NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: JEJAK YANG TAK DISANGKA

...BAB 27...

...JEJAK YANG TAK DISANGKA...

Sepanjang perjalanan pulang setelah bertemu Farhan, pikiran Alina terus berputar. Ia sudah memantapkan hati untuk mendaftar di SMA Al-Ahzar—sekolah yang lingkungannya sederhana, religius, biayanya pun lebih terjangkau, dan jauh dari keramaian anak-anak orang kaya yang membuatnya selalu merasa tidak nyaman dan takut. Tempat itu terasa paling cocok untuk memulai lembaran hidup barunya.

Siang itu, setelah membereskan seluruh pekerjaan rumah, Alina berjalan kaki menuju toko kelontong milik ayahnya. Jaraknya hanya sekitar sepuluh menit, tidak terlalu jauh. Ia ingin segera menyampaikan keputusannya agar urusan pindah sekolah bisa segera diurus.

Namun, saat mendekati toko itu, langkah Alina terhenti. Melalui celah tirai pintu yang terbuka, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya sedang berdiri di hadapan ayahnya. Wanita itu mengenakan baju kurung sederhana berwarna biru muda, jilbabnya rapi menutupi kepala dan dadanya. Wajahnya terlihat sedikit lebih kurus dibandingkan terakhir kali dilihat, namun senyum lembut yang selalu menghangatkan hati tetap tergambar jelas di bibirnya.

Itu adalah Bu Kirana, istri ayahnya.

Jantung Alina berdegup kencang. Tanpa sadar ia segera bersembunyi di balik tiang listrik di pinggir jalan, mengintip dari balik sudut agar tidak ketahuan. Ia tidak berani masuk, takut kehadirannya akan mengganggu percakapan mereka.

Di dalam toko, Kirana meletakkan sebuah keranjang anyaman di atas meja kayu. Dari dalamnya masih terlihat uap hangat mengepul keluar, menandakan makanan di dalamnya baru saja dimasak.

“Mas, ini aku bawakan makan siang dan lauk untuk sore. Aku tahu Mas sibuk melayani pembeli sampai sering lupa waktu, jadi aku masak lebih banyak hari ini,” ujar Kirana dengan nada lembut dan penuh perhatian, memanggil suaminya dengan panggilan yang akrab dan mesra.

Aditya tersenyum lebar, menerima keranjang itu dengan tatapan penuh rasa syukur dan kasih sayang. “Terima kasih, Kirana. Kau memang selalu memikirkanku. Padahal aku sudah bilang tidak perlu repot-repot, tapi kau tetap saja datang.”

“Tidak perlu bilang begitu, Mas. Aku masih status istrimu. Dulu kita satu atap bersama selama enam tahun, dan sampai kapan pun, sudah berjalan tujuh tahun kebaikan yang pernah kita bagi tidak akan pernah hilang. Lagipula, aku kesini hanya ingin memastikan Mas makan dengan baik atau tidak, aku takut kamu jatuh sakit,” jawab Kirana lembut.

Aditya tersenyum haru. Lantas mengecup kening Kirana lembut. "Terimakasih banyak sayang, kamu selalu bersabar terhadap Alina dan pengorbananmu demi menjaga agar hubunganku dan Alina tetap utuh..."

Saat itu, percakapan mereka berlanjut, dan setiap kata yang terdengar sampai ke telinga Alina membuat hatinya berdebar campur rasa haru.

“Ngomong-ngomong, Mas_ Bagaimana kabar Alina sekarang? Aku sering memikirkannya, semoga dia baik-baik saja,” tanya Kirana dengan nada penasaran namun penuh perhatian.

Aditya mengangguk, wajahnya terlihat bangga sekaligus lega. “Dia berubah banyak, Kirana. Sungguh perubahan yang tak pernah aku duga sebelumnya. Dulu dia tidak tahu apa-apa soal urusan rumah, sekarang dia bisa memasak sendiri. Yaah walaupun masih tahap belajar, mencuci, membereskan rumah sendiri. Dia juga mulai lebih sabar, tidak lagi jutek dan keras kepala seperti dulu. Dia sedang berjuang keras menyesuaikan dirinya dengan kehidupan yang baru ini.”

Mendengar penjelasan itu, wajah Kirana bersinar cerah. Senyumnya terasa lebih tulus dan lega. “Benarkah? Alhamdulillah, aku senang mendengarnya, Mas. Aku selalu berdoa agar dia bisa menemukan jalan yang baik setelah semua yang terjadi. Hidup memang sering menguji kita dengan kesulitan, tapi justru itulah yang bisa mengajarkan kita arti kesederhanaan dan rasa syukur.”

“Kau benar sekali. Dia juga sudah memutuskan ingin pindah sekolah ke tempat yang lebih sederhana, agar tidak terbebani dengan lingkungan yang dulu membuatnya merasa berbeda,” tambah Aditya.

Obrolan mereka berlanjut sebentar lagi, hingga matahari mulai condong ke barat dan langit berubah menjadi warna jingga keemasan. Kirana berdiri perlahan, bersiap untuk pulang.

