Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.
Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Tanpa Akhir
Di dalam kamarnya, Ezra sama sekali tidak bisa menenangkan pikirannya. Ia duduk di sofa, sementara tatapannya menghujam tajam ke arah Azizah yang sedang khusyuk menunaikan salat Isya. Begitu wanita itu mengucap salam terakhir dan melepas mukenanya, Ezra tidak lagi mampu membendung gejolak amarahnya.
Ia bangkit dengan satu sentakan dan mendekati Azizah yang masih duduk bersimpuh di atas sajadah.
“Kau!” Ezra menunjuk wajah istrinya dengan jari telunjuk yang gemetar karena menahan emosi.
Azizah mendongak, menatap Ezra dengan raut bingung sekaligus cemas.
“Kau yang mengadu pada Mama kalau aku masih berhubungan dengan Sienna, kan?” bentak Ezra.
Azizah tidak menjawab. Ia hanya menunduk dalam. Sikap diam itu bagi Ezra adalah sebuah konfirmasi yang menyulut api kemarahannya.
“Dasar pengadu!” tuduh Ezra dengan penuh penekanan, “Jangan pikir hanya karena Mama membelamu, kau bisa mengatur hidupku! Sejauh apa pun Mama menolak Sienna, aku pasti akan tetap mempertahankannya. Dan kau!” Ezra mencengkeram dagu Azizah, memaksanya menatap matanya, “Kau pernah berkata prinsip hidupmu adalah menikah satu kali, bukan? Maka biarkan aku yang memutus prinsip konyolmu itu!”
Azizah menahan isak tangis yang mulai mendesak tenggorokannya. Hatinya perih mendengar ancaman yang begitu kejam keluar dari mulut suaminya sendiri.
“Prinsip sialan! Jika memang menikah hanya satu kali, lalu pengadilan agama gunanya apa?!” Ezra melepaskan dagu Azizah dengan kasar. Ia menatap pintu yang tertutup rapat, memastikan tidak ada orang di luar sana, “Saat waktunya tepat dan kesehatan Mama stabil, aku akan menceraikanmu dan menikahi Sienna. Jika saja Mama tidak di sini, aku tidak sudi tidur sekamar denganmu!”
Ezra menunjuk lantai dengan tatapan merendahkan, “Kau tidur di lantai! Jangan sampai menyentuh tempat tidurku sedikitpun!”
Setelah meluapkan amarahnya, Ezra naik ke tempat tidur, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan kasar, dan memunggungi Azizah.
Masih di atas sajadah, Azizah meremas dadanya sendiri dengan kuat. Ia memejamkan mata. Memaksakan diri agar tidak menangis. Ia tidak boleh lemah, ia tidak boleh membiarkan Ezra melihat betapa hancurnya ia saat ini.
Dengan napas yang diatur sedemikian rupa, Azizah bangkit. Ia melipat mukena dan sajadahnya, lalu menggantungkannya. Ia kemudian membuka rak lemari paling bawah untuk mencari selimut dan alas tidur cadangan. Dengan gerakan pelan agar tidak mengeluarkan suara, ia membentangkan alas itu tepat di samping tempat tidur Ezra.
Azizah membaringkan diri di atas lantai yang dingin dan membelakangi pria yang telah resmi menjadi suaminya. Ia mencoba memejamkan mata di tengah badai perasaan yang tidak kunjung reda.
......................
Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika suara alarm ponsel Azizah memecah kesunyian kamar. Ezra yang tengah terlelap langsung tersentak. Matanya terbuka dengan sorot tajam penuh kekesalan.
“Berisik!” sentak Ezra sambil menendang alas tidur Azizah di lantai.
Azizah yang baru saja mengumpulkan nyawa, hanya bisa menguatkan hati. Tanpa respons apa pun, ia bangkit dari alas tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi.
Ezra yang terlanjur terjaga, emosinya tidak lagi bisa diajak kompromi untuk kembali tidur. Dengan perasaan dongkol yang tertahan di dada, ia bangkit dari tempat tidur, dan melangkah keluar kamar. Ia butuh pelarian. Berkas-berkas pekerjaan di ruang kerja adalah satu-satunya tempat yang bisa membuatnya melupakan keberadaan Azizah.
Namun keberuntungan tidak berpihak padanya pagi ini. Saat pintu kamar tertutup, pintu kamar Amisha ikut terbuka. Sang ibu keluar dengan wajah khas orang bangun tidur.
“Ezra? Mau ke mana sepagi ini?” tanya Amisha heran.
“Ada pekerjaan mendesak yang harus aku selesaikan di ruang kerja, Ma,” jawab Ezra sambil berusaha menutupi kekesalannya.
“Sepagi ini?” Amisha mengerutkan kening.
Ezra memaksakan senyumnya agar ibunya tidak curiga, “Ya, Ma. Mama sendiri mau kemana?”
“Mama mau ke bawah, mau ambil air hangat lalu salat subuh. Kau sebaiknya salat subuh berjamaah saja dengan Azizah. Mama yakin dia pasti akan sangat bahagia jika suaminya yang mengimaminya.”
Ezra hanya tersenyum tipis, sebuah gestur formalitas yang dipaksakan, “Iya, Ma.”
Amisha kemudian berlalu menuju lantai bawah, meninggalkan Ezra yang segera mengubah ekspresinya menjadi sinis.
Persetan dengan menjadi imam! Batinnya geram. Melihat wajahnya saja aku sudah tidak sudi, apalagi harus berdiri berdekatan di atas sajadah.
Tanpa memedulikan nasihat ibunya, ia melangkah lebar menuju ruang kerja, dan mengunci diri di sana demi menghindari interaksi apa pun dengan istrinya.
Sementara di dalam kamar, Azizah yang keluar dari kamar mandi terkejut saat mendapati tempat tidur Ezra kosong dan pria itu tidak ada di mana pun. Ia menatap pintu kamar yang tertutup rapat dengan tatapan nanar. Ia tahu Ezra pergi karena marah padanya.
Ya Allah, berilah hamba kesabaran, bisiknya dalam hati.
......................
Suasana pagi di dapur terasa tenang. Azizah dengan telaten mencuci beras, sementara Amisha sibuk menatap layar ponselnya untuk mencari inspirasi menu sarapan. Di luar sana, Ezra sudah lama pergi melakukan joging rutinnya setelah menghabiskan waktu di ruang kerjanya.
“Astaga, sarapan apa yang kita buat hari ini ya, Zah? Mama bingung sekali,” keluh Amisha sambil menghela napas.
Azizah memasukkan inner pot ke dalam rice cooker dan menekan tombol masak. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, lalu mengetik sesuatu dengan jemari yang lincah.
‘Sebenarnya Azizah sempat berpikir sayur bening bayam. Apa Mama suka?’
Mata Amisha berbinar antusias, “Itu pasti lezat! Mama sudah jarang sekali memakannya. Ditambah tempe goreng pasti akan sempurna. Kita buat itu saja, ya?”
Azizah mengangguk setuju dan bergegas menuju kulkas untuk mengambil bayam yang ia beli di supermarket waktu itu. Namun saat ia kembali, Amisha tampak diam mengamatinya dengan tatapan yang menyelidik. Amisha berdehem pelan, membuat Azizah menghentikan gerakannya.
“Zah, Mama mau tanya,” suara Amisha terdengar lebih serius, “Tadi subuh... Mama bertemu Ezra saat dia keluar kamar. Aneh sekali rasanya kalau harus mengerjakan tugas sepagi itu, apalagi di hari Minggu. Lalu... apa kalian tadi bertengkar?”
Jantung Azizah berdegup kencang. Ia memutar otak, mencari alasan yang masuk akal agar tidak membuat mertuanya khawatir. Ia meletakkan sayur bayam di meja, lalu meraih ponselnya lagi.
‘Kami tidak bertengkar, Ma. Tadi Mas Ezra memang benar ada pekerjaan yang sangat mendesak.’
Amisha menatap lurus ke mata menantunya, masih menyimpan sisa keraguan di sana. Azizah segera mengetik lagi, memberikan penekanan.
‘Sungguh, Ma.’
Di dalam hati, Azizah terus memohon ampun pada Allah karena terpaksa membohongi wanita sebaik Amisha. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan mertuanya dengan masalah rumah tangganya.
Melihat ketenangan di wajah menantunya, senyum pun akhirnya kembali terbit di bibir Amisha. Ia segera mendekat dan memeluk Azizah dengan hangat.
“Maafkan Mama, ya, kalau pertanyaan Mama membuatmu terbebani. Mama hanya tidak ingin melihatmu mengalami sesuatu yang buruk. Mama sangat menyayangimu, Azizah.”
Azizah tersenyum tulus, lalu mengangguk dalam pelukan itu. Ada rasa haru yang menyelinap, sekaligus rasa bersalah yang semakin menumpuk di pundaknya. Ia hanya bisa berharap pada kemustahilan, bahwa suaminya bisa segera menerimanya.