Author Note: Jangan sungkan untuk memberikan kritik ataupun saran karna hal itu sangat dibutuhkan. Ini adalah karya pertama Author, kesenangan kalian membaca chapter demi chapter akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Author.
Apa tanggapan kalian mengenai novel ini? Berikan jawabanmu.
Apapun komentarnya akan Author balas jika tidak ada Error dari pihak Noveltoon/Mangatoon
Sampul: dibuatkan oleh anggota Keluarga.
Font: Dibuatkan oleh teman baik sesama Author.
Genre lengkapnya akan ditulis disini:
Action, fantasy, magic, skill, god, isekai, seinen, harem, sedikit bumbu dark.
⚠Warning: MC ga punya rasa kasihan/empati, tidak naif, dan menyukai pertarungan. bagi yang suka MC naif dan baik hati, tidak akan cocok dengan cerita ini.
-----------------------
Cerita dimulai dengan sang protagonist bernama Dyze yang dijatuhkan dari Firmament deity oleh orang yang ia anggap sebagai tangan kanannya sendiri, Zavist. Atas perangkap yang Zavist buat, Dyze dengan terpaksa melakukan dosa besar di Firmament Deity. Ia yang tidak punya pilihan selain mengakui dosa itu bersumpah akan membalaskan dendam pada Zavist dan dewa lainnya. Tapi, dosa apa yang Dyze perbuat? Benarkah Zavist yang melakukan itu pada Dyze? Dan apa itu Firmament Deity? Semua itu akan terungkap di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairenji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19. Kota Makmur Yang Menjadi Kota Hantu
Ditengah kesenangan mereka, Chronoa tiba tiba membuat suasana menjadi hening untuk sementara.
“Dyze, mengenai kota Erdein yang lenyap, itu ulahmu bukan?”
Dyze menoleh ke arah Chronoa dan hanya mengangguk.
“Begitu. Jadi bagaimana caranya kita ke kota Erdein? Kita bahkan tidak mempunyai persediaan makanan sekarang.”
Dyze menganga saat mendengarnya.
“Jangan bilang kamu melenyapkannya begitu saja tanpa tahu dimana letaknya berada..?”
Masih dengan mulut yang terbuka lebar, Dyze mengangguk.
Chronoa menepuk jidat dan menggerutu:
“Sebenarnya kamu ini pintar atau bodoh sih?”
Dyze terlihat kesal mendengarnya.
“Cih, yang berlalu biarlah berlalu. Jadi kemana tujuan kita sekarang?”
Dia bertanya dengan wajah bodoh.
Chronoa menjadi semakin kesal saat melihatnya.
“Yang benar saja! Apa kamu lupa sekarang kita menjadi buronan?”
Tiba tiba matanya terlihat mengeluarkan kilatan cahaya, dia menjadi bersemangat seketika.
“Buronan? Oh! Itu hal yang bagus! Kita akan berkeliling Dunia demi mencari informasi, informasi adalah kekuatan kau juga tahu itu kan?”
Chronoa memasang wajah ragu.
“Hah? Kenapa kita harus berkeliling Dunia? Cara kita mendapatkan tempat tinggal atau makanan gimana?”
“Kita buronan, tidak mungkin menetap di satu tempat yang sama setiap saat. Untuk makanan, hmm entahlah akan kupikirkan saat lapar saja.”
Terlihat jelas dari mimik wajah Chronoa dia pasrah dengan keadaan.
--
Di suatu tempat yang cukup jauh dari Dyze, Chronoa dan Eiria berada, terdapat sebuah kota besar seperti terdampar, yang awalnya di padang rumput, menjadi di lapangan kosong cukup dekat dengan hutan.
Tidak ada yang mencolok selain satu satunya sosok figur wanita yang bersedih diantara warga yang sedang merayakan pesta.
Hujan deras yang masih mengguyur kota—Erdein tidak menghalangi para warga untuk merayakan kesenangannya, mereka mengira Dyze tidak dapat membalaskan dendamnya pada mereka.
Figur wanita yang sedang tersungkur, Claire, sedang menangis terisak-isak. Warga yang sedang berpesta di belakangnya seperti melupakan ancaman Claire dulu.
Dengan wajah penuh gembira mereka mencela Dyze, entah mereka sadar atau tidak, Claire berada di belakang mereka, mendengarkan semuanya.
“Fuaah.. Untung Raja Iblis Asmodeus bisa mengatasinya dengan sangat baik!”
“Benar sekali! Setidaknya kita sudah lepas dari kemungkinan mati karena pembalasan dendamnya! Mari bersulang!”
“Bersulang!”
“Duh kalian ini, sudah mabuk saja..”
“Apanya? Kami tidak mabuk kok.. Eheuheu.”
Mereka saling merangkul dan bersiul merayakan kemenangan. Tidak ada seorangpun yang peduli pada Claire yang sedang tersungkur, mereka sibuk merayakan kebahagiaan tanpa memikirkan darimana kebahagiaan itu berasal.
Karena emosi yang telah memuncak, air mata Claire yang mengalir berubah menjadi air mata darah.
Ujung-ujung jari Claire bergetar hebat, terlihat ada buih pada sudut mulutnya, Claire juga melontarkan kalimat yang membuat kota Erdein menjadi hening seketika.
“Kurang ajar. Mengapa bisa seperti ini.. Dyze..”
Perlahan Claire berdiri, membuat suasana tegang yang dimana suara jantungpun dapat didengar dengan jelas. Sebuah aura gelap tercipta di sekitarnya, aura itu menyelimuti tubuhnya.
