NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Action
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.

Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.

Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.

"Aku adalah ... Qin Xiang."

Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3: Meningkatkan Status dan Misi

Beberapa hari telah berlalu sejak insiden yang menggemparkan asrama murid magang itu. Di dalam gubuk tuanya yang remang-remang, Qin Xiang duduk bersila dengan napas yang teratur. Perlahan, ia membuka kelopak matanya, menampakkan sepasang pupil yang kini berkilat dengan kejernihan yang tak alami. Sebuah gumaman puas lolos dari bibirnya saat merasakan aliran energi yang menderu di dalam tubuhnya.

Memang benar, saat ini jaringan meridiannya masih terasa setipis helaian rambut, sebuah kondisi yang bagi kultivator biasa akan menjadi penghambat permanen. Namun, dengan penerapan Teknik Pernapasan Langit dan Bumi—sebuah metode penyerapan energi yang ia sempurnakan saat masih menduduki takhta tertinggi di kehidupan sebelumnya—hambatan itu bukan lagi masalah. Ibarat sebuah danau raksasa yang kering, selang air yang digunakan Qin Xiang kini telah berubah menjadi arus jeram yang sangat kencang. Dalam hitungan hari, danau Dantiannya yang luas telah terisi penuh hingga meluap.

“Luar biasa... Tubuh ini mungkin cacat secara alami, tapi kapasitas dantiannya melampaui logika,” gumamnya sembari mengepalkan tangan. “Bagus, aku sudah menembus Pemurnian Qi tahap keempat.”

Senyum puas terpampang jelas di wajahnya. Ia sejenak bernostalgia, mengenang masa-masa awal ia merintis kekuatan di masa lalu. Mungkin dibandingkan dirinya yang dahulu tahap ini hanyalah debu kecil, tetapi bagi Qin Xiang yang sekarang, ini adalah tiket untuk keluar dari kehinaan.

“Sudah saatnya,” bisiknya pada kesunyian.

Qin Xiang segera meninggalkan gubuk tuanya tanpa menoleh lagi. Tujuannya adalah Aula Misi, sebuah bangunan megah dengan pilar-pilar batu giok yang menjulang tinggi. Kehadirannya di sana segera menarik perhatian. Beberapa murid magang yang mengenalinya berbisik-bisik, namun Qin Xiang melangkah dengan dagu terangkat, memancarkan aura ketenangan yang membuat orang segan untuk mendekat.

Di hadapan meja pendaftaran, ia menyerahkan plat identitas lamanya. Tetua sekte yang mengurus pendaftaran sempat mengerutkan kening saat merasakan fluktuasi energi dari tubuh Qin Xiang. Dari murid sampah ke tahap keempat dalam hitungan hari? Itu hampir mustahil. Namun, setelah memeriksa keaslian energi tersebut, sang tetua hanya bisa memberikan plat perak baru—simbol resmi sebagai ‘Murid Pintu Luar’.

“Terima kasih, Tetua,” ucap Qin Xiang lugas sebelum berbalik menuju Aula Misi.

Aula Misi adalah jantung dari aktivitas murid sekte luar. Papan pengumumannya penuh dengan kertas-kertas misi, mulai dari perburuan monster hingga pengawalan kafilah. Mata Qin Xiang memindai deretan misi tersebut dengan kecepatan kilat, mencari sesuatu yang lebih dari sekadar hadiah uang. Hingga akhirnya, matanya terpaku pada satu kertas yang tampak sedikit kusam di pojok papan: Mengumpulkan Mawar Giok Darah.

Misi ini memiliki hadiah 10 poin sekte per tangkai. Bagi murid lain, ini adalah misi berbahaya karena lokasinya yang ekstrem. Namun bagi Qin Xiang, misi ini adalah emas. Ia tidak membutuhkan kristal itu; ia membutuhkan esensi dari mawar tersebut untuk membakar sisa-sisa kotoran di meridiannya yang selama ini menghambat potensi aslinya.

Saat ia membawa kertas misi itu ke meja persetujuan, tetua penjaga aula menatapnya dengan pandangan skeptis. “Bocah, apa kau yakin ingin menjalankan misi ini? Mawar Giok Darah tumbuh di tempat yang berbahaya, dan itu bukan sekadar urusan mencabut rumput di halaman belakang.”

Belum sempat sang tetua menyelesaikan peringatannya tentang bahaya tempat itu, Qin Xiang memotong dengan nada yang tenang namun penuh keyakinan.

“Maksud Anda tentang Kelelawar Pelahap Aura yang menjaga gua tempat mawar itu, Tetua? Bukan masalah bagiku,” ujar Qin Xiang dengan lugas. Selama lawan yang dihadapinya bukan binatang buas di ranah Inti Formasi, ia tidak merasa perlu untuk gentar. Pengetahuan tempurnya melampaui siapa pun di tempat ini.

Sang tetua tertegun, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Ia menarik stempel kayu dan menyetujui misi tersebut dengan pandangan rumit. “Dasar anak muda zaman sekarang... entah itu keberanian yang murni atau hanya kecerobohan yang buta,” desahnya saat melihat punggung Qin Xiang menghilang di ambang pintu.

