[Trailer sudah tersedia di you tube author]
Antara cinta dan keimanan. Mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika benteng tinggi yang berdiri kokoh tidak runtuh. Dan mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika salah satu di antaranya tidak ada yang mengalah.
Pengorbanan, perjuangan dan cinta. Hal itu menyatu padu dalam sebuah untaian kata ‘cinta terlarang’ yang bagaimana pun tidak akan bisa disatukan jika syarat tidak dituntaskan.
Atas dasar ‘pengorbanan dan perjuangan’ mereka bisa menghapus kata ‘terlarang’ dalam kisah cintanya. Bersatu atau tidak, tergantung keputusan mereka.
“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka.”
—QS. Al-Mumtahanah: 10.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aidahlia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter #18
Semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan. Allah bisa mengambilnya kapan pun, dan dimana pun. Jangan merasa memiliki, lalu sombong dengan apa yang dimiliki. Ingatlah selalu, kalau semua ini hanya titipan.
__________
Pagi yang suram. Syahla hanya makan sarapan berdua dengan kak Syakib. Biasanya ia akan duduk di tengah-tengah antara abba dan kak Syakib. Namun tidak dengan pagi ini. Bangku tempat biasa abba duduk kosong tidak berpenghuni. Rasa sayang yang teramat kepada abba membuat Syahla merasa kehilangan ketika abba tidak ada. Semua menu sarapan pagi ini tidak sama sekali menggiurkan, semua terasa hambar. Kalau boleh memilih, Syahla bersedia menggantikan posisi abba. Syahla tidak akan kuat menguatkan abba, karena ia pun rapuh. Jika ia yang ada di posisi abba, ia yakin, kalau abba bisa menguatkannya.
"Dik, makanan jangan cuma dilihatin, dimakan," ucap Kak Syakib dengan nada prihatin. Kak Syakib ingin mewajarkan semua yang Syahla lakukan, namun ini terlalu berlebihan.
"Kak, aku mau libur sekolah boleh enggak? Aku mau tungguin abba aja."
Kak Syakib menggeleng. "Sebentar lagi kamu UKK, kalo kamu libur nanti ketinggalan pelajaran."
"Kan cuma satu hari, aku sanggup kok buat nyusul di hari berikutnya buat cari-cari berita di pelajaran hari sebelumnya."
Lagi-lagi Kak Syakib menggeleng. "Kakak mau ambil kunci motor sama tas kuliah, kamu siap-siap."
Syahla menunduk lesu, hari ini ia tidak bersemangat untuk sekolah. Ia ingin bertemu abba, ia rindu abba. Seakan ingin terus berdekatan dengan abba.
***
Husna langsung membrondongi Syahla dengan berbagai pertanyaan tentang abba. Syahla hanya mengangguk, menggeleng, ia tidak bergairah untuk bercerita.
"Syah?" Panggilan yang tidak asing lagi di telinga Syahla. Husna yang sebelumnya mepet ke arah Syahla kini sedikit merenggangkannya.
"Kak Syakib titip pesan semalam, nanti kamu aku yang antar pulang, setelah itu aku antar ke rumah sakit. Kak Syakib lagi mengurus skripsi, aku kurang paham juga. Intinya dia titip kamu."
Suasana kantin yang ramai membuat Syahla pening. Antara mengiyakan atau tidak tawaran Wardani. Ia masih sanggup untuk pulang dan pergi sendiri, untuk apa harus dititipkan, dia sudah besar.
"Enggak usah deh, War, aku bisa sendiri."
"Tapi aku enggak bisa lihat kamu sendiri. Walaupun kamu sudah besar, kamu tetap perempuan. Tolong dengerin aku kali ini aja."
"Aku ke kamar mandi dulu ya, Syah," ucap Husna tiba-tiba tanpa menoleh ke arah Syahla lagi.
"Gimana, Syah?" tanya Wardani lagi.
Syahla tidak habis pikir, laki-laki seperti Wardani mau seperti ini. Yang dia tahu Wardani ini anti sekali memohon-mohon kepada perempuan.
"Sya? Lagi apa? Kok berduaan?"
Syahla berdecak kecil, kenapa ia harus berada di posisi ini di saat keadaan hatinya sedang tidak baik. Ia tidak mau sampai salah bicara. Secara bersamaan Wardani dan Artha, dua laki-laki yang sedang ia hindari saat ini. Entah mengapa ia ingin menghindar dari dua laki-laki ini, untuk ditanya kenapa, ia masih tidak tahu apa alasannya.
"Kita sebelumnya enggak berdua, ada Husna, tapi dia ke toilet." Wardani yang malah menjawab.
"Gua anter pulang ya nanti," ucap Artha tanpa memperdulikan apa tanggapan Syahla dan ucapan yang baru saja Wardani ucapkan.
