Di novel Author yang kedua ini, Author akan menceritakan sebuah peliknya kehidupan seorang pemuda tampan, yang dimana kehidupannya selalu di selimuti kesedihan yang sangat perih di dalam dirinya.
pengalaman hidup, akan kehilangan orang orang yang sangat di sayangi, membuatnya berpikir, dia belajar dan terus belajar menjadi orang yang sangat kuat, dan tak ingin lagi menjadi sosok seorang lelaki yang lemah cengeng dan manja.
Hingga pada suatu masa, ketika ia telah dewasa. Dirinya terjebak di sebuah dunia, dimana ketika itu, tak ada kehidupan canggih seperti zaman sekarang ini.
Berat memanglah berat, kehidupan yang di jalaninya. Mungkinkah Leon bisa bertahan sekaligus melewati petualangan hidupnya.
Simak dan baca terus, kisah perjalanan Leon Scott Kennedy dalam mengarungi bahtera kehidupanya yang sangat pelik dan epic.
Jangan lupa like rate and comment karya terbaru saya,
Salam Author
Arby Yingjun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN
Waktu berjalan dengan begitu cepatnya. Tak terasa, sudah 4 bulan Yosep hidup tanpa putri kecilnya.
Yosep masih setia dengan Imelda istrinya, semua itu terlihat, dari perhatian dan kasih sayangnya kepada sang istri yang tak pernah surut.
Teman dan rekan rekan sejawatnya. Selalu menguatkan dan memberi semangat, agar Yosep selalu kuat dan tak pernah putus asa dalam menjalaninya. Karena Yosep yakin akan takdir tuhan, semua kan indah pada waktunya.
Sepulang kerja, Yosep menyempatkan dirinya membeli buket bunga, untuk di bawa menjenguk istrinya.
Tak hanya itu, Yosep juga membeli anggur, buah favourite, yang sangat di sukai Imelda.
Setelah semua telah lengkap, ia pun bergegas menuju Rumah sakit yang jaraknya kurang lebih 10 menit perjalanan lagi.
Sepanjang jalan, Yosep selalu tersenyum. Sesekali ia palingkan pandangannya pada buket bunga yang ia simpan, di sebelah tempat duduknya.
Sesampai di Rumah sakit, Yosep keluar dari mobilnya dengan membawa bunga dan anggur yang telah di modif menjadi sebuah parcel.
Rasa kangen yang tak tertahankan, membuat dirinya mempercepat langkah menuju ruang isolasi, di mana Imelda berada.
Yosep telah memasuki ruang isolasi, ia berjalan dan berjalan dengan cepatnya. Sejenak ia kaget melihat dari kaca penghalang. Beberapa petugas yang terlihat akan memberikan suntik penenang pada istrinya. Mereka menahan tangan dan kaki Imelda, agar ia tak memberontak ketika di beri penenang.
Imelda terus menjerit jerit dan melakukan perlawanan pada beberapa petugas yang memeganginya.
Brakkk...
Terdengar suara pintu di dobrak seseorang secara paksa.
"Hentikan!!!" Yosep menjatuhkan buah tangan yang di bawanya.
Emosi Yosep tersulut, dia tak menerima dengan perlakuan kasar beberapa petugas pada istrinya.
Dengan badan yang kekar, di tambah tenaga yang kuat. Yosep dengan mudahnya menghajar dan melempar, satu persatu petugas yang telah berlaku kasar pada istrinya.
Yosep tak memberi ampunan sama sekali. Hingga beberapa petugas tak sadarkan diri di buatnya.
Yosep berbalik melihat sang istri yang ketakutan di atas tempat tidurnya, menyaksikan beberapa petugas yang telah terkapar tak sadarkan diri.
Brugghh..
"Jangan takut sayang, tak akan ada lagi yang berani menyentuhmu." Yosep memeluk dan mencium kening Imelda.
"Pulang... 3x." Imelda meminta pulang layaknya anak kecil berumur 5 tahun.
