Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030: Detak di Teras
Kevin langsung membalas pesan Bryan.
Kevin: Dari siapa Raymond dengar?
Balasan datang hampir secepat itu.
Bryan: Belum jelas. Bisa orang notaris, bisa koneksi klien, bisa orang Opa yang sengaja lempar info. Raymond suka mengambil sisa bau darah sebelum orang lain sadar ada luka.
Meilin membaca kalimat itu dari samping Kevin.
"Raymond itu siapa?" tanyanya.
Kevin menatap layar beberapa detik sebelum menjawab. "Garis luar keluarga Halim. Bukan dari jalur utama, tapi cukup dekat untuk menginginkan kursi. Cukup jauh untuk selalu merasa dihina."
Mama Zhu menutup cangkir teh dengan piring kecil. Wajahnya tidak terkejut, hanya makin lelah.
"Anak itu sejak kecil matanya tidak pernah tenang," katanya.
"Mama kenal?"
"Di rumah besar, semua orang mengenal anak-anak yang dipakai orang dewasa untuk bertanding." Mama Zhu memandang Kevin. "Kamu salah satunya. Raymond juga."
Kevin tidak membantah.
Dia menghubungi Hendry lewat pesan, meminta semua calon klien pilot ditandai ulang, semua komunikasi penawaran masuk disimpan, dan tidak ada file demo dikirim tanpa watermark. Hendry membalas singkat, mengerti.
Setelah itu, Kevin menaruh ponsel.
Makan siang yang tadi hangat terasa jauh.
Mama Zhu tidak bertanya lebih jauh di depan Meilin. Dia hanya berdiri dan mulai membereskan cangkir.
"Malam ini kalian menginap di sini," katanya.
Kevin membuka mulut.
"Jangan bilang tidak." Mama Zhu tidak menoleh. "Sudah jauh-jauh pulang, jangan langsung pergi hanya karena rumah besar itu membuat ribut dari jauh."
Kevin menutup mulutnya lagi.
Meilin membantu mencuci piring meski Mama Zhu berkali-kali menyuruhnya duduk. Akhirnya mereka berdiri berdampingan di dapur kecil. Air mengalir pelan. Dari ruang tamu, Kevin terdengar berbicara rendah lewat telepon dengan Hendry.
"Tante," kata Meilin pelan, "maaf. Seharusnya hari ini Kevin pulang dengan tenang."
Mama Zhu menggosok piring tanpa terburu-buru.
"Kalau menunggu hidup tenang baru pulang, mungkin anak itu tidak akan pernah pulang."
Meilin tidak punya jawaban.
"Kamu jangan minta maaf untuk ribut yang bukan kamu buat," lanjut Mama Zhu. "Kalau Kevin membawamu ke sini, berarti dia ingin kamu melihat tempat dia pernah aman. Itu bukan salahmu."
Air di mata Meilin naik lagi, tapi dia menahannya.
"Tante selalu tahu cara menenangkan dia?" tanya Meilin.
Mama Zhu tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak ringan.
"Tidak selalu. Kevin dari kecil terlalu pintar menyembunyikan takut. Kalau anak lain menangis, dia menghitung. Kalau anak lain minta dipeluk, dia duduk diam di teras sampai pagi."
Air dari keran menetes pelan.
"Duduk di teras?"
"Iya. Dulu kalau rumah ini terasa terlalu kecil untuk pikirannya, dia duduk di bangku depan. Tante kadang pura-pura tidak tahu, lalu taruh teh hangat dekat pintu." Mama Zhu menatap Meilin. "Kalau nanti malam dia tidak ada di kamar, jangan langsung panik. Cari di teras."
Meilin mengangguk. Pesan itu terasa seperti sesuatu yang lebih besar daripada petunjuk rumah.
Seperti Mama Zhu sedang menyerahkan satu bagian kecil dari cara menjaga Kevin.
Malam itu, Mama Zhu menyiapkan kamar depan untuk Meilin dan kamar lama untuk Kevin. Keputusannya begitu alami sampai tidak ada yang memperdebatkan. Meilin merasa wajahnya panas, Kevin batuk kecil, dan Mama Zhu hanya berkata, "Belum menikah, aturannya begitu."
Kevin mengangguk. "Iya, Ma."
Meilin hampir tertawa karena Kevin terlihat seperti anak SMA yang baru ditegur.
Namun tawa itu hilang saat lewat tengah malam dia terbangun dan melihat cahaya dari teras masih menyala.
Dia keluar pelan.
