SEBELUM MEMBACA, JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR!
Raina seorang gadis miskin, ia baru saja berumur 17 tahun. Ibunya bekerja di sebuah rumah megah. Pemilik rumah megah itu adalah seorang pengusaha sukses di Indonesia.
Suatu hari Rian Wijayanto--anak majikan ibu Raina, akan melangsungkan pernikahan nan mewah, tamu-tamu saja dari kalangan berada dan teman-teman bisnisnya. Tempat pesta pernikahan sudah disiapkan, para tamu undangan mulai hadir satu persatu.
Ternyata dikabarkan bahwa calon pengantin wanita sudah melarikan diri. Mereka tidak mungkin membatalkan pernikahan tersebut, karena nama mereka yang dipertaruhkan. Akhirnya majikan ibu Raina, meminta Raina untuk menikah dengan Rian.
Bagaimana kisah mereka berdua?
Kuy, baca ceritanya segera, biar gak bikin penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Azizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Rian menghapus air mata Raina dengan kedua jempolnya. Raina menatap dalam-dalam wajah pria yang berada tepat di depan matanya, wajah yang selalu memperlihatkan senyuman. Tak pernah sekalipun Raina melihat wajah itu sedih. Tanpa sadar Raina mengusap wajah itu dengan lembut. Kenapa dia bisa memiliki suami sebaik, Rian? Padahal dia selalu bersikap dingin dan cuek, tapi wajah itu tidak pernah memperlihatkan raut wajah menyesal atau marah. Wajah itu akan berubah marah, saat dirinya mengatakan kata yang tidak disukainya. Seperti terlalu merendahkan diri sendiri, mengagap tak pantas untuknya.
"Sayang kenapa?" tanya Rian seraya memegang tangan Raina yang masih di pipinya.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin menatap wajah ini lebih lama," jawab Raina.
Rian tersenyum saat mendengar jawaban dari Raina, ia mencium punggung tangan Raina dengan sangat lembut.
"Ayo kita pergi makan. Kakak lapar," ucap Rian dengan tersenyum menatap Raina.
"Tapi, Aina masih memakai seragam sekolah. Apa kata orang nanti," jawab Raina, dan memang seperti itulah sifat Raina. Selalu khawatir dengan apapun yang bersangkutan tentang dirinya.
Rian membuka jas hitamnya, lalu memasangkan ke tubuh Raina. Jas hitam yang hampir menutupi seluruh seragam sekolah Raina.
"Sudah. Sekarang ayo kita makan," ajak Rian yang sudah tidak bisa menahan rasa laparnya. Ia bahkan belum menyentuh makanan apapun dari tadi pagi.
Raina membalas dengan anggukan, ia membuka sabuk pengaman sebelum berjalan keluar dari dalam mobil. Lalu berjalan masuk ke dalam restoran bersama dengan Rian. Cukup banyak orang yang makan di sana, terlihat beberapa pelayan yang sibuk melayani pengunjung.
Rian dan Raina memilih duduk di meja dekat jendela, yang memperlihatkan mobil sedang berlalu-lalang di jalan raya. Salah satu pelayan langsung menghampiri sepasang suami istri, lalu memberikan buku yang berisi daftar menu.
Rian membuka lembaran demi lembaran, membaca satu persatu menu yang akan dia pesannya.
"Sayang mau yang mana?" tanya Rian menatap ke arah istrinya.
"Apa aja," jawab Raina yang terlihat tidak begitu semangat.
"Hmm. Saya mau yang ini, ini, ini, dan ini," ucap Rian menunjuk satu persatu menu yang ingin dia pesan.
"Kalau minumannya, Tuan?" tanya pelayan itu.
"Jus jeruk satu," jawab Rian dengan tersenyum.
"Baik, Tuan. Sebentar ya, Tuan, Nona," ucap pelayan itu seraya berjalan pergi meninggalkan meja Rian dan Raina.
Tak butuh waktu yang lama, pelayan itu kembali menghampiri meja Rian bersama dengan temannya. Pelayan itu menaruh semua pesanan Rian dan Raina di atas meja, yang membuat meja yang semula hanya ada bunga, berubah menjadi penuh dengan berbagai macam makanan lezat.
