NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: JILBAB LAMA DAN PERTEMUAN TAK TERDUGA

...BAB 25...

...JILBAB LAMA DAN PERTEMUAN TAK TERDUGA...

Malam itu, setelah membereskan sisa pekerjaan rumah, Alina masuk ke kamar tidur Ayahnya untuk mengambil selimut tambahan yang ia butuhkan. Kamar itu kini terasa lebih sederhana, hanya berisi perabotan seadanya dan beberapa kotak barang yang belum sempat ditata rapi. Saat ia membuka lemari tua di sudut ruangan, matanya tertuju pada sebuah bungkusan kain berwarna krem yang terlipat rapi di bagian paling atas.

Dengan hati-hati, Alina mengambilnya dan membuka lipatannya. Ternyata itu adalah jilbab lebar milik Kirana—yang sering ia lihat dikenakan wanita itu saat pergi ke luar rumah atau mengunjungi kerabat. Bahannya terasa lembut dan masih tercium wangi sabun yang samar, seolah baru saja dicuci beberapa waktu lalu.

Tanpa sadar, Alina membawa kain itu ke depan cermin kecil yang tergantung di dinding kamarnya sendiri. Dengan tangan yang masih agak canggung, ia melilitkan jilbab itu menutupi kepala dan lehernya, mengatur ujungnya agar terpasang rapi. Saat ia menatap pantulannya di cermin, hatinya terasa berdebar aneh.

Wajahnya terlihat lebih tertutup, lebih tenang, dan entah mengapa terasa lebih terlindungi. Pikiran tentang Raka dan teman-temannya langsung terlintas di benaknya. “Kalau aku memakai ini, mungkin mereka tidak akan mudah mengenaliku. Mungkin aku tidak akan menarik perhatian laki-laki asing lagi,” gumamnya dalam hati.

Ingatannya pun melayang kembali ke suasana sekolah lamanya. Di SMA elit itu, hampir semua teman perempuannya selalu mengenakan pakaian yang terbuka, ketat, dan minim bahan—sesuai dengan gaya hidup anak-anak orang kaya yang menganggap penampilan itu sebagai kebanggaan. Dulu, Alina juga berpikir demikian; ia merasa berharga dan dilihat orang hanya jika tampil cantik dan mengikuti tren. Namun kini, setelah mengalami kejadian buruk dan hidup dalam keterbatasan, ia merasa pandangannya berubah. Rasanya seperti ada perasaan tidak aman yang selalu menyertai dirinya saat berpakaian seperti dulu.

“Apakah aku hanya terlihat berharga jika terlihat menarik? Atau justru dengan menutup diri, aku bisa melindungi harga diriku sendiri?” tanyanya dalam hati, masih menatap pantulannya yang terbungkus kain lembut itu.

Belum sempat ia melepaskan jilbab itu, suara langkah kaki terdengar mendekat kamar Ayahnya.

“Alina? Masih belum tidur?”

Itu suara Aditya. Alina terkejut, wajahnya langsung memerah karena malu dan salah tingkah. Ia buru-buru ingin melepaskan kain itu, namun Ayahnya sudah masuk dan melihatnya lebih dulu.

Aditya berhenti sejenak, menatap putrinya dengan tatapan terkejut namun lembut. Ia tidak marah, hanya terlihat sedikit bingung melihat jilbab yang dikenakan Alina.

“Kamu… memakai kerudung milik Bu Kirana?” tanyanya pelan.

Alina menunduk dalam, jari-jarinya memutar ujung kain dengan gugup. “Maaf, Pah. Alina hanya iseng saja melihatnya di lemari, lalu mencobanya sebentar. Tidak ada maksud apa-apa.”

Aditya tersenyum tipis, lalu mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. “Tidak apa-apa, Nak. Kalau kamu merasa nyaman, tidak ada yang salah. Papa hanya heran saja.”

