Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Jalan Terang yang Semakin Lebar
Sebulan lebih sudah berlalu sejak kerja sama dengan Pak Dedi berjalan, dan kenyataannya makin terasa jelas: semuanya berjalan lancar, rapi, dan tanpa kejadian yang bikin deg-degan sedikit pun. Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, alurnya tetap sama teratur — barang datang tepat waktu, mutunya pas sesuai standar, berkasnya lengkap sampai ke rincian terkecil. Bagi orang luar mungkin terasa membosankan karena nggak ada gejolak, tapi bagi Faris Arjuna dan Viona, ketenangan semacam inilah yang paling berharga.
Pagi itu udara terasa segar, angin bertiup pelan membawa bau bunga melati dari halaman depan kantor. Faris Arjuna datang seperti biasa, melangkah santai sambil memainkan batang rokok di jari. Begitu masuk ke ruang kerja, dia melihat Viona sudah duduk di meja sambil membaca laporan bulanan yang baru saja diserahkan. Wajahnya nggak lagi tampak tegang atau penuh tanya, tapi sudah terlihat santai dan lega.
Selamat pagi Bu Viona, laporan kali ini terlihat enak dilihat ya?” sapa Faris Arjuna sambil duduk di tempatnya, menyandarkan punggung dengan nyaman.
Viona mengangkat kepala, tersenyum lebar sambil mengangguk. “Benar sekali Faris Arjuna. Lihat saja sendiri, nggak ada selisih angka sedikit pun, nggak ada catatan yang perlu diperbaiki, nggak ada keterangan yang berbelit-belit. Rasanya seperti membaca cerita yang berjalan lurus dan enak diikuti. Kalau dibandingkan dengan masa lalu, bedanya sangat jauh sekali.”
Faris Arjuna menyalakan rokoknya dengan bunyi cesss pelan, menghirup sebentar lalu menghembuskan asapnya membentuk lingkaran yang makin melebar sebelum hilang. Dia tersenyum gaya sengklek khasnya, matanya terlihat tenang tapi penuh pengamatan.
Memang beda jauh Bu Viona, tapi bukan karena dunia ini berubah tiba-tiba. Cuma sekarang kita sudah tahu mana jalan yang harus dipilih dan mana yang sebaiknya ditinggalkan. Orang yang berjalan di jalan terang memang nggak akan pernah bikin kita pusing memikirkan apa yang dia sembunyikan, karena dia nggak punya apa-apa yang perlu ditutup-tutupi. Itu bedanya dengan orang yang suka menyelinap — jalannya selalu sempit, penuh tikungan, dan bikin orang yang mengikutinya jadi cepat lelah hati dan pikiran.”
Dia lalu menunjuk ke arah tumpukan laporan yang rapi di meja, suaranya makin jelas tapi tetap santai:
Lihat saja catatan Pak Dedi ini. Setiap kali ada kenaikan harga barang di pasar, dia segera memberitahu duluan, menjelaskan alasannya dengan rinci, dan baru kemudian mengajukan perubahan harga. Nggak pernah tiba-tiba angkanya naik tanpa keterangan, nggak pernah memanfaatkan kesempatan untuk mengambil keuntungan lebih di luar kesepakatan. Kalau dia rugi sedikit karena perubahan situasi, dia tetap jalani saja sampai masa perjanjian berakhir, nggak pernah cari celah untuk menutupi kerugiannya dengan cara yang merugikan kita.”
Viona mengangguk setuju, lalu bertanya dengan nada ingin tahu lebih dalam: “Terus Faris Arjuna, kenapa bisa ada orang yang tetap berpegang pada hal-hal begini padahal kelihatannya nggak mendatangkan keuntungan besar dalam waktu singkat?”
Faris Arjuna tertawa kecil mendengar pertanyaan itu, lalu menjawab dengan gaya bicara yang terasa seperti berbagi pengalaman hidup yang sudah lama dia pahami:
Karena dia tahu Bu Viona, keuntungan yang didapat dalam waktu singkat tapi dengan cara yang salah itu cuma sebentar saja. Besok atau lusa pasti akan habis, dan malah membawa masalah yang jauh lebih besar. Sedangkan kepercayaan yang dibangun pelan-pelan, satu per satu hal kecil yang benar, itu akan terus tumbuh makin besar seiring berjalannya waktu. Dia nggak cuma cari untung hari ini saja, tapi dia ingin usahanya tetap berjalan sampai anak dan cucunya nanti.”
