Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Mobil sedan hitam mewah milik Tuan Darmawan melaju membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan. Suasana di dalam mobil terasa sangat tenang karena sekat kedap suara yang memisahkan kursi penumpang dari supir di depan.
Saka duduk bersandar santai sambil melirik tongkat kayu hitam yang diletakkan Tuan Darmawan di sela-sela kursi mereka berdua. Tongkat itu seolah memanggil-manggil Saka untuk segera disentuh dan diserap seluruh energi murninya.
"Maaf kalau orang tua ini tiba-tiba merepotkan waktumu siang ini Saka." Ucap Tuan Darmawan memecah keheningan di dalam mobil.
"Sama sekali tidak merepotkan Pak Darmawan, saya justru senang bisa lari dari panasnya pasar loak tadi." Jawab Saka dengan senyum ramah yang terlihat sangat natural.
Ciiiit.
Suara rem mobil terdengar halus saat kendaraan mewah itu berhenti di depan sebuah bangunan bergaya keraton Jawa kuno. Bangunan itu dikelilingi oleh pagar tembok bata merah yang tinggi dan pepohonan bambu rindang yang menyejukkan mata.
"Kita sudah sampai, ini adalah Kedai Teh Teratai Putih tempat persembunyian favoritku kalau sedang pusing memikirkan pekerjaan." Jelas Tuan Darmawan sambil perlahan mengambil tongkatnya dan membuka pintu mobil.
Saka ikut turun dari mobil dan langsung menghirup aroma teh seduh yang wangi menguar dari dalam bangunan tersebut. Mereka berdua disambut oleh pelayan wanita berkebaya yang langsung menunduk hormat melihat kedatangan Tuan Darmawan.
"Mari Tuan Darmawan, ruangan VIP anggrek di bagian belakang sudah kami siapkan khusus untuk Anda." Sapa pelayan itu sambil berjalan memandu arah menyusuri lorong berlantai kayu jati.
Ruangan VIP itu ternyata menghadap langsung ke sebuah kolam ikan koi kecil yang suara gemericik airnya sangat menenangkan pikiran. Mereka duduk berhadapan di lantai beralaskan bantal duduk empuk dengan sebuah meja kayu pendek memisahkan keduanya.
Tuan Darmawan meletakkan tongkat naga hitamnya di sisi kanan tubuhnya tepat di atas lantai kayu tersebut. Saka menelan ludah pelan melihat jarak tongkat bernilai enam ratus poin Qi itu kini hanya berjarak kurang dari satu meter darinya.
"Silakan diminum dulu teh melatinya Saka, mumpung masih hangat dan rasanya sangat pas." Tuan Darmawan mempersilakan setelah pelayan menuangkan teh ke cangkir keramik mereka.
Srup.
Saka menyesap teh itu pelan dan merasakan kehangatan menjalar ke kerongkongannya dengan sangat nyaman.
"Jadi barang misterius apa yang membuat kolektor hebat seperti Bapak sampai kebingungan." Tanya Saka langsung ke intinya tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
Tuan Darmawan meletakkan cangkir tehnya dan menghela napas panjang dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah menjadi sangat lelah. Dia mengambil sebuah tas tabung kulit dari sampingnya dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang terlihat sangat kuno.
"Ini adalah lukisan era dinasti yang baru kubeli dengan harga sangat fantastis bulan lalu dari seorang teman." Ucap Tuan Darmawan sambil perlahan membuka gulungan lukisan tersebut di atas meja.
Lukisan itu menggambarkan seorang wanita cantik berpakaian tradisional yang sedang duduk menangis di bawah pohon willow mati. Guratan kuasnya sangat halus dan detail namun entah mengapa lukisan itu memancarkan hawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.
Layar transparan biru seketika muncul di depan mata Saka memberikan analisis otomatis dari sistem mengenai barang tersebut.
[Benda Kutukan Terdeteksi.]
[Lukisan Air Mata Janda: Lukisan ini dibuat menggunakan campuran tinta dan abu jenazah orang yang mati karena dendam.]
[Status: Memancarkan energi Yin negatif yang menyebabkan gangguan kesehatan, mimpi buruk, dan kesialan finansial bagi pemiliknya.]
Saka mengerutkan dahinya membaca peringatan merah dari sistem yang melayang di udara itu. Pantas saja wajah Tuan Darmawan terlihat pucat dan aura kehidupannya sedikit redup tidak seperti orang sehat pada umumnya.
"Sejak lukisan ini dipajang di ruang kerjaku, bisnis propertiku tiba-tiba mengalami banyak masalah yang tidak masuk akal." Keluh Tuan Darmawan dengan nada suara putus asa.
"Bukan cuma itu Saka, setiap malam aku selalu bermimpi didatangi wanita menangis dan bangun dengan dada sesak." Lanjut pria tua itu menceritakan penderitaannya selama sebulan terakhir.
"Bapak sangat beruntung cepat bertemu dengan saya hari ini Pak Darmawan, karena kalau lukisan ini terus disimpan nyawa Bapak bisa melayang." Jawab Saka dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat serius dan berat.
Tuan Darmawan tersentak kaget mendengarnya hingga tangannya tidak sengaja menyenggol cangkir teh di depannya. "Maksudmu lukisan mahal ini membawa kutukan mematikan bagi keluargaku anak muda." Tanya pria itu dengan suara gemetar.
"Dalam ilmu Fengshui lukisan yang menggambarkan kesedihan dan kematian sangat pantang dipajang di dalam rumah." Jelas Saka memulai aktingnya sebagai seorang ahli spiritual tingkat tinggi.
"Apalagi lukisan ini memancarkan aura Yin yang sangat pekat, sepertinya pelukisnya menggunakan bahan yang tidak wajar untuk tintanya." Tambah Saka membuat bulu kuduk Tuan Darmawan merinding seketika.
"Lalu apa yang harus aku lakukan Saka, apa aku harus membakar lukisan sialan ini sekarang juga." Tuan Darmawan mulai panik dan bingung mencari jalan keluar.
Saka menggelengkan kepalanya pelan menahan senyum licik yang nyaris meledak di bibirnya karena melihat sebuah kesempatan emas. "Jangan dibakar Pak, energi negatifnya akan menyebar ke udara dan malah menempel permanen di tubuh Bapak nanti."
"Saya butuh sebuah media perantara yang memiliki energi Yang positif sangat kuat untuk menetralisir kutukan ini sementara waktu." Ucap Saka sambil matanya sengaja melirik ke arah tongkat naga hitam di samping pria tua itu.
Tuan Darmawan mengikuti arah pandangan Saka dan langsung menatap tongkat kesayangannya dengan bingung. "Maksudmu tongkat kayu naga ini bisa dipakai untuk mengusir hawa jahat lukisan itu."
"Betul sekali Pak, tongkat Bapak itu terbuat dari inti kayu yang terpapar sinar matahari selama ratusan tahun." Bual Saka merangkai kebohongan yang terdengar sangat ilmiah dan mistis.
"Boleh saya meminjam tongkat itu sebentar saja untuk mengunci energi jahat di lukisan ini sebelum Bapak membuangnya." Pinta Saka dengan wajah datar tanpa menunjukkan rasa antusias yang berlebihan.