NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Pertemuan Pertama Dengan Healer Sombong

Angin malam di Hutan Iblis menusuk sampai ke sumsum.

Kael terduduk di atas batu berlumuran lumut. Napasnya berat. Di hadapannya, 3 mayat goblin tergeletak dengan tubuh menghitam bekas terbakar. Bau daging gosong dan darah bercampur jadi satu.

Tangan kanannya masih mengepulkan asap tipis. Itu pertama kalinya sejak 3 hari dia diasingkan, Kael berhasil mengeluarkan sihir dari tubuhnya.

[Selamat! Anda mengalahkan Goblin Level 3 x3]

[EXP +45]

[Anda naik ke Level 2]

[HP: 45/50 | MP: 8/20]

"Level 2..." Kael mengepalkan tangannya yang gemetar. "Gue... gak sampah lagi."

Suaranya bergetar. Bukan karena takut. Tapi karena lega. Selama 15 tahun hidupnya, dia dicap gagal. Dihina. Dibuang.

Tapi sekarang, Sistem Archmage membuktikan dia salah.

Kael bersandar. Kepalanya pening. Menggunakan sihir Api Level 1 tadi menguras hampir semua MP nya. Dia harus bermeditasi.

Belum sempat dia menutup mata, suara gemerisik dari semak-semak membuatnya langsung siaga.

"Kretek..."

Kael berdiri. Lututnya masih sakit. "Siapa? Keluar!"

Tidak ada jawaban. Hanya suara rintihan pelan. Seperti orang menahan sakit.

Dengan hati-hati Kael mendekat, bersembunyi di balik pohon. Jantungnya berdegup kencang. Kalau ini Ogre Level 10, dia mati.

Yang muncul dari balik semak bukan monster.

Tapi seorang gadis.

Usianya sekitar 16 tahun. Rambut pirang panjangnya kusut dan kotor. Jubah putih khas Healer Akademi Sihir sobek di beberapa bagian. Di lengan kirinya ada 3 luka cakar yang dalam, darahnya masih menetes.

Wajahnya cantik. Tapi ekspresinya... menyebalkan.

Gadis itu menatap Kael dari atas sampai bawah. Lalu mendengus keras.

"Tsk. Sampah."

Kael mengernyit. "Hah?"

"Aku bilang sampah." Ulang gadis itu dengan suara lemah tapi nadanya tetap angkuh. "Kamu murid yang dikeluarkan sebulan lalu kan? Kael Von Astrea. Si 0 mana. Yang jadi bahan tertawaan satu akademi."

Nama itu seperti cambuk. Kael mengepalkan tangan. Luka lamanya kembali menganga.

"Kalau tau, kenapa masih nyamperin? Mau mentertawakan orang yang sekarat?" Suara Kael dingin.

Gadis itu tertawa kecil, lalu meringis kesakitan. "Mentertawakan? Aku Luna Elheart. Healer Rank D dari keluarga bangsawan Elheart. Aku kejebak di hutan sialan ini 2 hari karena tim sialanku ninggalin aku pas lawan Ogre. Dan sekarang..." Dia mengangkat lengannya yang berdarah. "Mana ku habis. P3K ku habis. Kalau gak ada yang bantu, aku akan mati di sini. Dan tebak siapa satu-satunya orang yang lewat? Si sampah 0 mana."

Kael diam. Otaknya berputar cepat.

Secara logika, dia harus pergi. Luna jelas membencinya. Dia juga gak punya kewajiban nolongin orang yang menghina dia.

Tapi...

[Ding! Misi Sistem Muncul]

[Misi: Selamatkan Nyawa Healer Yang Terluka]

[Waktu: 10 Menit]

[Hadiah: Skill Pasif "Regenerasi Sampah" - Meningkatkan pemulihan HP 2x saat HP di bawah 30%]

[Gagal: Pengurangan EXP 50]

"Sialan..." Kael mengumpat pelan. Sistem sialan ini.

Luna melihat raut wajah Kael. "Kenapa? Takut? Wajar. Kamu kan gak bisa apa-apa. Pergi sana. Aku lebih baik mati daripada ditolong sampah."

Kata-kata itu seharusnya membuat Kael marah. Tapi anehnya, dia malah tenang.

"Berisik." Kael memotong. Dia berjalan mendekat dan berjongkok di depan Luna.

"Minggir! Tangan kotormu jangan—"

"DIAM." Bentak Kael.

Luna terkejut. Ini pertama kalinya ada yang membentaknya.

Kael menarik lengan Luna dengan hati-hati. Luka itu dalam. Kalau tidak ditangani, dia akan kehilangan banyak darah.