Yosep mengusap kepala Imelda dan mencium keningnya.
"I ya, kita akan pulang ya sayang. Tapi Melda harus janji dulu gak boleh nakal nanti di rumah." Yosep mengacungkan kelingkingnya yang di balas kelingking Imelda.
"Duduk dulu ya." Yosep bangun dari ranjang pasien, ia mengambil buket bunga dan parcel anggurnya yang sempat terjatuh.
"Ini ambil," Yosep memberikan buket bunga pada Imelda, dan Imelda langsung memeluk bunganya.
"Mau anggur Melda sayang?" tawarnya pada Melda yang di balas anggukan.
"A," Yosep mempraktekan mulutnya agar mulut Amel pun terbuka.
"Enak sayang?" tanya Yosep yang telah memasukan buah anggur pada mulut Melda.
"Enak.. Enak." jawab Imelda yang nadanya menyerupai anak kecil.
"Mau lagi sayang?" tanya Yosep.
"Mauuu." Imelda menjawab dengan bibir yang banjir akan air anggur yang keluar dari mulutnya.
Yosep tertawa lucu, ia membersihkan pinggiran bibir Melda dengan jempol tanganya.
Terlintas keinginan di hati, untuk sekedar ******* bibir tipis yang sudah lama tak ia dapatkan dari istrinya.
Yosep mengedarkan pandanganya, dan berharap situasi benar benar aman dan terkendali.
Ia bangun dari tempat tidur pasien dan menutup pintu ruang isolasi dan kembali duduk di sebelah Imelda istrinya.
Berlanjut pada misinya yang terselubung, Yosep kembali memberikan anggur pada mulut Imelda tanpa menunggu buah itu habis dari mulut istrinya.
Setelah Bibir Imelda kembali banjir dengan sari anggurnya, Yosep langsung memanfaatkan momen tersebut.
"Sayang, makan anggurnya jangan cumang cemong. Sinidi bersihkan dulu." Yosep mendekatkan wajahnya pada Imelda. Hingga jarak antara mereka hanya beberapa mili saja.
"Bersihin dulu ya mulutnya." Yosep mendaratkan bibirnya di bibir Imelda.
Sedang Imelda hanya bisa terdiam dan patuh menutup mulutnya. Bukan Yosep namanya jika dia tak memiliki seribu akal.
"Sayang Imel, mulutnya di buka ya, kan harus di bersihin juga dalamnya." Yosep berkilah dengan akal bulusnya.
Imelda yang kesadaran belum full karena traumatis, hanya mengangguk dan patuh pada perintah Yosep, yang ia pikir bukan suami tapi orang baik baginya.
"A." Imelda membuka mulut manisnya yang sexy.
Tak ingin membuang waktu lagi, Yosep langsung ******* habis bibir tipis Imelda yang sudah lama tak di dapatkanya.
"Capek," Imelda mendorong Yosep dengan nafas terengah.
"Tidak boleh capek sayang, belum bersih itu dalamnya, ayo buka lagi mulutnya anak pintar." Yosep tak pernah buntu dengan seribu akalnya.
Imelda kembali membuka mulutnya, begitu pun Yosep, Ia kembali ******* tanpa jeda dan ampun pada Imelda yang seyogyanya belum pulih dari traumatisnya.
Yosep hilang kendali, niat sebatas bermain bibir kini malah berlanjut ke jenjang leher Imelda.
Imelda yang tak kuasa menahan geli pada lehernya, langsung memeluk dan merapatkan wajahnya di dada bidang Yosep.
"Gak mao, gak mao. Kakak nakal." Imelda yang tetap mengunci rapat wajahnya di dada bidang Yosep.
Sial,aku terbawa suasana. Hampir saja aku kebablasan.
Seketika pintu terbuka, terlihat dua orang Dokter dan dan perawat masuk kedalam ruang isolasi.
"Ada apa ini?, mengapa bisa berantakan seperti ini?" tanya Dokter Bruno yang kaget melihat beberapa petugas terkapar.
