"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abah Sakit
"Uhuk!"
Suara batuk Abah terdengar lebih sering dari bisanya. Ya ... sudah lama abah sakit batuk. Dan sering juga bolak-balik rumah sakit untuk memeriksa sakitnya.
Aku tidak tahu abah sakit apa, yang kutahu abah sering melakukan Rontgen di rumah sakit.
Kudengarkan suara batuk abah yang semakin lama semakin sering dan menjengkelkan. Diikuti sesak dan diakhiri dengan napas abah yang memburu.
Ya Allah ... aku sendiri tak kuasa mendengarnya. Pasti sakit rasanya. Tadi siang saja aku lihat abah meludahkan cairan berwarna merah. Kutebak itu pasti darah.
Kuhampiri abah yang baru saja keluar dari kamar shalat dan duduk di ruang tengah. Napasnya masih tersengal.
"Uhuk!" Abah kembali batuk sembari mengusap-usap dadanya. Bibirnya terus bergerak mengucapakan istighfar. Dapat kudengar meski lirih.
"Abah!" panggilku seraya duduk di dekatnya. Meski sakit abah tetap puasa. Sayang kalau sampai batal, katanya. Sakitnya masih bisa abah tahan. Maa sya Allah.
Kuraih tangan abah dan menciumnya. Kuangkat wajah untuk dapat melihat abah. Napasnya sudah kembali normal.
"Abah sakit apa?" tanyaku ingin tahu. Abah tersenyum seolah ia sedang tidak merasakan sakit.
"Kata dokter paru-paru," jawab abah. Saat itu aku tidak tahu apa itu penyakit paru-paru. Mungkin semacam asma, aku hanya menebak.
"Mau denger cerita Abah, gak?" tanya abah. Aku mengangguk dan mulai mencari posisi duduk yang nyaman untuk mendengarkan.
"Waktu zaman perang dulu, Abah dan teman-teman Abah tersesat di hutan. Kami kehabisan bekal makanan dan minuman. Kami memakan apa aja yang bisa dimakan, buah-buahan dan daun-daunan. Gak ada sungai atau pun kali."
Abah menjeda ceritanya, ia memandangku yang terdiam mendengarkan ceritanya dengan senyum kecil.
"Kami terus berpindah-pindah, karena kondisi hutan yang lebat kami gak tahu di mana kami berada. Selama berminggu-minggu kami terjebak dalam hutan belantara yang gak ada ujungnya. Gak ada makanan dan minuman."
"Kami kelaparan juga haus. Tubuh sudah lemah gak berdaya, kami gak tahu gimana rupa kami saat itu. Wajah pucat dan kering. Nur tahu, apa yang Abah dan teman-teman Abah temukan?"
Abah kembali terdiam sembari menatapku yang menggeleng. Tentu saja aku tidak tahu.
"Pada saat itu, Abah dan teman-teman Abah sudah di ujung putus asa. Kami semua pasrah pada nasib, sudah gak ada lagi harapan yang tersisa. Di saat itulah kami melihat seekor ular yang sangat besar. Mungkin sebesar batang pohon kelapa yang kami gak tahu di mana ekor dan di mana kepala ular tersebut."
"Pohon kelapa? Gede amat, Bah!" tukasku memotong cerita abah karena cukup terkejut mendengar tentang ular sebesar itu.
"Iya, Abah sendiri gak tahu di mana kepalanya. Bisa aja ular itu makan Abah dan teman-teman Abah karena tubuhnya yang besar pasti kepalanya juga besar," jawab abah mendramatisir cerita.
"Terus gimana, Bah?" tanyaku penasaran.
"Ya ... gimana? Karena Abah dan teman-teman Abah lapar, jadi kami memotongnya. Mencincangnya kecil-kecil dan menusuknya menggunakan potongan bambu menjadikannya sate, lalu membakarnya. Dan ... memakannya," jawab abah.
Aku bergidik jijik saat membayangkannya. Bagaimana mungkin ular bisa dimakan?
"Terus gimana lagi, Bah?" Tetap saja aku penasaran dan ingin tahu kelanjutannya.
"Abah dan teman-teman Abah melahap habis daging ular itu. Rasanya paru-paru Abah terbakar, abis makan daging ular itu. Panas semua badan Abah," jawab abah sembari membayangkan kembali kejadian itu terlihat dari ekspresi wajahnya yang terlihat aneh.
"Makanya, sekarang paru-paru Abah rusak karena makan daging ular itu. Dampaknya baru terasa sekarang. Jangan sampelah anak-anak Abah ngalamin kaya gitu, cukup Abah aja," pungkasnya mengakhiri cerita.
Aku mengangguk mengerti, jadi seperti itu ceritanya kenapa abah bisa sakit paru-paru.
