NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 39: Siapa Arya

“Dia pacarku.”

Kirana mengucapkannya sebelum keberanian hilang. Di sampingnya, tangan Arya tetap menggenggam jemarinya di bawah meja.

Papa Gunawan berhenti berjalan. “Sejak kapan?”

“Resmi beberapa minggu. Kami saling kenal lebih lama.”

“Berapa lama?”

Kirana melirik Arya. Malam di Singapura bukan jawaban yang bisa ia berikan sekarang.

“Sejak semester ini.”

“Dan kamu tinggal bersebelahan?”

“Aku tinggal bersama Winda di sini. Mas Arya di 805. Kami tidak tinggal serumah.”

Papa menunjuk pembalut di meja. “Tapi dia punya kode pintu dan mengambil pakaian dalammu.”

“Karena aku memintanya.”

“Kenapa tidak telepon Winda?”

“Winda tidak ada.”

“Kenapa kamu ada di rumah dia tengah malam?”

Kirana membuka mulut, tetapi Mama Ratih menyela. “Gunawan, beri mereka kesempatan menjelaskan tanpa sidang.”

“Anak kita berbohong sedang bersama Winda.”

“Itu salahku,” kata Kirana. “Aku minta maaf. Tapi hubungan ini bukan kesalahan.”

Arya melepaskan tangannya, lalu berdiri dan membungkuk hormat. “Pak Gunawan, Bu Ratih, saya minta maaf karena perkenalan pertama kita terjadi seperti ini. Saya seharusnya datang lebih dulu dan meminta izin untuk mengenal Kirana dengan serius.”

“Serius sejauh apa?” tanya Papa.

“Saya ingin menjaganya seumur hidup.”

Kirana menoleh cepat. Arya mengucapkannya tanpa ragu, seolah mereka tidak baru menjadi pasangan beberapa minggu.

Papa justru semakin marah. “Jangan bicara seumur hidup kalau saya bahkan tidak tahu pekerjaanmu.”

“Saya mengajar sementara di UN.”

Keheningan jatuh.

“Mengajar?” ulang Mama Ratih.

“Di Fakultas Ekonomi.”

Papa menatap Kirana. “Dia dosenmu?”

“Dosen pengganti satu mata kuliah.”

“Kirana!”

“Nilainya tidak dia pegang lagi. Semua ada mekanisme dosen kedua.”

Papa berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser. “Kamu pikir itu membuatnya baik-baik saja? Laki-laki ini menggunakan kelas untuk mendekati mahasiswi?”

Arya tidak menghindari tuduhan. “Saya mengenal Kirana sebelum mengajar. Saya meminta slot dari Prof Hartono karena ingin bertemu lagi, tetapi sejak awal saya membuat rubrik ganda. Ketika hubungan kami resmi, saya mengundurkan diri dari seluruh penilaian Kirana.”

“Jadi memang direncanakan!”

“Pertemuannya, ya. Hasilnya tidak. Kirana menolak saya berkali-kali dan setiap keputusan tetap miliknya.”

“Pa, dia tidak pernah mengancam nilai atau memaksaku,” kata Kirana. “Aku yang memilih.”

Papa mengusap wajah. “Berapa umur kamu?”

“Dua puluh tujuh.”

“Kirana baru sembilan belas.”

“Saya tahu.”

“Beda delapan tahun, dosennya pula.”

Mama Ratih menatap Arya lebih tajam. “Mengajar sementara berarti dosen honorer?”

“Bukan tepatnya.”

“Pekerjaan utama kamu apa?”

Arya terdiam sesaat. Kirana merasakan perubahan kecil dalam dirinya. Selama ini ia tahu Arya memiliki uang, koneksi, apartemen, dan jadwal yang tidak pernah benar-benar seperti dosen biasa. Namun ia tidak pernah mendapat jawaban lengkap.

“Mas?”

Arya menatap Kirana lebih dulu. “Saya seharusnya mengatakan ini sebelum orang lain bertanya.”

“Mengatakan apa?”

Ia mengambil dompet dan mengeluarkan kartu nama hitam. Arya meletakkannya di meja, menghadap Papa Gunawan.

Arya Danuwangsa. Direktur Utama Danuwangsa Group.

Papa membaca dua kali. Mama Ratih mengambil kartu tersebut dan memeriksa logo timbul.

Kirana tidak bergerak.