...

Qin Xiang turun gunung dengan langkah ringan. Beberapa kilometer dari gerbang sekte, ia tiba di Kota Giok. Kota ini adalah pusat perdagangan yang sangat makmur, dilindungi oleh Sekte Pedang Giok dan dijaga oleh tiga keluarga besar yang memiliki pilar kekuatan di wilayah tersebut.

Langkah kaki Qin Xiang melambat saat memasuki gerbang kota. Ia sejenak membiarkan dirinya tenggelam dalam kebisingan dunia fana yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Suara anak kecil yang merengek meminta jajanan, aroma roti panggang yang menggoda, hingga hiruk-pikuk tawar-menawar di pasar—semuanya terasa segar bagi jiwanya yang pernah menjadi Kaisar Agung yang dingin di atas awan.

Namun, ketenangan itu hancur dalam sekejap.

Plak!

Seseorang yang berlari terburu-buru menabrak bahunya dari belakang dengan cukup keras. Qin Xiang tidak bergeming, namun pihak lain tampak terhuyung. Tanpa melihat siapa yang ia tabrak, orang itu langsung berteriak dengan nada arogan yang sangat akrab di telinga Qin Xiang.

“Heh! Apa kau buta?! Kenapa kau berjalan seperti siput di tengah jalan, hah?!”

Qin Xiang perlahan memutar tubuhnya. Orang yang menabraknya seketika berhenti mengoceh. Wajahnya yang semula merah karena marah, kini berubah menjadi pucat pasi seolah baru saja melihat hantu di siang bolong. Tubuhnya ditarik mundur beberapa langkah, kakinya gemetar hebat karena trauma yang baru saja ia alami beberapa hari lalu.

“Qi-Qi-Qin Xiang?!”

“Oh?” Qin Xiang mengangkat alisnya sedikit, senyum mengejek tersungging di wajahnya yang tenang. “Xiao Jing. Dunia ini rupanya memang benar-benar sempit, ya?”

Xiao Jing menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang. Ia teringat kembali bagaimana rasa sakit dari satu pukulan Qin Xiang yang membuatnya pingsan berhari-hari.

“Aku sedang menikmati suasana kota sebelum kau menabrakku. Sekarang, rasanya suasana hatiku memburuk, dan aku benar-benar ingin memukul sesuatu untuk memperbaikinya,” ujar Qin Xiang sembari melangkah maju satu langkah, sengaja menggertak bocah pengecut di depannya.

“A-A-Aku...” Xiao Jing gagap. Ia melihat ke sekeliling, menyadari bahwa banyak mata penduduk kota mulai tertuju pada mereka. Seketika, sebuah ide licik muncul di otaknya yang picik. Ia membusungkan dadanya dan berteriak dengan suara keras, mencoba mencari simpati publik.

“Kita adalah murid Sekte Pedang Giok yang terhormat! Apa kau tidak tahu malu melakukan keributan dan mengancam sesama rekan sekte di kota yang seharusnya kita lindungi?! Kau mencoreng nama baik sekte kita!” teriak Xiao Jing dengan nada yang dibuat sedemikian rupa agar terdengar seperti pahlawan yang terzalimi.

Qin Xiang tertegun sejenak. Ia tidak bisa berkata-kata, bukan karena takut, melainkan karena ia tidak menyangka ada manusia yang tingkat ketidaktahu-maluannya setinggi ini. Di hadapan penduduk kota, Xiao Jing tampak seperti murid teladan yang sedang menasihati preman jalanan.

Melihat respons orang-orang yang mulai berbisik dan memandang Qin Xiang dengan tatapan mencemooh, Xiao Jing merasa menang. Ia segera mengambil kesempatan untuk pergi sebelum Qin Xiang benar-benar kehilangan kesabaran dan menghajarnya di sana.

“Jika kau memang seorang petarung sejati, temui aku di arena tempat yang seharusnya, bukan menindas orang di jalanan!” pungkas Xiao Jing dengan gaya yang sangat ‘jantan’ sebelum berbalik dan berjalan pergi dengan cepat.

Penduduk kota yang tidak tahu apa-apa mulai memuji keberanian Xiao Jing, sementara beberapa orang melemparkan kata-kata pedas ke arah Qin Xiang.

“Bocah licik itu,” Qin Xiang mengumpat rendah sembari menggelengkan kepala. Ia tidak ingin membuang energi untuk meladeni drama anak kecil seperti itu di depan umum.

Bersambung!

1
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹
budiman_tulungagung
sepuluh mawar 🌹
budiman_tulungagung: oke.. masama brother
total 2 replies
budiman_tulungagung
lima mawar 🌹
Nanik S
Awal yang bagus
Devourer Is Back: Thanks udah mampir🙏🏻
total 1 replies
T28J
saya kasih like dan hadiah 👍
Devourer Is Back: Thanks ya🙏
total 1 replies
Devourer Is Back
Janji deh, sampai tamat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!