NovelToon NovelToon
Istri Cantik Tuan Presdir

Istri Cantik Tuan Presdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Asti Amanda

Lanjutan dari novel: Wanita Cantik Tuan Muda Dingin.
__________

Setelah melewati banyak waktu dan masalah. Raka sang CEO termuda di perusahaan Welfin telah berhasil menemukan kekasihnya dan bahkan tak menyangka jika kekasihnya itu memberikan sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan.

Namun masalah kembali datang dari istri tercinta yang memiliki Kepribadian Ganda. Karena itulah Raka mencoba menyembuhkan Sovia dan mulai belajar untuk menjadi Suami idaman untuk sang istri.

Akan tetapi seseorang mulai meneror keluarga kecilnya dan bahkan mencoba menyingkirkan satu persatu keluarga dekatnya. Hal ini karena perebutan harta waris di masa lalu di keluarga Welfin. Dapatkah Raka melindungi sang Istri dan kedua anak kembarnya, serta menyembuhkan mental Sovia?

Yuk kita simak perjuangan Raka dalam menyembuhkan Sovia dan perjuangannya menyelesaikan masalah yang silih datang berganti di keluarga kecilnya Raka.

Baca sampai selesai ya ^^
Terima kasih~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Pengen Adek Kecil!

...[Beri like dan vote]...

Sementara di kediaman Welfin. Terlihat Dean di kamarnya nampak ia sedang tengkurap di atas ranjang sambil melihat ponselnya.

Ia sebenarnya merasa jenuh berada di rumah sendirian. Terlihat ia memukul-mukul kakinya merasa jengkel tak dapat bermain dengan siapa pun.

"Hiks, rasanya pengen gigit ponsel ini. Tak ada siapa-siapa yang bisa ku ajak bermain sekarang," keluh Dean kini terbaring melihat langit-langit kamarnya.

"Kalau begini, lebih baik aku ikut sama Mami dan Papi tadi." lanjut Dean melihat ponselnya.

"Oh ya, telpon kak Deva lagi deh, hihi ...." Dean cekikikan melihat ponselnya. Ia pun duduk sambil mencari nomor Deva. Setelah menemukan nomor kakaknya, ia langsung menghubunginya.

Tuuuuuuuutt.

Suara panggilan tersebut masih belum terhubung membuat Dean mulai tak sabar ingin sekali menggigit ponselnya.

"Iiih, kak Deva mana sih!" cetus Dean tak karuan sambing memonyong-monyongkan mulutnya.

Tuuuuuuut.

Sekali lagi panggilan belum juga terhubung dan itu membuat Dean bertambah kesal.

"Aaaaaa ... Kak Deva ngeselin!" pekik Dean berdiri di atas kasurnya sambil menyilangkan tangan.

"Hiks, padahal pengen cerita-cerita lagi. Tapi dia tadi matiin karena nggak boleh main ponsel terlalu lama. Terus, aku mau ngapain di sini." keluh Dean kembali duduk sambil memberontak di atas kasurnya merasa jengkel.

"Kesel! Kesel! Kak Deva ngeselin!"

"Hiks, nggak ada teman buat diajak main." lanjutnya merengek manja sambil menggigit bantalnya.

"Ish! Ini Papi juga! Katanya aku punya adek kecil, terus adeknya mana? Kenapa belum dijemput juga cih!" cetus Dean masih saja berceloteh-celoteh di atas kasurnya.

Tiba-tiba saja, suara ponselnya terdengar bergetar.

Drrtt ... Dertt

Ternyata ada panggilan masuk dari ponselnya. Dean pun segera mengambil ponselnya lalu melihat si pemanggil. Dean terlihat tersenyum miring melihat nama si pemanggil adalah kakaknya sendiri.

"Hihihi ... Kak Deva," Dean cekikikan melihatnya, ia pun segera menjawab panggilan itu dengan kegirangan.

"Halo, Kak Deva!" lanjut Dean mulai bicara duluan.

"Astaga! Bisakah kamu bicara dengan lembut. Telingaku sakit tau!" cetus Deva menjawab Dean. Terdengar bocah itu mendesis kesal mendengar teriakan adiknya.

"Hihihi ... biarin, wleek!" Dean meledek kakaknya lalu ia duduk dengan baik-baik di atas kasurnya.

"Oh ya, kenapa menghubungiku lagi?" Deva mulai bertanya apa tujuan Dean menghunginya.

"Temani aku ngobrol." jawab Dean terdengar lesu.

"Lah? Kan tadi kita sudah cerita-cerita." Deva terlihat mengernyit heran.

"Ya, kan itu tadi. Sekarang beda lagi, aku mau ditemani." ujar Dean terdengar sedih.

"Terus, apa lagi yang ingin kamu bicarakan sekarang?" tanya Deva.

