NovelToon NovelToon
The Twentieth Concubine Wants To Survive

The Twentieth Concubine Wants To Survive

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Timur
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Fate I Tried to Escape

Suara terompet perunggu bersuhu dingin membahana dari empat penjuru benteng Istana Dalam. Pagi yang ditunggu-tunggu telah tiba. Kabut tebal menyelimuti ribuan anak tangga pualam putih yang membentang menuju Balai Agung Naga Kembar panggung raksasa tempat nasib Kekaisaran Great Yan akan dipertaruhkan.

Ratusan pejabat tinggi dari Faksi Sipil, Militer, dan bangsawan Istana Dalam berdiri berderet dalam pakaian kebesaran mereka. Kasak-kusuk gelisah terdengar dari barisan menteri. Berita mengenai kekacauan di Paviliun Bayangan Salju dan 'pemberontakan' Pengawas Hukum Ye Xinyue telah menyebar bagaikan api menyambar jerami kering.

Di puncak tangga, berdiri panggung penghakiman dengan Takhta Emas yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. Zhao Fengting duduk di sana, anggun dan tak terjangkau. Jubah hitam bersulam naga emas sembilan cakar membalut tubuhnya yang tegap, sementara Mahkota Giok Bertali Tujuh menutupi sebagian sorot matanya yang pekat bagaikan sumur tanpa dasar.

"Bawa pemberontak Ye Xinyue masuk!" seru Kepala Kasim dengan suara melengking yang membelah keheningan.

Pintu gerbang tembaga raksasa terbuka lebar.

Bukan sosok pesakitan berantai besi yang muncul, melainkan Ye Xinyue yang melangkah masuk dengan tenang. Ia mengenakan gaun sutra ungu tua berlapis jubah Pengawas Hukum Kerajaan, rambutnya tersanggul rapi dengan tusuk konde perak berbentuk timbangan keadilan. Di belakangnya, delapan prajurit Zirah Serigala berbaris membentuk pengawalan kehormatan bukan pengawalan tawanan.

Di samping Xinyue, Ibu Suri Agung melangkah anggun dalam balutan busana kebesaran Faksi Utara. Kehadiran sang penguasa tua itu membuat seluruh menteri menundukkan kepala penuh rasa hormat sekaligus ketakutan.

Zhao Fengting memiringkan kepalanya sedikit, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. "Ibu Suri Agung... Anda membawa seorang buronan istana yang dituduh melakukan konspirasi racun ke dalam Sidang Akbar. Apakah Faksi Utara bermaksud menantang kedaulatan takhta ini?"

Ibu Suri Agung menghentikan langkahnya di tengah balai, menegakkan tongkat kepala serigala peraknya. "Kedaulatan takhta berdiri di atas keadilan dan kebenaran, Zhao Fengting. Aku datang bukan untuk menantang takhta, melainkan untuk memastikan bahwa takhta ini tidak diduduki oleh seorang pembunuh!"

Seruan itu membuat seluruh Balai Agung gempar. Para menteri saling pandang dengan wajah pucat pasi.

Zhao Fengting melepaskan tawa rendah yang dingin, terdengar bagaikan gesekan pisau pada batu. "Pembunuh? Narasi yang sangat dramatis. Ye Xinyue, aku memberimu kesempatan untuk berbicara sebelum hukum kekaisaran mencabut nyawamu atas tuduhan pengkhianatan."

Xinyue maju tiga langkah, berdiri tepat di tengah-tengah balai. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Zhao Fengting, memancarkan keberanian yang mutlak.

"Suatu hari di kehidupan pertamaku sebagai pakar kriminologi," ujar Xinyue, suaranya jernih dan berbobot, bergema di seluruh penjuru aula, "aku menangani kasus seorang sosiopat yang mencoba melarikan diri dari takdir penjara dengan cara memalsukan seluruh identitas dan memanipulasi bukti. Dia percaya bahwa karena dia sangat pintar, dia bisa luput dari hukum selamanya."

Xinyue meletakkan peti obat hitam di atas meja persidangan yang disiapkan di tengah aula.

"Ketika aku terbangun di dunia ini dalam tubuh Selir Ye Xinyue yang malang," lanjutnya seraya membuka peti tersebut, "aku menyadari bahwa tempat ini adalah penjara yang sama. Sebuah dunia di mana alur takdir telah ditulis untuk membunuh wanita-wanita malang seperti kami demi memuaskan ego seorang penguasa. Aku mencoba melarikan diri dari takdir tragis itu bukan dengan berlari, melainkan dengan menghancurkan fondasi kebohongan yang kau bangun, Zhao Fengting!"

Zhao Fengting menyandarkan siku pada pegangan takhta, menyipitkan mata. "Kau berbicara tentang hal-hal mistis yang tidak masuk akal di depan Dewan Menteri, Pengawas Ye. Apakah ketakutan telah merusak akal sehatmu?"

"Mari kita bicara tentang hal yang sangat masuk akal dan ilmiah, Yang Mulia," potong Xinyue dingin. Ia menyebarkan puluhan dokumen forensik, botol sampel zat, dan berkas analisis kimia di atas meja persidangan.

