Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI TERBONGKAR
Joe tiba di rumah Arthur saat mulai larut malam. Seperti biasa, ia langsung mendorong pintu dan masuk tanpa mengetuk sedikit pun. Di ruang tamu yang nyaman itu, Arthur sedang sibuk menatap layar laptop di pangkuannya. Begitu menyadari kedatangan Joe, ia langsung mendengus kesal dan meletakkan alatnya perlahan di meja.
"Kebiasaan loe nggak pernah berubah, Joe. Kenapa nggak pernah mengetuk pintu dulu?" omel Arthur sambil menatapnya dengan tatapan tak suka.
Joe hanya tertawa kecil lalu berjalan santai mendekati sofa. "Terus kenapa pintu rumah loe juga nggak pernah dikunci? Kalau dikunci, gue pasti mengetuk."
Arthur menggeleng sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Gue sengaja nggak mengunci karena nggak akan ada orang yang berani sembarangan masuk ke rumah gue. Kecuali orang itu memang sengaja cari masalah dan mau babak belur."
Joe langsung duduk di sebelah Arthur, menatapnya dengan wajah yang kini lebih serius. "Ada tugas tambahan. Loe harus ikut bantu gue mengawasi mama Billy."
Mata Arthur terbelalak kaget. "Mama Billy? Lo yakin? Itu bisa jadi boomerang besar buat kita, Joe. Kalau ketahuan, bahayanya bukan main."
Joe menggeleng pelan, lalu menepuk bahu sahabatnya itu dengan tenang. "Tenang dulu. Ini justru peluang bagus untuk kita. Semakin dekat kita mengawasi mereka, semakin dalam kita bisa masuk ke dunia mereka. Dan itu artinya semakin dekat gue untuk membalaskan dendam gue."
Arthur terdiam, menimbang kata-kata Joe. Wajahnya masih tampak ragu namun ia tahu betul betapa besarnya keinginan Joe untuk menuntut balas.
"Malam ini gue menginap di sini," ucap Joe tiba-tiba. "Besok hari Minggu, libur, nggak ada kegiatan apa pun di kampus."
Arthur mengomel sambil menatapnya. "Rumah loe kan besar, lengkap segala fasilitasnya. Kenapa harus tidur di sini?"
Joe terdiam sejenak, seakan ada sesuatu yang baru saja terlintas di benaknya. Tatapannya berubah jauh lebih dalam dan serius dari sebelumnya. "Karena itu, gue jadi teringat sesuatu. Besok malam, loe ikut gue pergi ke rumah lama gue — tempat di mana semua peristiwa tentang ayah gue terjadi."
Arthur menatapnya heran. "Rumah lama loe? Kenapa mendadak ingin ke sana?"
Joe menatap lurus ke depan, suaranya rendah namun penuh keyakinan. "Gue penasaran. Sudah lama gue nggak ke sana. Mungkin saja ada sesuatu yang selama ini gue lewatkan. Sesuatu yang bisa menjelaskan segalanya."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Joe berdiri dan berjalan menuju kamar. "Gue tidur duluan," pamitnya singkat, meninggalkan Arthur yang masih sibuk mengotak-atik laptopnya dengan wajah penuh tanda tanya.
Keesokan harinya, pagi hari berlalu dengan olahraga rutin di ruang kebugaran pribadi milik Arthur. Mereka berkeringat dan melepaskan ketegangan tubuh seperti biasa. Sambil mengangkat beban, Arthur menoleh ke arah Joe.
"Makan siang nanti gimana?" tanyanya.
"Gimana menurut loe?" balas Joe santai.
"Mending kita makan di luar. Gue tahu satu tempat yang enak dan sepi," ajak Arthur. Joe setuju dengan anggukan.
Setelah selesai berolahraga, mereka mandi dan bersiap pergi. Mobil Joe melaju tenang menuju restoran yang dimaksud Arthur. Sesampainya di sana, mereka memarkir kendaraan dan berjalan masuk. Tanpa mereka sadari, tepat saat mereka melangkah masuk, seseorang baru saja melangkah keluar dari pintu yang berbeda. Itu Alex.
Alex berhenti sejenak di trotoar, menoleh ke arah pintu masuk tepat saat Joe dan Arthur menghilang di dalam. Ia mengerutkan kening. Siapa gerangan orang yang bersama Joe? batinnya bertanya-tanya. Wajah orang itu asing baginya — belum pernah dilihatnya di kampus maupun di mana pun. Rasa penasaran menguasainya, sehingga Alex memutuskan untuk menunggu di kejauhan sampai mereka keluar.
Di dalam restoran, Joe dan Arthur duduk berhadapan sambil menunggu pesanan datang. "Kira-kira kapan waktu yang tepat untuk kita masuk ke Loyalty Hotel?" tanya Arthur pelan.
Joe mengangkat bahu. "Harus saat keramaian paling tinggi. Saat semua orang sibuk, pengawasan biasanya lebih longgar. Kita cari waktu yang tepat."