Nama Danuwangsa Group muncul setiap hari di berita ekonomi: properti, energi, keuangan, logistik, dan investasi lintas negara. Gedung kantor mereka mendominasi satu sisi SCBD. Saraswati Group milik keluarganya termasuk perusahaan mapan, tetapi DG bermain di tingkat yang sama sekali berbeda.

“Ini lelucon?” tanya Papa.

“Tidak.”

“Direktur Utama DG mengajar satu kelas di UN?”

“Saya lulusan doktoral finansial dari Singapura. Prof Hartono adalah mentor saya. Saya mengambil satu semester untuk menggantikan beliau dan memenuhi komitmen pendanaan akademik.”

“Pendanaan?”

“DG adalah donatur institusional terbesar UN.”

Papa Gunawan mengambil ponsel dan mencari nama Arya. Dalam hitungan detik, layar dipenuhi foto konferensi ekonomi, pertemuan kementerian, dan laporan tahunan DG. Pria di foto memakai setelan mahal dan berdiri di depan logo perusahaan yang sama dengan kartu nama.

Satu berita menyebut Arya sebagai pemimpin termuda dalam sejarah grup. Berita lain membahas ekspansi regional yang nilainya lebih besar daripada seluruh aset Saraswati Group.

Mama Ratih memperbesar foto. “Ini memang dia.”

“Saya ada di depan Ibu,” kata Arya.

“Saya sedang memastikan kamu bukan orang yang kebetulan punya nama sama.”

Ponsel Arya bergetar. Nama Rian muncul di layar bersama ringkasan rapat luar negeri. Papa melihat sekilas, lalu meminta Arya mengangkat panggilan dengan pengeras suara.

“Maaf, Pak, percakapan perusahaan tidak bisa dibuka tanpa izin pihak lain. Tapi Bapak boleh menelepon kantor resmi DG atau Rektor Sudibyo untuk verifikasi.”

Papa benar-benar menghubungi nomor kantor dari situs publik. Petugas malam mengonfirmasi jabatan Arya tanpa memberi data pribadi. Kepastian itu tidak menenangkan ruangan. Justru membuat jarak kelas yang tadi belum terlihat mendadak membentang lebar.

“Kenapa orang seperti kamu tinggal di sini?” tanya Mama.

“Karena Kirana di sini.”

“Mas membeli 805 setelah aku tinggal?” Kirana bertanya.

“Ya.”

“Bukan menyewa?”

“Membeli.”

Kirana teringat sandal kelinci, lemari penuh pakaian, pengamanan parkir, dan cara Rian selalu tersedia. Semua petunjuk sebenarnya ada. Ia hanya menerima penjelasan setengah karena terlalu sibuk dengan perasaannya.

“Apa lagi yang belum aku tahu?”

Arya menatapnya lama. “Ada hal pribadi tentang keluarga dan masa kecil saya. Bukan sesuatu yang mengubah niat saya kepadamu. Saya akan ceritakan ketika kita tidak sedang diadili dari empat arah.”

“Mas tidak boleh terus menentukan kapan aku layak tahu.”

“Kamu benar. Saya akan memperbaikinya.”

Jawaban langsung itu menahan kemarahannya, tetapi tidak menghapusnya. Kirana tidak ingin hubungan mereka berubah menjadi dunia rahasia yang hanya dikendalikan Arya.

Mama Ratih menyentuh tangan putrinya. “Kamu sungguh tidak tahu?”

“Aku tahu dia punya uang dan koneksi. Aku tidak tahu sebesar ini.”

Papa menatap Arya lebih curiga. “Berarti kamu bahkan menyembunyikannya dari perempuan yang katanya ingin kamu jaga seumur hidup.”

“Itu kesalahan saya. Bukan kesalahan Kirana.”

“Setidaknya kamu mengaku.”

“Saya tidak akan menjadikan alasan baik sebagai pembenaran untuk kebohongan.”

Untuk pertama kali, kemarahan Papa kehilangan sedikit tenaga. Ia mungkin tidak menyukai Arya, tetapi ia mengenali orang yang berani mengambil tanggung jawab tanpa melemparkannya pada bawahan.

Kirana menarik tangannya dari meja. “Mas tidak pernah bilang.”

Ada luka dalam suaranya yang membuat Arya menoleh. “Saya ingin kamu mengenal saya tanpa jabatan.”

