NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERUBAHAN (2)

Pertandingan pertama tim Nara berjalan cukup mudah. Lawan mereka merupakan tim yang baru mengikuti turnamen besar untuk pertama kalinya. Meskipun memiliki beberapa pemain cepat, koordinasi pertahanan mereka belum cukup baik untuk menghadapi serangan Nara.

Namun, sejak awal pertandingan, Nara bermain berbeda. Ia tidak berusaha mencetak semua poin sendiri. Ia lebih sering mengoper bola kepada pemain yang memiliki posisi lebih baik. Ketika lawan sengaja melakukan kontak keras, Nara tidak membalas. Ia hanya bangkit dan kembali mengambil posisi. Bak terbius ucapan Naya yang mengatakan bahwa gadis itu menyukai cara bermainnya yang tenang dan menikmati setiap irama pertandingan membuatnya merasakan sensasi bagaimana dulu dirinya jatuh cinta pada permainan basket.

Ekky beberapa kali memandangnya dengan kagum.

“Sejak kapan kamu sesabar ini?” tanyanya saat jeda.

Nara mengambil minuman. “Sejak aku sadar mendapat pelanggaran itu memalukan.”

Ekky melirik tribun kanan, tempat Naya duduk.

“Bukan karena ada seseorang yang spesial sedang menonton permainanmu?”

Nara menendang pelan sepatunya. “Fokuslah pada pertandingan kalau tidak mau rahasiamu dengan Kimi kubongkar kepada Naya sebelum Kimi sendiri yang menceritakannya pada sahabatnya itu.”

Ekky terkejut ternyata Nara sudah mengetahui hubungan spesialnya dengan Kimi, sahabat Naya. Namun ia justru lega bahwa secara tidak langsung Nara pun mendukung hubungan tersebut.

Tim mereka akhirnya menang dengan selisih dua puluh satu poin. Ketika peluit akhir berbunyi, para pendukung sekolah berdiri dan bersorak. Nara menerima ucapan selamat dari rekan-rekan satu tim, tetapi matanya langsung mencari Naya. Gadis itu berdiri di tribun sambil bertepuk tangan. Di sampingnya terdapat Reksa dan Dimas. Kali ini, Nara tidak merasa terganggu melihat mereka. Ia bahkan mengangkat tangan ke arah Reksa sebagai isyarat singkat.

Reksa membalas dengan anggukan tipis. Pertandingan pertama hanya permulaan. Mereka masih harus melewati babak berikutnya sebelum kemungkinan bertemu di semifinal. Namun, setidaknya Nara telah melewati ujian kecil hari itu. Ia tidak kehilangan kendali.

Setelah berganti pakaian, Nara keluar dari ruang ganti dan menemukan Naya menunggunya di lorong.

“Kakak bermain bagus,” kata Naya.

Nara menyandarkan bahu ke dinding. “Hanya bagus?”

“Sangat bagus.”

“Itu lebih baik.”

“Terutama karena Kakak tidak melakukan pelanggaran konyol.”

“Aku selalu bermain bersih.”

Naya mengangkat alis menunjukkan ketidakpercayaan. “Apakah Kak Nara lupa bahwa Kakak hampir menarik kerah Kak Reksa pada pertandingan terakhir?”

“Itu masa lalu.”

“Baru sebulan lalu.”

“Tetap saja sebulan yang lalu itu sudah menjadi masa lalu.”

Naya tersenyum kecil.

Nara memperhatikan gadis itu. Naya masih membawa syal merah gelap milik sekolah Reksa.

“Kau mendukung siapa sebenarnya?” tanya Nara.

“Dua-duanya.”

“Itu tidak adil.”

“Kak Reksa kakakku. Kakak juga…” Naya berhenti.

Nara menunggu dengan sabar. “Aku juga apa?” tanyanya penasaran.

Naya mengalihkan pandangan. “Kakak adalah senior di sekolahku.”

“Hanya itu?”

“Dan teman membaca.”

Nara menahan senyum. “Teman membaca?”

“Ya.”

“Aku berharap kedudukanku sedikit lebih tinggi daripada buku tiga ratus halaman.”

“Itu tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Hadiah yang tadi Kakak minta.”

Nara berdiri lebih tegak. “Kamu masih ingat?”

“Bukankah Kakak mengatakan akan memberitahukanku setelah menang?”

Nara menatap sekeliling lorong. Beberapa siswa masih berjalan melewati mereka, tetapi suasana tidak terlalu ramai. Ia mendekat satu langkah tanpa sadar jarak kedua tubuh mereka semakin mendekat. Deru napas keduanya semakin meningkat seolah lupa bahwa mereka berdua masih berada di tempat umum.

Naya langsung terlihat waspada, ia takut terbuai. Bagaimanapun ia tak menapik bahwa seniornya itu sungguhlah tampan dengan segala hal yang dimilikinya. “Kakak mau meminta apa?”

Nara tidak menjawab dengan segera. Sebenarnya, ia telah memikirkan banyak kemungkinan. Ia bisa meminta Naya menemaninya makan, datang ke latihan, atau memakai warna timnya saat semifinal nanti. Namun, semua permintaan itu tiba-tiba terasa tidak penting. Ada satu hal yang benar-benar ingin diketahui Nara.

“Jawab satu pertanyaanku dengan jujur,” katanya dengan tatapan lekat kearah Naya yang mengharuskannya mendongak karena perbedaan tinggi tubuh mereka.

Naya mengangguk perlahan. “Pertanyaan apa?”

