📢📢 WELCOME DI AREA BAWANG GORENG😭😭
Kamiya Maulida harus merelakan kebahagiaan yang selama ini ia bangun hancur, demi mewujudkan wasiat terakhir sang ibu. Tahun ke tahun ia berusaha menghapus semua kenangan indah yang makin lama nampak semakin nyata. Bahkan sosok sempurna di depan matanya tak bisa menggantikan satu nama yang tetap tersimpan apik di hati.
"Gue nggak pernah pengen lu pergi, Mi. Tapi kalo lu nggak percaya sama kebahagiaan yang gue tawarin lu boleh pergi. pergilah, gue tetep di sini. tapi jika suatu saat lu kembali, gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. gue pastiin nggak akan ada 'kita' lagi." Ardi Rahardian.
"Aku dan kamu pernah bersama, bahagia. Berada di fase dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Karena suatu hal aku pergi, membiarkanmu merasakan ditinggal pas sayang-sayangnya. Jika kini aku kembali, bisakah kamu dan aku menjadi kita?" Kamiya Maulida.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan Belas
Pov Mas Wildan
Sejak acara wisuda Miya saat itu, aku memang belum pernah bertemu lagi dengan gadis itu. Hanya mengantarnya sampai rumah kemudian bertolak ke Indonesia untuk memeriksa perkembangan rumah makan milik ibu Miya. rumah makan yang menyajikan masakan legendaris khas Jogja merupakan usaha turun temurun keluarga Miya.
Setelah empat tahun berlalu aku berhasil menambah beberapa cabang. Selain itu aku juga membuat desain interior yang kekinian di setiap cabang supaya lebih menarik, namun untuk rumah makan utama tetap aku pertahankan dengan desain klasik tanpa merubahnya sedikitpun. Cabang-barang baru dengan desain kekinian begitu diminati oleh kalangan muda yang gemar berburu tempat unik. Dengan banyaknya foto dan review yang bertebaran di media sosial memuat usaha keluarga Miya kian maju. Terbukti dengan laba yang terus meningkat tiap tahun.
Bukannya aku serakah sampai ingin menguasai harta Miya, tidak sama sekali. Profesiku sebagai desain interior sudah banyak menghasilkan banyak aset hingga akhirnya bisa membangun perusahan desain interior yang cukup terkenal.
Awalnya aku sangat enggan saat Tante Widia memintaku mengurus usahanya, tapi aku ingat bagaimana jasa keluarga Miya saat keadaan ekonomi keluargaku terpuruk dulu. Sebelum ayah dan ibu pindah ke Singapura tentunya. Bisa di bilang keluarga Miya yang menyokong ekonomi keluargaku saat itu.
Aku bukanlah orang yang pandai di bidang kuliner. Kalo hanya untuk menilai rasa enak atau tidak dari sebuah makanan tentu aku bisa. Tapi soal resep dan penggunaan bahan hingga menjadi makanan yang lezat tentu bukan bidangku sama sekali. Membiarkan rumah makan yang sudah memiliki beberapa cabang di Jogja terbengkalai akibat di tinggal pemilik tentu tak bisa dibiarkan begitu saja. Aku terlalu egois jika membiarkan usaha yang sudah dibangun bertahun-tahun ambruk begitu saja, membiarkan ratusan karyawan yang bekerja kehilangan mata pencahariannya. Ingin membiarkan Miya mengurus usaha itu langsung tak mungkin, gadis itu masih terlalu labil saat itu.
Seminggu setelah Tante Widia meninggal, keluargaku membawa Miya ke Singapura dan gadis itu menurut begitu saja tanpa penolakan sedikit pun. Awal- awal ada Miya di rumahku rasanya sedikit aneh. Aku yang biasa hanya tinggal bersama ayah dan ibu, kini harus terbiasa dengan gadis yang usianya jauh lebih muda dariku. Gadis yang sehari-harinya selalu murung. Bahkan untuk mendekatinya pun begitu sulit.
Aku memang tak memiliki banyak waktu untuk menemani Miya. Pekerjaanku yang menumpuk dan sifatku yang cuek terhadap perempuan membuatku mengabaikan Miya di minggu pertama dan memilih fokus untuk mulai mengatur cara supaya bisa bekerja di dua bidang sekaligus. Pada saat itu juga aku kembali ke Jogja untuk melakukan observasi terkait rumah makan tante Widia dan mulai melakukan manajemen ulang dengan membentuk tim yang menurutku bisa dipercaya untuk mengahandle kegiatan sehari-hari dan melaporkannya padaku secara berkala.
Seminggu di Jogja membereskan urusan rumah makan kemudian aku pergi ke Bandung untuk mengurus kepindahan kuliah Miya. Gadis itu memang belum memutuskan pindah kuliah tapi pikirku di urus sekalian saja mumpung sedang di Indonesia, supaya tak perlu bolak balik, lagi pula kan dia sudah ikut tinggal di Singapura bukankah kuliahnya juga harus segera di urus.
Setelah selesai dengan urusan kuliah Miya, aku juga sempatkan diri untuk mengunjungi apartemen tempat Miya tinggal. Memberitahu petugas jika Miya tak lagi tinggal di sana dan memintannya untuk merawat dan membersihkan unit tempat Miya tinggal secara berkala. Aku juga membawa beberapa buku kuliah yang ada di apartemen, siapa tau gadis itu membutuhkannya nanti.