Terlihat bocah itu lagi duduk di atas brankarnya sambil menatap jendela di depannya yang memperlihatkan suasana di luar rumah sakit.

"Ya terserah, mau bicara apa. Yang jelas temani aku." ucap Dean yang juga menatap jendelanya.

"Hm, jadi?"

"Iish, Kak Deva cerita lagi dong." celetuk Dean merasa mulai kesal.

"Ya mau cerita apa lagi? Kan sudah ku ceritakan tadi." jawab Deva dengan suara santainya.

"Iiish, sudahlah. Kak Deva lebih baik banyak istirahat saja. Aku matikan panggilannya saja. Dah Kak Deva." ucap Dean langsung mematikan panggilan itu dan membuat Deva cuma bisa menggaruk kepalanya.

"Lah? Apa dia lagi ngambek?" Deva pun meletakkan ponselnya yang telah dibelikan oleh Kakeknya sendiri.

Bocah itu mulai membaringkan tubuhnya lalu menatap langit-langit ruangannya.

"Selama ini aku bisa mendengar isi hati orang lain dan juga dapat melihat makhluk astral. Tapi kenapa Dean tak memilikinya?"

"Hm, mungkin karena Dean nakal jadi tidak dikasih sama Tuhan. Hehe ... bagus juga kalau punya kemampuan ini. Aku bisa tahu maksud setiap seluk beluk isi hati orang lain." Deva tersenyum smirk merasa senang memikirkan dirinya yang punya kelebihan seperti Ayahnya. Ia pun memejamkan mata untuk menenangkan dirinya.

Sedangkan Dean, gadis kecil itu sedang mengamuk di kamarnya.

"Hiks, huaaa ... Dean pengen adek kecil!" teriak Dean memberontak di atas kasurnya.

"Papi bohong! Katanya Dean punya adek tapi sekarang belum ada! Papi bodoh!" bentak Dean melihat foto dirinya serta keluarga lainnya. Tatapannya tertuju pada foto Raka yang merangkul Ibunya sambil tersenyum.

"Iiiiihhhh ... Papi ngeselin! Pengen ditampol! Ngeselin, kesel, kesel!" ronta Dean memberontak.

Para pelayan yang hadir dikamarnya, mereka datang untuk memanggil anak majikannya itu untuk turun makan siang.

"Nona kecil, sudah waktunya Nona makan siang." ucap salah satu dari mereka.

"Tidak mau! Dean maunya adek kecil!" tolak Dean bersembunyi dibawah selimutnya.

"Tapi, Nona. Ini waktunya Nona makan. Jika tidak, Nona akan sakit." ucap pelayan itu lagi.

Sontak Dean langsung keluar dari selimut lalu menatap sinis ke arah beberapa pelayan.

"Dean bilang nggak mau! Jadi kalian keluar saja!" bentak Dean sambil menunjuk ke arah pintu.

"Maafkan kami, Nona. Ini sudah ketentuan dari Tuan Muda agar Nona mematuhi dan menjaga pola makan dan waktu makan Nona." ucap pelayan itu lagi.

"Dean tidak mau ya tidak mau!" bentak Dean lagi sambil meracau di atas ranjangnya. Ia begitu kesal hari ini.

Tiba-tiba seseorang mendehem dari arah pintu kamarnya. Terlihat Pak Sam tersenyum manis ke arah anak kecil menggemaskan itu.

"Ekhm, maaf Nona. Nona sebaiknya menuruti mereka. Semua ini untuk kebaikan Nona juga." ucap Pak Sam berjalan mendekatinya.

Dean pun langsung turun dari ranjangnya lalu mulai merengek manja pada Pak Sam.

"Hiks, Kakek Sam. Dean nggak mau makan kalau nggak ada adek kecilku," lirih Dean mendongak memperlihatkan wajah menyedihkan.

Pak Sam yang mendengarnya merasa kikuk. Ia tak menyangka Dean meminta hal itu.

"Kakek Sam, bawakan Dean adek kecil. Dean mau bermain bersamanya. Kata Papi tahun ini Adek kecilku bakal ada di rumah ini tapi sampai sekarang belum ada. Huaaa ...." Dean mulai menangis manja.

"Kakek Sam, bawa Adek Dean ke sini. Dean kesepian nggak punya teman, hiks." Isak Dean masih berlagak manja.

"Ahaha ... kalau itu Nona seharusnya bilang ke orang tua Nona." ucap Pak Sam terlihat bodoh.

"Hiks ... hiks, Papi setiap hari sibuk. Nggak bisa main sama Dean. Terus Mami juga sibuk. Dean nggak punya teman main, hiks. Kalau ada Kak Deva, dia juga nggak bisa diajak main. Kak Deva ngeselin."