“Waktu aku menghindarimu karena salah paham tentang Reksa, kamu bilang bahwa kamu peduli.”

Wajah Naya mulai memanas dan mulai salah tingkah. Nara melanjutkan sebelum gadis itu sempat mengalihkan pembicaraan seolah mengunci pergerakannya untuk tidak melarikan diri.

“Apa kamu peduli karena aku seniormu?”

Naya terdiam.

“Karena aku teman membaca?”

Naya masih tidak menjawab.

“Atau karena alasan lain?”

Suara di lorong seolah menghilang. Naya menunduk, memainkan ujung syal yang dibawanya.

“Kakak selalu meminta hadiah yang sulit,” gumamnya.

“Aku hanya meminta jawaban.”

“Bagaimana kalau aku belum tahu?”

Nara memperhatikan wajahnya. Ia bisa saja terus mendesak. Biasanya, Nara tidak menyukai jawaban yang menggantung. Namun, kali ini ia mengingat janjinya kepada Reksa. Menghormati Naya berarti memberi gadis itu waktu.

“Kalau belum tahu, tidak apa-apa,” katanya.

Naya mengangkat wajah, terlihat terkejut.

“Kakak tidak akan memaksa?”

“Tidak.”

“Kakak Nara yang kukenal pasti akan terus bertanya.”

“Mungkin kamu belum mengenalku sebaik yang kamu kira.”

Naya menatapnya cukup lama. Ada sesuatu dalam cara Nara menjawab yang membuat perasaannya semakin sulit disangkal. Lelaki itu benar-benar berubah. Bukan menjadi orang yang sepenuhnya berbeda, tetapi menjadi versi dirinya yang lebih baik. Naya menarik napas panjang

“Aku belum tahu bagaimana menjelaskannya,” katanya pelan. “Tapi aku tahu aku tidak suka saat Kakak menghindariku.”

Nara tidak bergerak.

“Aku juga tanpa sadar menunggu Kakak datang ke perpustakaan,” lanjut Naya. “Aku menyimpan jadwal pertandingan Kakak. Dan tadi, aku sengaja memberitahu tempat dudukku karena…”

“Karena apa?”

Naya mengembuskan napas. “Karena aku ingin Kakak melihatku.”

Kalimat itu membuat senyum Nara perlahan muncul. Bukan senyum sombong yang biasa ia tunjukkan setelah mencetak poin. Senyum itu lebih tenang, seolah ia baru menerima sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kemenangan.

“Jawaban itu cukup,” katanya sambil mengacak-acak rambut Naya.

“Jangan terlalu senang.”

“Sudah terlambat.”

“Aku belum mengatakan menyukai Kakak.”

“Belum.”

“Dan mungkin tidak akan.”

“Kita lihat saja.”

Naya memutar mata, tetapi tidak mampu menyembunyikan senyumnya. Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari ujung lorong. Reksa berdiri bersama Dimas. Wajah Naya langsung memerah.

“Kak Reksa! Kak Dimas!”

“Aku tidak sengaja mendengar lho,” kata Reksa.

“Sejak kapan Kakak berdiri di sana?”

“Cukup lama untuk mengetahui bahwa seseorang ingin dilihat oleh seseorang. Ngomong-ngomong anak muda, apakah posisi kalian berdua itu tidak terlalu intim ya? Apa kalian lupa masih ada aku yang harus kalian hormati?”

Naya menutup wajah dengan kedua tangan. Dimas tertawa melihat sepupunya itu salah tingkah. Nara justru berdiri santai.

“Kau menguping?” tanyanya kepada Reksa.

“Aku sedang mencari adikku.”

“Kau bisa menunggu di tempat lain.”

“Gedung ini milik umum.”

Reksa berjalan mendekati mereka. Tatapannya beralih kepada Nara.

“Pertandinganmu lumayan.”

“Lumayan?” Nara mengangkat alis kirinya tampak tak terima.

“Kau tidak kehilangan kendali. Itu kemajuan.”

Nara mendengus. “Aku bahkan mencetak poin terbanyak.”

“Aku tidak bertanya.”

“Kak Reksa,” tegur Naya. “Setidaknya beri selamat dengan benar.”

Reksa menatap adiknya, kemudian kembali menatap Nara. “Selamat.”

Nada suaranya masih terdengar enggan, tetapi Nara menerima uluran tangannya. Untuk pertama kalinya, mereka berjabat tangan tanpa saling berusaha meremukkan jari satu sama lain.

“Semifinal,” kata Reksa. “Pastikan timmu sampai ke sana.”

Nara menatapnya dengan penuh keyakinan. “Kau juga.”

Dimas yang berdiri di belakang mereka mengangkat tangan. “Jadi, sepertinya aku perlu memperkenalkan diri secara resmi agar tidak disalahpahami lagi.”

Nara menatapnya datar. “Tidak perlu.”

Dimas tertawa dan menyodorkan tangan kanannya kearah Nara. “Aku Dimas. Sepupu Naya.”

“Aku sudah tahu.” Nara pun menyambut tangan Dimas.

“Dari ekspresimu tadi, sepertinya kau baru mengetahuinya.”

Naya kembali tertawa. Nara mengembuskan napas, menyadari bahwa kisah salah paham itu mungkin akan terus menjadi bahan ejekan untuk waktu yang lama. Namun, kali ini ia tidak terlalu keberatan. Setidaknya, ia tidak lagi memilih pergi tanpa bertanya. Sedangkan Ekky, jangan ditanya, sahabatnya itu sudah pergi menghilang untuk mendukung gadisnya bertanding melawan SMA Putri Cendikia.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!