Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Darurat
Pintu utama terbanting terbuka dengan kasar. Bara masuk dengan napas memburu, langsung melempar tas medis kulit ke atas meja kaca. Di belakangnya, Dokter Haryo nyusul, buru-buru melepas jas hujan basah kuyup ke lantai.
Bau alkohol medis langsung kecium, campur anyir darah yang netes ke karpet. Ruang tengah mewah itu resmi jadi ruang operasi darurat.
"Bara, pendarahannya parah banget!" jerit Rara panik, refleks mundur beberapa langkah. "Kenapa nggak langsung dibawa ke IGD aja, sih?!"
"Minggir, Nona," sela Dokter Haryo tegas, sama sekali tak memedulikan kepanikan Rara. Tangannya cekatan buka tas medis, ngeluarin gunting sama kassa. "Bara, pegang lampunya. Sorot pas ke lukanya, jangan sampai bayangan lo nutupin pandangan gue."
Rara merosot ke lantai, mundur sampai punggungnya mentok dinding. Tangannya ngeremas ujung piyama kuat-kuat. Matanya terbelalak ngeri pas Dokter Haryo tanpa ragu gunting kemeja Arka yang udah lengket darah. Rara langsung bekep mulut, mual parah.
Di sisi lain sofa, Bara berlutut megang lampu darurat. Muka kaku itu sekarang pucat pasi, rahangnya keras, dan kuku jarinya memutih nahan takut. Bara jelas grogi setengah mati, tapi dia nggak punya pilihan selain nurut.
"Gue cuma bisa kasih bius lokal. Kalau bius total sekarang, jantungnya bisa berhenti beneran," gumam Dokter Haryo, entah ngomong sama siapa.
Ia mulai nyuntik obat ke sekitar perut Arka, terus ngambil pinset panjang. Begitu logam dingin itu nembus kulit nyari proyektil, tubuh Arka langsung menegang hebat.
Nggak ada teriakan keluar dari mulutnya, tapi kepalanya mendongak ke atas dengan mata terpejam rapat. Urat lehernya menonjol keluar, dan tangan kanannya ngeremas pinggiran sofa kulit sampai robek brutal.
Tangan kiri Arka nggelepar turun dari tepi sofa, gemetar nyari pelampiasan rasa sakit.
Melihat itu, entah dorongan dari mana, Rara merangkak maju. Tanpa mikir panjang, dia nangkep tangan Arka yang sedingin es pakai dua tangannya.
Jemari besar itu refleks nyengkeram pergelangan Rara kenceng banget, hampir remukin tulangnya. Rara meringis tertahan, tapi dia nggak ngelepasinnya. Dia malah majuin badan, deketin wajahnya ke telinga sang bos mafia.
"Arka, dengerin gue!" bisik Rara gemetar, hidungnya perih mau nangis. "Lo mafia, kan? Masa mati konyol gara-gara peluru nyasar? Bangun, berengsek!"
Dokter Haryo melirik dari balik masker, tangannya masih sibuk nahan pendarahan. "Bagus, Ra. Terus ajak ngobrol. Bikin dia fokus ke suara lo, bukan ke pisau gue."
Rara makin terisak. "Denger nggak kata dokter?! Kalau lo mati, siapa yang balikin gue ke kosan? Skripsi gue gimana? Oyen besok pagi makan apa kalau majikannya diculik terus nggak balik-balik, hah?!" Rara meracau setengah marah setengah panik.
Satu jam berlalu kayak disiksa di neraka. Operasi darurat itu akhirnya kelar. Napas Arka yang tadinya tersengal, perlahan mulai teratur walau mukanya sepucat kapas.
Dokter Haryo ngehela napas panjang, nyabut sarung tangan berdarah. "Bara, bersihin kekacauan ini. Bos lo harus bed rest total. Kalau sampai besok pagi demamnya naik, langsung telepon gue."
Begitu dokter pergi dan Bara ke dapur buat buang air kotor, Rara ketinggalan sendirian. Dia ngambil baskom air hangat, terus nyeka keringat dingin di dahi Arka.
Gerakannya berhenti pas jarinya nyentuh bekas luka di pelipis Arka yang ketutup poni. Tanpa jas mahal, pistol, dan tatapan membunuh, pria ini keliatan rapuh banget. Rara teringat rumah ini yang kosong melompong. Luka apa yang dipendem pria ini sampai berubah jadi monster?
Tiba-tiba, dahi Arka berkerut dalam. Napasnya gelisah. Cengkeraman tangannya di jemari Rara ngerat, narik tangan Rara buat nempel ke pipinya sendiri, nyari kehangatan kayak anak kecil yang ketakutan.
Bibir pucatnya bergetar pelan. "Mama..."
Napas Rara tertahan. Bos mafia paling ditakuti itu baru saja manggil mamanya dengan suara lirih. Diiringi deru hujan yang mulai reda, Rara nggak lagi mikir buat kabur. Tangan kirinya gerak pelan, ngusap lembut rambut Arka. "Iya, gue di sini. Nggak apa-apa," bisiknya lembut, lalu ikut tertidur nyandar di tepi sofa sampai pagi tiba.