Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istirahat Total
"Lho, sekarang Mbak Aya yang gantikan jadi kasir?" tanya salah seorang pelanggan yang baru saja meletakkan beberapa barang belanjaannya di atas meja.
"Iya, Mbak. Pekerjaan saya digantikan anak baru, namanya Chika," jawab Aya sambil menghitung barang-barang pelanggan.
Pelanggan itu mengangguk pelan.
"Oh, yang tadi saya lihat sedang menyusun barang itu?"
"Iya, benar."
Aya menunjuk ke arah seorang perempuan muda yang sedang sibuk merapikan barang di rak bersama Dicky.
"Chika!" panggil Aya.
Perempuan itu langsung menoleh.
"Iya, Mbak?"
"Mi instan yang di dus belakang sekalian susun, ya."
"Siap, Mbak."
Pelanggan tersebut kembali melihat sekeliling toko.
"Terus Mbak Naresta mana? Biasanya dia yang duduk di kasir."
Aya mengembuskan napas pelan.
"Mbak Naresta sekarang istirahat total dulu."
"Lho, kenapa? Kandungannya ada masalah?"
"Nggak ada, kok. Alhamdulillah kandungannya sehat."
"Terus?"
Aya memasukkan beberapa barang ke dalam kantong belanja.
"Dia terlalu capek. Bukan cuma karena kerja, tapi pikirannya juga."
Pelanggan itu langsung memahami maksud Aya.
"Gara-gara omongan orang lagi?"
Aya mengangguk.
"Iya."
Ia kemudian menyebutkan total belanjaan pelanggan tersebut.
"Seratus dua puluh lima ribu, Mbak."
Pelanggan menyerahkan uang.
"Kasihan juga Mbak Naresta."
Aya menerima uang tersebut dan menghitung kembaliannya.
"Makanya sekarang Mas Elvan nggak mengizinkan Mbak Naresta banyak di toko."
"Mas Elvan yang melarang?"
"Iya."
Aya tersenyum kecil.
"Kalau dulu Mbak Naresta yang selalu menjaga Mas Elvan, sekarang kebalik."
Pelanggan itu ikut tersenyum.
"Baguslah. Apalagi sudah hamil empat bulan."
Aya menyerahkan uang kembalian.
"Ini kembaliannya, Mbak."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Pelanggan itu menerima belanjaannya, tetapi belum langsung pergi.
"Berarti sekarang toko dipegang Mbak Aya?"
"Untuk sementara iya. Saya di kasir, Dicky bantu urusan barang sama pelanggan grosir, Chika menggantikan pekerjaan saya menyusun dan mengambil barang. Yang lainnya tetap kerja seperti biasa."
"Wah, Mbak Naresta benar-benar disuruh istirahat total, ya."
Aya langsung terkekeh.
"Harus."
"Kalau nggak dipaksa, paling sebentar lagi sudah muncul di sini sambil bilang, 'Aku cuma duduk, kok.'"
Pelanggan itu tertawa.
"Memang Mbak Naresta begitu."
Aya menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Makanya kali ini kami semua sepakat. Mbak Naresta nggak boleh ikut kerja dulu."
Sementara itu, di dalam kamar.
"Mas, aku bosan kalau terus di sini. Biasanya aku di toko, Mas," keluh Naresta sambil bersandar di kepala ranjang.
Elvan yang sedang duduk di sampingnya langsung menoleh.
"T-tapi S-sayang h-harus i-istirahat."
"Aku sudah istirahat dari tadi."
Naresta melirik jam di dinding.
"Sudah hampir dua jam, lho."
Elvan menggeleng.
"B-belum."
Naresta langsung menatapnya tidak percaya.
"Belum apanya? Dua jam itu lama, Mas."
Elvan justru menarik selimut dan menutupi kaki istrinya.
"I-istirahat l-lagi."
Naresta mengembuskan napas panjang.
"Mas, aku nggak sakit."
"T-tapi c-capek."
"Aku cuma capek pikiran, bukan capek badan."
Elvan terdiam beberapa saat. Ia kemudian menggenggam tangan istrinya.
"K-karena o-orang b-bicara l-lagi?"
Naresta tidak langsung menjawab.
Senyumnya perlahan menghilang.
"Iya."
Elvan menundukkan wajah.
"M-maaf..."
Naresta langsung mengernyit.
"Lho, kenapa Mas malah minta maaf?"
"K-karena m-mereka b-bicara t-tentang a-aku."
Naresta segera menggeleng.
"Mas jangan pernah minta maaf karena itu."
Ia mengangkat wajah Elvan agar menatapnya.
"Mas nggak salah apa-apa."
"T-tapi S-sayang s-sedih."
"Aku sedih bukan karena Mas."
Naresta tersenyum tipis.
"Aku cuma lelah sama orang-orang yang nggak pernah berhenti membicarakan keluarga kita."
Elvan menggenggam tangan istrinya semakin erat.
Naresta menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Aku cuma ingin hidup tenang sama Mas dan anak kita."
Elvan mengangguk pelan.
"K-kita b-bisa."