Dia melanjutkan sambil memutar-mutar batang rokok yang sudah mulai memendek:
Orang yang berpikir panjang nggak akan tergoda dengan rayuan keuntungan instan. Dia sadar bahwa nama baik itu modal yang paling mahal dan paling susah dibuat. Kalau sudah rusak, seberapa banyak pun uang yang dikeluarkan nggak akan bisa mengembalikannya seperti semula. Itulah sebabnya dia selalu berhati-hati, selalu terbuka, dan nggak mau mempertaruhkan nama baiknya hanya untuk hal yang sepele.”
Saat mereka sedang asyik berbicara, ada telepon masuk dari Pak Dedi. Suaranya terdengar ramah dan tenang di seberang sana:
Selamat pagi Nona Viona, Mas Faris Arjuna. Saya cuma mau kabari saja, ada jenis barang tertentu yang pasokannya sedikit terganggu karena hujan deras di daerah asalnya. Saya sudah cari sumber lain yang kualitasnya sama persis, harganya juga tetap sama, jadi nggak ada perubahan untuk pihak Bapak/Ibu. Kalau nanti ada perbedaan sedikit pun, saya tanggung sendiri sepenuhnya. Hanya memberitahu saja supaya tidak ada yang terkejut nanti.”
Setelah telepon ditutup, Faris Arjuna menoleh ke Viona dengan pandangan yang makin yakin. Dengar kan Bu Viona? Begitu cara orang yang bisa dipercaya bertindak. Begitu tahu ada kemungkinan masalah, dia segera kabari duluan, bukan menunggu sampai barangnya terlambat atau kualitasnya menurun baru minta maaf. Dia juga tidak memakai alasan cuaca untuk menaikkan harga atau menurunkan mutu barang, padahal itu kesempatan yang sering dipakai orang lain untuk mencari untung lebih.”
Dia berdiri dan berjalan mendekati jendela, memandang ke arah jalan raya yang makin ramai dengan kendaraan yang lewat dengan tertib.
Begitulah jalan terang itu bekerja Bu Viona. Semakin lama kita melangkah di jalannya, semakin lebar jalannya terasa, semakin banyak orang yang mau ikut berjalan bersama, dan semakin ringan beban yang kita pikul. Sebaliknya, jalan gelap yang dipilih orang yang serakah itu semakin lama semakin sempit, semakin banyak tikungan yang bikin bingung, dan akhirnya hanya berujung pada jalan buntu.”
Faris Arjuna menghembuskan sisa asap rokoknya perlahan sebelum mematikan batangnya di dalam asbak. Wajahnya terlihat tenang, tanpa rasa bangga berlebihan, hanya kepuasan karena melihat semuanya berjalan sesuai aturan yang benar.
Kita sudah melewati masa-masa sulit dan penuh pelajaran, sekarang tinggal menikmati hasilnya saja. Nggak perlu lagi kita yang harus terus-menerus memeriksa setiap langkah, karena mereka sendiri yang menjaga kualitas dan kepercayaan itu. Inilah yang disebut menang dengan cara yang paling baik — bukan dengan mengalahkan orang lain, tapi dengan memilih jalan yang benar sejak awal.”
Matahari makin naik tinggi, cahayanya menyebar merata ke seluruh ruangan, menerangi setiap sudut tanpa ada yang tersisa dalam kegelapan. Dan begitulah seterusnya, hari demi hari berjalan dengan ketenangan yang terasa nyata, menjadi bukti bahwa jalan yang lurus dan terang memang selalu membawa kedamaian bagi siapa saja yang berani melaluinya.
Menjadi bukti bahwa jalan yang lurus dan terang memang selalu membawa kedamaian bagi siapa saja yang berani melaluinya.
Faris Arjuna menoleh kembali ke meja, tersenyum kecil sambil melirik tumpukan berkas yang tertata rapi. “Satu hal lagi Bu Viona, kepercayaan yang sudah terjalin begini jangan sampai kita anggap remeh. Tetap awasi dengan wajar, bukan karena curiga, tapi supaya kita tetap menjaga standar yang sudah kita bangun. Biar pun hari ini terasa lancar, tetap ingat pelajaran lama: ketenangan itu harus dijaga, bukan cuma dinikmati saja.”