NovelToon NovelToon
Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Contest / Perjodohan / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:241.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ariez Aprileo

Kisah cinta sepasang anak manusia yang dijodohkan. Ternyata mereka pasangan kekasih 8 tahun yang lalu, banyak yang mengincar nyawanya, musuh dari masa lalu maupun musuh dalam bisnisnya.
Akankah mereka mampu melewati ujian cinta??
tunggu kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariez Aprileo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa yang sudah melakukan penyerangan*

"Oh Sial!" umpat Aurora.

Gerak refleknya sudah benar, tapi ternyata peluru itu masih saja melukai lengannya. Untung saja peluru itu hanya menyerempet, bagaimana jika sampai menembus daging. Ia tak bisa membayangkan jika itu terjadi. Bukan masalah sakit atau apa, tapi lebih pada perasaan takut. Edward pasti akan murka jika tahu hal ini.

"Nona, anda tak apa?" ujar David yang tampak khawatir. Baju putih Aurora nampak kotor dan ada darah yang merembes keluar di lengan baju itu.

"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja." Bohong jika luka itu tidak perih, tapi situasi didepan matanya membuat gadis itu mengabaikan rasa luka.

Aurora mengabaikan David, gadis itu berjalan tanpa takut mendekati orang yang memimpin kelompok itu.

"Siapa bosmu! Apa yang dia inginkan!"

Pria itu tersenyum miring. Senyum yang menurut Aurora adalah senyum penuh penghinaan.

"Bos kami? Hahaha." Pria itu malah menertawakan Aurora. Sebentar kemudian,

"Dia orang yang mencintaimu sekaligus membencimu." Pria itu tersenyum remeh menatap Aurora.

"Sungguh tak pantas jika Bos menyukaimu. Cih! Wanita murahan! Harusnya Bos memerintahkan kami untuk menggilirmu. Menyerahlah dengan baik-baik sebelum aku berbuat lebih kasar padamu!" Pria itu menatap Aurora mesum.

"Cih! Orang seperti kalian tidak pantas diberi pengampunan. Jangan salahkan aku jika ini akhir hidupmu." Ujar Aurora bengis.

Pria itu terkekeh meremehkan. Baginya, yang ada dihadapannya saat ini hanya segelintir orang, mana bisa mereka berempat mengalahkannya.

David menghampiri Aurora dan menyerahkan senjata miliknya. Tidak mungkin bertarung dengan tangan kosong bukan, sedangkan lawannya semua bersenjata.

Pria itu tampak sedikit terkejut melihat senjata milik Aurora. Mahal dan ngeri. Itu yang ada diotaknya. Sebagai seorang penjahat, ia sudah tahu jika senjata itu hanya dimiliki sebagian orang saja. Bilah katana itu tampak sangat tajam dimatanya.

Pria itu seketika menyadari jika lawannya bukan orang biasa. Pantas saja bos meminta membawa banyak anggota batinnya.

"Takut dengan ini heh." Aurora mencoba mengayunkan katananya.

Pria itu memberi kode anak buahnya untuk segera menyelesaikan teman-teman Aurora, sedangkan dirinya akan melawan Aurora.

Pertarungan sengit pun terjadi diantara mereka. Sama-sama kuat dan tidak ada yang ingin mengalah. Walau Aurora wanita, tapi ketangkasan dan kecepatan pukulannya tak bisa diremehkan begitu saja.

DUAK

Satu tendangan kaki kanan Aurora, sejenak menghentikan perkelahian. Aurora menatap remeh lawannya.

'Sial tendangannya kuat juga.' Batin Pria itu meringis.

"Majulah." Aurora memberi kode dengan tangan kiri saat gadis itu memasang kuda kuda.

"Seorang pengecut, pecundang akan memilih mundur daripada berurusan dengan kami. Jangan pernah menyesali keputusanmu." Lanjut Aurora.

Pria itu malah merasa tertantang dengan ucapan Aurora. Sekali lagi, pria itu menyerang Aurora.

