Ibu adalah orang yang paling bisa mengerti dan mengenal tentang kita. Tak ada cinta yang sekuat Cinta ibu. Kasih sayangnya begitu tulus sampai tak ada yang bisa menandinginya.
Novita adalah wanita paruh baya yang berstatus single parent, dia menghidupi kedua anak-anaknya seorang diri. Masalah dalam hidupnya datang silih berganti tak ada hentinya. Namun dia selalu berusaha sabar dan tegar untuk menghadapi semua masalah yang menimpanya. Baginya pengalaman adalah sebuah pelajaran berharga untuk dirinya.
Tapi hati ibu mana yang tak hancur ketika kedua anaknya berani untuk membenci ibunya sendiri. Akankah mereka sadar betapa besarnya kasih sayang yang tulus dari sang ibu? Bisakah Novita bertahan dan menyadarkan kedua anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang tanpa batas, walaupun di balas dengan kebencian?
Yuk berkelana dalam kisah hidup Novita bersama-sama😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yessie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ijin mencari kerja di luar kota
Seiring berjalannya waktu, usia Raditya dan juga Cantika kini sudah bertumbuh menjadi dewasa. Raditya telah lulus dari universitas. Dia ingin mengejar impiannya selama ini.
“ibu, aku lulus ibu.” Teriak Raditya sembari berlari mendekati ibunya yang masih menggunakan toga hitam.
Novita tersenyum manis, ia terlihat begitu bahagia menatap anaknya yang baru saja lulus dari perguruan tinggi.
“akhirnya kamu bisa sekolah sampai ke perguruan tinggi nak. Dan ibu bangga melihat kamu bisa menggunakan toga seperti ini. Selamat ya buat kamu kak, semoga ilmu yang kamu dapatkan bermanfaat dan kamu segera bisa mewujutkan impian kamu nak.”
“terima kasih ya bu. Semua ini juga berkat kerja keras ibu. Karena ibu, Radit bisa sekolah sampai ke perguruan tinggi seperti ini. Sekali lagi terimakasih ya ibu.”
“sama-sama sayang. Ibu juga berterimakasih karena kamu tidak pernah mengecewakan dan membuat ibu bangga nak.”
Novita lalu memeluk Raditya memperlihatkan betapa bahagianya dia.
Tak lama Cantika datang dan memberikan selamat kepada kakaknya.
“hay kak, selamat ya, aku senang akhirnya kakak bisa lulus dari fakultas ini. Good luck ya kak. Doa terbaik buat kakak tersayang ku ini.”
“terimakasih Can, sama-sama. Semoga kamu besok juga bisa seperti kakak ya Can. Kamu bisa sekolah sampai ke perguruan tinggi.”
“haruslah.” Jawab Cantika.
Beberapa minggu berlalu. Setelah lulus Raditya mencoba untuk melamar pekerjaan, akan tetapi belum ada satu pun panggilan pekerjaan untuk Raditya.
“huft! Sudah ada satu bulan ini, kenapa belum ada panggilan kerja untuk ku ya? Padahal aku sudah ingin sekali membantu ibu untuk mencari uang. Apa sebaiknya aku merantau saja ya? Nanti aku akan bicarakan dengan ibu, bagaimana baiknya.” Ucap Raditya dari dalam hati.
Setelah pulang kerja, Novita duduk dan meluruskan kedua kakinya di atas sofa. Ia kemudian mengoleskan minyak pijat di salah satu kakinya.
Raditya tiba-tiba datang mendekati ibunya.
“sejak kapan ibu pulang? Kok radit nggak tau,” Tanya raditya.
“ibu baru saja pulang dari kerja nak.”
“owh, ibu pasti lelah sekali ya?”
Novita hanya tersenyum miring.
“sudah tengah malam kenapa kamu belum tidur kak?” Tanya Novita.
“radit belum mengantuk bu. Sini biar radit yang pijat kaki ibu.” Pinta Raditya.
“nggak usah nak. Biar ibu sendiri saja.”
“nggak apa-apa buk. Radit tau kalau ibu pasti sangat lelah.”
Radit lalu menumpangkan kedua kaki ibunya diatas pahanya.
“ibu.”
“hem?”
“Radit sebenarnya ingin mengatakan sesuatu kepada ibu.”
“apa nak?”
“Radit ingin meminta izin kepada ibu.”
“izin? Tentang apa?”
“jadi begini bu, Ini sudah hampir satu bulan Radit lulus kuliah. Aku juga sudah berusaha melamar pekerjaan di beberapa perusahaan di kota ini.”
“lalu?”
“tapi tidak ada panggilan kerja satu pun untuk ku bu. Aku punya keinginan untuk mencari kerja di luar kota ini bu.”
Seketika Novita langsung melihat ke arah anak sulungnya.
“apa, kamu mau cari kerja di luar kota nak?”
Radit mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan Novita hanya menundukkan kepalanya dan menghela nafas dalam.
“tunggu saja dulu, jangan terburu-buru. Pasti akan ada panggilan kerja untukmu nak.”
“sebenarnya Radit sudah tidak sabar ingin sekali masuk ke dunia kerja bu. Radit ingin memiliki penghasilan sendiri.”
“tidak usah terburu-buru nak.” Kata Novita pelan.
“sebenarnya aku ingin bantu ibu cari uang.”
“tidak usah kamu pikirkan kak.”