“Aku sudah mengenal Mas. Tapi menyembunyikan bukan memberi kesempatan.”

“Kamu benar.” Arya tidak mencari alasan. “Saya minta maaf.”

Mama Ratih menyandarkan punggung. “Jadi bukan putri kami yang lebih tinggi statusnya.”

“Status bukan alasan saya memilih Kirana.”

Papa menggeser kartu nama seolah benda itu panas. “Saraswati Group sedang mengerjakan proyek pembiayaan dengan anak usaha DG.”

“Benar.”

“Kamu tahu sejak awal?”

“Saya mengetahui setelah mengenal Kirana.”

“Lalu proyek itu diperluas dua bulan terakhir.”

“Karena proposalnya layak.”

Papa tertawa tanpa humor. “Jangan anggap saya bodoh. Kamu mendekati anak saya, masuk kampusnya, lalu memperbesar kerja sama dengan perusahaan kami.”

Arya menatap lurus. “Saya tidak menggunakan kerja sama untuk membeli persetujuan. Tim investasi menilai Saraswati Group dengan standar yang sama. Saya bisa memberikan seluruh dokumen audit.”

Ia membuka laptop yang dibawa dari 805 dan menunjukkan kronologi evaluasi. Lima anggota komite menandatangani rekomendasi sebelum hubungan mereka resmi. Arya bahkan tidak berada dalam panel penentu akhir. Rian mengirim tautan ruang data untuk penasihat hukum Saraswati Group.

“Saya tidak meminta Bapak percaya malam ini,” kata Arya. “Periksa melalui auditor independen.”

Papa membaca tanggal dokumen. “Kalau ada satu intervensi karena Kirana?”

“Bapak boleh menghentikan pembicaraan bisnis sesuai jalur hukum, dan saya akan menerima konsekuensinya.”

Kirana melihat sisi Arya yang jarang muncul di rumah: tenang, presisi, dan terbiasa mempertaruhkan keputusan besar. Namun tangan yang menggenggamnya tetap hangat. Direktur Utama dan pacarnya bukan dua orang berbeda. Keduanya hidup dalam pria yang sama, hanya selama ini Kirana baru diberi satu sisi.

“Kalau kami menolak hubungan ini?”

“Kontrak bisnis tetap berjalan sesuai ketentuan.”

“Dan kamu?”

“Saya akan tetap meminta kesempatan membuktikan niat saya tanpa memakai perusahaan.”

Kirana masih memproses semuanya. Laki-laki yang membawakan bubur, memakai sandal rumah, dan menunggu di kursi saat ia mabuk ternyata memimpin konglomerasi yang namanya membuat pasar bereaksi.

“Kenapa beli apartemen sebelah?” tanya Mama Ratih.

“Agar dekat dengan Kirana.”

“Dengan uang perusahaan?”

“Uang pribadi.”

Papa hampir kehilangan kata. “Kamu menganggap membeli apartemen seperti membeli kopi?”

“Tidak. Proses notarisnya lebih lama.”

Kirana ingin tertawa pada waktu yang sangat salah. Mama Ratih menutup bibirnya, mungkin karena alasan sama.

Papa tidak terhibur. Ia menunjuk Arya. “Kamu, dosen anak saya, delapan tahun lebih tua, Direktur Utama DG, dan selama ini terlibat bisnis dengan keluarga kami.”

“Semua benar.”

“Lalu kamu mengharapkan saya percaya ini bukan rencana besar?”

Arya meraih tangan Kirana lagi, kali ini di atas meja agar semua orang melihat. “Saya memang merencanakan kesempatan untuk mendekatinya. Tapi saya tidak pernah merencanakan perasaannya, tidak mengubah nilainya, dan tidak menjadikan keluarganya alat. Satu-satunya hal yang saya inginkan adalah izin untuk membuktikan bahwa saya layak berdiri di sampingnya.”

Papa Gunawan menatap tangan mereka yang bertaut. Kemarahan di wajahnya belum reda, tetapi kini bercampur dengan kesadaran baru.

Laki-laki yang ia kira dosen honorer bukan hanya kekasih putrinya. Ia adalah mitra bisnis yang selama dua bulan terakhir diam-diam membuka pintu besar bagi Saraswati Group.

Dan Papa mulai memahami bahwa mungkin sejak awal, proyek itu tidak pernah sepenuhnya terpisah dari Kirana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!