Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Darah dan Berkas yang Terbakar
Pagi hari di mansion keluarga Barrett selalu dimulai dengan keheningan yang mistis. Cahaya matahari musim panas yang menyelinap di balik gorden abu-abu tebal tidak mampu mengusir hawa dingin yang telanjur mengakar di setiap sudut bangunan batu ini.
Elena terbangun dengan perasaan hampa yang familiar. Di sampingnya, kasur sutra hitam itu sudah rapi kembali. Nicholas selalu bergerak seperti hantu datang dalam kegelapan beraroma mesiu, dan menghilang sebelum fajar sempat menyapa bumi.
Elena bangkit, memilih gaun rajut kasual berwarna merah muda pucat dari lemari, satu-satunya warna yang membuatnya merasa masih menjadi manusia, bukan sekadar pajangan bernyawa milik Nicholas Barrett. Setelah merapikan diri, dia melangkah keluar kamar.
Hari ini, suasana mansion terasa sedikit berbeda. Beberapa penjaga bersetelan hitam yang biasanya berdiri kaku di koridor utama tampak dipindahkan ke area halaman luar.
Thomas, pelayan tua yang setia, sedang sibuk di lantai bawah untuk mengurus penerimaan logistik bulanan. Kesunyian ini memberikan Elena sebuah celah yang sudah lama dia cari yaitu ruang kerja Nicholas.
Ruang kerja itu terletak di ujung sayap barat lantai dua, sebuah area yang secara mutlak dilarang untuk dimasuki oleh siapa pun tanpa izin tertulis dari sang bos mafia.
Nicholas pernah berkata bahwa tidak ada pintu yang boleh tertutup untuknya di rumah ini, namun aturan itu tampaknya tidak berlaku sebaliknya. Pintu kayu mahoni besar itu selalu terkunci rapat.
Namun pagi ini, takdir tampaknya sedang berpihak pada rasa ingin tahu Elena atau mungkin, takdir sedang menggiringnya menuju lubang jarum yang lebih mematikan.
Pintu ganda itu sedikit renggang, menyisakan celah selebar beberapa sentimeter. Nicholas tampaknya pergi dengan terburu-buru hingga lupa memastikan selot kuncinya berbunyi
*klik*.
Elena menelan ludah, menatap koridor yang sepi. Jantungnya berdegup kencang, menghasilkan sensasi ngilu di dadanya.
Jika dia tertangkap, Nicholas tidak akan segan-segan mengirim kepalanya dalam kotak hadiah kepada Arthur Vance. Namun, keinginan untuk mencari tahu seberapa dalam dirinya telah terjebak dalam pusaran lumpur ini jauh lebih besar daripada rasa takutnya.
Dengan langkah yang seringan kapas, Elena mendorong pintu tersebut. Pintu itu terbuka tanpa suara.
Aroma ruangan itu langsung menyergap indra penciumannya. Berbeda dengan kamar tidur mereka yang beraroma kayu cendana hangat, ruang kerja Nicholas beraroma maskulin yang pekat, bercampur dengan bau kertas tua, lilin segel, dan samar-samar bau minyak pelumas senjata api.
Ruangan itu luar biasa luas. Dinding-dindingnya dilapisi oleh rak buku setinggi langit-langit yang dipenuhi oleh literatur hukum, strategi militer, dan sejarah kuno.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja raksasa yang terbuat dari kayu hitam, di atasnya tertata rapi sebuah laptop, beberapa map kulit, dan sebuah asbak kristal yang berisi abu cerutu yang sudah dingin.
Elena melangkah mendekat ke meja kerja itu. Tangannya yang dingin menyentuh permukaan kayu yang halus. Dia membuka map pertama yang terletak di atas meja.
Isinya adalah laporan pengapalan barang dari Pelabuhan, ratusan kode barang yang tidak dia pahami, namun di bawahnya tertera tanda tangan digital beberapa pejabat tinggi kepolisian. Nicholas benar-benar mengendalikan kota ini dari balik bayangan.