"Gak punya pilihan lain ya..." gumam Kael. Dia memejamkan mata.

[Mengaktifkan Sihir Api Level 1]

Api kecil berwarna oranye muncul di telapak tangannya. Luna langsung berteriak.

"KAMU GILA?! ITU LUKA BUKAN UNTUK DIBAKAR, SAMP—"

"DIAM KUBILANG!" Kael membentak lagi. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Aku lagi fokus!"

Dengan konsentrasi penuh, Kael tidak membakar. Dia mengontrol api itu. Mengubahnya jadi panas yang menghangatkan. Ini teknik baru yang dia temukan 10 menit lalu. Api bisa mensterilkan dan membakar kuman di luka.

Panas itu menjalar ke lengan Luna. Awalnya sakit, lalu terasa hangat.

Mata Luna membelalak. "Kamu... kamu bisa mengontrol api sehalus ini? Padahal kamu..."

"0 mana. Iya aku tau." Kael tidak menoleh. Fokusnya pecah kalau dia menjawab. "Tapi Sistemku bilang lain."

5 menit berlalu. Rasanya seperti 5 jam. MP Kael terkuras habis. `MP: 1/20`

Akhirnya pendarahan berhenti. Tepi luka Luna mulai menutup.

Kael melepaskan tangannya dan jatuh terduduk. Napasnya terengah.

Luna menatap lengannya yang sudah tidak berdarah. Lalu menatap Kael yang kelelahan. Keangkuhan di wajahnya memudar.

"...Terima kasih." Suaranya pelan. Hampir tidak terdengar. "Kael."

Kael membuka satu mata. "Jangan salah paham. Ini karena Sistem nyuruh. Bukan karena aku baik hati."

"Aku tau." Luna mengangguk kecil. Pipinya sedikit merah. Mungkin karena demam, mungkin karena malu. "Tapi tetap... terima kasih."

Suasana hening beberapa saat. Hanya suara jangkrik dan angin.

"Tunggu." Luna tiba-tiba menahan ujung jubah Kael saat Kael mau berdiri. "Hutan ini berbahaya di malam hari. Terutama untuk level rendah sepertimu. Dan aku... aku belum bisa jalan."

Kael menoleh. "Terus?"

"Ayo... kerja sama sementara." Kata Luna cepat, seolah takut ditolak. "Sampai kita keluar dari hutan ini. Aku bisa menyembuhkanmu. Kamu bisa melindungi aku. Win-win."

"Alasannya? 5 menit lalu kamu masih manggil aku sampah."

Luna memalingkan wajah. "Aku... aku menarik ucapanku. Kamu tidak seperti yang mereka bilang."

Kael menatapnya lama. Gadis bangsawan sombong. Tapi di matanya ada keputusasaan yang nyata.

Akhirnya Kael menghela napas panjang. "Baik. Tapi ada aturannya. 1. Kamu dilarang manggil aku sampah lagi. 2. Kamu nurut perintahku pas di dungeon. 3. Kalau kita selamat, kita pisah."

Luna mengangguk cepat. "Deal."

[Ding! Misi Selesai]

[Hadiah: Skill Pasif "Regenerasi Sampah" didapat]

[Party Terbentuk: Kael + Luna]

[Bonus Party: EXP +10%]

Malam itu mereka membuat perkemahan darurat. Luna menyembuhkan luka kecil di tangan Kael. Kael berjaga sambil bermeditasi mengisi MP.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kael tidur tidak sendirian.

Keesokan paginya...

[Peringatan! Terdeteksi Aura Kuat]

[Raja Goblin Level 5 Mendekat]

Tanah bergetar. Dari kejauhan, raungan mengerikan menggema.

Luna langsung pucat. "R-Raja Goblin... Level 5... Kita harus lari!"

Kael berdiri. Matanya menyala. Api kecil menyala di ujung jarinya.

"Tidak." Kata Kael. "Kita lawan."

Luna menatapnya tidak percaya. "Kamu gila?! Kita cuma Level 2!"

Kael tersenyum. Senyum pertama yang tulus setelah sekian lama.

"Dulu aku sampah. Sekarang tidak. Dan aku gak akan lari lagi."

Dia menoleh ke Luna. "Jadi, Healer. Siap kerja sama?"

Luna menggigit bibir. Lalu mengangguk mantap. Staf penyembuhnya memancarkan cahaya.

"Siap, Partner."

Dan di kejauhan, bayangan besar Raja Goblin mulai terlihat.

Perburuan yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!