Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Dari Murni
Dhanil dan Yani mulai resah, sudah lebih satu jam menunggu, apa yang dari tadi diharapkan belum juga kesampaian, mobil putih itu masih juga tak bergerak dari halaman rumah kediaman keluarga paman Aidil. Dhanil sudah entah berapa kali saling pandang, tapi Yani memang tak mau mengambil resiko dengan mengambil keputusan berani untuk datang saja.
“Gimana Yan ?”.
Yani geleng kepala. “Kita tunggu aja Bang”.
“Kalo sampe malam ?”.
Yani resah juga. “Kalau satu jam lagi masih disana, kita pulang aja Bang, gimana ?”.
Dhanil anggukkan kepala. “Begitu juga boleh”.
Hanya Yani kini yang sesekali mengalihkan pandangan kehalaman rumah kediaman Paman Aidil, Dhanil sudah lebih banyak mengarahkan pandangannya ke koran yang tadi sudah dibacanya, kini kembali ada ditangannya. Dhanil membaca koran sampai ke akar akarnya, semua berita sudah dinikmati Dhanil, berita yang dianggap tak perlu pun kini tampak perlu, Dhanil melahapnya dengan sempurna, hingga bagian iklan iklannya.
Untungnya tidak sampai satu jam, tapi memang sudah hampir. Hanya kurang dari 15 menit untuk mencapai satu jam barulah tampak ayah, ibu, abang, kakak ipar dan keponakan Yani keluar rumah, masih terlihat ngobrol di halaman hingga mencapai 10 menit baru masuk mobil, sesaat kemudian mobil yang dikemudikan abang Yani itu langsung meluncur kejalan raya dan dengan cepat hilang ditikungan. Tanpa komando Dhanil dan Yani sama berdiri, bayar minuman dan beranjak langsung menyeberangi jalan menuju rumah yang sudah cukup sunyi itu.
Dhanil dan Yani disambut senyum anak anak paman Aidil dan Kakak Yani Murni yang ternyata juga masih berada disana. Dhanil menyalami semua sepupu Yani termasuk Murni, karena memang tadi pagi tak sempat atau memang tak punya keberanian untuk masuk kedalam rumah. Dhanil dan Yani kemudian duduk berdekatan disamping Murni.
“Tadi kemana Yan ?”.
Yani menatap kakaknya. “Di kedai diseberang Kak”.
“Kok disana ?”.
Yani geleng kepala saja. “Mama tadi disini, Yani takut”.
Murni tersenyum lumayan getir, ada rasa kasihan yang muncul dihatinya melihat adik bungsunya itu. Betul juga memang, Murni juga tadi ada rasa khawatir jika ibu mereka ribut lagi saat melihat Dhanil dan Yani. Murni juga setuju dengan cara Yani. Untuk sementara ini Dhanil dan Yani memang sebaiknya menghindar dulu dari pertemuan dengan ibu mereka, saat ini itu bukan jalan yang bagus, ibu mereka bisa bertindak nekat. Murni sebenarnya orang yang lebih sepakat dengan almarhum Paman Aidil, Murni tidak banyak menemukan keslahan dari apa yang dilakukan Yani adiknya, Murni melihat Dhanil adalah laki laki yang bagus atau cocok dijadikan suami. Murni kurang terima dengan alasan ibu mereka yang menolak Dhanil tak lebih karena soal kehidupan ekonomi. Tapi Murni tetaplah Murni, anak yang tak punya rasa berani yang cukup walau hanya sekedar untuk menunjukkan pikiran melawan yang ia punya. Murni semakin merasa tak bisa menunjukkan sikap karena suaminya juga menyarankan Murni untuk memilih diam, walau ia juga setuju kalau Murni memberikan bantual moril maupun materil kepada Yani dan Dhanil.
“Abang nggak kelihatan Kak ?”.
“Abang ke Bandung Yan. Baru berangkat semalam. Diburu pulang juga nggak bakal ketemu”.
“Ngapain Abang di Bandung ?”.
“Ada pelatihan”.
Yani tak bertanya lagi, tapi yang jelas Yani pengen ketemu abang iparnya yang sekarang lebih banyak diluar kota. Lagipula Yani memang sudah cukup lama tak bertemu abang iparnya yang hanya satu satunya itu. Yani hanya punya 1 kakak, Murni. Yani melirik Dhanil sesaat, Dhanil juga belum pernah ketemu dengan suami kakaknya Murni, karena Yani memang belum pernah ketemu abang iparnya sejak menikah dengan Dhanil.
