Tak pernah terpikirkan sebelumnya jika nasib nahas akan menimpa dirinya. Setelah sang ibu mengalami kecelakaan dan koma, Melati harus mau menikah dengan seorang pria dan menjadi yang kedua.
Dan lebih parahnya lagi dia harus merelakan anak yang di kandungnya sebagai syarat terwujudnya sebuah perjanjian. Namun seiring berjalannya dengan waktu, rasa cinta hadir diantara mereka dan membuat pria tersebut di landa kegalauan dalam hatinya. Siapakah yang akan di pilih oleh pria tersebut, istri pertama atau istri keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Shally, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Seorang Istri
Arka memandangi bayangan dirinya di depan cermin, tangannya pun dengan cekatan memasangkan setiap kancing di setiap lubang di kemejanya. Dia tersenyum lembut menatap bayangan Annisa yang melangkah mendekat ke arahnya dengan pakaian luck nut yang selalu menggoda imannya. Tak lupa senyum manis yang selalu menghiasi bibir merah muda nya.
"Mau pergi sekarang, Mas?!" Tanya Annisa seraya melingkarkan tangannya di perut Arka dan merabanya dengan gerakan menggoda. Ada sedikit rasa tak rela ketika pagi ini Arka pamit untuk ke luar kota. Karena dia akan merasakan kesepian yang luar biasa. Apalagi jika kedatangan ibu mertuanya yang berusaha merusak mood nya agar memicu pertengkaran dengan Arka.
Arka tersenyum. Kemudian memutar tubuhnya agar bisa melihat langsung wajah Annisa yang bersedih seperti biasanya jika Arka akan pergi ke luar kota. Ada rasa tak tega, namun dia juga harus menjalankan kewajibannya sebagai suami Melati. Meskipun itu berat, semua harus bisa terlaksana karena semua di lakukan untuk kepentingan bersama. Dan Melati juga akan mendapatkan kebahagiannya sebagai istri nya yang sah.
Untuk Melati. Tentu saja dia tak akan tinggal diam setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Arka juga akan selalu membiayai kebutuhan Melati meskipun akhirnya mereka akan berpisah. Karena menurutnya, Melati juga adalah bagian dari hidupnya dan Dewi penolong bagi keluarganya yang terus di ombang ambingkan oleh sang ibu, Nany. Dan jika tak ada Melati, entah apa yang akan Arka lakukan sekarang.
Apakah Arka sudah bisa menyayangi Melati sebagai istrinya? Tentu saja bisa, karena meskipun menikah siri, namun pernikahannya dengan Melati sudah sah di mata agama. Dan untuk mengesahkan di mata negara, masih menunggu beberapa waktu lagi untuk itu, karena dia belum siap jika pernikahannya ini di ketahui oleh Annisa. Karena dia sangat mencintai Annisa dan juga tak ingin kehilangannya.
"Kenapa? Kamu mau ikut sayang?"
Annisa mendongak menatap mata Arka. "Memang boleh? Kamu kan bekerja sayang!"
"Kenapa tidak, asal kamu bahagia aku pun rela."
Annisa tergelak. "Gombal banget sih kamu yank. Makin sayang deh sama kamu." Annisa mencubit dan memainkan hidung Arka dengan gemasnya.
Arka menangkap tangan Annisa dan mengecupnya beberapa kali. "Bukan gombal, tapi kenyataannya seperti itu, Annisa. Apa kamu tak percaya? Hhemm!!"
Annisa mengangguk. "Aku percaya. Sekalipun kamu poligami di sana, aku pun akan tetap percaya padamu, Mas."
Deg
Arka menatap Annisa dengan intens. Mencari sesuatu yang mungkin Annisa ketahui tentang dirinya dan Melati. Tentu saja dia sangat terkejut karena setiap kata yang terucap dari bibir Annisa seolah dia mengetahui segalanya. Dan apa yang dia ucapkan sekarang adalah semuanya benar.
"Maksud kamu?" tanya Arka memastikan.
Annisa tergelak lagi ketika mendapati wajah Arka yang berubah pias. "Kamu kenapa, sayang? Kog pucat begitu?" tanya Annisa. "Apa kamu melakukan poligami di sana, sayang?" Annisa bertanya dengan nada menggoda seraya tersenyum pada Arka. Sama sekali tak menampakkan kemarahan dari wajahnya.
Arka berusaha tersenyum walau terpaksa. Dia juga bingung mau menjawab bagaimana. Namun entah jawaban dari mana sehingga Arka berani melontarkan pertanyaan pada Annisa. "Kalau aku poligami, bagaimana? Apa kamu marah, Annisa?"
Annisa menarik kerah Arka dan mendekatkan wajahnya ke telinga Arka, sehingga Arka bisa menghirup aroma segar dari tubuh Annisa yang berhasil membuat sesuatu terbangun seketika.