Dean tak henti-hentinya berceloteh manja di depan Pak Sam.

"Astaga, dia ternyata sangat mirip dengan Ayahnya dulu."

Pak Sam tak habis pikir dengan tingkah Dean yang mirip dengan Raka dulu yang juga manja pada Ibunya ingin punya adik. Tapi Nyonya Dina dulu sudah tak bisa melahirkan setelah mengalami kecelakaan.

"Huaa ... bosen, bosen! Dean pengen adek kecil." Dean meronta-ronta di atas kasurnya membuat para pelayan cuma bisa geleng-geleng kepala.

Pak Sam pun keluar lalu ia ke arah telpon rumah lalu menghubungi seseorang.

"Kasih tahu Nyonya muda untuk pulang ke sini. Nona kecil tidak ingin makan dan selalu memberontak." ucap Pak Sam pada panggilan itu.

"Baiklah." ucap seseorang dari sebrang panggilan yang tak lain adalah Willy yang lagi duduk melihat beberapa dokumennya.

Panggilan itu pun berakhir lalu Willy pun beranjak keluar dari ruangannya lalu menuju ke tempat Sovia.

Terlihat Sovia yang sibuk dengan komputernya. Ia tiba-tiba dipanggil oleh Willy yang sudah berdiri di depan mejanya.

"Maaf, Nona Sovia. Anda sebaiknya pulang ke rumah. Nona Dean menangis dan tak ingin makan siang." tutur Willy menjelaskan kedatangannya.

Sovia langsung berdiri karena terkejut mendengarnya. Ia mulai kuatir dengan putrinya itu.

"Baiklah, kalau begitu tolong antarkan aku pulang, Asisten Willy." ucap Sovia membereskan pekerjaannya.

Willy cuma menunduk mengerti. Keduanya pun langsung berjalan menuju ke pintu utama perusahaan lalu masuk ke dalam mobil.

Karyawan yang melihat Sovia dekat dengan Willy akhirnya gosip baru mulai menyebar dan beranggapan jika Sovia memang wanita penggoda. Karena bukan cuma Presdirnya saja yang Sovia dekati dan itu membuat Anita yang mendengarnya agak kesal.

"Hei, kalian! Jangan membuat gosip yang aneh-aneh!" bentak Anita berdiri sambil melototi mereka.

Para karyawan yang melihatnya tak memperdulikan Anita. Mereka malah mengabaikan Anita dan melanjutkan pekarjaan mereka masing-masing.

"Ck, ternyata digosipkan itu memang tak baik. Aku yang cuma mendengar mereka menggosipi Sovia, malah aku yang naik darah. Bikin kesel saja!" cetus Anita duduk kembali sambil melihat komputernya.

"Em, tapi kalau dilihat-lihat tadi, Asisten Willy cakep juga."

Ternyata Anita mulai memikirkan Willy, terlihat ia senyum-senyum sendiri di depan komputernya dan itu membuat para karyawan yang melihatnya merasa ngeri karena beranggapan jika Anita sedang kesurupan.

_____

Bersambung ....

Terima kasih sudah membaca.

Jangan lupa tinggalkan jejak biar author semangat!

Caranya itu Like, komen, vote ya.

See You All❤

1
caca
kayaknya pelaku kecelakaannya pak Hendra sih
arfan
up
Anonim
Anita lu gk tau diri
Aurora Almera
lanjut kakak
Ana Uhibbuka Fillah
aku mampir thor
Ernita Anggara
thor lia kn profesor... d awal baca dy kn yg membantu si tian Al....
Ernita Anggara
mata merah jangan2 it ayah nya mira. ato saudara ayah nya mira... y kan thor
uhuuuyyy
akyuuu sukaa cerita nyaa...maachii yaa thoor...selamat..karyamu sungguh menarik..hebaatttt😍😘
uhuuuyyy
ooh ikut bahagia thoor😍😍
uhuuuyyy
semakin seru
uhuuuyyy
apakah itu kakaknya mira
uhuuuyyy
haduuh perutku mules ngekek aja
uhuuuyyy
uhuuyyyyu coo cuiiit ..anita n willy😘😘😍😍
uhuuuyyy
haizzzh pasti modus ini si mira n liana n kevin🤭
uhuuuyyy
papa hendra mau menguasai harta keturunan welfin kyk nya
uhuuuyyy
pasti dalang di balik pertengkaran paman Al rachel dan ayahnya welfin adalah papa hendra..
uhuuuyyy
waah pak hendra gk beres niich
uhuuuyyy
ikutan tegang thoor🙈
uhuuuyyy
bahagia nyaa mrk bersatu dan berkumpul lagi😍
uhuuuyyy
berati Raka putra nya tuan Al...makanya Raka sperti tuan Al bisa melihat makluk astral
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!