"Emang daging ular boleh dimakan, Bah?" tanyaku penasaran. Aku belum pernah mendengar ada orang yang makan daging ular.
"Ya ... gimana jelasinnya, ya? Daging ular itu memang tidak biasa dimakan, tapi ada sebagian orang yang memakannya sebagai obat untuk penyakit tertentu," jelas abah menggantung.
"Berarti boleh dan bisa dimakan?" tanyaku lagi belum puas.
"Bukan berarti boleh dan bisa dimakan. Hanya orang-orang tertentu dan punya penyakit tertentu juga. Itu juga ... kalau udah gak ada lagi obat yang bisa buat nyembuhin penyakitnya," tambah abah masih belum memenuhi rasa penasaranku.
"Jadi gimana, sih, Bah?" tekanku ingin tahu.
"Begini ... dalam Islam ada yang namanya hukum rukhsoh. Yang artinya keringanan. Bagaimana penjelasannya?" Abah menjeda sejenak ucapannya karena batuknya datang.
Lama aku menunggu hingga napas abah kembali normal dan bisa untuk melanjutkan penjelasannya.
"Seperti yang terjadi pada Abah dan teman-teman Abah saat tersesat di hutan. Tidak menemukan makanan apa pun untuk bisa bertahan hidup, maka dalam keadaan kaya gitu bangkai pun boleh dimakan. Tapi ... harus usaha dulu dan memang benar-benar gak nemu apa pun buat dimakan," jelas abah.
"Kenapa bangkai jadi halal dimakan?" tanyaku lagi. Maklum lemot otakku. Apa mungkin karena aku masih kecil dan haus akan pengetahuan. Aku bertanya lagi dan lagi.
"Itu namanya ke-ri-nga-nan, sesuatu yang tidak diperbolehkan atau bahkan diharamkan akan menjadi boleh hukumnya sebab sesuatu. Bukan karena disengaja ingin melakukannya. Ingat! Karena sebab sesuatu dan bukan disengaja ingin melakukannya," tegas abah sembari mengingatkanku tentang nasihatnya.
"Oh, jadi ... itu jadi boleh karena ada sebab yang ngejadiin itu boleh, ya, Bah?" Abah terkekeh. Mungkin pertanyaanku rancu terdengar.
Aku pun ikut memasang senyum lebar karena kekonyolanku, tapi abah kemudian mengangguk. Mungkin kalimat itulah yang aku fahami.
Hukum rukhsoh dalam Islam adalah sebuah keringanan karena sebab tertentu.
"Bah, kapan ke pasar beli baju?" tanyaku menilik abah tak sabar.
Abah terbatuk sebelum menjawab, "Besok, ya. Alhamdulillah Abah dapat rezeki. Insya Allah bisa beli baju buat Nur, Aceng dan teteh," jawab abah.
"Asik!" Aku bersorak senang. Entah seperti apa perasaanku saat itu, tapi aku benar-benar senang.
"Ceng! Besok ke pasar, lho ... beli baju!" teriakku menggema memenuhi seisi rumah.
Tak lama terdengar suara kasak-kusuk dari arah dapur. Aceng datang tergopoh dengan tangan yang dipenuhi abu. Aku meringis jijik.
"Beneran, Bah?" tanyanya dengan wajah sumringah. Anggukan kepala dari abah membuatnya melompat-lompat senang.
Kulihat mak tersenyum di pintu tengah melihat Aceng yang begitu gembira.
"Sepatu Nur dah rusak, ya?" tanya abah tiba-tiba. Aku menoleh padanya dan mengangguk kecil.
"Masih bisa dipake kok, Bah," jawabku tak ingin membuatnya merasa terbebani.
"Gak apa-apa, besok sekalian beli, ya!" ucap abah, aku tersenyum juga.
"Beneran, Bah?" tanyaku memastikan. Abah mengangguk. "Makasih, Abah!" ucapku memeluk tubuh rentanya.
"Tas teteh juga udah rusak resletingnya, Bah," celetuk Aceng tiba-tiba. Aku dengan cepat menoleh padanya dan memelototinya. Aceng hanya memasang senyum penuh sayang. Aku tahu.
"Beneran?" tanya abah. Aku kembali berbalik dan mengangguk kecil saat mataku bertabrakan dengan netra berkabut milik abah.
"Ya udah, besok sekalian beli tas juga," ucap abah. Aku sedikit tidak senang, aku pikir abah sangat terbebani.
"Emang ada duitnya, Bah?" tanyaku tak enak. Aku takut abah terlalu memaksakan itu semua.
"Insya Allah, ada. Bos Abah kasih uang lebih buat anak-anak Abah," jawab abah.
Aku memeluk abah penuh haru.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