"Asal kamu bahagia, Mas." ucap Annisa di sertai \*\*\*\*\*\*\* manja dari bibirnya. Annisa pun sedikit memberi godaan pada Arka dengan mengigit kecil di cuping telinga Arka.
Dada Arka berdesir hebat. Bukan karena \*\*\*\*\*, tapi karena dia merasakan ketakutan yang amat besar jika kehilangan Annisa. Rasa bersalahnya kian besar kala melihat senyum Annisa yang nampak sangat tulus menatapnya. Membuatnya semakin jatuh cinta pada Annisa.
Tapi dia juga tak bisa melupakan Melati begitu saja. Dia sudah terjerumus semakin dalam atas pernikahannya dengan Melati. Dan perasaan entah apa namanya sudah mengisi relung hatinya meskipun masih dalam skala kecil. Meskipun kecil, dia takut akan membesar rasa itu seiring berjalannya waktu. Apalagi jika Melati mengandung anaknya, bisa di bayangkan betapa bingungnya Arka ketika kebohongannya lambat laun akan di ketahui oleh Melati.
Annisa menangkup pipi Arka lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Arka sekilas. "Aku sayang kamu, Mas. Dan apapun pilihan kamu nanti, aku akan siap menerimanya."
Arka berdecak kesal. "Kamu ngomongin apa sih, Annisa. Jangan ngawur deh. Aku nggak suka kamu bicara ngawur seperti itu." Arka merasa tak nyaman jika Annisa menatapnya intens seperti itu. Seolah tengah mencari kebenaran di sorot matanya.
Namun Arka juga sudah tak bisa mengelak jika matanya berkata sebaliknya. Karena dia yakin jika Annisa bisa melihat semua itu dari sorot matanya.
'aku akan merelakan kamu mas jika kamu mempunyai wanita lain di luar sana. Aku akan mengalah asalkan kamu bahagia bersamanya. Aku pun akan mencari bahagiaku sendiri meskipun bukan denganmu.'
Annisa langsung menunduk untuk menyembunyikan air matanya. Tangannya menyapu ait matanya dengan cepat agar Arka tak mengetahuinya. Sebisa mungkin dia akan menyembunyikan sendunya di depan Arka. Karena dia tak ingin kesedihannya membuat Arka kepikiran dan menggangu pekerjaan Arka di perusahaan.
Arka menyadari itu. Dia menatap istrinya yang sedang tertunduk itu dengan lekat. Perasaan sakit menerjangnya kini. Dia tak tahan jika harus memendamnya lebih lama. Namun dia juga tak ingin Annisa tersakiti atas kelakuannya. Sungguh, ingin sekali dia berteriak untuk meluapkan segala rasa yang bersarang di dadanya. Agar dia bisa berpikir jernih dan mendapatkan jalan keluarnya dengan cepat. Dia sudah tak tahan berada pada pusaran gelap dan menyesatkan.
Tanpa kata Arka memeluk Annisa erat. Dia bisa merasakan guncangan tubuh Annisa karena tangisannya. Di paham betul apa yang di rasakan Annisa sekarang. Apalagi berbagai teror yang di tujukan kepadanya dari sang ibu. Membuat Annisa semakin melemah.
Arka marah, Arka siap jika harus melawan sang ibu demi Annisa. Tapi Annisa lah yang selalu mendinginkan amarahnya jika berhadapan dengan sang ibu. Jika saja sang ibu bisa mendukungnya, pasti perang dingin ini tak akan pernah terjadi. Karena Arka juga sangat menyayangi sang Ibu, Nany.
"Sudah. Aku paling tak suka melihat air matamu menetes. Lupakan semua dan jangan pernah berpikir konyol seperti itu lagi."
Annisa mendongak. "Tapi aku serius, Mas. Aku rela jika kamu poligami. Aku menyadari jika\_\_"
Kalimat Annisa terhenti karena bibir Arka yang membungkam bibir Annisa. Arka tak ingin mendengar apapun dari bibir Annisa. Memang benar dia sudah melakukan semuanya, tapi dia masih belum siap jika Annisa mengetahui semua apa yang di lakukan Arka di belakang Annisa. Karena ini hanya soal waktu. Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya.
Arka melepas tautan bibir mereka. Menatap lembut pada Annisa yang masih memejamkan matanya. Dia tersenyum melihat bibir Annisa yang bengkak dan basah karena ulahnya.
Tangannya terulur menyapu bibir Annisa dengan lembut, mengusap sisa saliva yang masih menempel di sana. Kemudian mereka saling mendekatkan kening masing-masing dan tersenyum seraya saling menatap mesra. "I love you, Annisa."
mf authooorr....lo sy blg trburuk yg su bkin z kecewa bc crita author.
krna dsni tokoh utama yg trtindas mpe su brjuang ksh anak tp msh kalah sm perem mandul😏🙄😠😠
su mandul tp g tau diri jg msh mo kuasai lakix, bner" perem g brguna.
sumpah.....sy bner" rasa rugi bc crita ni biar sy bc jg lompat" , endingx bkin emosi