Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeviza diculik?
Setelah dirasa cukup, Kean melepas pagutan bibir mereka. Tetapi tidak langsung menjauh, masih dengan jarak wajah keduanya tidak kurang dari sejengkal, Kean menatap wajah dekat Jeviza, bahkan deru napas Jeviza bisa Kean rasakan, begitu juga dengan detak jantung Jeviza. Sudut bibir Kean tertarik ke atas, mencium bibir Jeviza sekali lagi, pelan, lembut, dan terasa dalam. Sebelum akhirnya melepasnya dan meraba dengan ibu jarinya.
"Pakai kemeja gue, masih ada di tas," ujar Kean sebelum berlalu.
Meninggalkan Jeviza yang mematung di tempatnya, menatap pundak lebar Kean yang mulai menjauh dari pandangannya.
"Dia marah karena baju gue?" Jeviza melirik pakaiannya.
Atasan dengan tali juga rok pendek yang jauh di atas lutut, tetapi Jeviza masih memakai kain lilitnya sedari tadi mereka datang ketika akan makan bersama, tetapi apa itu yang membuat Kean marah dan nekad menciumnya di sana?
"Jevi!" suara Tevi terdengar dari dalam pondok penginapan.
Jeviza menoleh, masih dengan sisa detak jantung yang berdetak hebat tadi, ia kembali masuk ke dalam untuk beristirahat.
Sementara Kean berniat menemui pak Bam, sengaja ia pergi karena takut tidak bisa menahan lagi. Waktu dan tempatnya tidak memungkinkan untuknya melakukan hal lebih pada Jeviza, tetapi di tengah jalan, tidak begitu jauh dari pondok penginapan, Janu berdiri di depannya, seperti sengaja menghadang langkah Kean.
Kean bukan cowok bodoh yang tidak tahu sorot mata Janu sekarang, ia sempat menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara.
"Ayo, cari tempat buat ngobrol."
Di warung makan kecil, mereka duduk berdampingan dengan dua kelapa muda di tengah-tengah. Janu masih diam dengan wajah yang tidak setenang biasanya, sementara Kean tetap tenang seperti pembawaannya. Terlampau tenang untuk orang yang baru saja kepergok berciuman dengan gebetan orang di sebelahnya.
"Dia mantan gue, yang kalian kira Agnes."
Satu kalimat tidak terlalu panjang itu mampu membuat Janu tercekat. Janu menelan ludahnya kasar, rahangnya sedikit mengeras, tetapi belum bereaksi apa-apa.
"Dan sekarang jadi istri gue," ujar Kean mantan, tanpa basa-basi, dan sekali lagi terlalu tenang. Seakan apa yang baru saja dikatakan olehnya hal biasa, yang nyatanya cukup menggung keadaan Janu saat ini.
Terdengar kekehan dari Januar, cowok berwajah hitam manis itu menatap Kean dengan gelengan di kepalanya.
"Dia mantan lo? oke gue percaya," ujar Janu terjeda. "Tapi, istri-lo? Sorry Ke, nggak gini caranya."
Janu mengambil salah satu kelapa muda miliknya, meneguknya dengam cara yang tidak sederhana atau biasa, ada kemarahan dari cara Janu mengambil dan meneguknya. Kean mengamatinya dengan diam, menunggu sampai suasana hati Janu lebih baik lagi.
Keduanya terdiam cukup lama. Sampai akhirnya permintaan maaf dari Kean terdengar samar, namun juga tegas.
"Sorry, harusnya gue bilang dari awal, gue salah Nu." Kean melirik Janu yang masih menatap lurus ke depan. "Gue harap lo bisa jaga ini."
"Dan lo? Mau gue jauhi dia?" tanya Janu masih setengah tidak percaya, juga rasa kesal dan kecewa yang menumpuk menjadi satu saat ini.
"Iya, karena lo sekarang udah tahu semuanya." Kean bangkit, menepuk pundak Janu sekali, tetapi kentara akan makna dari tepukan itu. "Gue jelasin kalau udah balik nanti."
Janu tersenyum miris. Menatap kepergian Kean yang semakin jauh, kelapa muda di tangannya ia banting, tidak semudah itu Janu menerimanya, ia menyukai Jeviza sudah cukup lama, meski belum ada tindakan lebih serius darinya, mengingat Jeviza sendiri tidak semudah itu untuk memberi kesempatan lebih dekat dengannya. Dan ternyata Janu sudah mendapat jawabannya.