“Nanti malam juga nggak usah datang Yan”.
Yani menatap Murni lekat. “Kenapa Kak ?”.
Murni geleng kepala. “Nanti malah suasananya jadi tak enak”.
“Maksud Kakak ?”.
“Kalo nanti kamu datang, Mama ribut gimana ?”.
“Iya juga Kak”.
“Makanya nggak usah datang”.
Yani anggukkan kepala paham dengan apa yang dimaksudkan kakaknya, Dhanil juga melakukan hal yang sama dengan Yani anggukkan kepala, Dhanil juga punya pikiran yang nyaris sama, Dhanil juga sudah berpikir tujuh kali tadi untuk datang menghadiri ta’ziyah malam nanti, Dhanil juga punya rasa khawatir yang sama dengan Murni, jika Dhanil dan Yani datang, ibunya ribut, suasana jadi tak enak sehingga saran Murni menjadi hal yang sangat membantu Dhanil mengambil keputusan untuk tetap dirumah saja.
Kini Dhanil lebih mengalihkan pikiran ke anak anak Paman Aidil yang berjumlah lima orang, belum ada yang menikah, bahkan yang terbesar baru saja tamat SMA. Kini mereka harus menjadi anak anak yatim piatu tanpa ayah dan tanpa ibu. Ibu mereka, Istri Paman Aidil sudah lebih dulu pergi, Bibi Yani itu meninggal saat baru melahirkan anaknya yang kelima yang sekarang sudah berusia 10 tahun, Fikri. Dhanil memandangi wajah Fikri, ada kisah yang agak sama dengan Dhanil, Dhanil yatim piatu diusia yang sama dengan Fikri, tapi bedanya Fikri punya banyak saudara yang memperhatikannya sedang Dhanil sama sekali tidak ada, bahkan untuk melanjutkan hidup ia harus menjadi anak pungut ketua RT tempat ia tinggal. Dhanil dekati Fikri.
“Sudah kelas berapa Fik ?”.
“Kelas lima Bang”.
Dhanil mengelus kepala Fikri, Dhanil kembali terbayang wajah ibunya, ini juga yang membuat ia dan Fikri punya beda, Fikri cukup lama hidup dengan ayahnya sedang Dhanil sama sekali tak pernah melihat wajah ayahnya, berbanding terbalik, Dhanil cukup lama bersama sama dengan ibunya sedangkan Fikri sama sekali tak pernah mendapat belaian tangan ibunya, serupa tapi tak sama.
Sore sudah menjelang, senja sudah mulai tamaran. Dhanil dan Yani sepakat untuk pulang lebih dulu. Dhanil yang lebih dulu berdiri, ambil STNK dan kunci kontak sepeda motor Murni di kantongnya dan menyerahkannya pada Murni.
“Ini Kak”. Dhanil menyodorkan tangannya.
Murni geleng kepala. “Bawa aja Dan”.
Kening Dhanil berkerut. “Maksud Kakak ?”.
“Itu sepeda motor Kakak, bawa aja, sama kalian aja. Pasti perlu”.
Dhanil dan Yani saling pandang, seperti agak ragu dengan apa yang dikatakan Murni barusan. Memang jelas kalo Dhanil tentu saja sangat butuh dengan kenderaan saat ini. Itu akan sangat membantunya untuk menjalankan kegiatannya yang lumayan padat setiap hari.
“Kapan dikembalikannya Kak ?”.
“Ndak usah balikin lagi. Balik namakan aja sekalian, supaya kamu punya kenderaan. Naik angkot kesekolah teruskan susah juga Dan”.
“Abang nggak marah nanti Kak ?”. Yani yang bicara.
Murni geleng kepala. “Nggak lah”.
“Masa ?”.
Murni kembali geleng kepala. “Abangmu nggak bakal marah, dia yang menyuruh kakak memberikan itu kepada kalian”.
“Abang ?”. Yani masih tampak ragu.
Murni angguk angguk kepala lagi. “Iya... bawa aja. Nggak usah khawatir soal itu. Nggak apa apa”.
Dhanil dan Yani kembali saling pandang dan kembali menatap wajah Murni. Murni kembali anggukkan kepala. Dhanil dan Yani senyum lebar, kembali salami Murni dan beranjak pulang menuju rumah kontrakan mereka di jalan Damai Ujung Aek Habil Sibolga Selatan.
..... BERSAMBUNG ....
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya