"Aku pikir setelah bertemu denganmu aku akan bahagia, tapi yang aku dapatkan hanya kecewa!"
Namun, awal pertemuan yang diharapkan akan menjadi kesan indah yang membahagiakan, justru berbanding terbalik saat Eva mengetahui siapa orang yang selalu ada untuknya. Akankah cinta itu hadir kembali dalam hidupnya, atau hanya akan menjadi kenangan saja?
Ilustrator: Sky_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamila Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu! gadis cantikku.
Pagi kembali menyapa, setelah beberapa jam yang lalu Eva menghabiskan waktu bersama dengan Yudi sampai subuh tiba.
"Kamu yakin mau masuk kerja Ev?" tanya Yudi.
"Iya!"
"Ya udah, sarapan dulu sebelum berangkat, nanti aku anterin ngambil baju kamu di kosan."
Setelah acara makan malam berdua bersama Yudi yang cukup romantis itu, Eva memilih ikut ke apartemen Yudi. Karena jika dia pulang ke kosan, sudah pasti mengganggu.
Eva menikmati sandwich yang sudah tersaji di meja makan.
"Yud," panggil Eva. Yudi memandang Eva yang duduk di hadapannya.
"Makasih ya," gumam Eva sambil memalingkan muka. Yudi tersenyum, karena pipi gadis itu tampak merona.
"Sama-sama... kamu tidak usah sungkan sama aku. Kalau ada apa-apa tinggal cerita. Bukankah kita...." Yudi tidak melanjutkan perkataannya, karena Eva tiba-tiba memandang tajam padanya.
"Kita apa? Kenapa tidak di lanjutin," ujar Eva ketus.
"Gak jadi."
Eva menodongkan garpu nya tepat di hadapan wajah Yudi, seraya berkata.
"Cepetan bilang, kalau tidak garpu ini aku tusukin ke mata kamu," ancam Eva. Bukannya takut, Yudi malah tertawa. Dia benar-benar senang, Eva sama sekali tidak berubah walaupun mereka pernah lama berpisah.
Dengan tenang, Yudi mengambil garpu itu dari tangan Eva dan menaruhnya kembali di piring.
___
Setelah sarapan selesai, Eva menunggu Yudi yang tengah bersiap-siap di kamarnya. Eva merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu sambil menonton TV.
Saat Yudi keluar dan sudah siap untuk mengantar Eva ke tempat kerja, pemuda itu di buat terkejut. Pasalnya kini Eva tertidur di sofa dengan lelapnya. Wajah yang teduh itu, tidak mungkin Yudi mampu mengganggunya.
Yudi pun ikut duduk di sofa dan bersandar. Dari dulu sampai sekarang, kenapa cintanya tidak pernah pudar untuk gadis itu. Yudi mengusap wajahnya kasar. Apa yang harus dia lakukan? Tinggal berdua dengan gadis yang dia cintai, pikirnya.
Berbagai pikiran kotor singgah di benaknya, namun buru-buru dia tepis.
Karena semalam keduanya tidak tidur, sehingga pagi ini Yudi pun merasa ngantuk. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di karpet, tepat di bawah sofa yang Eva tiduri.
Yudi mulai memejamkan mata. Rasa kantuk yang menyerang tidak dapat dia hindari. Mungkin sebaiknya tidur sebentar, sambil menunggu Eva bangun, pikirnya.
___
Masih dalam keadaan mata tertutup, Eva mengusap-usap perutnya. Gadis itu mencoba untuk duduk, dan meraba-raba ponselnya yang entah di mana dia simpan.
"Aku dimana," batinnya. Eva mencoba mengenali tempat itu.
"Sejak kapan aku tidur?" Selain memegangi perutnya, dia juga memegangi kepala sedikit memijat, karena terasa sakit dan berat.
Masih belum sadar dia ada di mana. Eva mencoba berdiri hendak mencari jalan keluar. Namun tidak sengaja dia menginjak Yudi yang tengah tertidur. Pemuda itu terkejut dan sedikit menahan sakit.
Sedangkan Eva jatuh terlentang karena tidak bisa menahan keseimbangan. Kepalanya terbentur keras ke lantai, Eva tidak bisa bangun lagi.
Yudi yang masih menahan sakit segera menghampiri gadis itu. Rasa sakit di kakinya dia kesampingkan.
"Eva, kamu tidak apa-apa," tanyanya panik.
Yudi khawatir, karena Eva tidak beranjak bangun, bahkan tidak membuka mata. Di panggil pun tidak ada jawaban. Yudi teramat panik, dia tidak bisa berpikir jernih. Dia menangis dan memeluk Eva dengan erat.
"Jangan tinggalin aku Ev... aku sayang kamu. Sungguh! Aku janji, aku tidak akan tinggalin kamu lagi... Kumohon bangun," rengek Yudi.
Lalu, saat air mata Yudi menetes membasahi pipi gadis yang ada di pangkuannya, dia pun membuka mata perlahan dan berkata lirih.
"Kepalaku sakit, Yud."
"Aku akan bawa kamu ke rumah sakit," ujar Yudi. Pemuda itu sudah bersiap untuk menggendong Eva, namun gadis itu menolaknya. Dan meminta untuk di baringkan kembali di sofa.
Tapi Yudi tidak tega, dia pun membawa gadis itu ke dalam kamarnya, membiarkannya beristirahat tanpa mengganggunya.
Yudi duduk di samping tempat tidurnya. Membiarkan kepalanya bersandar di dekat tubuh Eva. Agar Eva bisa lebih mudah membangunkannya jika membutuhkan sesuatu.
Eva membelai wajah itu dengan lembut tanpa meliriknya. Pandangannya lurus ke atas memandangi langit-langit kamar yang seakan kian jauh di jangkau. Yudi merasakan tangan lembut itu menyentuh wajahnya, membiarkannya dalam diam.
"Yud," panggil Eva lirih.
"Ada apa," tanya Yudi masih dalam posisi yang sama.
"Aku rasa punggungku panas, bantu aku untuk tukar posisi, Yud!"
"Baiklah." Yudi membantu Eva untuk memiringkan badannya, setelah di rasa cukup Eva meminta Yudi untuk menggenggam tangannya. Dan Eva kembali memejamkan matanya lagi.
"Cepat sembuh ya, nanti aku akan ajak kamu ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya," ujar Yudi.
"Kamu jangan suka mengumbar janji, nanti tidak bisa tepati janji, aku akan kecewa banget sama kamu."
Yuda membawa tangan Eva ke dadanya, dia pun menciumi tangan itu dengan hangat.
"Aku tidak akan mengingkari janji. Asal kan kamu sudah sembuh, aku akan langsung bawa kamu ke tempat yang kamu mau." Yudi meyakinkan Eva dengan pasti.
Namun, Eva malah menangis. Yudi pun bingung dengan gadis itu, padahal dia tidak berbuat apa-apa.
"Kamu kenapa nangis?" Yudi mengusap air mata Eva.
"Aku tidak tahu, jangan menatapku seperti itu!" Eva menutup mata Yudi dengan telapak tangannya.
Yudi tersenyum bahagia, akhirnya Eva bisa kembali luluh padanya.
"Kalau kamu ingin nangis, nangis aja. Aku tidak akan lihat kamu," ujar Yudi.
___
Satu jam berlalu, Yudi sudah membuatkan makanan untuk Eva. Sambil menunggu gadis itu terbangun, Yudi memainkan ponselnya yang sedari pagi dia simpan di saku jaketnya.
Iseng, pemuda itu mengambil foto Eva secara diam-diam. Yudi tersenyum sendiri, melihat betapa manis dan cantiknya wajah polos Eva tanpa polesan makeup. Teduh menenangkan hati. Sampai-sampai dia jadikan wallpaper layar utama ponselnya.
Lalu Eva membuka mata, gadis itu curiga dengan pemuda yang kini tengah memainkan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri. Eva tidak menegur pemuda itu, dia hanya mengawasi gerak-geriknya dalam diam.
Karena terlalu lama menunduk, Yudi merasa pundaknya terasa pegal. Dia pun berhenti memainkan ponselnya dan meregangkan otot-ototnya, saat dirinya menengokan kepala ke arah kanan, dia dibuat terkejut dengan tatapan seorang gadis yang masih terbaring di atas tempat tidurnya.
"Eva! Sejak kapan kamu bangun," tanya Yudi membenarkan duduknya.
"Udah lama," jawabnya singkat.
"Kenapa tidak bilang? Aku udah siapkan bubur untuk kamu." Yudi membuka bubur yang sudah dia taruh di termos kecil agar panasnya tidak hilang.
"Asik banget main HP-nya," ledek Eva.
"Kamu cemburu sama HP? Mau tau gak aku tadi lihatin apa?"
"Tidak! aku tidak mau lihat. Dan aku tidak mau tahu kamu senyum-senyum sendiri karena apa. Aku tidak peduli!"
"Kamu yakin...? Padahal aku tadi lagi liatin cewek cantik tahu," ujar Yudi menggoda.
Eva berdecih dalam ketidak-berdayaannya, biasanya dia tidak selemah ini menghadapi laki-laki.
Dan Yudi menertawai Eva yang sudah terlihat kesal, namun tidak bisa di luapkan.
"Sudah jangan di bikin kesal, ini lihat!" Yudi memperlihatkan layar ponselnya yang menyala, agar Eva tidak salah paham akan perkataannya tadi.
"Sekarang kamu sudah tahu kan? Udah gak kesal lagi," tanya Yudi.
jangan patah semangat ea thoor 😘
ohyaa, akuu jugaa writtrer lohh btw, bisaa juga kalian baca ceritakuu, namanya "My Girlfriend Is Mafia". Mohon dibacaa yaa eehhehehee.. Makasi bangett bagi yang sudah nyempetin baca 😊😊
semangat buat thor nyaa!! 💪💪
salam dari: Monopoli Cinta Tuan Muda.
Mari saling mendukung ☺
suka...🤩🤩🤩