Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang Berkunjung
Halloo semua. Semoga kalian suka ya sama novel aku. Ini novrl pertama ku yang alurnya sengaja aku buat lambat di awal biar jelas. Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya biar aku makin semangat nulisnya.
"Kakaak. Kok bisa tahu bunda di rawat di sini.?" tanya Rania seraya berjalan mendekati dua orang yang sedang tersenyum ke arahnya itu.
"Tadi malam aku gak sengaja ngeliat kamu. Kakak pikir salah liat, pas kakak mau datengin kamu, eh kamu nya masuk ke ruangan dokter. Kakak tunggu di depan pintu ruangan dokter tapi kamu gak keluar keluar. Karena kakak pikir kamu bakal lama di dalam, jadi kakak putuskan nanti aja balik lagi jumpai kamu" ucap cowok itu sambil tetap tersenyum ke arah Rania dan mengusap kepala Rania dengan lembut.
"Trus kakak kok bisa tau ruangan bunda di sini.?" Rania masih penasaran gimana tu cowok bisa tahu ruangan bundanya sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Tadi kakak tanya ke bagian informasi. Awal nya kakak tanya pasien atas nama kamu ternyata gak ada. Trus kakak tanya atas nama tante Maya, ternyata ada dan akhirnya mereka kasih tau ruangannya deh" jelas pria itu sambil terus tersenyum dengan manisnya.
"Oh gitu. Kirain karena bunda yang menghubungi kakak."
"Gimana coba bunda mau menghubungi kakak kamu ini, hp bunda aja bunda gak tau ada dimana" bela bunda karna Rania berkata seperti itu.
"Yaa kan kirain bunda. Hehehe." Rania menggaruk kepalanya seraya tertawa kecil ke arah bunda dan pria itu.
"Yaudah deh, kakak pamit dulu. Soalnya masih banyak kerjaan yang harus kakak selesaikan. Saya pamit ya tante. Tante harus semangat sembuh untuk Rania. Karena kan cuma tante yang dia punya sekarang." sambungnya sambil memberi semangat sembuh untuk bu Maya.
"Iyaa nak. Terima kasih ya sudah jengukin tante. Maaf jadi ngerepotin kamu." jawab bu Maya sambil tersenyum simpul.
"Gak ada kata ngerepotin untuk orang terkasih tante." pria itu tersenyum dengan lembut dan terlihat sangat tulus.
"Dan kamu, belajar yang rajin. Sebentar lagi kamu ujian akhir kan? Jangan malas malas belajar ya" sambil jalan pria itu memberikan nasehat pada Rania agar rajin belajar.
"Iya kakak. Hati hati ya kak." Rania mengantarkan tamu nya sampai ke depan pintu dan melambaikan tangan.
Setelahnya, Rania mendekati bunda. Dia bermaksud menanyakan pada bu Maya kenapa merahasiakan penyakit yang dideritanya. Tapi melihat kondisi sang bunda, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Esok harinya, Bu Maya sudah diizinkan pulang oleh dokter. Sebelum pulang, dokter memeriksa terlebih dulu keadaan bu Maya. Apa sudah boleh pulang atau belum. Saat di rasa semua gak ada masalah, dokter pun memberikan izin dan juga resep obat yang harus ditebus Rania untuk bu Maya. Dan juga dokter kembali mengingatkan Rania agar berusaha membujuk bundanya untuk melakukan kemo dan juga meminum obatnya secara teratur.
Hp Rania berbunyi 🎵Lagu Sia "Snowman"🎶 tanda panggilan masuk.
Dilihatnya si pemanggil. Ternyata yang menelepon adalah Hardin.
H : Halo Rania.
R : Ya kak. Ada apa ya?"
Duh gimana ngomongnya ya. Bismillah ajalah.
R : Haloo..kaak
H : Eh iya, kita bisa jumpa gak siang ini.? Ada yang mau saya bicarakan sama kamu.
R : Bisa aja sih kak. Tapi aku gabisa jumpa di luar karena bunda pulang dari rumah sakit hari ini.