Bunyi gesekan katana terdengar ngilu ditelinga. Aurora terus merangsek maju, dan terlihat tak takut jika tubuhnya tergores benda tajam itu.

SRAK

TRANG

TRANG

JLEB

Ohok..!!

Aurora dengan wajah bengisnya menusukkan katana ke perut pria itu. Baginya tidak ada pengampunan setelah ia memberi peringatan. Bukan salahnya jika sudah seperti itu.

"Nona. Kendalikan dirimu." Ujar David dengan nafas terengah-engah menghampiri. Pria itu juga tampak kelelahan menghadapi mereka. David kemudian mengambil alih katana milik Aurora.

Tak lama, Kiran dan Listy juga ikut bergabung. Keduanya tampak terluka.

"Nona, sebagian mereka kabur." Kiran memberitahu.

"Biarkan saja. Obati saja luka kalian."

Aurora melirik David yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.

"David, panggil anggota kita untuk mengurus ini semua, setelah itu kita pulang." ucap Aurora sebelum gadis itu kembali ke dalam mobil.

"Baik nona."

.

.

Edward duduk dengan gelisah menunggu Aurora pulang usai mendapat kabar penyerangan dari gadis itu. Khawatir, tapi ia juga tak bisa berbuat apapun. Untung saja tak terjadi apapun pada gadisnya.

Edward beranjak dari duduknya ketika mendengar suara deru mesin mobil milik Aurora di halaman depan. Ia melihat tubuh Aurora penuh dengan lebam dan darah dari lengannya, begitu juga dengan ketiga temannya yang tak jauh berbeda dengan Aurora.

"Sayang apa yang terjadi?" Ujar Edward terdengar begitu khawatir.

"Aku tak apa. Ini hanya luka kecil. Maaf membuatmu khawatir."

Edward berdecak tak suka. Pria itu segera mendudukan Aurora disofa dan mengambil kotak P3K di dekatnya.

Pria itu terlihat dengan telaten membersihkan dan mengobati lengan Aurora walau mulutnya tak berhenti mengomel dan memberi nasihat. Aurora hanya bisa meringis. Entah merasakan sakit atau sudah panas telinganya.

"Lain kali jangan sok jadi jagoan. Sekiranya tak bisa dihadapi berempat, harus panggil bantuan. Ini akibat keras kepalamu. Bagaimana jika terjadi apa-apa denganmu. Kamu mau buat aku mati berdiri!"

Ketiga kawan Aurora hanya bisa saling melirik sambil meringis. Tak menyangka, pria yang beranak satu itu begitu posesif seperti induk ayam.

"Jika kamu mati, aku akan membangunkanmu. Lagi pula kita belum menikah, kamu tidak boleh mati dulu." Ujar Aurora tanpa sadar.

"Jika begitu, tolong jangan membuatku khawatir. Bisa kan?"

Edward menatap dalam netra Aurora, seolah bertelepati lewat bahasa mata itu. Setelah 8 tahun tak bersama, jangan sampai terjadi hal buruk yang bisa memisahkan hubungan diantaranya. Sungguh pria itu tak ingin berpikiran buruk, tapi perasaannya juga masih tak tenang, walau Aurora kini sudah berada didepan matanya.

"Maaf. Lain kali aku akan berhati hati. Terimakasih sudah menghawatirkanku."

Edward tak menjawab, pria itu mengalihkan pandangannya pada tiga sosok teman Aurora yang sedari tadi diam mendengar pembicaraannya.

"Diantara kalian bertiga, siapa yang lebih kuat dari gadisku."

Tiga orang itu kompak menggeleng. Memang tidak ada. Kemampuan mereka bertiga tidak ada apa-apanya dibanding Aurora.

"Setidaknya kamu." Tunjuk Edward pada David.

"Kamu pria kepercayaan Aurora, kamu harus berlatih sungguh sungguh. Aku tak ingin kejadian ini terulang kembali. Untuk apa kalian membeli senjata rakitan GL jika tak digunakan. Kalian ini bodoh atau apa!"