Kevin duduk di bangku panjang depan rumah, memakai kaus gelap, ponsel mati di sebelahnya. Di halaman, suara serangga kecil terdengar dari pot tanaman. Udara Jawa Tengah lebih lembap, membawa bau tanah dan sisa hujan.
"Ko?"
Kevin menoleh. "Kenapa bangun?"
"Haus."
"Air di meja dapur."
"Aku sudah minum."
Kevin tahu itu berarti dia tidak akan kembali ke kamar.
Meilin duduk di sampingnya. Mereka tidak langsung bicara. Dari dalam rumah, Mama Zhu mungkin sudah tidur. Untuk pertama kalinya sejak nama Raymond masuk, tidak ada pesan baru, tidak ada telepon, tidak ada orang yang menuntut jawaban.
Hanya mereka berdua.
"Aku minta maaf," kata Kevin.
"Untuk apa?"
"Kamu datang bertemu Mama, tapi yang kamu lihat justru semua retakan keluargaku."
"Aku juga melihat sup ayam, foto kecilmu, dan Mama Zhu yang melarangmu angkat mangkuk panas."
Kevin menatap halaman.
"Aku tidak suka mereka menyentuh YunMei karena namamu ada di sana."
"Aku tahu."
"Aku lebih tidak suka karena tubuhku bereaksi seperti dulu."
Meilin menoleh. "Seperti dulu?"
Kevin mengangkat tangan, lalu berhenti seolah menyesal sudah mulai. Meilin tidak memaksanya.
Beberapa detik kemudian, Kevin mengambil tangan Meilin dan meletakkannya di dada kirinya.
Di bawah telapak tangan Meilin, jantung Kevin berdetak keras.
Terlalu keras.
Bukan detak tenang pria yang selalu tahu harus melakukan apa. Bukan detak genius yang mengalahkan dashboard rusak dan membaca risiko kontrak. Ini detak seseorang yang sedang menahan takut agar tidak bocor lewat wajahnya.
Meilin membeku.
"Setiap kali mereka mendekat," kata Kevin pelan, "tubuhku mengira sesuatu akan diambil."
Meilin merasakan detak itu memukul telapak tangannya.
"Dulu Mama. Kadang Papa. Kadang rumah. Sekarang..." Kevin berhenti.
"Sekarang aku?" tanya Meilin.
Kevin tidak menjawab, dan justru karena itu Meilin tahu.
Udara malam terasa menekan dadanya. Semua hal yang pernah dia baca sebagai pembaca mendadak menjadi tidak penting. Di depannya bukan tokoh utama laki-laki yang kelak menjadi CEO besar. Di depannya ada Kevin, yang jantungnya berlari karena takut kehilangan perempuan yang baru belajar membuka pintu bersamanya.
Meilin menggeser tubuh dan memeluknya.
Kevin kaku sesaat, lalu kedua tangannya melingkari punggung Meilin dengan hati-hati, seolah kalau terlalu kuat dia akan mengakui terlalu banyak.
"Aku di sini," bisik Meilin.
"Aku tahu."
"Tubuhmu belum percaya?"
Kevin menghela napas di rambutnya. "Belum sepenuhnya."
Meilin memejamkan mata. Di telinganya, detak Kevin masih terdengar berat dan cepat. Aneh, tapi suara itu membuatnya yakin.
Dia tidak hanya menyukai Kevin karena kasihan.
Dia tidak hanya memilih Kevin karena ingin mengubah nasib novel.
Dia mencintai pria ini, termasuk bagian yang takut, marah, dan masih belajar bahwa seseorang bisa tinggal tanpa dipaksa.
"Aku cinta kamu," katanya.
Kevin tidak bergerak.
Lalu pelukannya mengerat sedikit.
"Aku juga," jawabnya, hampir hilang di udara malam.
Pagi berikutnya, mereka sarapan bubur ayam buatan Mama Zhu saat ponsel Kevin berbunyi.
Kali ini dari Hendry.
Kevin mengangkat dengan speaker mati, tapi wajahnya berubah sebelum panggilan selesai. Setelah menutup telepon, dia menatap Meilin.
"Calon klien pilot menunda demo."
"Karena Raymond?"
"Belum pasti." Suara Kevin dingin. "Tapi semalam ada orang dari Halim Group menawarkan sistem gratis dan bertanya apakah YunMei Tech punya masalah legal."
Sendok Meilin berhenti di atas mangkuk.
Mama Zhu menutup matanya sebentar.
Opa tidak mengetuk pintu rumah kecil itu.
Dia masuk lewat calon klien pertama YunMei.