NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Jurus Tabib Seribu Rahasia

Mendaki Gunung Cemara di malam hari, setelah semalaman bergantungan terbalik, adalah pengalaman yang tidak akan dia rekomendasikan kepada siapa pun.

Kakinya terasa seperti kayu yang sudah terlalu lama direndam air. Beratnya ada, tapi kegunaannya diragukan. Setiap kali Zhao Fei berhasil menyejajarkan diri dengan Tabib Wen, tanjakan berikutnya langsung membuat dia tertinggal lagi. Napasnya pendek-pendek, tubuh yang sudah dipakai melewati terlalu banyak hal hari ini meminta istirahat dengan cara yang tidak bisa diabaikan.

Sementara itu, Tabib Wen berjalan di depan dengan langkah yang terlihat ringan seperti dia sedang berjalan di atas hamparan pasir datar. Belum lagi mulutnya tidak bisa berhenti bergerak.

"Gunung ini tanahnya berbeda di sisi barat dan timur," katanya tanpa menoleh. "Sisi barat tanahnya lebih asam karena ada mata air yang mengandung belerang di atas sana. Makanya tanaman herbal yang tumbuh di sana lebih tajam rasanya, lebih efektif untuk obat-obatan yang membutuhkan reaksi cepat. Sedangkan sisi timur lebih netral, lebih cocok untuk tanaman yang butuh waktu lama meresap ke dalam tubuh."

Zhao Fei mendengarkan sambil berfokus pada pijakannya agar tidak jatuh.

Adapun BaoBao berlari-lari di sekitar mereka berdua, sesekali masuk ke semak dan keluar lagi, kadang berhenti sebentar untuk mengendus sesuatu yang tidak terlihat, lalu berlari mengejar kunang-kunang yang melayang di antara pohon-pohon. Tidak ada yang menyangka bahwa harimau putih sebesar itu bisa terlihat seperti anak kucing yang baru belajar berjalan.

Tabib Wen akhirnya berhenti mendadak di depan semak berduri yang tumbuh di pinggir jalur.

Dari balik cabang-cabang berduri itu menggantung buah-buahan kecil berwarna ungu kehitaman. Bentuknya tidak biasa, asimetris, sedikit menyerupai ginjal manusia dalam versi yang sangat diperkecil. Tidak ada satu pun bagian dari buah itu yang terlihat mengundang selera.

"Makan itu," kata Tabib Wen sambil menunjuk ke arahnya, lalu langsung melanjutkan langkahnya.

Zhao Fei menatap buah itu. "Kenapa?"

"Karena aku bilang begitu."

Tidak ada penjelasan lain. Tabib Wen sudah berjalan beberapa langkah ke depan tanpa menoleh.

Zhao Fei memetik satu buah, memandanginya sebentar di telapak tangannya. Dari sepuluh ribu tahun pengalamannya, tidak ada tanaman yang mirip ini di seluruh Alam Dewa. Tapi orang yang berjalan di depannya jelas tahu lebih banyak tentang tanaman di dunia ini dari siapa pun yang pernah dia temui.

Dia menelannya sekaligus.

Rasa pahit langsung menyebar dari lidah ke seluruh tenggorokan, seperti meminum abu yang masih hangat. Bukan pengalaman yang menyenangkan. Tapi kemudian, dalam hitungan detik, sesuatu berubah saat kaki yang tadi terasa seperti besi berkarat tiba-tiba menemukan kembali fungsinya. Dadanya yang sesak melonggar. Tubuhnya yang berat menjadi lebih ringan.

Dia mengejar Tabib Wen dan berjalan sejajar dengannya tanpa perlu berhenti untuk mengambil napas.

Tabib Wen meliriknya sekilas dari sudut mata. "Buah Beri Malam. Tidak laku dijual di pasar karena bentuknya terlalu jelek. Orang-orang memilih ramuan yang terlihat cantik daripada yang benar-benar berguna." Dia menggeleng dengan nada yang terdengar seperti sudah lelah dengan kebodohan orang banyak selama beberapa dekade.

Akhirnya rumah itu muncul di balik tikungan jalur, di area yang pohon-pohonnya sedikit lebih jarang dari sekeliling.

Zhao Fei berhenti sebentar. Bangunan dari kayu dan bambu itu tidak besar. Satu lantai dengan tambahan loteng kecil di atas, dinding-dindingnya berwarna coklat gelap karena usia. Tapi halaman depannya adalah hal yang menarik perhatiannya. Pot-pot tanah liat tersusun dalam pola yang terlihat acak tapi ternyata sangat teratur jika diamati lebih lama. Masing-masing ditanami tanaman yang berbeda, daunnya berwarna hijau dalam berbagai gradasi, beberapa mengeluarkan aroma yang samar tapi tidak asing.

