Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 — PESANTREN DALAM MASALAH
Ketenangan dan kehangatan yang baru saja berakar di antara Aurel dan Rasyid mendadak dihantam gelombang ujian dari luar pada keesokan harinya.
Selasa pagi yang biasanya diwarnai lantunan gema hafalan Al-Qur'an dan keriuhan anak-anak santri cilik berubah menjadi tegang. Sebuah portal berita portal daring lokal Kota Arunika mempublikasikan artikel investigasi sepihak berujung provokatif dengan judul mencolok: “Dugaan Penyelewengan Dana Hibah dan Donasi Santri di Pesantren Al-Faruqi: Keterbukaan Keuangan Dipertanyakan.”
Dalam hitungan jam, artikel tersebut menyebar luas di media sosial, memicu narasi miring dari warganet serta kecemasan di antara wali santri.
Di ruang tamu utama kediaman Faruqi, suasana terasa amat pekat.
Kiai Abdul Faruqi duduk tegap di sofa jati dengan raut wajah serba tenang namun serius, sementara beberapa pengurus senior pesantren duduk mengepung meja seraya memegang cetakan artikel tersebut.
Rasyid berdiri di dekat jendela ruang tamu. Pria itu tampak sangat sibuk—ponsel di tangannya terus-menerus berdering menyahut panggilan dari para donatur dan tokoh masyarakat. Peci hitamnya terpasang simetris, kemeja koko putihnya digulung hingga siku, dan raut lelah yang amat sangat membayang di bawah kelopak matanya.
Sejak subuh tadi, Rasyid belum sempat menyentuh sarapan atau sekadar meminum teh hangatnya. Ia bekerja tanpa henti mendampingi ayahnya merapikan berkas-berkas pembukuan dan mengkoordinasikan klarifikasi internal.
Aurel berdiri di balik pilar lorong dekat ruang makan, memperhatikan suaminya dari kejauhan.
Untuk pertama kalinya sejak ikatan pernikahan ini terjalin, Aurel menyaksikan sisi lain dari sosok Muhammad Rasyid Al-Faruqi.
Pria itu bukan lagi sekadar ustadz muda yang tenang dan pemaaf saat menghadapi sindirannya. Pria itu kini menjelma menjadi sosok pemimpin muda yang begitu sigap, berani pasang badan, dan bekerja keras melindungi nama baik keluarga serta para santri dari hantaman fitnah luar.
Melihat Rasyid yang memegang pelipisnya seraya berbicara tegas di telepon dengan raut wajah yang amat tertekan melahirkan desir empati dan kecemasan yang mendalam di dalam dada Aurel.
Aurel melangkah menuju dapur belakang, menghampiri Salma yang sedang membantu Ummi Kulsum menyeduhkan kopi untuk para tamu pengurus.
"Sal," panggil Aurel pelan.
Salma menoleh, wajah gadis muda itu tampak cemas dan pucat. "Eh, Kak Aurel..."
Aurel mendekat, menyenderkan bahunya di tepi meja granit dapur. "Memangnya masalahnya besar banget ya, Sal?"
Salma menghentikan sendok tehnya, menghela napas panjang seraya mengangguk pelan. "Cukup besar, Kak. Ada oknum mantan pengurus yayasan yang dipecat bulan lalu karena kelalaian, terus dia sengaja bikin sebaran fitnah ke media portal berita buat jatuhin nama baik Pesantren Al-Faruqi. Mas Rasyid dan Abah sebenarnya punya bukti audit keuangan independen yang sah dan bersih dari akuntan publik, tapi media online itu sengaja goreng beritanya biar viral duluan tanpa konfirmasi."
Aurel mengerutkan dahinya rapat-rapat. "Media independennya belum muat klarifikasi dari pihak pesantren?"
"Belum," ringis Salma prihatin. "Mas Rasyid dari tadi coba hubungi redaksi berita itu, tapi nomor mereka susah ditembus dan beritanya keburu digoreng akun-akun gosip Arunika di Instagram."
Aurel terdiam. Matanya berbinar keras saat otaknya mulai bekerja cepat menyusun strategi.
Sebagai mahasiswi jurusan Desain dan Seni Rupa yang aktif di organisasi kemahasiswaan tingkat universitas, Aurel memiliki jaringan relasi yang sangat luas di kalangan jurnalis muda, aktivis pers kampus, hingga para pengelola media digital independen ternama di kota tersebut.
Aurel memegang bahu Salma. "Salma, tenang ya. Biar aku bantu urus."
Salma membelalak kaget. "Kak Aurel mau bantu gimana?"
"Nanti kamu lihat," balas Aurel dengan senyum tipis penuh keteguhan.
