Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Naresta
"Bu, lebih baik Ibu pergi saja daripada membuat masalah di toko," ucap Aya kepada wanita itu dengan nada kesal.
Wanita tersebut langsung menatap Aya tajam.
"Kamu itu cuma karyawan. Jangan ikut campur urusan saya sama pemilik toko!"
Aya hendak membalas, tetapi Naresta segera menahannya.
"Mbak Aya, sudah."
"Tapi, Mbak—"
"Nggak apa-apa."
Naresta kemudian mengambil kembali uang lima ratus ribu yang masih berada di tangannya.
"Bu, kalau menurut Ibu lima ratus ribu ini tidak cukup, tidak apa-apa."
Wanita itu mengernyitkan dahinya.
"Maksud Mbak?"
"Saya simpan kembali uangnya."
"Lho, kok begitu?"
Naresta mulai kehilangan kesabarannya.
"Karena Ibu sendiri yang bilang lima ratus ribu tidak cukup."
"Tapi kan saya butuh uang!"
"Saya tahu Ibu butuh uang."
Naresta menatap wanita itu dengan tegas.
"Tapi bukan berarti saya wajib memberikan sepuluh juta kepada Ibu."
Wanita itu terdiam sesaat.
"Toko Mbak ramai setiap hari!"
"Terus kenapa?" balas Naresta mulai kesal. "Memangnya karena toko saya ramai, semua uang yang ada di sini menjadi hak Ibu?"
Wanita itu membelalakkan matanya.
"Saya cuma pinjam!"
"Dan saya sudah bilang tidak bisa!"
Untuk pertama kalinya, suara Naresta terdengar meninggi.
Aya yang berdiri di sampingnya langsung terdiam. Bahkan Elvan yang berada di dekat rak menoleh ke arah istrinya.
Naresta menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya.
"Saya sudah mencoba membantu Ibu dengan uang pribadi saya. Tapi bukannya berterima kasih, Ibu malah bilang jumlahnya tidak cukup."
Naresta menggeleng pelan.
"Kalau begitu, maaf. Saya tidak bisa membantu Ibu lagi."
Wanita itu mulai terlihat kesal. Tatapannya berubah tajam ke arah Naresta.
"Pantas saja, ya, dikasih suami cacat. Rupanya begini sifatnya."
Senyum di wajah Naresta seketika menghilang.
Ia menatap wanita itu cukup lama, seolah berusaha menahan kemarahan yang mulai memenuhi dadanya.
"Lagi-lagi suami saya yang selalu kena imbasnya," ucap Naresta dengan suara tertahan.
"Lho, benar, kan?" balas wanita itu tanpa merasa bersalah. "Mbak itu paling kaya di desa ini, lho. Masa uang sepuluh juta saja nggak bisa kasih pinjam?"
Naresta mengepalkan tangannya.
"Pertama, saya tidak pernah mengatakan kalau saya orang paling kaya di desa ini."
Wanita itu mendecak.
"Tapi semua orang juga tahu toko Mbak paling ramai."
"Ramai bukan berarti uang saya bebas dipinjam siapa saja, Bu."
Naresta menunjuk pelan ke arah pintu.
"Dan yang kedua, jangan pernah bawa-bawa suami saya hanya karena Ibu tidak mendapatkan apa yang Ibu mau."
"Memangnya saya salah ngomong?"
"Iya, Ibu salah!"
Suara Naresta tiba-tiba meninggi.
Aya yang berada di sampingnya langsung terdiam. Elvan yang mendengar suara istrinya dari arah rak perlahan menoleh.
Naresta menatap wanita itu dengan mata yang mulai memerah menahan emosi.
"Apa hubungannya kondisi suami saya dengan uang sepuluh juta yang Ibu minta?"
Wanita itu tidak langsung menjawab.
"Nggak ada, kan?"
Naresta menggeleng pelan.
"Saya sudah berusaha bicara baik-baik. Saya bahkan mau memberikan lima ratus ribu tanpa meminta Ibu mengembalikannya. Tapi Ibu bilang itu tidak cukup."
Naresta mengambil uang tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam laci kasir.
"Sekarang setelah saya tidak memberikan sepuluh juta, Ibu malah menghina suami saya."
Naresta menahan air mata yang mulai memenuhi matanya.
"Kalau Ibu marah, marah kepada saya. Jangan pernah menjadikan kondisi suami saya sebagai senjata untuk menyakiti saya hanya karena keinginan Ibu tidak saya turuti."
Semua pelanggan yang berada di dalam toko langsung menoleh. Bahkan Bu RT yang baru saja datang ikut mempercepat langkahnya mendekati meja kasir.
"Ada apa ini?" tanya Bu RT dengan wajah bingung.
Naresta tidak menjawab.
Tatapannya masih tertuju kepada wanita yang berdiri di hadapannya. Kedua tangannya mengepal kuat, sementara matanya mulai dipenuhi air mata.
"Saya muak dengan semuanya!" teriak Naresta tiba-tiba.