"Brengsek," umpatnya.
Jeviza tertidur di ranjang pondok, sementara Tevi yang berada di sebelanya tidak bisa tidur seperti Jeviza. Gadis berkaca mata itu melirik Jeviza, lalu teringat dengan kejadian tadi, dimana ia tanpa sengaja melihat adegan panas Jeviza dan ketua BEM kampus di depan pondok. Tanoa disadari tangan Tevi meremat ujung kaosnya, bukan karena Tevi benci atau marah, ia tidak ada hak untuk itu, tetapi karena ini pertama kalinya untuk Tevi melihat adegan panas itu secara langsung, tentunya selain di film yang pernah ia tonton, itu pun terkadang Tevi sengaja mempercepat saat adegan dewasa itu akan dimulai, baru ketika menonton bersama kedua teman kosnya, Naura dan Sisil ia berani melihat.
Tidak lama suara ketukan dari pintu penginapan terdengar. Meski sempat ragu, pada akhirnya Tevi melangkah maju dan membuka pintu.
"Kak Kean," cicitnya sedikit takut dan malu.
"Dimana? Jevi?" tanya Kean langsung membuat Tevi menyingkirkan tubuhnya.
"Dia tidur, di dalam, kak."
Kean mengangguk. "Setelah ini, kelompok lo main lagi," ujar Kean diangguki Tevi.
"Ba-baik kak, kalau gitu, gue titip Jevi ya kak? Gue ke sana dulu."
Kean mengangguk, tanpa bersuara, sementara Tevi mengambil ponsel miliknya ke dalam terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi dari penginapan itu.
"Tunggu!"
Tevi menghentikan langkahnya, menoleh pada Kean dengan gugup. "Iya?"
"Jangan bilang, Jevi di sini," ujar Kean kembali diangguki Tevi, setelahnya gadis itu benar-benar pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan Tevi terus mencoba menormalkan dirinya, dihadapkan dengan Kean secara langsung setelah melihat apa yang cowok itu lakukan pada Jeviza ternyata cukup berefek untuk Tevi.
Sementara Kean masuk ke dalam penginapan, pemandangan yang langsung menjadi pusat perhatiannya ialah Jeviza yang sedang tertidur, sudut bibirnya tertarik ke atas melihat kemeja miliknya sudah terpasang menutupi tubuh gadis itu. Sempat terdiam beberapa saat dengan jarak yang masih jauh, pada akhirnya Kean mendekat, duduk di sisi ranjang sembari membelai lembut wajah Jeviza. Sebelum akhirnya sorot matanya terkunci pada bibir merah gadis itu yang sedikit terbuka. Bibir yang tadi hampir membuat Kean tidak bisa mengontrol diri jika tidak langsung menyudahi dan pergi.
"Naughty lips," gumamnya menyentuh lembut dengan ibu jarinya.
Ponsel milik Jeviza bergetar, panggilan dari salah satu temannya yang tadi Kean lihat masih berada di lapangan. Kening Kean mengernyit saat panggilan itu terhenti, dan masuk beberapa pesan yang menanyakan keberadaan Jeviza.
Sempat terdiam beberapa saat, Kean menyunggingkan senyumnya, ia mengambil ponsel milik Jeviza, membuka pesan dari salah satu temannya itu, lalu dengan sengaja mengarahkan kamera ponsel pada tubuh Jeviza yang masih terlelap dengan tidurnya di atas ranjang empuk. Setelahnya mengirim foto tersebut tanpa ketikan pesan apa-apa.
Kean tidak berniat untuk membuka ponsel Jeviza lebih jauh lagi selain mengirim foto pada salah satu teman Jeviza itu, Naura. Ia menaruh ponsel tersebut ke tempat semula, tanpa berniat membangunkan Jeviza, lalu mengambil laptop miliknya yang masih berada di sofa seperti tadi.
Hal sederhana yang Kean lakukan itu berhasil menghebohkan teman-teman Jeviza yang masih berada di arena voly.
Setelah membuka pesan dari nomor Jeviza yang mengirimkan foto gadis itu tertidur di atas ranjang. Naura memekik heboh.
"What? Jeviza diculik?"
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