Ia lalu mengubah topik pembicaraan agar Alina tidak terlalu malu. “Ngomong-ngomong soal sekolah, kamu sudah memutuskan mau pindah ke mana? Besok Papa bisa mulai mencari informasi ke sekolah-sekolah terdekat.”

Alina mengangkat wajahnya sedikit, menggeleng pelan. “Belum, Pah. Alina masih bingung. Banyak sekolah, tapi Alina belum tahu mana yang cocok dan biayanya terjangkau.”

Saat menjawab, tiba-tiba sebuah nama terlintas jelas di benaknya: Yayasan Sekolah Al-Ahzar. Sekolah itu adalah tempat Dimas bersekolah tingkat SMP, dan kini juga tempat Farhan—kakak tingkat Dimas yang seusia dengannya, sama-sama kelas dua belas SMA dengan Alina. Sekolah itu dikenal tidak mahal, didominasi anak-anak dari keluarga sederhana, dan lingkungannya lebih tertib, dan agamis.

“Kalau aku bersekolah di sana, mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengan Raka dan teman-temannya. Lingkungannya pasti sangat berbeda,” pikir Alina. Namun, di sisi lain, ada rasa penasaran yang lebih besar. Ia ingin tahu bagaimana kehidupan Kirana dan Dimas sekarang, di mana mereka tinggal, dan apakah mereka baik-baik saja.

Pikiran itu terus berputar di kepalanya hingga ia tertidur.

Keesokan harinya, saat Aditya pergi ke toko kelontong sejak pagi, Alina memutuskan untuk keluar rumah. Kali ini, ia kembali mengenakan jilbab lebar milik Kirana yang tadi malam, memastikan wajahnya cukup tertutup namun tetap bisa melihat jalan dengan jelas. Ia berjalan kaki menuju arah yang masih ia ingat, tempat di mana dulu ia pernah mengantar Dimas pulang sekolah.

Sesampainya di depan gerbang Sekolah Yayasan Al-Ahzar, ia bersembunyi di balik pohon besar di seberang jalan, menunggu dengan sabar. Ia tidak berniat masuk, hanya ingin melihat apakah ia bisa melihat Dimas keluar, lalu mengikutinya dari kejauhan untuk mengetahui alamat tempat tinggal mereka sekarang.

Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi, dan siswa-siswa mulai berdatangan keluar halaman sekolah. Matanya berkeliling mencari sosok Dimas. Benar saja, tidak lama kemudian ia melihat pemuda itu berjalan bersama beberapa temannya, mengenakan seragam sekolah SMP yang rapi dan terlihat lebih dewasa dari terakhir kali ia melihatnya.

Jantung Alina berdegup kencang. Ia mulai melangkah perlahan, menjaga jarak aman agar tidak terlihat, berniat mengikuti Dimas hingga pulang nanti. Namun, langkahnya terhenti mendadak saat sebuah suara berat dan tidak asing terdengar tepat di samping telinganya.

“Kamu siapa? Sedang mengintip apa di depan sekolah ini?”

Alina terkejut setengah mati. Ia menoleh cepat, dan di hadapannya berdiri seorang pemuda bertubuh tegap, dengan sorot mata yang tajam namun terlihat tenang. Itu adalah Farhan. Ia mengenakan seragam sekolah yang sama dengan Dimas, dengan lencana ketua OSIS terpasang di bajunya.

Wajah Farhan mengerutkan kening, menatap Alina dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia merasa ada yang tidak asing dari sosok gadis berjilbab itu, namun belum bisa mengenalinya.

“Maaf… saya tidak mengintip apa-apa. Hanya lewat saja,” jawab Alina gugup, mencoba memalingkan wajah agar tidak dikenali.

“Lewat tapi berdiri diam di balik pohon selama sepuluh menit? Itu bukan sekadar lewat,” kata Farhan tegas, tidak percaya. Ia melangkah sedikit mendekat, membuat Alina mundur selangkah karena panik. “Kamu mengenal Dimas? Atau ada maksud tertentu mengawasinya?”