"Apa anda tidak melihat istri saya ketakutan seperti ini!" Yosep memperlihatkan Imelda yang menyebunyikan wajah di dada bidangnya pada Bruno.
"Maafkan atas perlakuan kami yang kurang berkenan di hati Pak yosep." kedua Dokter itu menunduk merasa tidak enak akan kesalahan yang di lakukan bawahanya pada istri Yosep.
"Saya tidak ingin mendengar alasan lagi. Mulai hari ini saya akan membawa pulang istri saya kerumah!" Yosep beucap dengan nada yang telah naik satu oktaf.
"Tapi... tapi Pak." ucap Dokter Bruno.
"Horeee, pulang." Imelda yang merasa senang
Mendengar kata pulang, Imelda berjingkrak di atas tempat tidur pasien. Dia mengambil boneka dan buket bunga dan memeluk tangan Yosep.
"Sekali lagi, kami benar benar minta maaf Pak." ucap kedua Dokter tersebut yang melihat Yosep telah telah siap berlalu.
"Cihh, beruntung kalian berdua meminta maaf kepadaku, hampir saja aku akan menutup Rumah sakit ini untuk selamanya." Yosep tersenyum sinis.
Yosep berlalu membawa Imelda meninggalkan ruang isolasinya.
"Pak bruno, maaf. Memang siapa sebenarnya Pak Yosep itu?" Dokter yang baru training itu bertanya pada Bruno.
"Dasar bodoh, apa kau tak tahu siapa Yosep itu, dia adalah Yosep yang punya kawasan, pemilik saham terbesar di rumah sakit ini." Dokter Bruno meluapkan emosinya pada Dokter baru tersebut.
Sementara Yosep telah membawa Imelda ke dalam mobilnya. Dan ia pergi meninggalkan rumah sakit yang telah membuatnya kecewa.
Sepanjang jalan, Imelda tak henti hentinya tertawa senang, bagaimana tidak pemirsa,Yosep memainkan lagu 'naik naik ke puncak gunung' dengan ponsel yang telah terhubung dengan subwofer mobilnya.
Dia membawa Imelda refreshing ke puncak, tiada lain dan tiada bukan. Berharap kenangan manis yang pernah di lewatinya di puncak, akan menjadi obat yang manjur untuk kesembuhan Imelda sendiri.
"Kamu senang sayang?" tanya Yosep yang sekilas memandang Imelda dan kembali fokus pada kemudinya.
"I ya, aku senang, tapi sekarang aku lapar." Imelda mengelus ngelus perutnya.
"Tunggu sebentar," tangan kiri Yosep membuka laci dasboard mobilnya.
"Ini ada coklat, enak. Lumayan bisa mengganjal perut." Yosep memberikan dengan tangan kiri yang langsung di rebut oleh Imelda.
Imelda langsung membuka bungkus coklatnya, dan memakanya secara brutal, hingga membuat mulutnya kembali belepotan.
"Pelan pelan saja sayang makan coklatnya, tenang saja, tak akan ada yang merebutnya darimu." Yosep menggeleng melihat cara makan coklat Imelda yang berantakan.
Kini Yosep berbelok, ia menepikan mobilnya di bawah pohon rindang, yang jaraknya tak jauh dari villa tujuanya.
"Yah, tissuenya habis, gimana dong?" Yosep berpura-pura kecewa di depan Imelda.
"Mas Yosep bersihkan pakai ini saja ya, gak apa apa kan?" Yosep menjulurkan lidahnya di depan wajah Imelda.
"Sini, mas Yosep bersihkan dulu mulutnya. Nanti malu loh di liat orang mulut melda kotor begitu." lagi, lagi dan lagi Yosep dengan akal bulusnya.
Kali ini Yosep ******* lembut bibir Imelda, ia tak ingin lagi, Imelda merasa takut dan tak melanjutkan adegan orang dewasa denganya.
Yosep dengan kepiawaianya menyapu lembut seluruh wajah Imelda sampai bersih.