Bu RT sampai tersentak.
"Mbak Naresta..."
"Kenapa?" suara Naresta mulai bergetar. "Kenapa setiap kali saya menolak keinginan orang, yang selalu kena imbasnya suami saya, ha?"
Air matanya mulai jatuh membasahi pipi.
"Padahal dia hanya diam!"
Naresta menunjuk ke arah Elvan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Dia tidak pernah mengganggu siapa pun!"
Elvan yang mendengar itu hanya terpaku. Wajahnya mulai berubah sedih melihat istrinya menangis.
"Dia membantu saya setiap hari. Dia tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun. Bahkan ketika dihina, dia lebih memilih diam daripada membalas!"
Naresta mengusap kasar air matanya.
"Tapi kenapa setiap orang yang marah kepada saya selalu membawa-bawa kondisi suami saya?"
"Mbak, saya cuma—"
"Jangan potong ucapan saya, Bu!" bentak Naresta.
Wanita itu langsung terdiam.
"Saya sudah mencoba sabar."
Napas Naresta mulai tidak beraturan karena emosinya.
"Saya sudah mencoba tersenyum setiap kali orang menghina suami saya. Saya sudah mencoba menganggap semua perkataan itu angin lalu. Tapi saya juga manusia!"
Naresta menepuk dadanya sendiri.
"Saya punya batas kesabaran!"
Bu RT menatap Naresta dengan wajah prihatin. Ia tahu selama ini Naresta memang selalu berusaha tenang menghadapi hinaan orang-orang terhadap Elvan.
Naresta kembali menatap wanita di hadapannya.
"Ibu mau marah karena saya tidak memberikan sepuluh juta? Silakan! Mau bilang saya pelit? Silakan! Mau bilang saya sombong? Silakan!"
Air matanya kembali mengalir.
"Tapi jangan hina suami saya!"
Suasana toko benar-benar hening.
Elvan perlahan berjalan mendekati istrinya. Tangannya yang sedikit gemetar kemudian meraih tangan Naresta.
"S-sayang..."
Mendengar suara suaminya, Naresta menoleh. Elvan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"J-jangan... n-nangis."
Kalimat sederhana itu justru membuat pertahanan Naresta semakin runtuh.
Seketika tangis Naresta pecah. Ia sudah tidak mampu lagi menahan seluruh rasa sakit yang selama ini dipendamnya.
Dengan cepat, Elvan menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan.
"S-sayang... j-jangan n-nangis..."
Namun, air mata Elvan sendiri ikut mengalir. Tangannya memeluk erat tubuh Naresta seolah ingin melindungi istrinya dari semua orang yang telah menyakitinya.
Melihat keadaan itu, Bu RT langsung menyadari bahwa Naresta sudah benar-benar tidak sanggup lagi menghadapi keributan.
"Ayo, Bu. Mbak, semuanya keluar dulu," ucap Bu RT kepada para pelanggan. "Kasih Naresta waktu untuk tenang."
Beberapa pelanggan menganggukkan kepala.
"Iya, Bu RT."
"Ayo, kita keluar dulu."
Wanita yang sebelumnya meminta uang pun ikut membalikkan badan. Meskipun wajahnya masih tampak kesal, ia memilih mengikuti pelanggan lainnya menuju pintu.
Baru saja mereka hendak melangkah keluar...
"S-sayang..." panggil Elvan panik saat merasakan tubuh Naresta tiba-tiba melemas di dalam pelukannya.
Naresta tidak menjawab. Matanya perlahan terpejam.
Bruk!!!
"MBAK NARESTA!" teriak Aya.
Tubuh Naresta jatuh tidak sadarkan diri. Beruntung Elvan masih sempat menahan sebagian tubuh istrinya sehingga kepalanya tidak langsung membentur lantai.
"S-sayang!"
Elvan langsung berlutut sambil menopang kepala Naresta di pangkuannya.
"S-sayang... b-bangun..."
Tangannya gemetar hebat saat menepuk pelan pipi istrinya.
"N-Naresta..."
Aya langsung berlari menghampiri.
"Mbak Naresta!"
Ia ikut berjongkok di samping mereka.
"Mbak! Mbak Naresta, bangun!"
Namun, Naresta sama sekali tidak memberikan respons.
Elvan semakin panik.
"T-tolong... t-tolong i-istriku..."
Air matanya kembali mengalir deras. Bu RT yang tadi hampir keluar langsung berbalik dan berlari menghampiri.
"Ya Allah, Naresta! Aya, cepat panggil bantuan!"
"Iya, Bu!"
Aya langsung berdiri dan berlari keluar toko untuk mencari pertolongan.
Sementara Elvan tetap memeluk tubuh istrinya.
"S-sayang... b-bangun..."
Ia terus menangis sambil menggenggam tangan Naresta.
"A-aku t-takut..."
Untuk pertama kalinya, orang-orang yang masih berada di dalam toko melihat Elvan benar-benar kehilangan ketenangannya.