Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Malam sudah larut saat Rizal merasa kering pada tenggorokan nya, dia melihat pada nakas yang tidak terdapat air. Biasanya Hanna akan selalu menyiapkan sebotol air minum dikamar
"Hanna pasti lupa" Pria tampan itu turun dari tempat tidur dengan sangat perlahan, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Karena jika sudah terbangun maka wanita hamil itu akan sulit untuk kembali tidur
Rizal melangkah menuju dapur, ia melihat bayangan seseorang yang berdiri dihadapan kompor
Rizal membeku untuk beberapa saat, pandangannya tertuju pada seorang wanita yang berdiri membelakanginya
Wanita itu hanya berbalut daster tipis yang sedikit menerawang. Bahkan dia dapat melihat warna pada bagian dalamnya, terlebih rambut yang digelung keatas hingga menampilkan leher putih yang begitu jenjang
Rizal meneguk ludahnya lalu mendekat. Kedatangannya jelas mengejutkan Arum yang sepertinya tengah membuat mi instan
"Mas Rizal?" Wanita itu mematikan kompornya lebih dulu "Mas butuh sesuatu?"
Riza terlihat salah tingkah, bukannya menjawab ia malah membawa pandangannya pada tubuh bagian depan Arum yang sangat menonjol
"Mas!" Rizal tersentak saat Arum melambaikan tangannya didepan wajahnya
"I-iya?" Pria itu berusaha terlihat biasa saja
"Mas butuh sesuatu?" Arum mengulangi pertanyaannya
"Sa-saya haus" Arum mengangguk, ia meraih gelas lalu mengisinya dengan air dan memberikannya pada Rizal yang sepertinya kembali melamun
"Ini mas!" Rizal meraihnya lalu meneguk isinya hingga setengah, ia harus menghalau pikiran kotor ini jauh-jauh
"Ada lagi?" Tanya Arum lagi karena Rizal masih berdiri ditempatnya
"Tolong kamu isi Tumbler itu! Biasanya Hanna akan haus tengah malam" Arum mengiyakan, wanita cantik itu kembali membelakangi Rizal dan mengisi sebuah Tumbler dengan air
Rizal kembali membawa pandangannya pada tubuh bagian belakang Arum yang begitu menggoda. Ia kembali menepisnya dengan menggeleng cepat
"Terima kasih!" Rizal berlalu setelah menerima Tumbler itu, ia melangkah cepat menuju kamarnya lalu menutup pintu
"Ada apa sama mas Rizal?" Gumamnya lalu meletakkan mi buatannya kedalam mangkuk
Sementara itu didalam kamar Rizal mencoba menghalau pikiran kotornya, ia tidak mengira jika ia akan bernafsu dengan wanita yang telah ia tolong
Rizal tidak menepis jika Arum adalah wanita yang cantik, hanya saja Arum belum mendapatkan perawatan apapun, berbeda dengan Hanna yang memiliki jadwalnya terlebih Arum memiliki tubuh yang begitu seksi, berbeda dengan Hanna yang kini tengah berbadan dua
"Mas?"