"Aku bisa pulang sendiri, udah kalian enggak usah anter aku pulang, aku bisa sendiri," ucap Syahla seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh dari dua laki-laki yang membuat kepalanya ingin meledak sekarang juga.
Artha menatap Wardani dengan tatapan sinis, begitu juga Wardani. Tanpa pernah dekat, tanpa pernah bermusuhan, mereka seakan sedang berperang dalam diam untuk mendapatkan satu perempuan yang sama.
"Biar gua yang anter dia," ucap Artha datar.
"Kamu enggak dapat izin buat antar dia, aku yang malah diperintahin buat jagain dia, enggak usah maksa-maksa dia. Biar dia jadi urusan aku," ucap Wardani dengan nada datar pula.
Wardani dan Artha memiliki postur tubuh yang sama. Sebenarnya mereka sama-sama tampan, tapi jika dibandingkan Artha memang lebih tampan.
"Enggak akan, gua enggak akan mundur cuma sama ucapan rongsok lu." Setelah mengucapkan itu Artha melangkah mengejar langkah Syahla.
Wardani menghembuskan napas pelan. "Kalau Syahla bakal mau Artha antar, yaudah enggak apa-apa, dia selamat sampai tujuan aja aku udah bahagia. Walaupun aku belum berhasil bahagiain di saat dia sedih."
Akhirnya Wardani mengalah. Dia memilih untuk pergi ke musalah daripada harus bertengkar dengan anak kepala sekolah yang keras kepala itu.
***
Ternyata Syahla tidak ke kelas, dia memilih untuk menetralkan dirinya di taman sekolah. Walaupun di taman juga ramai, setidaknya ia tidak harus berada di antara dua laki-laki tadi. Di sini jauh lebih fresh daripada kantin yang seakan miskin udara karena terlalu banyak penghuni.
"Sya, enggak apa-apa ya gua ikutin lu?"
Syahla menghembuskan napas pelan. "Ada apa?"
"Gua tau kok lu lagi sedih, gua mau kok jadi badut asal lu mau senyum lagi. Bukan buat gua, buat abba lu."
Sederhana, namun entah mengapa itu berhasil membuat lengkungan di bibir Syahla berbentuk.
"Tanpa harus jadi badut pun lu udah senyum, mungkin emang muka gua mirip badut, ya?"
Syahla mengangguk, senyumannya sudah luntur namun wajahnya sudah tidak menampakkan kesedihan.
"Lu kan sahabat gua, sahabat baru gua, karena lu gua bisa sehat, gua kan ngigauin lu terus, pas lu datang gua bisa sehatan. Kalau enggak paham sama omongan gua bilang ya, gua enggak bisa sepuitis laki-laki lain, gua cuma ya gini, Artha apa adanya."
Lagi-lagi Syahla tersenyum. "Artha apa adanya?"
"Iya, gua bisa kok jadi sahabat lu. Gua mau denger semua curhatan lu, gua janji enggak bakal bocor. Enggak apa-apa deh gua dibilang lekong, sahabatan sama perempuan, hitung-hitung semua ini ucapan terima kasih gua ke lu."
"Gimana, mau kan jadi sahabat gua?" ucap Artha lagi. Hanya menjadi sahabat Artha ingat.
Syahla mengangguk. "Kamu, Husna, Wardani, kalian sahabat aku."
Senyuman Artha luntur, kenapa harus ada nama Wardani.
"Si O sahabat gua, berarti dia juga harus jadi sahabat lu ya?"
"O siapa?"
"Rio."
Syahla malah tertawa, apa sebenarnya yang lucu.
"Ya kita semua sahabat sesama manusia."
Entah mengapa hati Syahla mencelos, ia ingin sekali mengatakan sahabat seiman. Namun sayang mereka berbeda kepercayaan.
Artha tersenyum lebar, giginya yang rata terpampang jelas. Mendapat persetujuan untuk bisa bersahabatan saja rasanya seperti habis menyatakan cinta lalu mendapat balasan cinta.
"Syahla ...," teriak Husna sambil memanyunkan bibirnya.
Syahla tertawa melihat raut wajah Husna. Sementara Artha tersenyum melihat Syahla tertawa.
"Tau enggak, aku tadi ke kantin. Kamu enggak ada, terus aku ke kelas kamu enggak ada, ke musalah enggak ada, malah ketemu sama si ..." Husna menghentikan ucapannya.
"Taunya kamu di sini, ih sebel, ini lagi lo bulepotan ngapain di sini?"
Artha menaikkan sebelah alisnya. "Apa masalahnya buat lu? Syahla aja enggak mempermasalahkan."
"Eh lo ngajak gua ribut ya?" Mata Husna langsung melotot seraya bertolak pinggang.