Untuk seorang tabib yang namanya dikenal sampai ke sekte-sekte besar, tempat tinggal ini terasa jauh lebih rendah hati dari yang dia bayangkan.

Meja kayu panjang di dalam rumah sudah penuh bahkan sebelum Tabib Wen selesai mengeluarkan semua peralatannya.

Jarum-jarum dari berbagai ukuran disusun di atas kain hitam. Botol-botol kecil berisi cairan warna-warni berjajar di tepi meja. Tiga cawan tanah liat dengan arang yang menyala di dalamnya mengepulkan asap tipis yang beraroma kayu tua.

"Duduklah, dan letakkan kedua tanganmu di atas meja."

Zhao Fei duduk dan mengulurkan kedua tangannya.

Tabib Wen mulai menusukkan jarum-jarum tipis ke titik-titik di punggung tangan, pergelangan, dan sepanjang lengan bawah. Sensasinya tidak seperti yang dia duga. Tidak sakit tapi ada kehangatan yang menjalar dari setiap titik yang disentuh jarum, bergerak naik perlahan seperti air hangat yang mengalir melalui saluran yang lama tersumbat.

Zhao Fei menutup matanya sebentar.

Meridian yang semalam hanya merespons dengan getaran paling samar kini mulai bergerak lebih nyata. Aliran qi di dalam tubuhnya, yang selama ini seperti setetes embun yang mencoba mengisi sumur kering, sekarang terasa seperti sungai kecil yang baru saja menemukan celahnya. Tipis, tapi mengalir.

Ketika Tabib Wen mencabut semua jarum dengan gerakan cepat dan presisi, Zhao Fei membuka matanya. Tubuhnya terasa seperti sudah dicuci dari dalam.

Tabib Wen mengambil cawan tanah liat yang berisi cairan keruh berwarna kecokelatan, lalu meminumnya dengan satu tegukan. Aromanya menyengat sampai ke tempat Zhao Fei duduk.

"Itu untuk permintaan maafku," katanya sambil meletakkan cawan. "Karena membiarkanmu bergantungan di atas BaoBao semalaman."

"Tapi aku tidak meminta permintaan maaf."

"Aku tahu. Itu sebabnya aku yang minta." Tabib Wen meletakkan cawan itu dan menatapnya. "Sekarang, ceritakan penyakit ibumu. Dengan tepat. Jangan ada yang dilewati."

Zhao Fei menjelaskan semua gejala yang tersimpan dalam memori pemilik asli tubuh ini. Batuk kering yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun, demam yang selalu datang di malam hari dan hilang sebelum pagi, nyeri di bagian tengah dada, nafsu makan yang hampir tidak ada, badan yang semakin kurus karena terus berkurang.

Tabib Wen mendengarkan tanpa menyela, tanpa berkomentar, tanpa tertawa. Ini satu-satunya saat dalam malam itu dia benar-benar diam.

Setelah Zhao Fei selesai, dia bertanya, "Apakah Tabib Wen perlu melihat ibu saya langsung untuk memastikan?"

Tabib Wen sudah berdiri dan berjalan ke ruangan sebelah sebelum kalimat itu selesai diucapkan.

Dari balik pintu yang setengah terbuka, terdengar suara-suara. Seperti gerinda yang berat. Air mendidih. Botol-botol kaca yang disentuhkan satu sama lain dengan hati-hati. Sesekali suara umpatan pelan dalam bahasa yang tidak dikenali.

Zhao Fei duduk menunggu di ruang utama. BaoBao masuk dari pintu depan yang dibiarkan terbuka, berputar beberapa kali di tengah ruangan, lalu berbaring di dekat pintu dengan kepala di atas kedua cakarnya.

Lima belas menit akhirnya berlalu. Mungkin lebih.

Tabib Wen keluar membawa satu botol kecil berwarna gelap. Dari leher botolnya masih mengepul asap tipis. Satu cawan berisi campuran daun yang sudah dihaluskan ikut dibawanya, beserta satu ikat daun segar yang masih basah.

Dia mencampur semuanya dengan urutan yang terlihat sudah dihafalkan di luar kepala, menuang cairan dari botol ke cawan, mengaduk, menuang kembali. Proses itu diulang sampai semua bahan bersatu menjadi cairan yang warnanya berubah dari keruh menjadi lebih bening dengan sedikit kilap keemasan di permukaannya.