Rizal tersentak, karena sibuk membayangkan tubuh seksi Arum, dirinya tidak sadar jika sang istri terbangun
"Kamu bangun? Ada apa?" Rizal mendekat, meletakkan Tumbler diatas nakas lalu ikut bergabung bersama sang istri didalam selimut
"Tadi kebelet, kamu dari mana?" Hanna terlihat merengek, ini biasa karena selama hamil wanita cantik ini tidak ingin ditinggal
"Ambil air, kamu lupa buat taruh air dikamar" Hanna merasa bersalah, terlalu lelah belanja membuatnya langsung pergi tidur tanpa mengecek keperluan suaminya
"Maaf yaa mas! Aku ketiduran semalam"
"Tidak apa-apa sayang! Mas bisa kok urus diri sendiri!" Rizal mengusap rambut panjang istrinya
Pria itu mulai mendekatkan wajah mereka, Hanna dapat merasakan hembusan napas suaminya yang memburu
Hanna tau apa yang kini diinginkan suaminya, sebenarnya ia merasa lelah namun ia tidak ingin membuat suaminya kecewa akhirnya dia memilih untuk pasrah
Arum hendak mengecek anak-anak yang tidur dilantai atas, Arum sendiri menempati kamar tamu dilantai bawah
Saat melewati kamar yang ditempati Hanna dan suaminya, Arum tidak sengaja mendengar suara yang begitu ia ketahui
Malam yang sepi membuat suara itu dapat terdengar dengan jelas, hal itu mengganggu pikirannya. Sebagai wanita dewasa jelas ia menginginkan sentuhan terlebih suami yang selalu kasar dan tidak perhatian
Cukup lama Arum berada disana, setidaknya cukup untuk membuat tubuhnya panas karena suara sepasang suami istri itu
Arum lalu mengurungkan niatnya untuk memeriksa anak-anak, jika semakin lama ia disini maka itu tidak akan baik untuknya
"Bagaimana permainan mas Rizal yaa? Aku jadi pengen coba" Batinnya sambil memegangi dadanya
Arum menggeleng cepat, ia ke kamar mandi untuk menghalau semuanya. Lalu segera tidur
***
Arum membawa pandangannya pada sepasang suami istri yang menuruni anak tangga, ia melihat bagaimana Rizal yang menuntun istrinya dengan begitu lembut
Saat mereka dekat, Arum dapat melihat tanda kepemilikan yang menghiasi leher Hanna. Ia tahu itu hanya ditempat yang terlihat, mungkin ada dibeberapa tempat lagi
Rizal melirik kearah Arum sejenak lalu kembali menunduk, bayangan tubuh menggoda Arum semalam kembali menghampiri
"Hari ini Hafiz sudah mulai sekolah yaa" Rizal tersenyum pada dua anak laki-laki yang sudah rapi
"Iya om, Tante Hanna baik sekali. Hafiz dibelikan banyak baju sama Tante Hanna" Ucap bocah laki-laki itu
"Aku mau bilang terima kasih sama kalian, aku tidak tahu bagaimana jadinya aku sama Hafiz kalau malam itu tidak bertemu kalian" Arum mengatakan yang sebenarnya
"Sudahlah Arum! Siapapun yang ada disana malam itu pasti akan melakukan hal yang sama" Ujar Hanna yang diangguki oleh suaminya
Arum menatap Rizal yang tengah sibuk dengan sarapannya, sambil sesekali bersikap perhatian pada Hanna istrinya
Arum menatap dengan tatapan kagum, entah kenapa suara desahan semalam membuatnya berpikir yang bukan-bukan
Rumah menjadi sepi saat semua orang telah pergi, Rizal bekerja sementara kedua anak laki-laki dirumah ini telah pergi kesekolah
Hanna tengah bersantai diruang tengah rumah mereka. Ia menatap pada layar televisi yang menayangkan drama favorit nya
Arum datang dan duduk disamping wanita hamil itu "Kaki mbak Hanna bengkak!" Pandangan Arum tertuju pada kaki Hanna yang bengkak karena kehamilannya
"Iya, aku sudah tanya dokter, katanya ini biasa"
"Aku olesin minyak kayu putih ya mbak!" Arum menawarkan
"Tidak perlu Arum! Aku tidak ingin merepotkan kamu!" Tolaknya dengan lembut, ia tidak ingin Arum memegang kakinya
"Tidak ada yang seperti itu mbak! Sebentar yaa!" Arum pergi tak lama ia kembali dengan membawa botol minyak kayu putih
Arum meletakkan kaki wanita hamil itu diatas pangkuannya lalu memijat pelan. Jujur saja ia merasa jauh lebih nyaman, bahkan ia reflek menutup matanya
"Nyama sekali!"
Arum hanya tersenyum sambil terus melakukan pekerjaannya "Oh iya Rum, kira-kira dimana yaa suami kamu?"
"Biasanya mas Daru ada ditempat temennya untuk minum-minum" Jawab Arum
"Kamu tau alamatnya?" Arum mengangguk sebagai jawabannya "Bagus, nanti kamu kasih alamatnya sama mas Rizal!"
"Makasih yaa mbak" Hanna tersenyum hangat, tengah menikmati pijatan lembut Arum pada kakinya tiba-tiba saja Hanna merasa mengantuk
Wanita cantik itu memejamkan matanya hingga tidak sadar dirinya terlelap. Arum terus memijak kaki Hanna dengan lembut
semoga byk yg baca