Naresta memejamkan matanya.
"Semoga saja, Mas."
Elvan mengusap pelan rambut istrinya.
"A-aku a-ada."
Naresta tersenyum kecil.
"Iya. Selama Mas tetap di samping aku, mungkin aku masih bisa bertahan."
"I-iya, s-sudah i-istirahat," ucap Elvan sambil menarik selimut hingga menutupi kaki Naresta.
"Mas," panggil Naresta dengan nada sedikit merengek.
Elvan menggeleng pelan.
"N-nanti s-sore p-periksa."
Naresta yang tadinya ingin kembali membujuk suaminya langsung terdiam.
"Eh, iya. Aku sampai lupa."
Elvan menatap istrinya.
"H-hari i-ini j-jadwal k-kontrol."
"Iya, Mas. Sudah sebulan sejak pemeriksaan pertama."
Naresta mengusap perutnya yang kini mulai terlihat membuncit.
"Nanti kita bisa lihat anak kita lagi."
Seketika wajah Elvan terlihat cerah.
"B-bisa l-lihat?"
Naresta terkekeh kecil.
"Iya. Kalau dokter USG lagi, kita bisa lihat."
Elvan langsung menatap perut istrinya.
"B-bayinya s-sudah b-besar?"
"Sudah lebih besar daripada waktu pertama kita lihat."
Elvan perlahan meletakkan telapak tangannya di atas perut Naresta.
Naresta tersenyum melihatnya.
"Mas penasaran?"
Elvan langsung mengangguk.
"P-penasaran."
Naresta memegang tangan suaminya yang masih berada di atas perutnya.
"Kalau begitu, nanti kita tanyakan juga sama dokter keadaan bayi kita."
"I-iya."
"Tapi sekarang aku boleh keluar sebentar ke toko, kan?"
Elvan langsung menarik tangannya dari perut Naresta.
"T-tidak."
Naresta melongo.
"Mas!"
Elvan menunjuk bantal.
"T-tidur."
"Aku nggak ngantuk."
"I-istirahat."
"Mas, bosan."
Elvan tetap menggeleng.
"N-nanti s-sore k-keluar."
Naresta mengembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan ke bantal.
"Iya, iya. Aku kalah."
Elvan tersenyum kecil.
"P-pintar."
Mata Naresta langsung membulat.
"Mas sekarang berani bilang aku pintar karena nurut?"
Elvan hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Mas Elvan!"
Elvan buru-buru berdiri dari sisi ranjang.
"A-aku a-ambil m-minum."
Naresta hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat suaminya yang kini mulai pandai menghindar.
**
Tepat pukul 15.30.
"Mbak Aya," panggil Naresta yang baru saja keluar dari dalam rumah bersama Elvan.
Aya yang sedang berada di belakang meja kasir langsung menoleh.
"Mbak mau pergi kontrol, ya?"
"Iya, Mbak. Hari ini jadwal kontrol kembali."
Aya menganggukkan kepalanya.
"Iya sudah, sana pergi. Ngapain ke sini coba?"
Naresta hanya tersenyum sambil melihat keadaan toko yang cukup ramai.
Aya langsung menyipitkan matanya curiga.
"Jangan bilang mau cek lagi?"
"Hehe..."
"Nah, kan!"
Aya langsung berkacak pinggang.
"Mbak, sana pergi kontrol. Toko biar saya yang jaga."
"Aku cuma mau lihat sebentar."
"Lihat apanya? Semuanya aman."
Naresta melirik ke arah rak-rak barang.
"Stok minyak masih ada?"
"Masih."
"Gula?"
"Masih."
"Pesanan Bu Ratih tadi sudah disiapkan?"
"Sudah."
"Terus pesanan grosir yang—"
"Mbak Naresta!"
Naresta langsung terdiam.
Aya menunjuk ke arah pintu keluar.
"Kontrol."
Naresta terkekeh kecil.
"Iya, iya."
Dicky yang sedang membawa dus dari arah gudang ikut menyahut.
"Tenang saja, Mbak. Di sini ada kami."
Chika yang sedang menyusun barang ikut mengangguk.
"Benar, Mbak. Semuanya aman."
Naresta akhirnya mengembuskan napas lega.
"Ya sudah. Aku titip toko, ya."
Aya mengangguk.
"Iya. Nggak usah dipikirkan."
Elvan yang sejak tadi berdiri di samping istrinya langsung menarik pelan tangan Naresta.
"A-ayo, S-sayang."
Naresta menoleh kepadanya.
"Iya, Mas."
Namun, sebelum benar-benar pergi, Naresta kembali menoleh ke arah Aya.
"Mbak Aya, kalau ada distributor datang—"
Aya langsung mengambil sebuah kemoceng dari dekat kasir dan mengangkatnya.
"Mbak mau berangkat sendiri atau saya usir pakai ini?"
Naresta langsung tertawa.
"Iya! Aku pergi!"
Elvan ikut menarik tangan istrinya menuju pintu.
Aya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah pemilik toko itu.
"Orang disuruh istirahat malah pikirannya masih di toko terus."