"Silahkan dinikmati, Tuan, Nona," ucap pelayan itu sebelum berjalan pergi.
"Ayo makan," ajak Rian seraya mengambil makanan yang ingin dia makan lebih dahulu.
Raina dengan malasnya menyuap makanannya, ia tidak punya selera makan gara-gara kejadian tadi. Rian yang tanpa sengaja menatap istrinya, dan melihat Raina tidak terlalu semangat makan. Akhirnya dia memutuskan untuk menyuapkan Raina dengan makanannya.
Raina dengan ragu-ragu menerima suapan dari Rian, walau akhirnya dia menerima suapan itu terus-menerus. Begitulah cara Rian agar Raina tetap banyak makan. Raina tidak akan berani menolak suapan dari Rian, ia tau itu akan terjadi.
*****
Setelah selesai melakukan makan siang di restoran, akhirnya Rian mengajak Raina pergi ke kantornya. Tapi, sebelum itu Rian sudah membelikan baju ganti untuk Raina.
Rian tidak mungkin mengantar Raina pulang, karena dia memiliki banyak pekerjaan di kantor. Beberapa kali sekretaris-nya menelpon, mengatakan ada dokumen yang harus ditanda tangan oleh Rian sendiri.
Raina menjadi sorotan di kantor Rian, membuat dirinya tidak nyaman berada di sana. "Tidak di sekolah, tidak di sini. Semuanya sama saja, menatap Aina dengan tatapan anehnya," gerutu Raina dengan memanyunkan bibirnya.
Rian hanya tersenyum mendengar gerutu dari istrinya. Memang seperti itulah sifat Raina, tidak suka diperhatikan oleh orang-orang.
"Siapa wanita itu? Kayaknya bukan, Mbak Serlin. Wanita ini memiliki tubuh pendek mungil, rambut pendek, gaya tomboi, sedangkan Mbak Serlin memiliki tubuh tinggi semampai, rambut panjang bergelombang dan dia juga feminim. Apa ini pacar baru, Pak Rian?" tanya Rahmi--Karyawan yang selalu memperhatikan gerak-gerik Rian di kantor atau di media sosial Rian. Memang Serlin pernah datang beberapa kali ke perusahaan Rian.
"Bisa jadi itu pacar baru, Pak Rian. Soalnya di akun media sosial, Pak Rian. Foto Pak Rian dan Mbak Serlin sudah gak ada. Foto itu kini diganti dengan kebersamaan Pak Rian dan wanita itu. Tapi, kayaknya umur wanita itu masih muda, seperti seorang pelajar SMA," timpal temannya Rahmi, yang bernama Fita Agustina.
"Entahlah, kita gak akan punya harapan untuk bisa mengisi hati, Pak Rian. Karena kita bukan selera, Pak Rian," ucap Rahmi yang terlihat begitu kecewa, sementara Fita hanya berdeham.
Sekretaris Rian--Dinda, terlihat begitu kaget dengan kedatangan Rian bersama dengan Raina. Dia bertanya-tanya siapa gadis ini, tiba-tiba dia teringat dengan foto yang beberapa waktu lalu diunggah Rian di akun media sosialnya. Dinda sama seperti yang lain. Memperhatikan aktivitas Rian dari akun media sosial Rian.
"Tempat ini sangat membosankan. Apa yang bisa Aina lakukan di sini?" guman Raina saat sudah berada di dalam ruang Rian. Ruang yang lumayan besar, beberapa lukisan terpampang di dinding dan kaca jendela tebus pandang. Raina bisa melihat pemandangan luar dari jendela kaca itu.
Rian duduk di kursinya, sementara Raina berkeliling di sekitar ruang Rian. Menurut Raina tempat itu sangat membosankan, membosankan sekali, tak ada TV untuk di tonton, ruang yang hanya dipenuhi dengan berbagai jenis dokumen dan buku-buku.
"Apa di lemari ini ada buku cerita?" tanya Raina menatap Rian.
