Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Pertemuan yang penuh keributan.
"Bang, ayolah... jangan diperpanjang masalahnya. Banyak orang yang melihat kita."
"Aku sedang memarahi pelaku ini biar kapok, Dengar ya bocil kematian, kamu harus tanggung jawab! Kau tahu kan kepalaku ini aset yang sangat berharga, dan sekarang jadi benjol karena kelakuanmu yang ceroboh!"
"Saya minta maaf sekali lagi, pak... saya benar-benar menyesal." Nayla mulai menangis karena takut sekaligus malu dimarahi habis-habisan di depan umum. Nathan yang merasa iba segera maju mendekati temannya.
"Saya juga minta maaf untuk teman saya. Kami akan mengganti rugi apapun yang terjadi. Tolong jangan dimarahi lagi." Nathan ikut membungkuk, namun malah disambut tatapan tajam dan sinis dari Ethan.
"Ganti rugi katamu? Sekarang juga aku akan melaporkan dia ini ke polisi supaya dia tahu rasa! Dasar bocah piyik tidak tahu aturan!"
"Apa?!" Wajah Nayla yang tadinya pucat ketakutan kini berubah merah padam karena kesal. "Aduh bang Ethan, tidak usah sampai melapor polisi. Dia sudah meminta maaf berkali-kali." Marcus berbisik panik, namun justru disikut keras oleh Ethan yang belum puas meluapkan emosinya.
"Hei dengar pak tua yang sombong! Saya sudah minta maaf berkali-kali! Kepala Bapak saja masih utuh, cih berlebihan sekali sampai bilang mau melapor polisi! Apa Bapak kira saya takut sama polisi?!"
"Apa?! Kamu~... berani sekali bicara begitu!"
"Apa?! Apa Bapak mau memaki saya 'bocah gila' lagi? Dasar Bapak ini saja yang sombong dan aneh sudah tua masih suka ngamuk, sakit darah tinggi kapok dah!"
"Kurang ajar kamu doain saya sakit! Apa mulutmu tidak pernah diajarkan sopan santun, bocah?!"
"Bapak yang rese! Cuma kena sepatu saja hebohnya kayak kepalanya baru saja dilempar bom!" Nayla pun tak mau kalah, dia bertolak pinggang, melotot tajam, dan membalik posisi topi di kepalanya—kini penampilannya persis seperti preman pasar, bukan wanita anggun, kesabarannya sudah habis sejak tadi di marahin terus di depan umum. Wajahnya memerah menahan malu.
"Awas saja jangan sampe kita ketemu lagi bocil kematian!"
"Saya juga tak sudi bertemu lagi dengan bapak tua ubanan, sombong dan menyebalkan!"
"Heh kau bilang apa?! Aku bukan bapak tua ubanan, kurang ajar kamu!" Ethan sungguh kesal, baru kali ini dia di panggil pak tua apalagi di hina ubanan, seganteng ini penampilan nya padahal. Ethan berbalik lagi dengan amarah yang memuncak. Di luar sana begitu banyak wanita yang mengaguminya, memanggilnya dengan sebutan terhormat, tapi gadis aneh ini seenaknya memanggilnya 'bapak tua' sejak tadi.
"Bang, ayolah sudah... jangan bertengkar lagi. Aduh banyak orang yang melihat kita." Marcus menarik lengan sepupunya untuk pergi, namun ditepis oleh Ethan yang masih kesal, sementara kepalanya makin berdenyut hebat.
Nathan menutup mulutnya menahan tawa melihat keberanian Nayla membalas makian pria itu, sementara Marcus hanya bisa melongo melihat mereka yang masih saling tatap tajam.
"Permisi, pesanan sepatu Bapak sudah dibungkus. Kita ke kasir sekarang." Lerai Hariyanto. "Nayla...kamu minta maaf saja pada bang Ethan. Kumohon, jangan berdebat lagi."
Manajer Hariyanto dan Marcus berusaha membujuk keduanya yang masih bertolak pinggang dan saling menatap penuh amarah.
"Jadi nama Bapak tua ini Ethan ya? Hei pak tua Ethan yang terhormat dan sok-sokan... kepala Bapak kan masih utuh? Bapak kan masih hidup? Jadi jangan sembarangan memaki orang seenak jidat!!!"
Ethan memasukkan kedua tangannya ke samping celana, menatap merendahkan gadis di hadapannya. Berdebat dengan orang yang tak masuk akal begini tak akan ada habisnya.
"Cih, bocah gila yang tak tahu aturan. Percuma saja berdebat denganmu, nanti aku yang ikut gila. Semoga saja aku tak pernah bertemu bocah sepertimu seumur hidupku. Ayo Marcus, kita pergi!" Ethan berbalik badan dan menyeret lengan Marcus, disusu Hariyanto yang membawa bungkusan sepatu dengan wajah merah.
"Sekalipun semua wanita di dunia ini habis dan hanya tersisa dia, aku takkan pernah Sudi menikahi bocah gila jika seperti dia! Semoga saja dia tak laku sampai tua!" Dengan tatapan merendahkan, Ethan meneriaki gadis yang dia cap gila itu. Benar-benar pemandangan yang menjijikkan—di zaman modern begini masih ada wanita yang berpakaian berantakan, topi terbalik, kaos kebesaran, celana jeans lusuh, persis seperti pengamen jalanan. "Apa?! Dasar brengsek! Eh dia si tua mendoakan aku tak laku!" Geram Nayla makin kesal.
"Aduh Nayla, sudah cukup. Mereka sudah pergi. Apa kamu sadar tadi yang ada bersama mereka itu bang Marcus? Bagaimana kalau nanti dia mengadu pada bang Denis soal ini?"
"Hei pak tua sombong gila, dia pikir aku sudi apa nikahi dia, mana sudah tua karatan!" Teriak Nayla tak mau kalah dengan membahana. Nathan bergidik ngeri, tapi tak bisa menahan senyum mengingat ocehan sahabatnya.
"Huh, peduli apa aku! Kalau dia berani muncul lagi, akan kubelah kepalanya pakai sepatu ini!"
"Hahaha, kamu yakin? Dulu saja Axel cuma kamu siram air kepalanya haha, tapi pria ini malah kamu lemparin sepatu! Hahaha aduh perutku sakit."
"Diam kamu jerapah pendek mulut lemes! Berisik sekali!" Nayla berjalan mendahului dengan wajah kesal, sementara Nathan masih tertawa kecil. Dia tak heran dengan keberanian sahabatnya itu. Lima tahun lalu, saat Nayla baru putus kuliah dan diselingkuhi oleh kekasihnya Axel Alexander, gadis itu dengan berani menyiram wajah pria itu di depan umum.
Mendengar kejadian itu, Denis Atmaja yang saat itu sedang merencanakan perjodohan adiknya dengan keluarga Alexander, langsung membatalkan semuanya.
***