Slowly Update!!
Berkedok sebagai jaminan hutang ayahnya, Ruma berhasil dijerat menjadi tawanan abadi oleh Rico Dzadakun. Alih-alih menjadikan Ruma salah satu penari striptis di club malam miliknya, Rico justru merasakan jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama pada gadis itu.
Sementara dibawah pengawasan Rico Dzadakun, diam-diam Ruma mendamba sebuah aksi balas dendam atas mimpi buruk yang selama ini ia dapatkan dari pebisnis kriminal tersebut.
Ditengah obsesi Rico terhadapnya, akankah Ruma berhasil melancarkan aksi balas dendam yang selama ini ia inginkan? ataukah Ruma justru semakin terjebak dalam jeruji-jeruji cinta yang Rico lilitkan dilehernya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Rico duduk di depan meja tulis di dalam ruang kerjanya. Setelah beberapa menit ia habiskan untuk berdiam diri, pada akhirnya tangan yang beberapa saat lalu mencumbu tubuh Ruma, harus bergerak untuk mengangkat ponsel dan mulai menghubungi kekasih resminya.
"Bicaralah," kata Rico.
Suara Meggy berlomba dengan hiruk pikuk kru film yang berteriak lantang mengenai pemindahan set pengambilan gambar. "Aku merindukanmu, kau tidak menghubungiku dari terakhir kita berbincang"
"Oh ayolah ... Kita bukan remaja puber yang harus saling menghubungi setiap saat"
Meggy mengatur nafasnya yang berat dan berkata. "Itu karena kau tidak pernah merindukanku" dengusnya
Rico menyunggingkan senyumnya. Sebelah tangannya yang kekar asik memutar-mutar pena yang terdapat di meja itu. "Berhenti menggerutu, Meggy. Jika kau menghubungiku hanya untuk menumpahkan kekesalanmu, lebih baik kita akhiri sambungan ini"
Di balik sambungan, Meggy tergagap. "Bu-bukan begitu maksudku" Dia melipat bibirnya, rasa cinta yang begitu besar untuk Rico sering menyebabkannya bertingkah kekanakan. "Apa yang kau lakukan selama aku tidak disana?" Meggy mengalihkan topik pembicaraan.
Rico tampak menimbang. Benaknya sibuk memberi alasan yang paling bisa Meggy terima. "Aku pergi ke markas. Mengecek sortiran barang dan kembali pulang setelah membicarakan bisnis dengan Lucas," Rico mengungkapkan kebohongan dengan epik.
Ketika nama Lucas disebut. Bola mata Meggy memicing penuh curiga. "Lucas tidak mengajakmu bermain wanita, bukan?!"
"Oh shit!" Rico tak suka dengan nada posesif wanita itu. "Berhenti membahas hal itu ... Kau membuatku malas" Rico mengeram dengan wajah yang seram.
Meggy terkesiap di tempatnya. Aura kemarahan Rico menembus jaringan selular dan berpendar begitu jelas di telinganya. "Ma-maafkan aku honey. Aku hanya--"
"Sudahlah!" Rico memotong ucapan kekasihnya. "Lebih baik kau kembali dengan kru filmmu" putusnya kemudian.
Hampir saja sambungan itu berhasil Rico putus, jika Meggy tidak menghentikannya. "Tunggu! Tunggu honey ... Ada yang ingin aku katakan" seru Meggy terburu.
Rico diam menunggu kalimat Meggy berikutnya. "Acara di Olympus Palace sebentar lagi. Aku akan pergi kesana dengan rombongan kru filmku. Jadi aku tidak bisa mengambil barang itu langsung darimu. Bagaimana?"
Rico kembali berpikir. Bayangan Ruma berkelibatan mempengaruhi keputusan yang harus ia ambil. Meggy tidak bisa menjadi perantara langsung dalam menjajakan barang haramnya. Hal itu berarti harus dirinya-lah yang pergi menemui para pemesan di Olympus Palace. Jaraknya yang memakan waktu seharian membuat Rico ragu. Mana mungkin ia bisa meninggalkan Ruma dalam jangka waktu lama? Sementara saat sambungan ini masih berjalan saja, rasanya ia ingin membanting ponselnya dan berlari menghampiri wanita cantik itu.