"Tidak ada. Semuanya tentang perusahaan," jawab Rian yang sudah sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
Raina memanyunkan bibirnya, ia berjalan menghampiri Rian dan melihat bagaimana cara Rian bekerja di kantor. Raina tidak pernah berniat ingin menjadi orang kantor, dia hanya ingin menjadi profesor atau seorang dokter. Tapi, karena dia memiliki ketakutan terhadap darah, akhirnya Raina bingung ingin menjadi apa setelah lulus kuliah nanti. Lulus kuliah? Apakah nantinya dia masih bisa kuliah? Apalagi saat ini dia sedang bimbang antara berhenti atau lanjut sekolah. Dia juga sudah berstatus sebagai seorang istri.
"Ini sangat membosankan, Kakak. Raina pulang aja ya," rengek Raina.
"Nanti, kata kakak," jawab Rian tanpa menoleh ke arah istrinya.
"Kakak ...," Raina malah berjongkok di bawah meja Rian, seraya memainkan telunjuknya di lantai.
"Itu ngapain?" tanya Rian.
"Izinin Raina pulang ya, Kak. Raina pulangnya pake taksi," rengek Raina.
"Gak. Kita pulang sama-sama nanti," jawab Rian.
"Lama. Lagian, apa yang bisa Raina lakukan di sini?"
"Nonton Drakor kesukaan sayang di ponsel kan bisa?"
"Malas. Gak ada film yang menarik."
Rian menghentikan aktivitasnya, bagaimana bisa dia fokus bekerja, kalau istrinya terus merengek ingin pulang.
Rian mengambil semua berkas yang ada di mejanya. "Ayo!" ajak Rian bangun dari duduknya.
"Ke mana?" tanya Raina dengan menatap Rian.
"Duduk di sofa sana," jawab Rian seraya berjalan menuju sofa di depan mejanya.
"Kirain tadi mau pulang," gerutu Raina dengan memanyunkan bibirnya, ia bangun dari jongkoknya dan berjalan mengikuti Rian.
Raina duduk di sebelah Rian, menatap Rian yang begitu sibuk dengan dokumennya. Lama-lama Raina mulai merasa ngantuk, ia menjadikan paha Rian sebagai bantal.
Rian membiarkan hal itu, karena itu tidak menggangu dia bekerja sama sekali. Raina menyembunyikan wajahnya di badan Rian. Jujur, dia amat menyukai bau parfum Rian, itu sebabnya dia sengaja tidur di paha Rian.
Tok, tok, tok!
Seseorang mengetuk pintu dari luar. "Masuklah," titah Rian.
Ceklek!
Seseorang membuka pintu dari luar, hingga memperlihatkan siapa yang datang. Ternyata itu adalah sekretaris Rian--Dinda. Di tangannya ada dua minuman dengan jenis berbeda, dan sepiring kue kering. Rian memang tidak meminta, tapi ia sengaja melakukan hal itu. Dia sedikit kaget saat tidak melihat gadis yang bersama Rian tadi. Tapi, dia lebih terkejut saat melihat Raina tidur pulas di atas paha Rian.
"Ini kopi dan jus Mangga, Pak," ucap Dinda dengan meletakkan dua minuman itu, lalu diikuti dengan sepiring kue kering.
"Makasih, Dinda," jawab Rian tanpa menoleh ke arah Dinda.
"Sama-sama, Pak," jawab Dinda dengan tersenyum.
"Kakak, Aina mau pulang," ucap Raina tiba-tiba menyela ucapan Dinda.
"Sampai kebawa mimpi," ujar Rian dengan tersenyum.
"Saya permisi dulu, Pak."
"Iya," jawab Rian singkat, dan Dinda berjalan pergi meninggalkan ruang itu.
Bersambung ....
Aku kalo baca novel akan baca sinopsisnya dan komentar2 para Tiders dibawahnya terlebih dahulu,Kalo alurnya berat aku skip aja,cari yg lain,Aku baca novel utk hiburan,gak mau yg alurnya berat2,karena hidup ku hari2 udah berat..🙏🏻🙏🏻😁
bukan REHABILITASI...tetapi Ruang TERAPI gitu kak ...kalau rehabilitasi itu kyk dia make aj...