"Dih ge'er siapa coba yang ngajak lu ribut." Bukan Artha kalau tidak membuat prempuan jengkel.
Husna melebarkan matanya, bibirnya mengerucut.
"Udah-udah, aku ke kelas dulu ya, ayo, Na." Syahla langsung menarik paksa lengan Husna.
***
Syahla memilih untuk menunggu angkutan umum daripada harus memilih di antara Wardani atau Artha. Lagi pula jika masih ada jalan yang lain untuk apa ia mengiyakan tawaran Wardani dan Artha. Yang ada nanti masuknya ke zina, berdekatan dengan seseorang yang bukan menjadi makhromnya.
Sudah dua puluh menit Syahla menunggu, tapi angkutan umum itu belum juga datang. Angkutan umum jurusan rumanya itu memang lumayan langka, ia mewajarkan itu karena daerah rumahnya itu banyak sekali tikungan, mungkin saja para pengendara angkutan umum malas jika harus memarkirkan mobilnya.
"Syah? Kok kamu belum pulang sih? Aku cari kamu kemana-mana, taunya ada di sini."
Syahla tersenyum kikuk. "Kalo masih ada jalan aman kenapa aku harus terima tawaran kamu."
Wardani menghembuskan napasnya pelan. "Syah, daerah sini itu rawan penjambretan, udah gitu di sini sepi, Syah, tuh lihat, cuma ada kamu. Enggak salah kan kalau kakak kamu khawatir sama kamu terus dia amanahin aku buat jaga kamu, karena dia kan udah kenal aku, bahkan keluarga aku. Jadi tolong, jangan buat kakak kamu sedih."
Kini Syahla yang menghembuskan napasnya pelan. "Yaudah, aku pulang sama kamu."
Wardani tersenyum, ia berjalan lebih dulu menuju motornya yang terparkir di hadapan Syahla. Dengan mengucap basmallah Syahla menaiki jok bagian belakang Wardani.
Di jarak yang tidak lumayan jauh Artha menggebrak stang motornya. Melihat Syahla menaiki motor Wardani hatinya memanas, seharusnya dia yang mengantar Syahla bukan Wardani.
***
Wardani menunggu Syahla di gerbang rumahnya. Dia paham, kalau ada prempuan dan laki-laki yang berada dalam satu ruangan itu akan menyebabkan dosa. Lebih baik ia menghindarinya daripada harus menampung dosa.
Tidak menunggu lama Syahla sudah siap. Dia hanya mengganti pakaiannya menjadi gamis dan mengganti kerudungnya dengan kerudung instan. Tidak lupa tas mini yang berisi mukena dan Al-Qur'an, barang wajib bagi Syahla untuk dibawa kemana pun.
"Udah?"
Syahla mengangguk. "Eh kamu enggak pulang dulu?"
"Nanti kalo kamu udah sampe rumah sakit baru aku pulang, aku mau gas nih jangan kaget."
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit mereka sudah sampai di rumah sakit tempat di mana abba dirawat. Wardani langsung meminta izin untuk pulang, setelah itu baru Syahla memasuki rumah sakit.
Di dalam ruangannya Abba masih betah menutup mata. Wajahnya terlihat pucat pasi. Tubuhnya dihiasi berbagai bentuk alat medis, hati Syahla terenyuh, sedih melihat laki-laki yang amat ia cintai terkapar lemah di ranjang persakitan.
"Assalamu'alaikum, Abba? Ini Syasya. Maaf, ya, Syasya tinggalin Abba. Syasya baru aja pulang sekolah." Syahla terdiam, tanpa disadari airmatanya mengalir begitu saja.
"Oh ya, hapalan Syasya nambah lho Abba. Abba mau denger enggak? Syasya bacain ya Abba."
Syahla membaca surah Al-Fath dengan suara bergetar, antara terharu dengan apa yang ia baca dan rindu dengan Abba yang selalu mengoreksi hapalannya. Airmata Syahla merembes membasahi seluruh wajahnya, tidak hanya airmata keringat pun ikut serta.
Tiba-tiba Abba kejang, Syahla menghentikan hapalanya. Ia jadi kelabakan, ia berlari sambil menangis mencari suster. Setelah bertemu satu suster ia dipersilahkan untuk menunggu di luar. Ia hanya bisa berdoa agar Abba senantiasa dilindungi oleh Allah. Dan Allah segera memberikan kesehatan untuk Abba.
Syahla merasa ada sesuatu yang menyentuh bahu kanannya. Ia langsung menoleh, airmatanya tambah deras saat ia tahu siapa orang yang menyentuh bahu kananya.