Begitu tiba di rumah, aku mengetuk pintu kamar Miya dan memberitahu terkait kuliah serta memberikan barang-barang yang aku bawa dari apartemennya. Tak lupa aku juga merekomendasikan kampus yang cocok untuk dirinya. Lagi dan lagi Miya hanya mengiyakan semua kata-kataku. Disaat seperti ini aku merasa jadi orang yang sedang menyiksanya, memaksanya dengan semua pilihanku. Padahal dari awal aku tak pernah mengekangnya, aku juga memberikannya beberapa alternatif tapi Miya terlihat tak ingin banyak berinteraksi denganku.
Seminggu... dua minggu... Miya masih murung. Tak pernah sekalipun aku melihat seyumnya. Hingga akhirnya aku mulai tak tega membiarkan dia kesepian. Aku memutuskan pulang lebih awal setiap hari dan menemaninya. Awalnya dia mengabaikan ku, tapi lama kelamaan akhirya dia mau bersikap terbuka. Dan aku tak pernah menyangka, begitu ia mulai bicara malah membahas soal wasiat ibunya tentang pernikahan.
“Mas aku belum siap kalo harus menikah sekarang.” Ucapnya lirih sambil menunduk.
Aku langsung tersadar mungkin alasan dia selalu murung selama ini adalah tertekan setelah ditinggal ibunya, ditambah dengan wasiat.
“Apa mas pernah bahas soal itu? kalo kamu belum siap mas bisa nunggu. Yang terpenting sekarang kamu harus mulai menata hidup kamu lagi. Mulai kuliah lagi, tersenyum lagi. Ingat ibu kamu hanya ingin kamu bahagia Miya.” Aku mencoba memberikan penjelasan paling masuk akal, karena jika soal menikah pun aku belum terpikir ke arah sana. Menghadapi gadis lugu seperti dirinya saja hampir membuatku stres.
Setelah obrolan hari itu perlahan senyum Miya mulai kembali. Aku menemaninya megunjungi kampus-kampus yang aku rekomendasikan hingga membantunya mendaftar. Setiap hari aku selalu menyepatkan diri menjemputnya usai kuliah. Tak jarang juga dia ikut ke kantorku. Semakin lama aku mengenalnya ternyata dia gadis yang menyenangkan.
Semakin lama aku makin semangat tiap pulang kerja karena ada dia yang selalu menungguku, memintaku membantunya mengerjakan tugas-tugas kuliah atau sekedar bercerita tentang kegiatan yang ia lakukan. Tanpa sadar aku pun melakukan hal yang sama, menceritakan kegiatanku di kantor.
Melihat dia selalu tersenyum setiap hari begitu menyejukan hatiku. Mulai ada rasa yang spesial untuk dia. Membuatku mulai memberikan perhatian yang lebih, lebih dan lebih lagi. Rasanya aku tak rela jika dia kembali menjadi murung.
Usai selesai kuliah S1 nya dia meminta untuk melanjutkan S2 dan aku menyetujuinya tanpa pernah membahas soal pernikahan sama sekali, paling hanya sesekali ikut menimpali saat ayah dan ibu menyinggung soal hal itu. selebihnya, aku tak peduli yang penting dia selalu tersenyum bahagia.
Tapi setelah acara wisuda S2 nya aku melihat Miya kembali menjadi Miya yang dulu. Suka menyendiri dan murung. Bahkan siang ini, saat aku baru saja kembali dari Jogja, aku tak melihat dia. Padahal biasanya dia selalu membukakan pintu dan meminta bakpia coklat kesukaannya. Begitu masuk rumah aku justru langsung ditodong soal pernikahan oleh ibu. Aku tau, ibu pasti sudah ingin menimang cucu dariku. Usia sudah matang, mapan sudah, calon pun sudah ada. Apalagi yang ditunggu katanya.
Aku hanya mengiyakan kata-kata ibu dan bilang akan mendiskusikannya dengan Miya. Aku memang menyayangi Miya dan ingin membuatnya bahagia. Tapi apakah cintaku cukup untuk membahagiakan dia? Jika dia juga mencintaiku bukankah seharusnya dia bahagia setelah lulus S2 dan tak menghindar setiap kali membahas soal pernikahan? Tapi sikapnya justru sembilan puluh persen berubah sejak acara wisuda.
Melawan lelah yang mendera tubuhku, aku beranjak menuju kamar Miya. Mengentuk pintunya kemudian masuk setelah dia memberi izin.
“lagi apa kamu?” tanyaku basa-basi.
“lagi diem aja mas. Kenapa emang?” tanyanya.
“mas cuma mau ngasih tau kalo ibu sama ayah udah nentuin tanggal pernikahan kita. Besok kita siap-siap buat foto prawedding. Di bawah udah ada orang dari WO yang lagi ngasih rekomendasi tempat-tempat bagus buat ngambil gambar. Ke bawah yuk biar kita bisa pilih bareng-bareng.” Ucapku.
Sesuai dugaanku, dia begitu terkejut dan raut wajahnya berubah menjadi lebih sedih meskipun bibirnya tersenyum tertahan. Aku beranjak dari tempat duduk dan menarik tangannya, dia pun pasrah dan mengikutiku keluar dari kamar.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan favoritkan!
semuanya👍👍👍👍👍