Seperti orang yang sepenuhnya berbeda, Claire menatap mereka dengan penuh kebencian dan kemurkaan. Mereka merasakan perasaan itu lagi, perasaan ditekan, namun kali ini jauh lebih kuat.
“KYAAAAAAAAAA!”
Bahkan diantara mereka banyak yang hancur karena tidak dapat menahan intimidasi dari Claire. Suasana menjadi mencekam dalam sekejap, para warga kota merinding saat teringat pada peringatan yang diberikannya pada mereka.
Banyak diantara para warga kota yang menangis, meringkuk, ataupun menjadi stress karena ketakutannya. Seolah tidak peduli dengan semua itu, Claire tertawa melengking. Membuat hawa dingin semakin menusuk tulang mereka.
Dia menunjuk ke langit dengan jari telunjuknya, Claire tersenyum.
“Biarkanlah hujan ini menjadi saksi bisu atas pembantaian yang akan terjadi.”
Kalimat itu membuat kota Erdein seolah berguncang, para warga ingin berlari sejauh jauhnya, namun mereka seperti membeku, tertahan oleh sesuatu.
Dan siapapun yang menatap mata Claire, akan hancur seketika, membuat mereka ingin berteriak histeris namun tidak dapat melakukannya. Para warga kota sebisa mungkin tidak menatap mata Claire, karena takut bernasib sama seperti mereka yang telah hancur karena menatapnya.
Namun percuma saja, tidak ada seorangpun yang dapat lari dari kematian, meski dia berada dalam tembok paling tebal di Dunia sekalipun.
Claire yang dulu fisiknya terbilang lemah, kini dapat bergerak dengan lincah. Dia merebut belati salah satu warga yang berusaha memberontak, lalu dia menghabisi seluruh warga yang mencoba memberontak dengan mimik wajah seperti tidak merasakan apa apa.
Sekarang hanya tersisa setengah dari warga kota Erdein yang masih hidup, mereka memohon dengan cara apapun demi hidupnya, namun Claire hanya menatap mereka dengan jijik.
“AAAARGGH!”
“ARKKHH!”
“MAMA!”
“Anakku..”
“AAAAH TOLONG!!”
Mulai saat itulah teriakan, jeritan, tangisan, terakhir yang dapat didengar. Bau darah yang sangat menyengat dan tajam menggantung di udara. Mayat mayat warga kota Erdein dikumpulkan oleh Claire dan ditumpuk menjadi segunung mayat. Claire kini berada di puncaknya, dia melihat langit dengan noda darah di baju dan wajahnya yang sedang dicuci oleh hujan.
Tatapan matanya sayu, seperti tidak memiliki tujuan hidup. Namun tiba tiba saja dia tersenyum dan berteriak:
“Dyze! Aku tahu kamu masih hidup! Tidak, kamu harus tetap hidup! Tunggulah aku akan mencarimu meski harus dimusuhi Dunia ini.”
Waktu terlalu cepat berjalan, kini Dyze telah kelaparan.
“Uhh, lapar sekali.. Adakah makanan disekitar sini?”
Rengekan Dyze membuat Chronoa terlihat jengkel.
“Bukankah ini baru sore? Lagipula arah tujuan kita saja masih tidak jelas, bagaimana bisa berharap mendapatkan makanan begitu saja.”
Eiria hanya tertawa canggung melihat kelakuan mereka.
Setelah cukup lama berjalan di bawah matahari oranye, mereka menemukan sebuah hutan lebat.
Saat Dyze melirik ke dalam hutan itu, Chronoa dan Eiria merasakan firasat buruk.
“Dyze? Kamu tidak akan kesana kan?”
Dyze hanya menatap mereka dan tidak memberikan jawaban apapun, membuat mereka menelan ludah.
“Kenapa tidak? Siapa tau kita akan mendapatkan daging panggang disana~”
Dia melipat tangan ke belakang dan bersiul ingin memasuki hutan, Chronoa dan Eiria hanya bisa menghela napas pendek dan tersenyum saat melihat kebiasaan Dyze.
Di tepi hutan, saat ingin memasukinya, Dyze berhenti secara tiba tiba, yang membuat Chronoa dan Eiria menabrak punggungnya.
“Uggh, ada apa sih? Hidungku jadi sakit begini..”
“Aku juga merasakan hal yang sama..”
Disaat mereka fokus menggosok hidung mereka, Dyze menunjuk ke langit, tidak ada yang menyadari tindakan Dyze selain 1 orang.
Dyze hanya melirik mereka singkat dan melanjutkan tujuan.
Setelah memasuki hutan, mereka semakin menuju ke dalamnya, dengan keadaan yang sudah mulai gelap.
Semakin dalam, pohon pohon semakin tebal dan banyak, membuat keadaan mereka menjadi kurang cahaya, namun karena Eiria dapat mengontrol cahaya dari tubuhnya maka seharusnya tidak ada masalah dengan itu.
Beberapa saat mereka menelusuri kedalaman hutan, mereka tidak melihat rusa ataupun hewan lain yang berkeliaran, mereka hanya mendengar suara berisik di depan mereka.
Dyze pun bergegas memeriksanya karena berharap itu adalah rusa yang sedang melintas.
Namun sesampainya disana mereka tidak menemukan apa apa, tiba itba saja Dyze menjadi siaga yang membuat Chronoa dan Eiria juga dalam posisi bertahan.
"Untung tubuhku jauh lebih kuat...." (yang ini lebih santai)
atau
"Tubuhku untung jauh lebih kuat...." (yang ini engga)
Hhmmmm.... 🤔
Horizon berasal dari bahasa Inggris yang artinya Cakrawala 👍