"Kakak ... Syasya mau Abba sembuh ...." Syahla langsung memeluk Kak Syakib. Kak Syakib berusaha tegar, ia tidak mau terlihat rapuh di hadapan Syahla.
"Kita harus banyak berdoa," ucap Kak Syakib seraya membalas pelukan Syahla.
Lumayan lama Syahla dan Kak Syakib menunggu hasil pengecekan. Suster tidak juga keluar dari ruangan persakitan Abba. Syahla terus menangis, ia tidak mau Abba sampai kenapa-napa, ia sangat menyayangi Abba.
Tangis Syahla terhenti saat dua suster yang sebelumnya ada di dalam ruangan persakitan Abba kini telah keluar menampakkan wajahnya di hadapan Syahla. Syahla langsung bangkit, ia mendekat ke arah dua suster itu. Suster itu terlihat panik, nampak jelas raut kekecewaan di wajahnya.
"Maaf, ayahmu telah pergi ...."
Langkah Syahla terhenti, bahkan tidak hanya langkahnya saja, jiwanya pun kini seakan terhenti. Kak Syakib berlari sekuat tenanga.
"Syasya ...."
Tubuh Syahla terjatuh tepat di pelukan Kak Syakib. Ia pingsan, ia belum siap dengan semua ini, ia sangat menyayangi abbanya, laki-laki yang amat ia cintai. Ia belum sempat membuktikan kepada abba bagaimana ia ke depan menjadi seorang wanita sukses. Ia juga belum membahagiakan abba sepenuhnya, ini sangat mendadak bagi Syahla. Sulit rasanya menerima kenyataan.
***
Ketika sadar Syahla sudah tidak ada di rumah sakit. Ia sudah ada di rumah, tepatnya di kamarnya. Ada Husna di sampingnya, melihat Syahla sadar Husna langsung memeluk Syahla erat.
"Kamu jangan sedih, ya, jangan merasa sendiri, aku selalu ada kok buat kamu." Husna menangis tersedu. Melihat Husna menangis Syahla kini menangis kembali.
Ia berharap ini hanyalah mimpi, ia ingin segera bangun dari mimpi buruk ini, namun, sekuat tenanga ia berusaha lari dari kenyataan, kenyataan itu akan tetap ada, meski ia telah lari ribuan kilometer, kenyataan tetap akan terkenang, dan tak akan terlupakan.
"Semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan. Allah bisa mengambilnya kapan pun, dan di mana pun. Jangan merasa memiliki, lalu sombong dengan apa yang dimiliki. Ingatlah selalu, kalau semua ini hanya titipan," ucap Kak Syakib lembut seraya mengelus puncuk kepala Syahla.
"Kakak selalu sama kamu, abba enggak butuh tangisan kita, abba butuh doa kita, jadi stop nangis lagi, ya."
Syahla mengangguk seraya menghapus pelan airmatanya, sekuat apapun ia menahan, airamata itu tetap runtuh. Melihat Syahla yang kesusahan membentung airmatanya Kak Syakib langsung memeluknya, memberikan semangat, memberikan kekuatan, padahal dirinya pun rapuh.
"Abba ... tunggu kami di surga, ya," lirih Syahla seraya menghapus airmatanya.
Di saat itu juga airmata Kak Syakib merembes, sudah cukup ia menyembunyikan kerapuhan ini. "Semoga saja, ya," lirihnya.
Husna yang melihat pun ikut menangis, bahkan ia terharu melihat Syahla dan Kakaknya yang berusaha tegar walaupun kenyataan memaksanya untuk rapuh.
mampir and salken
Anty aidhon fii qolby daaiman, thor😍☺
Aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN by Ira. Yuk mampir kakak di jamin seru jangan lupa like dan commen
Menjadi sosok yang berbeda bukanlah hal yang baik namun tidak juga buruk. namun apa jadinya jika seorang gadis tiba-tiba bertemu dengan keluarga yang terpandang dan kaya. Namun dia harus merelakan identitas aslinya menghilang begitu saja? Aira adalah gadis yang kehilangan namanya semua orang memanggilnya dengan Aurelia sejak hari itu semua berubah, namun itu juga awal pertemuannya dengan Dekarsa bersaudara.
Zidan memiliki cacat di wajahnya hingga membuat orang-orang membencinya dan menyebutnya monster, dia di asingkan oleh orang tuanya sendiri dan karena itu ia memiliki dendam terhadap ibunya. Dia selalu kesepian sampai dia bertemu dengan sosok Aurelia yang selalu menyemangati dan mendukungnya, dia juga yang membatunya untuk tampil Tampa sebuah topeng mengerikan itu lagi.
smoga sukses selalu
panjang umur
dan sehat
nyesel aku baru baca novel ini...
yang aku pingin baca tuh novel kaya gini
aku lebih hobi baca2 daripada ngumpul2