Namun, bukan itu yang dicari Elena. Matanya beralih pada sebuah laci meja yang sedikit terbuka. Di dalamnya, terdapat sebuah map beludru berwarna merah darah yang tampak sangat kontras dengan dokumen-dokumen lainnya.
Elena menarik map itu keluar dengan tangan yang sedikit gemetar.
Begitu dia membuka halaman pertama, napasnya langsung tercekat di tenggorokan.
Itu adalah berkas investigasi mendalam tentang keluarga Vance. Ada foto Arthur Vance yang sedang bersujud di depan mobil Nicholas, foto Alana yang sedang berpesta di London yang membuktikan bahwa Nicholas memang tahu keberadaan kembarannya sejak awal dan yang paling mengejutkan adalah selembar kertas tua di bagian paling bawah.
Itu adalah surat perjanjian utang yang ditulis dua puluh tahun yang lalu. Surat itu ditandatangani oleh Arthur Vance dan... ayah Nicholas, mendiang Jonathan Barrett.
Di sana tertulis dengan jelas bahwa seluruh utang keluarga Vance bukanlah sekadar uang taruhan judi atau kegagalan bisnis logistik biasa.
Arthur Vance telah mengkhianati Jonathan Barrett dalam sebuah transaksi di masa lalu, yang menyebabkan ayah Nicholas tewas dalam penyergapan polisi.
"Jadi... ini bukan soal uang," bisik Elena pada diri sendiri, air matanya perlahan menggenang.
"Ini soal balas dendam darah."
Pernikahan ini, pengantin pengganti ini, semuanya adalah bagian dari skenario panjang Nicholas untuk menyiksa keluarga Vance secara perlahan.
Nicholas tidak hanya ingin uangnya kembali, dia ingin menghancurkan martabat Arthur Vance dengan cara mengambil putrinya dan menjadikannya sandera seumur hidup.
"Kau menemukan apa yang kau cari, *Wifey*?"
Sebuah suara berat, rendah, dan sedingin es tiba-tiba menggema dari arah pintu yang kini telah tertutup rapat.
Elena tersentak hebat hingga map di tangannya terlepas, menumpahkan lembaran-lembaran kertas itu ke atas lantai marmer. Di ambang pintu, Nicholas berdiri dengan melipat tangan di depan dada.
Pria itu telah menanggalkan jas formalnya, hanya mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan urat-urat menonjol di lengannya yang kekar.
Wajahnya datar tanpa ekspresi, namun sepasang mata abu-abunya memancarkan kilatan predator yang siap menerkam.
"Ni... Nicholas," suara Elena bergetar hebat. Dia melangkah mundur hingga pinggulnya membentur tepian meja hitam.
"Aku... aku tidak bermaksud..."
"Tidak bermaksud apa? Memata-matai suamimu?" Nicholas melangkah maju. Setiap ketukan sepatu di atas lantai terasa seperti dentang lonceng kematian bagi Elena.
Pria itu bergerak perlahan, memberikan tekanan psikologis yang luar biasa pada mangsanya.
Nicholas berhenti tepat di depan Elena, mengabaikan kertas-kertas yang berserakan di bawah kakinya. Dia menunduk, menatap Elena dengan jarak yang begitu dekat hingga Elena bisa melihat bayangan ketakutan dirinya sendiri di dalam pupil mata abu-abu pria itu.
"Aku sudah memperingatkanmu pada malam pertama, Elena," bisik Nicholas, suaranya sangat tenang namun sarat akan ancaman yang mematikan.
"Jangan membuat masalah. Jangan melewati batas yang sudah kutentukan."
"Kau membohongiku!" Elena tiba-tiba berteriak, mengumpulkan sisa keberaniannya dari rasa sakit yang membakar dadanya. Air matanya mengalir deras, menghapus ketakutannya untuk sesaat.
"Kau bilang ini hanya soal utang piutang! Tapi ini soal ayahmu! Kau membawaku ke sini bukan untuk menjadikanku istri sandera, tapi untuk menyiksaku karena kesalahan yang dilakukan oleh ayah dua puluh tahun yang lalu! Aku bahkan belum lahir saat itu, Nicholas!"