Tetapi bisnis tetaplah bisnis. Ada beberapa hal yang terpaksa harus ia korbankan demi mendapatkan hasil yang memuaskan. "Kau bilang pada mereka. Aku yang akan memastikan barang itu sampai ke tangan mereka" putus Rico pada akhirnya.
Senyum merekah di wajah Meggy menghapuskan mimik wajah angkuh yang menjadi ciri khasnya. "Benar kau akan datang?" Lonjakan rasa bahagia membuat suaranya berubah lembut dan terdengar mendayu.
"Ya. Aku akan kesana ... Membawa pesanan mereka tepat pada waktunya"
"Baiklah. Aku akan menunggumu disana dengan senang hati" ujar Meggy bersemangat.
Sambungan itu berakhir ketika bunyi 'bip' dari ponsel terdengar. Rico menaruh ponselnya di saku celana. Ia berdiri dari kursinya dan tanpa sengaja melihat sesuatu yang menarik dari balik jendela.
Senyumnya setipis kain puring, namun mampu menggambarkan kondisi hatinya yang tetiba menghangat. Bidadari cantik berbalut gaun peach dengan panjang lima senti melebihi lutut, tampak berbincang hangat dengan satu-satunya wanita yang berada di rumah itu.
Rico memperhatikan rona wajah ramah Ruma yang berhias senyuman sedang terlibat obrolan ringan dengan Viona. Viona sama ramahnya. Entah apa yang wanita tua itu katakan, namun jika melihat dari binar kebahagiaan yang sekilas tertangkap oleh mata jeli Rico. Ia yakin bahwa apa yang menjadi obrolan keduanya adalah sesuatu yang menyenangkan.
Dari kejauhan Rico melihat Matias berjalan dengan tubuhnya yang bungkuk. Wajah lelaki tua itu tersenyum hangat sambil mengulurkan tangannya pada Ruma. Oh Dewi Laksmi yang Agung, Ruma tidak pernah sadar. Bahwa ia memiliki senyuman yang menyenangkan bagi siapapun yang mencoba dekat dengannya. Mata jernih dengan wajah cerah nan manis itu, sudah barang tentu membuat siapapun orang yang melihatnya merasa terpancing ingin segera menghampirinya.
Rico tidak ingin berlama-lama berperan sebagai penguntit yang tak tahu malu. Lelaki itu berjalan santai dengan hati riang meski pembicaraan sebelumnya dengan Meggy membuatnya gusar.
Dan disanalah ia. Berdiri di ambang pintu pekarangan depan dengan tangan bersilang di dada. Matias yang lebih dulu menyadari kehadiran Tuannya. Lelaki tua itu menyentuh tangan istrinya agar melihat pula sosok yang berdiri di belakang dirinya dan Ruma.
"Tuan" Keduanya mengangguk hormat pada Rico. Sementara itu, Ruma hanya memberi lirikan sepintas.
"Sejak kapan kau turun kemari?" tanyanya langsung pada Ruma.
Ruma menatap Rico. "Sejak kau keluar untuk menghubungi seseorang bernama Meggy" sahut Ruma lugas. Viona dan Matias memilih diam mendengarkan dengan perasaan sungkan.
"Lalu apa yang kalian bicarakan?" Rico menatap bergantian ke arah Viona dan Matias.
Kedua pembantu itu saling menatap, tatapannya beralih pada Ruma yang tampak enggan mengatakan apapun. "Maafkan saya Tuan" Viona mengawali ucapannya dengan permohonan maaf. "Saya pikir Nona Ruma tahu tentang rencana berpindah rumah nanti malam. Kami membicarakan itu tadi" Pandangan mata Viona meminta persetujuan Ruma.
"Benarkah aku akan pergi dari sini?" Ruma gagal menutupi antusiasnya.