"Kak." Aurora mencoba menghentikan ucapan Edward, takut jika akan melukai hati teman temannya.

"Diam. Aku harus memberitahu mereka agar tak ada kejadian seperti ini lagi dan bisa berpikir kritis saat akan melakukan sebuah tindakan. Jangan suka memelihara orang bodoh. Itu akan merugikan kamu sendiri." Sergah Edward.

"Tapi, tidakkah kakak mendengar jika Brian terbangun dan menangis?" Aurora menatap kearah anak tangga, seolah membenarkan alibinya untuk melindungi David dari kata kasar Edward yang jika dibiarkan bisa seperti luapan lumpur Lapindo. Ini anak buahnya, jadi yang berhak mengatur mereka adalah dirinya. Lagi pula ini juga bukan kesalahan mereka.

Edward mendengus dan meninggalkan mereka. Masih menyimpan dongkol, tapi Brian juga penting.

Aurora yang melihat itu hanya bisa mengusap peluh didahinya. Entah mengapa, menghadapi Edward seperti menghadapi inspektur Ladusing.

"Tolong jangan ceritakan detail kejadian ini padanya. Aku tak ingin dia memarahi kalian lagi. Apa kalian mengerti."

Tiga orang itu kompak mengangguk.

"David, apa kamu mengenali mereka? Banyak diantara mereka menato tangannya dengan simbol ular. Mungkinkah jika mereka..."

"Anak buah Suzana." Jawab Listy cepat. Sebentar kemudian gadis itu mendesis sakit ketika alkohol itu mulai menyentuh lukanya.

Aurora menaikkan sebelah alisnya. Tentu tidak mengerti siapa yang dimaksud Suzana itu.

"Sorry, aku hanya becanda. Lagian kenapa sedari tadi tegang melulu. Pak bos tidak disini bukan." Ujar Listy menatap kearah lantai atas.

"Saya tak yakin dengan dugaan ini, tapi melihat tato yang mereka gunakan, mereka dari organisasi Black Dragon. Hanya mereka yang bisa kita curigai saat ini." Ujar David mengemukakan pendapatnya.

"Black Dragon?" Beo Aurora.

Aurora jadi teringat dengan kalimat yang diucapkan pria itu. Hatinya bertanya tanya, sebenarnya siapa yang sudah mencintai dalam diam hingga menimbulkan kejadian seperti ini. Jika benar itu mereka, rasanya kok juga tidak mungkin. Bos mereka adalah orang yang sudah tua dan dirinya juga tak pernah berurusan dengan mereka. Jika benar kok tidak tau diri sekali.

'Memangnya ada cinta tapi benci? Tidak masuk akal.'

.

.

.

######

1
Esti Mmh Ello
Luar biasa
hafsah 2019
lanjutkan
hafsah 2019
ceritanya asyik
hafsah 2019
cerìtanya sangst pelix
Siti Nina
oke
Ayu Astuti
Ditunggu karya selanjutnya ❤️👋
Ayu Astuti
Next 🤗🤗🤗
Ayu Astuti
Next kk 🤓
Ayu Astuti
next🤗🤗🤗
Ayu Astuti
next🤗
Ayu Astuti
next🤭
Ayu Astuti
next
Defi Andriani
Kecewa
Amelin Kwok
next
Ayu Astuti
Suka dengan karyamu walaupun kadang update kadang nggak. hihi... terlepas dari itu, semangat nulis para author. Semoga diberi kelimpahan ide-ide, biar bisa selalu update. Sekian dan terima kasih.❤️❤️❤️❤️❤️
Amelin Kwok
ceritanya seru
kalo bisa up nya jgn kelamaan jd lupa jalan ceritanya
Amelin Kwok
next
Ayu Astuti
Next --
laelyalesha
Selalu semangat kak, setiap q baca pst dag dig dug
laelyalesha
Lnjt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!