Alina terdiam, bingung harus menjawab apa. Jika ia mengaku, ia takut Farhan akan memberitahu Kirana dan Dimas, membuat mereka tahu ia masih mengikuti kehidupan mereka. Namun jika ia berbohong, rasanya semakin mencurigakan.

Di tengah kebingungan itu, Alina sadar bahwa rencananya gagal total. Ia tertangkap basah, dan kini dihadapkan pada situasi yang justru membawanya lebih dekat dengan lingkungan yang ingin ia ketahui—namun dengan cara yang tidak ia duga sama sekali.

 

Bersambung...

1
Kam1la
Alina, yang kuat yah...!
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
apakah hati alin perlahan menerima kehadiran Kirana dan Dimas
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak, ditunggu komennya. Krisan dari KK cantik 😍
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
lagian ngapain nikah lagi sih kalo ujung²nya kehidupan Dimas dan Kirana tetap sama bahkan menafkahi saja tampaknya jarang
Kayla Rane: lanjut terus k bacanya, nanti bakal ditemukan jawabannya..🤭 terimakasih komentar, dan likenya. 💞💞💞
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
sebenarnya si alin ini kayaknya peduli sama Kirana tapi dianya menyembunyikan rasa itu dan ditutup dengan rasa benci
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
jujur sebenarnya si alin emang agak nyebelin ya, tapi mungkin karna hati nya sudah beku jadi ya gitu 😕
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
pasti alin masih gak bisa terima kalo tiba² dia punya ibu baru yg cuma kerja jadi guru
falea sezi
😒 anak g tau diri bangke
Kayla Rane: sudah Bab 23 kk ditunggu komennya (Krisan dari KK cantik 😍)
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
hadiah nya sih keren, tapi nafkah setiap hari nya manaaaa? kata nya CEO, punya pulau pribadi 🤣🤣 sampai laptop rusak aja masih minta ganti, istri gak pegang uang samsek, hanya uang tabungan hasil usaha sendiri Pak Aditya gak punya gengsi kah? 🤣 atau Bu Kirana yg terlalu bodoh 🏃🏻‍♀️
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
lucu.. pelakuan Pak Aditya ke Bu Kirana dan Dimas, bukan seperti perlakuan seorang suami kepada istri, atau seorang ayah kepada anak, lebih seperti perlakuan kepada pembantu.
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak.. ditunggu komennya, (kritik sarannya KK)😍
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
looh tadi katanya jalan kaki, kok tiba2 ada mobil?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: wkwkwkwk.. sama2 kak thor
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak.. pak.. jangan jadi kepala keluarga pajangan donk, situ boleh bangga jadi ceo, tapi anak sambung dan istri diperlakukan begitu, sama aja harga diri kamu yg diinjak2 pak.. 🙏 kalau gak bisa melindungi mereka, mending gak usah dinikahi, toh kehidupan dimas dan kirana gak ada perubahan 😏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
papa nya aneh.. apa tujuannya menikah dengan Kirana? 🙄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
emang gak ada cctv apa? 😏 mustahal syekali 😌
Kayla Rane: Alina lebih pintar,sebelum buat fitnah dia matiin dulu cctv nya di ruang kerja papanya
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
kan udh punya suami kaya, kok suaminya masih membiarkan aja bu Kirana dan Dimas kesusahan, terlepas dari sikap Alina dan pernikahan yg disembunyikan, setidaknya beri kehidupan yg layak untuk istri dan anak sambungnya, nafkah yg layak untuk mereka..
Kayla Rane: iya kan dari awal bab, si Alina udah gak suka udah berpikiran buruk duluan sama ibu tirinya bahwa Kirana nikahin papanya pasti mau nguras harta papanya saja. jadi Kirana walau sudah nikah sama papanya Alina masih berpenampilan sederhana, agar bisa diterima Alina bahwa penilaiannya tentang kirana salah.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!