“bagaimana aku tidak memikirkannya bu? Sejujurnya aku kasihan melihat ibu bekerja keras setiap hari. Apa lagi ibu selalu pulang larut malam seperti ini. Aku tau kalau badan ibu pasti sangat capek.”
“asalkan kalian bahagia, apapun akan ibu lakukan demi masa depan kalian nak.”
“tapi bu, jika aku sudah bekerja, mungkin aku bisa membantu meringankan beban ibu. Belum juga biaya sekolah Cantika yang semakin besar.”
“tapi nak,”
“ibu, Radit mohon. Ijinkan dan restui radit mencari pekerjaan di luar kota bu. Radit sudah tidak sabar ingin sekali bisa bekerja bu. Aku mohon ya bu.”
Novita hanya terdiam membisu. Berat rasanya bibir mengucapkan “ya” untuk anak sulungnya itu. Sebab Novita tidak pernah hidup berpisah dengan anak-anaknya.
“bagaimana bu? Kenapa ibu hanya diam saja?” Tanya Raditya yang penuh dengan harapan.
“ibu akan pikirkan dulu ya nak.”
“karena ibu sayang pada ku, aku yakin ibu akan mengizinkan Radit mencari kerja di luar kota.”
“kita lihat nanti, ibu memang sayang sama kamu atau pun cantika. Tapi apakah bisa ibu hidup berpisah dengan salah satu anak ibu nak?”
“ini demi kebaikan kita bu. Radit janji, jika nanti Radit sudah mempunyai pekerjaan tetap di sana, Radit yang akan membiayai dan menanggung sekolah Cantika bu.” Kata Radit meyakinkan ibunya.
“bukan itu yang ibu maksud nak, ibu hanya….”
Belum selesai bicara, Radit menyaut perkataan ibunya.
“lalu apa yang membuat ibu berat mengatakan ya kepada ku?”
“sudahlah, ini sudah malam. Lebih baik kamu tidur. Ibu juga akan istirahat. Ibu sangat lelah sekali.” Kata Novita.
“baik lah bu. Radit sangat mengharapkan restu dari ibu.”
“kita pikirkan besok ya nak.”
Novita kemudian mengalihkan pembicaraan dan memberikan alasan kalau dirinya ingin segera istirahat.
Dia lalu berdiri dan masuk kedalam kamarnya. Dari balik pintu kamarnya dia mempertimbangkan permintaan Radit.
“apa nanti aku bisa hidup jauh dari salah satu anakku? Radit anak pertamaku, dia yang selalu patuh dan sangat sayang kepadaku. Tapi, jika aku melarangnya pergi, aku pasti akan di anggap sebagai ibu yang tidak mau mendukung keinginan anaknya. Tuhan, berat rasanya hati ini untuk hidup jauh dari anakku. Apakah aku sanggup? Apa yang aku lakukan untuk kebaikan anakku, apakah aku harus mengizinkannya atau tidak?” gumam Novita yang terlihat bersusah hati di dalam kamar.
Malam yang dingin menyelimuti tubuh Novita, dia bermimpi bertemu dengan suaminya.
“hay mas?” sapa Novita.
Terlihat Kalendra yang berdiri di depan Novita dengan baju dan celana berwarna putih.
“mas, aku lelah.” Ucap singkat Novita.
“apa yang membuat mu lelah sayang.” Kata roh kalendra.
Novita tertunduk diam dengan kesedihan yang Nampak di wajahnya.
“bukankah kita sudah mempunyai mimpi untuk anak-anak kita?”
“ta—pi, apa kah aku sanggup mewujudkan mimpi kita?” Tanya Novita sambil merenungi dirinya sendiri.
“kenapa tidak sayang. Kamu wanita yang kuat.”
“kekuatan ku itu ada di diri kamu mas.”
“lihatlah keatas sana dan pandangi salah satu bintang yang bersinar terang. Itu adalah aku, aku selalu menemanimu sayang. (sambil menuding ke langit)” kata Roh Kalendra.
Novita lalu menyandarkan kepalanya di pundak roh suaminya.
“ingat, kamu harus percaya, Tuhan pasti telah merencanakan yang terbaik untuk mu dan untuk anak-anak kita sayang. Jangan pernah kamu merasa sendiri, karna aku akan selalu ada di sini (menyentuh dada Novita) dan di sana (menuding ke atas langit)”
“makasih ya mas, kamu selalu membuat aku nyaman. Aku mencintaimu.”
Perlahan, roh Kalendra mulai menghilang bagaikan awan berkabut putih yang terhempas oleh angin.
Novita kemudian membuka mata lalu meliha sekeliling dia berada.
“ternyata aku hanya mimpi bertemu dengan mas Kalendra. Tapi setidaknya hati aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Terimakasih ya mas, kamu selalu ada dan selalu membuat aku merasa tenang di saat aku sangat membutuhkan dukungan.” Gumam Novita yang bersandar di bahu tempat tidur sambil memandangi foto Kalendra.
Cinta mereka sangatlah kuat, walau ada salah satu raganya yang sudah tiada namun Cinta mereka masih akan tetap abadi untuk selamanya.
...“Cinta sejati adalah Abadi, tak terbatas dan akan terus ada sampai kapan pun. Ketulusan Cinta ada ketika kamu bisa menyimpan namanya dan menjaganya dengan sepenuh hati,...
...Karena orang yang tepat terkadang tidak dipertemukan oleh Tuhan dengan Cepat. ”...