Rico menatap penuh perhitungan. Dalam pikirannya, Ruma pasti mengira ia akan tinggal berjauhan dengan dirinya. Memikirkan hal tersebut membuat Rico berjalan mendekati ketiga orang itu. "Ya. Kau akan tinggal dirumah yang telah aku siapkan ... bersama Viona," ungkapnya sambil memperhatikan mimik wajah Ruma. "Jangan berkhayal terlalu jauh, Ruma ... Kau pasti berpikir bahwa kau akan terbebas dariku, bukan?"
Rico tersenyum licik. Ia meminta Viona dan Matias pergi meninggalkan dirinya bersama Ruma melalui isyarat mata. Belum jauh kedua pembantu itu berjalan. Rico kembali berkata. "Kau harus tahu, bahwa aku selalu mengawasimu disana. Bahkan tanpa kau sadar bahwa dirimu tengah diawasi" sambungnya. "Kau hanya pindah sementara waktu, sebelum pada akhirnya kau kembali dan menjadi penghuni di rumah ini ... bersamaku"
Ruma memberengut tak suka dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia mengatur nafasnya dengan bola mata menatap sinis pada Rico. "Meski sementara ... aku sudah merasa senang bebas darimu!" kata Ruma ketus.
Rico mengangkat alisnya seolah tak peduli dengan nada kekesalan Ruma yang justru terdengar menggelitik baginya. Ia membiarkan wanita itu berjalan melewatinya dan masuk kembali ke dalam rumah. Tumit kakinya sedikit terangkat akibat rasa ngilu yang tak kunjung mereda di area bawahnya. Rico bisa saja membantu Ruma untuk sampai di lantai atas. Kembali ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas tempat tidur yang nyaman. Namun melihat kekesalan Ruma yang sedang meledak membuatnya memilih untuk membiarkannya berusaha mengatasi rasa ngilu itu sendiri.
Sambil terus memperhatikan Ruma dari arah belakang. Rico merogoh ponselnya. Satu panggilan dari Abdul, berhasil menghentikannya dari mengikuti Ruma. Rico termenung sesaat. Ia menduga-duga hal apa yang membuat adiknya menghubungi dirinya setelah sekian lama.
🍁🍁🍁
Semacam kewaspadaan melingkupi diri Rico ketika terdengar suara keributan dari negeri seberang sana. Rasa curiga dan antisipasi menjadi semakin kentara ketika suara memelas dari seseorang yang ia kenal mengisi gendang telinganya.
"Duduk!"
Rico yakin Abdul sedang melakukan sesuatu yang buruk pada seseorang disana. Hal itu bisa terdengar dari bentakannya yang diiringi umpatan kasar lengkap dengan suara dentuman mirip popor senjata laras panjang.
"Halo Brother" sapa Abdul setelah lama mengabaikan panggilan yang sudah tersambung.
"Ada apa menghubungiku?" tanya Rico singkat.
"Ooh Kakakku tersayang" katanya dengan intonasi suara dibuat-buat. "Apa itu sapaan untuk adik yang lama tidak kau hubungi?!" Abdul menyeringai misterius.
"Cih! Sejak kapan kau menganggapku kakak?!" Rico berdecih.
Tiba-tiba raut wajah Abdul berubah masam. "Aku memang tidak pernah menganggapmu kakak. Kau hanya bocah lelaki yang kebetulan melintas dijalanan dan dipungut oleh ayahku, seperti ia memungut sampah" Abdul begitu lancar memberi serangan verbal yang berhasil menyalakan bara api dalam diri Rico.
Tanpa terduga, Rico menyeringai dengan bola mata berkilat seperti seorang pembunuh. "Sekarang sampah itu justru lebih berharga dari rongsokan usang yang ayah pelihara sejak dulu" ejeknya sarkas.
Abdul mengeratkan gerahamnya. "Akan aku robek mulutmu, bedebah!" umpat Abdul disambut kekehan oleh Rico. "Kau pikir siapa dirimu? Kau hanya orang asing tidak tahu diri yang datang dan mengacaukan istanaku" sambungnya bengis.