Botol itu lalu disodorkan ke Zhao Fei.

"Suruh ibumu minum ini sebelum tidur, saat bulan purnama muncul besok malam," kata Tabib Wen. "Jangan saat bulan tertutup awan. Ramuan ini bergantung pada energi bulan untuk bekerja sempurna."

Kepala Zhao Fei bergerak sedikit ke bawah. Dia menyimpan botol itu di saku bajunya dengan hati-hati, seperti menyimpan sesuatu yang nilainya melebihi semua yang pernah dia pegang di tubuh ini.

"Besok pagi kau harus pulang. Sekarang tidurlah dulu."

Tabib Wen berbalik ke arah ruangan dalam. Tapi Zhao Fei tidak bergerak.

"Berapa biayanya?"

Tabib Wen berhenti dan menoleh.

Matanya menatap Zhao Fei beberapa saat, ekspresinya sulit dibaca. Kemudian tawa kecil keluar. Kekehan itu tumbuh, membesar, sampai Tabib Wen harus menepuk-nepuk dadanya sendiri untuk mencegah tersedak.

"Anak pintar," katanya setelah suaranya kembali. "Kau memang anak yang pintar."

Dia berjalan ke ruangan lain. Saat kembali, ada sebuah cincin di tangannya.

Batu berwarna abu-abu gelap, dipoles halus sampai permukaannya memantulkan cahaya lilin di ruangan itu. Tidak ada ukiran ataupun hiasan yang istimewa dari tampilannya. Tapi jika diamati lebih lama, di dalam batu itu ada sesuatu yang bergerak. Sangat samar, hampir tidak terlihat jika tidak dicari. Seperti asap tipis yang terperangkap di dalam dan tidak bisa keluar.

"Ini untukmu." Tabib Wen menyerahkan cincin itu. "Ramuan yang baru kubuat adalah yang paling rumit yang pernah kuracik dalam tiga puluh tahun terakhir. Tidak ada harga yang bisa menebusnya. Jadi, yang kuminta adalah kau memakai cincin ini."

Zhao Fei menerima cincin itu. Membolak-balikkannya di tangannya.

"Apa masalahnya dengan cincin ini?"

Ekspresi Tabib Wen seketika berubah. Tawa itu hilang, digantikan oleh sesuatu yang lebih berat dan dalam, seperti seseorang yang akhirnya mengucapkan sesuatu yang sudah lama disimpan.

"Masalahnya aku sendiri tidak tahu cincin ini apa," katanya. "Cincin ini datang kepadaku pada hari, tahun, cuaca, dan bencana yang tidak datang secara kebetulan. Sudah bertahun-tahun aku menyimpannya. Tidak pernah berani memberikannya ke siapa pun apalagi memakainya." Matanya menatap cincin itu dengan cara yang aneh, seperti melihat teka-teki yang sudah dia coba pecahkan terlalu lama tanpa hasil. "Sampai kau datang malam ini."

Zhao Fei menatap cincin itu, lalu menatap Tabib Wen. Ada pertanyaan di ujung lidahnya, tapi orang di depannya sudah berbalik dan berjalan masuk ke ruangan dalam.

"Kamarmu di atas. Tidur sekarang. Besok pagi kita bicara lagi."

Loteng kecil itu hanya cukup untuk berbaring dengan satu sisi menghadap langit-langit yang miring mengikuti atap.

Tikar tipis di lantai, selimut dari kain kasar yang warnanya sudah pudar karena sering dicuci. Sederhana saja tapi lebih nyaman dari lantai kamar asramanya di sekte.

Zhao Fei berbaring dengan cincin masih di tangannya. Batu abu-abu itu terasa hangat di kulitnya. Bukan hangat dari tubuhnya sendiri, tapi dari dalam batu itu. Seperti ada sesuatu yang hidup di sana, bernapas sangat pelan.

Cincin apa ini?

Sepuluh ribu tahun hidupnya sudah mempertemukannya dengan banyak artefak dan benda-benda yang tidak biasa. Tapi benda yang bahkan pemiliknya tidak bisa jelaskan itu langka. Apalagi Tabib Wen bukan orang bodoh.

Kenapa dia memberikannya padaku?

Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban malam ini. Dia menyimpan cincin itu di saku bajunya, tepat di samping botol ramuan untuk ibunya. Dua benda yang malam ini menjadi lebih penting dari yang lain.

Matanya terpejam.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!