Hidup sebagai single parent tidaklah mudah, banyak tantangan dan ujian di dalamnya. Namun, semua itu harus dilalui Riana Aisyah Humairah, yang membesarkan anak seorang anak diri, Kaila Humairah, sepenih jiwa raga untuk kebahagiaannya.
Riana adalah korban kekerasan rumah tangga dan keegoisan sang suami, Arsyid. Hingga ia tidak peduli lagi akan cinta seolah kata itu hilang dalam kamus hidupnya.
Riana pun memutuskan membawa sang buah hati ke Negara Ginseng, Korea Selatan. Di sana ia berhasil menjadi seorang arsitek dan bertemu CEO muda sekaligus pelukis ternama, Kim YeonJin.
Kim YeonJin hadir di antara banyak perbedaan, salah satunya kepercayaan. Ia yang juga menjadi korban broken home memahami kepelikkan dan kesusahan Riana, sampai rasa kagum itu hadir.
Mampukah kisah mereka berkembang ke hal lebih baik di balik perbedaan melingkupi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20
...Perasaan itu menyusahkan. Adanya perbedaan membuat kita tidak mungkin bersama....
.......
Kaila masih betah berada dalam gendongan sang pemilik perusahaan, Kim YeonJin. Semua mata kini mengarah padanya, CEO muda itu tidak mempedulikannya dan terlihat nyaman bersama gadis kecil ini.
Ia benar-benar seperti seorang ayah. Kelak entah berapa tahun lagi ia bisa menjadi ayah sesungguhnya. Bisikkan demi bisikkan orang-orang di sekitar terdengar berdengung.
Hyerin dan ayahnya, Park Jung Guk kagum dengan sikap yang diambil YeonJin saat Kaila datang mendekat.
Awalnya mereka terkejut melihat kedatangan gadis manis berhijab itu, dan seketika Kecewa serta emosi terlihat jelas di wajah paruh baya tersebut. Jung Guk berpikir YeonJin sudah mengkhianati anak semata wayangnya.
“Jadi, anak itu bukan putrimu?” tanyanya menatap ke dalam mata hitam si gadis kecil.
“Itu benar. Saya memang mengadopsi Kaila sebagai anak,” jujurnya.
“Appa mereka siapa?” Kini giliran Kaila yang bertanya.
“Em, mereka keluarga Appa," jelas YeonJin menatapnya hangat.
“Ah itu benar. YeonJin Oppa memang sudah mengadopsi anak. Itung-itung sebagai latihan kita nanti, ne Oppa?” lanjut Hyerin masuk ke dalam pembicaraan. Sang ayah tersenyum senang mendengarnya.
“Baguslah, kalian bisa cepat menikah kalau begitu," kata Jung Guk kemudian.
YeonJin melebarkan mata tidak percaya. Pernikahan dan menjalin rumah tangga bersama seseorang tidak pernah terpikirkan sebelumnya jauh dari bayangan. Meskipun mereka sudah dua tahun bertunangan, tetapi sampai detik ini ia tidak mencintainya sedikit pun.
"Mungkin dari kecil aku sudah bersamanya. Aku hanya menyayanginya sebagai adik saja," benak YeonJin melihat sang tunangan.
Namun, berbeda dengan wanita itu. Park Hyerin sepertinya tengah mempertimbangkan perkataan ayahnya tadi.
"Kalau menikah dengan YeonJin Oppa kami pasti melengkapi satu sama lain. Aku mengangguminya... karena dia begitu berbeda saat melukis. Aku jadi teringat masa-masa itu," batinnya senang.
Kenangan masa kecil berputar dalam kepala bersurai hitam itu. Saat usianya sepuluh tahun ia tidak sengaja melihat YeonJin tengah melukis di pekarangan rumah bermandikan cahaya matahari. Sejak saat itulah ia jatuh cinta pada sosoknya.
Dari jarak beberapa meter, Riana yang tengah duduk seorang diri menatap kebersamaan mereka. Satu dua buah anggur dijejelkan ke dalam mulut. Entah kenapa ia merasa kesal sendiri melihat sang anak bersama wanita lain.
Ia memang belum mengenal Hyerin, tetapi saat kejadian waktu itu ia bisa merasakan hal berbeda darinya. Senyum yang mengembang di wajah cantik sang wanita membuat ia terpaku. Pelukis cantik tersebut berbeda dari hari kemarin.
“Ternyata dia punya sisi baik,” gumamnya seraya terus memakan buah-buahan, hanya itu yang bisa ia makan di sana.
“Ck, seperti keluarga saja. Apa Kaila senang bersama mereka? Sampai-sampai melupakan ibunya sendiri," keluh Riana terus berceloteh.
Tanpa ia sadari Jimin yang tengah duduk tidak jauh darinya mendengar ocehannya. Pria itu hanya tersenyum mengerti dengan perasaan sang arsitek.
...***...
Pesta berlangsung meriah. Semua tamu undangan senang atas jamuan diberikan sang pemilik perusahaan. Mereka tidak menyangka YeonJin memberikan pesta terbaik. Banyak sekali pelukis-pelukis handal di sana turut memeriahkan. Tidak lupa karya mereka pun ikut dipajang guna mengikuti tema.
Setelah puas berbincang-bincang bersama sang tunangan dan ayahnya, YeonJin pun membawa Kaila menuju Riana. Wanita itu tidak menyadari kedatangannya, sangking terlalu sibuk bermain ponsel menghilangkan kejenuhan.
“Sepertinya Kaila kelelahan. Lihat Riana, dia sampai tertidur pulas."