Nicholas terdiam. Rahangnya mengencang, dan sebuah urat halus tampak menonjol di pelipisnya. Keheningan yang mencekik kembali menguasai ruangan selama beberapa detik yang menyiksa.
Tiba-tiba, Nicholas menjangkau leher Elena. Elena memejamkan mata, mengira pria itu akan mencekiknya hingga mati.
Namun, tangan besar Nicholas justru mencengkeram tengkuk leher belakang Elena dengan lembut namun sangat kuat, menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna pada dada bidangnya.
Nicholas menunduk, hembusan napasnya yang hangat terasa di pucuk kepala Elena.
"Kau benar," bisik Nicholas di dekat telinga Elena, suaranya kini terdengar serak dan sarat akan luka masa lalu yang kelam.
"Ini tentang balas dendam. Setiap kali aku melihat wajahmu, aku melihat darah ayahku yang mengalir di tangan Arthur Vance."
Nicholas melepaskan cengkeramannya, lalu berjongkok. Dengan gerakan perlahan, dia mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan di lantai, termasuk surat perjanjian tua berdarah itu.
Dia bangkit, berjalan menuju perapian batu yang terletak di sudut ruangan, lalu menyalakan korek api gas miliknya yang berbalut emas.
Nicholas menyulut ujung kertas-kertas itu dengan api. Dalam hitungan detik, api berkobar, melahap seluruh dokumen investigasi tentang keluarga Vance termasuk bukti pengkhianatan masa lalu.
Nicholas melemparkan abu yang terbakar itu ke dalam perapian, menyaksikannya hancur menjadi debu hitam yang tak berharga.
Elena menatap pemandangan itu dengan bingung. "Kenapa... kenapa kau membakarnya?"
Nicholas berbalik, menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan. Sisi kejam yang biasanya mendominasi pria itu mendadak memudar, digantikan oleh sebuah kepasrahan yang dingin.
"Karena berkas itu tidak lagi berguna," kata Nicholas datar, berjalan mendekati Elena dan berhenti tepat satu jengkal di hadapannya.
Pria itu mengulurkan tangan, ibu jarinya yang kasar menghapus sisa air mata di pipi Elena dengan kelembutan yang kontras dengan statusnya sebagai monster.
"Arthur Vance akan menerima balasannya, cepat atau lambat. Tapi kau..." Nicholas menatap dalam-dalam ke mata abu-abu kecokelatan Elena.
"...kau bukan Arthur, dan kau bukan Alana. Aku tidak akan menghukum seorang gadis yang menghabiskan seluruh hidupnya bersembunyi di lantai bawah tanah hanya untuk kesalahan pria pengecut itu."
Jantung Elena berdegup kencang, kali ini bukan karena takut, melainkan karena getaran aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Sisi lembut Nicholas yang tiba-tiba muncul ini terasa jauh lebih berbahaya daripada senjatanya; karena sisi ini memiliki kekuatan untuk meruntuhkan tembok pertahanan yang telah Elena bangun selama bertahun-tahun.
"Lalu... apa statusku di rumah ini sekarang?" bisik Elena lirih.
Nicholas menarik kembali tangannya, memasukkannya ke dalam saku celana, dan kembali mengenakan topeng sedingin es miliknya.
"Kau tetap istriku, Alana Barrett di mata dunia. Dan di dalam rumah ini, kau adalah Elena wanita yang harus tetap berada di bawah pengawasanku sampai aku memutuskan sebaliknya. Sekarang, kembali ke kamarmu. Aku punya bisnis yang harus kuselesaikan."
Elena tidak membantah. Dia berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja itu dengan perasaan yang jauh lebih berkecamuk.
Dia tahu, mulai hari ini, segalanya telah berubah. Nicholas tidak lagi melihatnya sebagai sekadar bidak pengganti; pria itu telah melihat jiwanya yang sebenarnya.