Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 004
Gaun Pinjaman
"Ya. Itu masalah pertama kita."
Kalimat Tuan Misterius masih menempel di kepala Bunga sampai matahari Jakarta naik dengan panas yang tidak sopan. Masalah pertama mereka ternyata bukan Hartono, bukan socialite gathering, bukan cara menyusup ke lingkaran orang kaya.
Masalah pertama mereka adalah sendal jepit Bunga.
"Menurutmu, orang akan langsung mengusirku cuma karena sendal?" Bunga berdiri di depan kaca minimarket yang sama, menatap dirinya dari ujung rambut sampai kaki.
"Tidak langsung," jawab Tuan Misterius. "Mereka akan menilai dalam tiga detik pertama, lalu mengusir dengan cara yang sangat sopan."
"Sopan-sopan tetap aja ngusir."
"Benar."
Bunga mendecak. "Kamu ini kalau jadi motivator pasti bangkrut."
Tuan Misterius menyuruhnya naik ojek online ke sebuah kawasan dekat Blok M. Bunga tidak punya aplikasi, tidak punya ponsel, dan jelas tidak punya saldo. Akhirnya ia berjalan jauh, naik angkot dua kali, lalu menumpang di belakang motor seorang ibu penjual kue yang kasihan melihat perban di kepalanya.
"Ini bagian dari strategi elite juga?" tanya Bunga saat turun dengan lutut pegal.
"Ini bagian dari keterbatasan modal."
"Bahasanya diperhalus, ya. Namanya miskin, Tuan."
Tempat yang mereka tuju bukan butik mewah dengan pintu kaca besar, melainkan rumah dua lantai di gang rapi yang bagian depannya dipenuhi manekin. Dari luar, gaun-gaun itu tampak seperti mimpi yang digantung. Satin, tulle, payet, warna sampanye, biru tua, hitam, merah marun. Ada beberapa kebaya modern yang membuat Bunga langsung berdiri lebih tegak, seolah kain mahal bisa menampar punggungnya agar tidak membungkuk.
Seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam. "Cari apa, Mbak?"
Bunga hampir menjawab seadanya, tetapi Tuan Misterius lebih cepat.
"Katakan kamu asisten pribadi tamu acara amal. Butuh gaun malam untuk fitting mendadak. Jangan pakai gue."
Bunga menahan napas. "Saya cari gaun malam untuk acara amal. Mendadak, Bu. Bisa sewa harian?"
Pemilik rental menatap kaus lusuh dan perban di kepala Bunga. Tatapannya tidak jahat, tetapi penuh hitung-hitungan.
"Deposit?"
Bunga terdiam.
"Tawarkan kerja," bisik Tuan Misterius.
"Saya bisa bantu bersih-bersih, setrika uap, antar katalog, apa saja. Depositnya pakai kerja dulu. Gaunnya saya kembalikan besok malam. Kalau rusak, saya kerja sampai lunas."
Pemilik rental mengangkat alis. "Berani sekali."
"Takut juga, Bu. Tapi acara tetap jalan."
Perempuan itu menatapnya lebih lama, lalu tertawa kecil. "Masuk."
Dua jam berikutnya, Bunga belajar bahwa dunia gaun pinjaman lebih kejam daripada latihan silat. Ia diminta mencuci gelas, menyikat sol sepatu pesta, membawa tiga karung kain ke lantai atas, lalu berdiri diam saat pemilik rental mengukur pinggangnya.
"Terlalu kurus," komentar perempuan itu.
"Saya irit biaya hidup," jawab Bunga.
"Jangan bercanda kalau sedang diukur."
"Baik, Bu."
Tuan Misterius, tentu saja, punya komentar untuk semuanya.
"Punggung tegak. Jangan melihat kain seperti melihat gorengan gratis."
"Itu sulit."
"Jangan bicara keras."
"Aku bicara pelan."
"Untuk standar pasar, ya. Untuk acara mereka, belum."
Bunga menggigit bagian dalam pipinya. Kalau suara itu punya leher, mungkin sudah ia cubit.
Pemilik rental mengeluarkan gaun hitam sederhana dengan potongan leher tertutup dan pinggang pas. Tidak terlalu terbuka, tidak terlalu ramai, tetapi saat kainnya menyentuh kulit Bunga, ia tahu benda itu mahal. Bahannya jatuh mengikuti tubuh tanpa membuatnya terlihat seperti sedang meminjam kulit orang lain.
"Ini bekas pemotretan. Ada noda kecil di bagian dalam, tidak terlihat. Kamu boleh pakai kalau berani jaga."
Bunga menyentuh ujung kainnya dengan dua jari. "Saya jaga, Bu."
"Sepatu ukuran berapa?"
Bunga menatap sendal jepitnya. "Ukuran yang tidak bikin jatuh."
Pemilik rental akhirnya benar-benar tertawa.
Sore harinya, setelah mendapat gaun, sepatu, dan clutch kecil yang harus dikembalikan tanpa lecet, Bunga duduk di warung kopi murah di seberang jalan. Tuan Misterius memulai pelajaran kedua: cara makan tanpa mempermalukan diri.