Perkataan YeonJin membuat Riana terkejut. Ia langsung mendongak seraya bangkit dari duduk.
“Ah, maafkan saya. Sini biar saya yang gendong Kaila.” Riana pun mengambil alih sosok yang sudah terkulai lemas itu.
Kaila terlihat nyaman dalam gendongan sang ibu. Bibir mungilnya yang kemerahan melengkung merasakan aroma ibunya. Riana maupun YeonJin ikut tersenyum.
“Maaf sudah merepotkan Anda, YeonJin-ssi, dan... maaf Kaila sudah membuat keributan di depan tunangan Anda. “ Riana mengangguk sekilas dan kembali duduk di tempatnya, merasa tidak enak.
“Sama sekali tidak merepotkan, kamu tidak usah minta maaf. Aku senang Kaila ada di sini," balas YeonJin sambil duduk di sebelahnya.
"Oh yah jangan terlalu formal seperti itu kita kan sudah berteman. Lagi pula aku sudah menganggap Kaila seperti anak kandung sendiri.”
Setelah mengakhiri ucapannya, kedua mata mereka kembali saling bertubrukan.
Riana tidak mengerti kenapa YeonJin bisa berkata seperti itu. Seharusnya dia kesal sebab bisa saja Hyerin salah paham dengan keberadaan Kaila. Namun, yang ia lihat hanya sorot mata kegembiraan.
Di tengah-tengah keheningan mereka, tiba-tiba saja suara mikrofon membuyarkan lamunan. Seorang pria bertubuh tegap berkacamata bulat berdiri di atas panggung.
Senyum penuh kebahagiaan mengembang di bibir tebalnya. Bola mata kecil itu bergulir menatap semua tamu undangan yang kompak melihat ke arahnya sebagai objek pertama. Ia tidak sabar ingin memberitahukan berita menyenangkan ini.
“Selamat malam. Sebelumnya saya minta maaf... karena bukan hak saya untuk berdiri di sini sekarang. Namun, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua. Berita ini mengenai CEO kita tercinta Kim YeonJin yang akan segera melangsungkan pernikahannya bersama putri saya Park Hyerin.”
Semua orang tentunya terkejut mendengar berita itu. Seketika keadaan yang semula tenang menjadi heboh. Mereka ikut senang mendengarnya sekaligus tak percaya.
Berbeda dengan YeonJin yang langsung berdiri mematung di tempat. Ia tidak percaya Park Jung Guk, bisa berkata seperti itu tanpa ada kesepakatan terjadi sebelumnya. Jimin bergegas mendekat yang sudah membulatkan kedua mata. Sang atasan tercengang mendapati kabar mengejutkan itu.
Beberapa saat lalu Jung Guk bertanya kepada Hyerin, apakah putrinya itu mau menikah dengan YeonJin atau tidak? Jawaban sang anak tentu saja mau. Dengan keputusan sebelah pihak pria tua itu bergegas memberikan informasi tersebut.
“Ini sebagai hadiah yang saya berikan untuk Anda, Kim YeonJin,” lanjutnya seraya menatap pria menawan itu lekat.
Kim YeonJin mengepalkan kedua tangan erat tidak mengerti permainan apa lagi yang tengah dilakukannya. Refleks ia pun menoleh ke samping kanan melihat Riana yang menunduk.
Entah kenapa ia merasa takut. Degup jantungnya bertalu kencang seperti mau meledak detik itu juga. Keringat dingin bermunculan di dahi lebarnya dan bahunya yang tegap bergetar perlahan.
Tidak lama kemudian, Riana mendongak dan memberikan senyum terbaiknya. Ia pun bangkit hendak mengucapkan selamat. Namun, baru saja bibirnya terbuka ucapan YeonJin mengejutkan. Jimin sampai tercengang, tidak percaya sahabat sekaligus kakaknya ini mengatakan hal sakral begitu cepat.
“Saranghae.”
Untuk sedetik saja waktu seolah berhenti berputar. Ia terbelalak sempurna sama sekali tidak menduga pernyataan datang secepat kilat menyambar.
Beruntung musik yang tengah dimainkan meredamkan ucapan YeonJin tadi. Orang-orang tidak memperhatikannya dan sibuk mengucapkan selamat kepada Hyerin.
Namun, ada satu orang yang sedari tadi tidak pernah melepaskan pandangannya dari mereka. Mendengar YeonJin mengatakan itu sebelah sudut bibirnya terangkat.
“Aku tahu apa yang harus dilakukan. Sepertinya wanita itu sangat berarti untuk dia. Kalau begitu permainan baru segera dimulai. Selamat menikmatinya... Kim YeonJin," gumamnya dengan suara berat.
Keren kamu Thor...
Karyamu sungguh luar biasa...
Semoga sukses selalu untuk author...
Sama2 bandot tua bau tanah nan serakah menyebalkan..
narasi2nya bener2 nyesek...
Rasa mau ngulek jntungnya
Bener2 ngehempas mental anak kecil, ga ad hati😡😡😡
Walau fiksi...Mak merinding bacanya ..
Terharu..
Walau sekedar membaca narasi..
Luar biasa authornya
Pandai ngacak2 perasaan reader
Ga usah ditutupi
Agar BS sama2 menghadapi si tua bangka itu
Mbo ya eliiiing kamu tuuuh...
Hhhh tak sentil jantungmu Syiiiid
Geram rasanya..
Dr bab awal sj, ni air mata rasanya ngalir tanpa diminta
Rasanya sakit banget Thor..