Setelah selesai makan, mereka berdua berjalan keluar restoran dan segera masuk ke mobil untuk pulang. Alex yang melihat mereka berangkat pun cepat-cepat menyalakan mesin kendaraannya. Ia membuntuti mereka dari jarak yang cukup jauh, berhati-hati agar tidak dicurigai. Mobil Joe akhirnya berhenti di depan rumah Arthur. Alex sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh, di balik pepohonan, lalu diam-diam mencatat alamat itu di kepalanya. Setelah memastikan mereka sudah masuk, ia pun melaju pergi — bukan pulang, melainkan menuju rumah Billy.
Sesampainya di gerbang rumah Billy yang besar dan tertutup rapat, Alex dihentikan oleh penjaga. "Billy ada di dalam?" tanyanya singkat.
Penjaga itu mengangguk dan mengantar Alex berkeliling bangunan menuju halaman belakang. Di sana, di tepi kolam renang yang jernih, Billy sedang bersantai sendirian. Alex menyapa singkat, lalu melepas kemeja dan celana panjangnya, tinggal memakai celana pendek saja, lalu duduk di samping Billy.
"Tumben loe datang sendirian?" tanya Billy sambil tersenyum miring.
Alex menyandarkan punggungnya ke kursi panjang. "Gue baru saja membuntuti Joe. Dia pergi bersama seseorang yang belum pernah gue lihat sebelumnya."
"Teman sekelas kita?" tanya Billy lagi.
"Bukan," jawab Alex yakin. "Loe pasti belum pernah melihat orang itu juga. Wajahnya sama sekali asing."
Billy berkata dalam hati, mungkin saja itu orang yang dia cari untuk membantu tugas yang sudah gue minta. Siapa tahu dia butuh bantuan tambahan. Ia lalu memanggil pelayan yang ada di rumah itu dan memintanya membawakan minuman beralkohol. Tak lama, pelayan kembali dengan dua gelas kecil dan dua botol minuman alkohol berkualitas mahal.
Billy menuangkan minuman itu ke gelas Alex, lalu menuangkan untuk dirinya sendiri. Setelah meletakkan botolnya, ia menatap Alex dengan tatapan yang tiba-tiba lebih serius. "Kalau salah satu dari kita melakukan kesalahan yang fatal — apa yang harus dilakukan?"
Alex mengerutkan dahi. "Maksud loe?"
"Jawab saja," tegas Billy.
Alex terdiam sejenak, lalu menatap lurus ke arah Billy. "Kalau itu terjadi, siapa pun yang bersalah harus siap menerima konsekuensinya. Sesuai apa yang sudah diperbuatnya."
Billy tersenyum lebar, seakan sangat puas mendengar jawaban itu. Ia kembali menuangkan minuman ke gelas mereka berdua. "Bagus," ucapnya pelan.
Sementara itu, di rumah Rey, suasana terasa jauh lebih serius dan sibuk. Dodi sedang duduk di ruang kerjanya, menumpuk laporan-laporan di atas meja besarnya. Ia sedang memeriksa setiap petunjuk yang berkaitan dengan kematian Seto. Sejak pagi tadi, ia sudah menyuruh anak buahnya menyisir seluruh rumah Seto dan lingkungan sekitarnya. Di sampingnya, Rey duduk termenung, pikirannya melayang jauh — teringat wajah cantik Mama Billy yang ia lihat semalam di pesta besar.
Rey ingin sekali bertemu wanita itu lagi. Namun ia tahu betul betapa berisikonya hal itu, terutama jika Billy sampai mengetahuinya. Tetapi keinginannya semakin kuat. Ia berpikir keras mencari alasan yang tepat agar bisa pergi ke tempat yang sama tanpa dicurigai siapa pun.
Saat Rey melangkah melewati pintu ruang tamu, ia melihat ayahnya masih sibuk menandatangani berkas-berkas. "Ada masalah, Yah?" tanyanya pelan.
Dodi mendongak sebentar lalu menggeleng. "Tidak ada. Ayah hanya sedang mengatur jadwal pengiriman barang milik Mama Billy agar tidak ada kendala dari pihak berwajib."
Mata Rey berbinar karena sudah menemukan alasan tepat untuk menemui Mama Billy. Ia lalu berbicara dengan nada santai namun tegas, "Aku permisi keluar, Yah. Tidak usah hubungin karena aku kayaknya pulang telat."
Dodi hanya mengangguk tanpa menatapnya lebih lama. "Pergilah."
Rey pun segera bergegas keluar rumah dengan hati yang berdebar penuh harapan. Ia tidak memberi tahu siapa pun ke mana tujuannya.
Setelah Rey pergi, Dodi kembali menunduk membaca laporan yang baru saja masuk. Matanya menatap tajam pada baris kalimat yang menyatakan: Ditemukan jejak ban mobil serta keterangan warga yang melihat dua orang pemuda tidak dikenal berada di lokasi saat peristiwa terjadi. Dodi menutup berkas itu perlahan, lalu bergumam dalam hati dengan wajah yang penuh tanda tanya dan kekhawatiran.
Siapa sebenarnya dua orang pemuda itu?