"Empat tahun lalu, Kaisar Terdahulu wafat karena 'penyakit paru kronis'. Namun, analisis kimia pada jaringan tubuh dan sampel minyak wangi di kediamannya membuktikan adanya senyawa Arsenik Trioksida dosis mikro yang dicampurkan secara konsisten. Dan siapa yang memegang akses eksklusif ke impor minyak wangi Faksi Selatan pada masa itu?"

Xinyue mengangkat sebuah berkas transaksi dengan stempel rahasia. "Zhao Fengting, yang saat itu masih menjabat sebagai Pangeran Ketiga. Kau membunuh ayah kandungmu sendiri untuk merebut takhta ini!"

Kegemparan dahsyat meletus di antara para menteri. Perdana Menteri Faksi Sipil melangkah maju dengan gemetar. "Pengawas Ye! Tuduhan ini... apakah Anda memiliki bukti fisik yang sah?!"

"Bukti fisik ini telah terverifikasi oleh tiga tabib senior Faksi Utara dan diperkuat oleh catatan transaksi dari Balai Arsip Rahasia yang dicoba dibakar oleh pengawal Matahari Hitam tadi malam!" seru Xinyue mantap. "Bukan hanya itu! Zhao Fengting menggunakan kelompok pembunuh bayaran Matahari Hitam untuk melenyapkan siapa saja yang menyadari kejanggalan ini termasuk tiga selir sebelum saya yang mati secara misterius!"

Zhao Fengting perlahan berdiri dari takhtanya. Binar matanya memancarkan kegelapan yang kian pekat, namun bukannya panik, ia justru melangkah turun dari tangga pualam satu demi satu. Setiap langkah kakinya bergema bagaikan ketukan lonceng kematian.

"Kau sungguh luar biasa, Xinyue," bisik Zhao Fengting saat ia tiba di dasar tangga, berjarak hanya beberapa langkah dari Xinyue. Aura membunuh yang mencekat merayap keluar dari tubuhnya, membuat para pengawal di sekitarnya gemetar. "Tiga jiwa sebelummu mencoba melarikan diri dari takdir kematian mereka dengan cara merayuku, memohon belas kasihan, atau mencoba menjadi pahlawan politik. Tapi kau... kau mencoba menghancurkan aturan main dunia ini."

Zhao Fengting menyunggingkan senyum berdarah yang sangat mengerikan.

"Tapi kau lupa satu hal, Xinyue. Takdir di dunia ini tidak ditulis oleh bukti forensikmu. Takdir di sini ditentukan oleh siapa yang memegang pedang terbesar!"

Zhao Fengting mengangkat tangan kirinya. Seketika itu juga, ribuan pengawal berzirah hitam dari kelompok Matahari Hitam muncul dari balik atap dan dinding Balai Agung, mengacungkan panah otomatis ke arah Ibu Suri Agung, Xinyue, dan seluruh pejabat kekaisaran.

"Zhao Fengting! Kau gila?!" teriak Ibu Suri Agung, mengetukkan tongkatnya.

"Aku bukan gila, Ibu Suri... aku adalah Tuhan di dunia yang berulang ini!" ujar Zhao Fengting dengan tawa melengking yang dipenuhi keangkuhan mutlak. Ia menatap Xinyue dengan mata berbinar obsesif. "Aku telah mengulang kehidupan ini lima kali. Aku tahu setiap takdir yang akan terjadi. Dan hari ini, takdirmu adalah berlutut di hadapanku sebagai tawanan abadi, atau menyaksikan seluruh orang di ruangan ini dibantai!"

Para menteri berteriak panik, saling berdesakan ketakutan saat ujung panah beracun mengunci posisi mereka.

Namun, di tengah kekacauan dan ancaman kematian yang nyata tersebut, Ye Xinyue tidak bergerak sedikit pun. Ia tidak takut. Ia tidak gemetar.

Xinyue menatap Zhao Fengting dengan pandangan penuh belas kasihan pandangan seorang ilmuwan yang melihat seorang pesakitan jiwa yang tragis.

"Kau berulang kali bicara soal takdir dan statusmu sebagai Tuhan di dunia ini, Zhao Fengting," bisik Xinyue, tangannya perlahan merogoh ke dalam jubahnya, menarik sebuah peluit perak berukir rumit. "Tapi kau lupa... bahwa dalam ilmu kriminologi, seorang pembunuh yang merasa dirinya Tuhan adalah orang pertama yang akan terjebak dalam perangkapnya sendiri."

Xinyue meniup peluit perak itu. Suara nyaring yang melengking menembus angkasa luar Balai Agung.

BOOM! BOOM! BOOM!

Dentuman meriam berat bergema dari luar gerbang utama kekaisaran, digantikan oleh derap langkah ribuan prajurit berzirah Zirah Serigala dan pasukan Pengawal Hukum Kerajaan yang telah mengepung seluruh kompleks Balai Agung dari luar.

Takdir yang dicoba dihindari Xinyue kini bukan lagi pelarian melainkan sebuah perlawanan mutlak untuk meruntuhkan kekuasaan sang Kaisar.

1
Raizel_0511
crazy up kk,semangat,sehat selalu💪💪💪😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!