Aurel segera masuk ke dalam kamar atas. Ia membuka laptopnya, menyambungkan koneksi internet, lalu menyambar ponselnya.
Dengan ketangkasan dan profesionalitas khas mahasiswi tingkat akhir, Aurel mulai menelepon beberapa rekannya. Ia menghubungi Ketua LKM Pers Kampus Universitas Arunika yang memiliki akses langsung ke aliansi jurnalis independen kota, serta menelepon Kak Rendy—alumni senior organisasinya yang kini menjabat sebagai redaktur utama koran berita terbesar di Arunika.
"Halo, Kak Rendy? Ini Aurel," sapa Aurel tegas dan lugas lewat telepon. "Aku mau minta tolong verifikasi faktual buat berita tuduhan Pesantren Al-Faruqi yang lagi ramai. Pihak yayasan punya dokumen audit resmi dari akuntan publik bertaraf nasional, tapi ada oknum media clickbait yang sebar hoaks tanpa konfirmasi... Boleh aku kirimkan draf rilis pers dan berkas transparansi resminya sekarang buat dimuat di portal utama koran Kakak?"
Hanya butuh waktu tiga jam bagi Aurel untuk menjembatani komunikasi antara pihak pengurus pesantren dengan jurnalis-jurnalis kredibel. Aurel menyusun draf rilis pers bersama Salma, merapikan infografis laporan keuangan pesantren agar mudah dibaca publik, dan menyebarkannya ke jaringan media tepercaya.
Pukul delapan malam.
Sebuah berita rilis pers tandingan resmi berisikan hasil audit akuntan publik beserta pernyataan fakta dari aliansi jurnalis independen rilis serentak di koran utama dan tiga media portal berita tebesar kota. Narasi fitnah yang sempat beredar sore tadi seketika berbalik—publik justru mengecam media clickbait yang memuat hoaks tanpa konfirmasi.
Pukul 21.30 WIB.
Rumah keluarga Faruqi telah kembali hening. Para pengurus dan tamu telah pulang usai masalah berita fitnah tersebut berhasil diredam sepenuhnya.
Rasyid melangkah naik ke kamar lantai dua dengan bahu yang terasa amat pegal dan lelah. Pria itu melepas peci hitamnya, menggantungkan baju koko putihnya, lalu membasuh wajahnya di kamar mandi.
Saat melangkah keluar dari kamar mandi, Rasyid mendapati Aurel sedang duduk di tepi tempat tidur seraya memangku laptop.
Rasyid melangkah mendekati kasur, menatap istrinya dengan pendar takjub dan haru yang amat mendalam. Pria itu baru saja mendapat laporan dari sekretaris pesantren bahwa seluruh rilis media dan komunikasi jaringan pers yang menyelamatkan nama baik pesantren sore tadi dirancang penuh oleh Aurel.
Rasyid duduk di tepi kasur, menatap netra cokelat terang milik Aurel.
"Kamu... membantu masalah tadi?" tanya Rasyid pelan, suaranya dipenuhi rasa terima kasih yang teramat jujur.
Aurel membuang pandangannya ke layar laptop, menyembunyikan rona merah tipis di pipinya seraya menggidikkan bahu santai. "Cuma sedikit. Kebetulan temen-temen pers kampusku punya jaringan ke redaktur koran utama kota. Jadi aku cuma nyambungin rilis pres-nya aja."
Rasyid menatap raut wajah gengsi istrinya. Sebuah senyum tipis yang teramat hangat dan manis terukir di bibirnya.
"Terima kasih, Aurel," bisik Rasyid rendah dan menembus dada. "Terima kasih banyak."
Aurel melirik suaminya dari celah poninya, menyenggol paha Rasyid pelan. "Jangan berlebihan deh. Kan aku juga tinggal di sini, nama baik pesantren ini kan berdampak juga ke aku."
Rasyid terkekeh pelan—suara tawa renyah yang amat lega meluncur dari dadanya yang lelah. Pria itu mengulurkan tangannya, meraih jemari Aurel yang ada di atas laptop, lalu mengusapnya penuh kehangatan.
"Aku tetap sangat berterima kasih," tegas Rasyid mantap, menatap lurus ke dalam mata Aurel.
Aurel tidak menarik tangannya. Ia mengulum senyum tulus yang tak sanggup ia tahan, merasakan kehangatan yang menjalar penuh di dalam dadanya. Untuk pertama kalinya, Aurel merasa bahwa ia bukan lagi sekadar 'orang luar' yang terisolasi di tempat ini. Ia telah menjadi bagian utuh yang siap berdiri bersama Rasyid menjaga rumah ini dari segala badai.