H : Oh ya? kalian pulang naik apa? Atau biar saya saja yang antar kalian pulang.
R : Gak usah kak terima kasih. Lagian kakak kan juga lagi kerja. Emmh gimana kalo kakak nanti siang kakak datang aja ke rumah aku. Masih ingat kan jalannya?
H : Oke. Nanti saya kabari kamu kalo saya gerak ke sana ya.
R : Oke kak.
Sambungan telepon pun mati. Diletaknya hp di atas nakas. Kemudian Rania ke dapur untuk segera masak makan siang buat dirinya dan bunda. Sedangkan bunda sedang istirahat di kamarnya.
Dan rencananya nanti Rania akan menanyakan pada bunda tentang penyakitnya.
Rania memasak sop, ayam goreng dan tempe goreng. Sedangkan sambalnya dibuat Rania tidak terlalu pedas. Di sela kegiatan masaknya, Rania teringat pelajaran di sekolah. Karena sudah tiga hari ini dia absen di sekolah.
Hmmm sudah tiga hari aku gak masuk sekolah. Pasti banyak udah pelajaran yang ku lewati. Ck...kayaknya nanti pinjam buku anak anak aja deh, biar aku bisa nyalin pelajaran yang ketinggalan.
Sop sudah matang, tempe goreng pun sudah aman. Tinggal ayam goreng dan sambalnya aja. Selagi menunggu ayam matang, Rania masuk ke kamar dan mengambil hp nya. Dia berniat menghubungi sahabatnya untuk meminjam buku pelajaran.
R : Guys, aku kan udah 3 hari ni gak masuk, pinjem buku kalian yaa. Bia aku bisa nyalin pelajaran yang ketinggalan. 😘
M : Wani piro?
L : Bakso kang ujang ya.
R : Gampang itu maah. Tapi catatan kalian lengkap kan?.
L : Kalo aku sih udah pasti lengkap Ran. Gak tau deh kunyuk satu itu.
M : hehehehe pinjem punya wak Leha aja ya Ran. Kan lu tau sendiri gue paling males nyatat. Hehehe 😁.
R : Oke deh. Leha, besok bawa semua ya bukunya. Besok aku udah masuk sekolah. See u guys 😚.
L : oke beb 😙.
Selang beberapa waktu akhirnya semua makanan siap. Rania mulai menata makanan di meja makan. Diliriknya jam di dinding, ternyata sudah jam 12.20. Dia mengambil hp lagi untuk menanyakan kepastian Hardin jadi datang atau enggak.
tuuut tuuuut
Hanya 2 kali dering telpon langsung di angkat Hardin.
H : Ya halo Ran.
R : Kakak jadi datang gak?
H : Jadi, ini mau gerak ke sana. Kenapa Ran?Kamu ada mau nitip sesuatu?
R : Oke deh kak. Gak ada kok kak. aku cuma mau mastiin aja kakak jadi datang gak. Yaudah deh..hati hati di jalan ya kak.
tuut
telepon pun dimatikan begitu saja oleh Rania.
Astaga belum juga gue jawab udah main mati matikan aja tu telpon. Kayaknya tu anak emang kebiasaan deh main matikan telepon aja. Hah...untung gadis kesayangan. Kalo gak udah gue jitak juga tu anak. Geram Hardin melihat hpnya karena telponnya dimatikan begitu saja oleh Rania.
Di jalan Hardin mulai melamun. Karena hari ini dia sedang malas nyetir, jadi dia menyuruh supir kantor untuk nyetirin mobilnya. Dia melihat ke arah luar jendela. Entah apa yang di liatin. Tapi yang pasti gak ada yang menarik di luar sana. Rasanya dia sangat tidak sabar untuk segera sampai di rumah Rania dan mengungkapkan isi hatinya tentang apa yang sudah mengganjal di hatinya. Hardin menarik nafas pelan. Dia berharap mendapatkan jawaban sesuai yang diinginkan.
Terima kasih sudah mampir di novel aku. Jangan lupa favorite kan ya. Dan juga jangan lupa like dan komen yang positif.