Ia menggambar posisi garpu, pisau, sendok dessert, gelas air, dan gelas lain di atas tisu menggunakan bolpoin pinjaman.
"Garpu dari luar ke dalam," katanya.
Bunga menatap gambar itu. "Kenapa orang kaya butuh banyak garpu buat satu mulut?"
"Karena mereka mengubah kebutuhan menjadi tata krama."
"Berarti kalau gue makan pakai tangan, itu apa?"
"Kejujuran budaya. Tapi jangan lakukan di acara besok."
Bunga mengangkat garpu plastik dari piring mi goreng warung. "Begini?"
"Jangan menggenggam seperti memegang pisau dapur."
"Ini garpu plastik, Tuan. Kalau gue tekan terlalu lembut, patah."
"Tangan kiri menahan, kanan memotong."
"Kalau makanannya sudah kecil?"
"Tetap jangan menusuk semua sekaligus."
Bunga mencoba mengikuti. Potongan mi tergelincir dari garpu dan jatuh ke meja. Ia dan Tuan Misterius sama-sama diam.
"Kalau ada yang lihat," kata Bunga, "bilang saja ini teknik kontemporer."
"Tidak."
"Kamu kaku banget. Pantas hidupmu susah."
Begitu kalimat itu keluar, udara di dalam kepalanya berubah.
Bunga sedang mengangkat garpu ketika tiba-tiba dadanya terasa kosong. Bukan sedih biasa. Bukan lelah. Rasanya seperti lantai di bawah hidupnya hilang, seperti tubuhnya berdiri di tepi tempat tinggi dan ada dorongan dingin yang berkata, lompat saja, selesai saja, tidak ada yang akan kehilangan.
Garpu plastik jatuh.
Bunga mencengkeram tepi meja.
"Tuan?"
Tidak ada jawaban.
Rasa itu bukan miliknya. Bunga tahu kesedihannya sendiri. Kesedihannya panas, berisik, penuh dendam. Yang ini dingin, rapi, dalam, seperti sumur yang ditutup marmer.
Di seberang jalan, lantai dua rumah rental punya balkon kecil. Mata Bunga tertarik ke sana tanpa alasan. Kakinya seperti ingin berdiri.
"Hei." Bunga menekan lututnya dengan kedua tangan. "Jangan."
Hening.
Napasnya mulai pendek. Ia tidak tahu bagaimana menarik seseorang keluar dari tempat yang bahkan tidak bisa ia lihat. Maka ia melakukan satu-satunya hal yang diajarkan hidup padanya: membuat sakit yang nyata mengalahkan sakit yang tidak kelihatan.
Bunga menggigit punggung tangannya sendiri.
Keras.
Rasa nyeri meledak. Tuan Misterius tersentak di dalam kepalanya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Narik kamu balik, bodoh." Suara Bunga bergetar, tetapi ia memaksa marah. "Kamu mau mati? Mati nanti. Sekarang bantuin gue dulu. Gue belum jadi orang kaya, belum masuk acara, belum nampar Hartono pakai bukti. Jangan egois."
Tuan Misterius tidak menjawab.
Bunga menatap bekas giginya yang memerah. "Dengar, Tuan Misterius. Kalau kamu tenggelam lagi, bilang. Jangan diam-diam narik gue ke pinggir jurang."
"Maaf."
Satu kata itu keluar sangat pelan.
Terlalu pelan untuk laki-laki yang sejak semalam bicara seperti kamus berjalan.
Bunga menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. "Kamu sering begitu?"
"Cukup sering."
"Ada dokter?"
"Ada."
"Kamu nurut?"
Heningnya adalah jawaban.
Bunga mendengus, tetapi kali ini tidak mengejek. "Orang pintar memang kadang paling susah disuruh hidup."
Malamnya, di kamar sempit kos harian yang berhasil ia bayar dengan membantu pemilik rental sampai tutup, Bunga mencoba gaun hitam itu. Rambutnya ia ikat rendah. Perban di kepalanya ia tutup dengan jepit dan sedikit bedak pinjaman. Sepatu hak membuat betisnya tegang, tetapi ia tidak jatuh.
Di depan cermin retak, gadis yang biasa mencuri sisa makanan hotel berdiri dalam gaun yang membuat bahunya terlihat lebih tegas dan lehernya lebih jenjang. Kaus lusuh hilang. Sendal jepit hilang. Yang tersisa adalah mata tajam yang belum belajar takut pada lampu kristal.
Bunga menahan napas. "Gimana?"
Tuan Misterius diam terlalu lama.
"Kalau jelek, bilang aja. Gue sudah kebal."
"Lumayan," katanya akhirnya.
Nada suaranya tetap datar, tetapi ada sesuatu yang lebih lembut di sana. Sesuatu yang membuat Bunga memalingkan wajah dari cermin lebih cepat dari seharusnya.
"Pujianmu pelit," gerutunya.
"Pujian yang boros menurunkan nilai."
Bunga menatap pantulan dirinya lagi. Kali ini ia tersenyum sedikit.
"Besok," katanya, "kita naik kelas."