkan kamu adik, kalau mama mau"
"jangan ngaco deh pa ngomongnya, gak malu apa sama umur" kata Adel tak habis pikir dengan ucapan sang suami
"gak apa dong ma, emang Bian gak mau punya adek?" tanya Varo pada putranya
"ogah... apa kata orang orang, kalau aku punya adek di umur segini, papa bikin malu aja" ucap Bian
"denger kan pa... gak usah bikin malu anak, yang ada papa cocoknya punya cucu bukan anak lagi" sahut Adel menggelengkan kepalanya.
***
"lo serius ga mau denger apa yang gue bilang?" tanya Juan yang duduk di samping Lardo
mereka kini sudah berada di dalam pesawat pribadi, Juan dari tadi memancing Lardo agar mau mendengar ucapannya, sebelum menyesal nantinya.
"ini menyangkut masa depan lo do, serius gue" kata Juan, membuat Lardo bingung
"maksud lo apa?" tanya Lardo yang mulai penasaran dengan berita yang akan di ucapakan Juan padanya
"tapi janji lo gak akan minta balik setelah ini, selesaikan urusan lo dulu di paris, baru lo boleh pulang" tegas Juan mendapat anggukan pasti dari Lardo
Juan mengeluarkan kertas yang ada dalam saku jasnya, masih terlihat rapi tanpa kucel sedikitpun.
"itu apaan?" tanya Lardo penasaran
"kertas.."
"gue juga tau itu kertas, tapi isinya apa" kesal Lardo yang merasa di permainkan oleh Juan
"baca sendiri, tapi ingat kata kata gue tadi, jangan minta balik" Juan langsung memberikan kertas tersebut pada Lardo
setelah mendapatkan surat itu, Lardo langsung membacanya, dan betapa terkejutnya dia melihat tulisan itu, kata kata itu.
"lo dapat dari mana an' ucap Lardo, untuk pertama kali memanggilnya lagi dengan sebutan An.
"gue dapat di meja kerja lo, emang lo ngapain di ruangan, masa gak liat ada kertas di meja sendiri"
"apa ini beneran, apa benar Risa... akhhh sial" umpat Lardo yang ingat jika tadi begitu ketus pada Risa.
"Risa..." lirih Lardo sambil menyandarkan tubuhnya di kursi empuk yang berada di pesawat.
I LOVE YOU TOO RISA...
I LOVE YOU TOO.....
teriak Lardo membuat Juan terkejut, bahkan bukan hanya Juan, tapi pramugari dan juga yang lainnya langsung memperhatikan Lardo.
"ck... berisik.." gumam Juan
"gue mau cari Risa.. gue harus minta maaf" ucap Lardo.
apa gue bilang, minta balik kan ni bos sinting.../Juan
"inget janji lo, kita selesaikan dulu masalah perusahaan paris, baru bole ngebucin" tegas Juan, berasa dirinya adalah bos.