“Sudah sore, Mas. Aku harus segera pulang, nanti Dimas sudah menunggu di rumah. Ini satu bungkus lagi, khusus untuk Alina. Aku bungkus rapi agar tetap hangat. Tolong berikan padanya, tapi… jika dia bertanya dari mana, katakan saja beli di warung seperti biasa. Aku tahu, dulu dia sering membuang makanan yang ku masak tanpa menyentuhnya. Aku tidak ingin dia merasa tertekan atau terganggu mengetahui ini dariku,” pesan Kirana dengan suara lembut namun tegas.

Aditya mengangguk mengerti, menerima bungkusan itu dengan hati-hati. “Baiklah, Kirana. Aku mengerti. Terima kasih sekali lagi, Sayang.” ucapnya.

Kirana mengecup punggung tangan suaminya, lalu berpamitan dengan senyum manis. Kirana melangkah keluar toko dan berjalan menyusuri jalan setapak yang agak sepi, menjauh dari keramaian.

Alina yang masih bersembunyi di balik tiang itu merasa dadanya terasa sesak. Air matanya menetes tanpa disadari. Jadi selama ini, makanan yang sering dibawakan ayahnya ke rumah dan dikatakan “dibeli di warung” sebenarnya adalah masakan Kirana. Wanita itu tetap memperhatikan mereka, tetap mengirimkan kebaikan meski dulu ia sering diperlakukan buruk, dibentak, dan bahkan diusir secara kasar. Rasa malu dan bersalah mulai menyelimuti hatinya, namun di sisi lain ada rasa hangat yang perlahan menjalar di dada.

Tanpa berpikir panjang lagi, Alina memutuskan untuk mengikuti langkah Kirana dari kejauhan. Ia ingin tahu di mana mereka tinggal sekarang—sesuatu yang sudah lama ingin diketahuinya.

Dengan langkah yang pelan dan berhati-hati agar tidak terlihat, Alina berjalan mengikuti Kirana. Jalan yang ditempuh berkelok-kelok melewati gang-gang sempit, jauh dari jalan raya yang ramai. Sekitar lima menit berjalan kaki, Kirana akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan kecil di ujung gang.

Alina menahan napas dan mengintip dari balik pohon mangga yang rindang. Rumah itu terlihat sangat sederhana—dindingnya dari bata yang belum diplester rapi, atapnya dari seng yang sudah mulai kusam dimakan usia, dan halamannya sempit yang ditanami beberapa pot sayuran. Jauh berbeda dengan rumah mewah yang dulu mereka tempati bersama.

Namun, meski terlihat sederhana, rumah itu terlihat bersih, rapi, dan terasa hangat. Tidak lama setelah Kirana membuka pintu kayu, sosok Dimas keluar menyambutnya dengan senyum ceria. Ia segera membantu membawa keranjang belanjaan ibunya, lalu keduanya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu itu perlahan.

Alina masih berdiri diam di tempat, memandangi rumah itu dari kejauhan. Matanya berkaca-kaca melihat kenyataan ini. Ternyata mereka tinggal tidak jauh dari tempatnya—hanya berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari toko ayahnya. Selama ini mereka hidup dalam keterbatasan, namun tampak tenang dan bahagia, jauh dari kemewahan namun dipenuhi kehangatan yang dulu sering ia abaikan.

“Mereka baik-baik saja… dan mereka tidak pernah membenci kami,” gumam Alina pelan, menyeka air matanya dengan punggung tangan.

Ia berdiri cukup lama di sana, merasakan perasaan yang campur aduk—rindu, bersalah, namun juga lega. Sekarang ia tahu di mana keberadaan mereka, dan ia sadar bahwa kebaikan Kirana tidak pernah berhenti meski sudah terpisah jarak dan waktu.

Dengan langkah yang terasa lebih berat namun juga lebih tenang, Alina berbalik arah lalu berjalan pulang.

Bersambung...

1
Kam1la
tangkap saja si Raka
Kam1la
Raka pelakunya kah...?
Kam1la
semoga bu Kirana baik-baik saja
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ulah songong monyet.
Kayla Rane: 😂🤭 ulah emosi teuing
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
oh, terserah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tante
penulismisterius
sabar ya bu Kirana😞
nanti Alina juga perlahan luluh
penulismisterius: siap kak sama samaa😄😄
total 2 replies
Kam1la
Alina keren....
Kam1la
akhirnya, Alina menyadari juga
Kam1la
bu Kirana meski disakiti, hatinya tetap baik dan peduli
Kam1la
Alina mulai berubah
Kam1la
jujur saja Alina
Kam1la
kasihan Alina. ketakutan
Kam1la
nah kan, baru terasa kehilangan
Kam1la
akhirnya mau pulang juga
Kam1la
ayo, Alina pulang ke rumah
Kam1la
jangan pergi bu Kirana. ....
Kam1la
Alina pasti mau pulang ke rumah
Kam1la
untung ada Farhan... kamu datang tepat waktu Faran.
penulismisterius
kasihan Dimas, semoga Alina bisa akur dengan ibu tiri dan adiknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!