Rico memilih tidak peduli. "Sudahlah. Aku tidak ada waktu untuk meladeni sumpah serapahmu. Sekarang katakan padaku, apa maumu?" tanya Rico lugas. Pandangannya tertuju pada pintu kamar di lantai atas yang tertutup. Dia ingin segera menghampiri Ruma disana. Bermesraan kembali sambil menyambut kehadiran senja di ujung cakrawala.
Tanpa Rico ketahui, Abdul tengah mengacungkan moncong pistol pada wajah lelaki malang yang tadi ia paksa duduk. "Berani-beraninya kau menyusupkan orangmu di perusahaanku, bajingan!" geraman Abdul membuat Rico terdiam sejenak.
Tak berselang lama, desahan penuh penyesalan keluar dari mulutnya ketika ia baru saja tersadar akan suara memelas seseorang yang terasa familiar disana. Ia yakin, anak buah Don yang ia perintahkan untuk mengawasi Abdul telah tertangkap.
"Melihat kinerja burukmu, tentu aku harus menyusupkan seseorang disana. Bagaimana pun juga, perusahaan itu milik ayah. Aku harus menyelamatkannya jika kau terus saja bersikap bodoh" kata Rico membenarkan ucapan Abdul yang tengah setengah mati ingin menghantam wajahnya.
"Hebat!" seru Abdul singkat. "Seekor anjing sudah mulai menunjukan taringnya" tambahnya dengan nada suara mencemooh.
Rico memutuskan untuk mengabaikan hinaan kasar adiknya. Ia sudah teramat biasa mendengar cemoohan bahkan umpatan ketika ia masih berada di Afganistan sana bersama ayahnya. "Ungkapan yang bagus" katanya menepis rasa tersinggung yang merangkak naik kedalam hatinya.
"Aku dengar kau menghalangi seseorang yang ingin menghubungiku disana" ujar Abdul. "Siapa dia?" tanyanya.
"Bukan siapa-siapa. Hanya mantan pekerjaku yang kehilangan arah" sahut Rico tak peduli. Sekali lagi, matanya menatap pintu yang tertutup dimana sang bidadari mengurung diri sejak tadi. Ingin rasanya ia menyudahi pembicaraan tak penting ini dan segera beranjak untuk bertemu bidadarinya disana. Namun Abdul menghentikan keinginannya itu.
"Omong kosong! Kau tidak akan sampai menghalanginya jika tidak ada sesuatu yang penting yang harus aku ketahui" selidik Abdul. Lelaki itu ingin memancing Rico untuk mengatakan hal yang sebenarnya ia sudah ketahui dari sang mata-mata.
"Terserah kau. Aku tidak peduli jika kau tidak percaya. Lagipula sejak dahulu, kita sama-sama tidak pernah saling percaya" ucap Rico lugas.
"Hahaha kau benar" tawa Abdul membahana disana. "Baiklah, Aku rasa sudah waktunya aku menghukum si penyusup ini. Apa kau tidak keberatan?" tanyanya kemudian.
"Dia sudah tahu sendiri konsekuensinya" ucap Rico tanpa ekspresi.
Rico memutus sambungan itu seketika. Ia tahu pasti apa yang akan Abdul lakukan pada suruhannya itu. Jauh dalam hatinya, rasa sesal menjadi beban berat yang terpaksa harus ia singkirkan. Siapapun yang bekerja bersamanya, sadar benar akan konsekuensi terburuk yang harus mereka pertaruhkan. Termasuk kehilangan nyawa sekalipun.
🍁🍁🍁
bbrp kalimat yg digunakan memabukkan berasa baca karya sastra 👌
mksh Author
tetap semangat berkarya ✒️📱
tp aku heran dg algoritma noveltoon ini, knp novel2 receh yg alur ga jelas arahnya mau kemana dan blundet ga masuk akal justru bisa di up, sdngkan novel yg rata2 bagus sprti ini justru ga di up.
krn sblm aku baca aku paasti lihat dulu komen2 jika ada 1 komen yg buruk sdh pasti alurnya emng buruk. tp dikomen ini baik dan menarik jd aku baca.
sejauh ini masih suka sih, semangat thor meski ga trending yg penting ttep berkarya