NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah yang menunggu

Tok...

Tok...

Tok...

Suara ketukan itu menggema pelan di teras rumah. Beberapa detik berlalu. Lalu terdengar suara sandal yang diseret perlahan dari dalam rumah. Bima menahan napas. Jantungnya berdetak begitu keras hingga seolah dapat didengar semua orang. Pintu rumah terbuka sedikit.

Seorang laki-laki tua muncul di baliknya.

Rambutnya telah memutih seluruhnya.

Tubuhnya sedikit membungkuk.

Keriput memenuhi wajahnya.

Tangannya bertumpu pada sebuah tongkat kayu.

Matanya yang mulai redup memandang tamu-tamu di depan rumah dengan penuh tanda tanya.

"Ya...?"

Ayah Arga menganggukkan kepala dengan sopan.

"Assalamualaikum, Pak."

"Waalaikumsalam."

"Ada yang bisa saya bantu?"

Belum sempat Ayah menjawab...

Bima melangkah satu langkah ke depan.

Tangannya gemetar.

Tatapannya tidak lepas dari wajah lelaki tua itu.

Wajah yang sangat dikenalnya.

Meski kini dipenuhi keriput.

Meski rambut hitamnya telah berganti putih.

Meski tubuh yang dulu tegap kini mulai rapuh.

Namun..

Sorot mata itu...

Tidak pernah berubah.

Bibir Bima bergetar.

"...Yah?" Suara itu begitu lirih. Hampir tak terdengar.

Lelaki tua itu mengernyit. Ia menatap Bima lebih lama. Lalu menggeleng pelan.

"Maaf..."

"Kita pernah bertemu?"

Bima merasakan dadanya sesak. Tentu saja. Bagaimana mungkin ayahnya mengenali wajah seorang anak yang seharusnya kini telah berusia lebih dari lima puluh tahun...

Sementara yang berdiri di hadapannya masih seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun.

Air mata mulai menggenang.

"Yah...ini aku. Bima."

Lelaki tua itu terdiam. Tatapannya berubah.

Nama itu...

Sudah puluhan tahun tidak ia dengar.

"Bima...?" gumamnya pelan. Matanya menyipit. Ia memperhatikan wajah pemuda di depannya.

Bentuk alisnya.

Tatapan matanya.

Lesung pipi yang samar ketika bibirnya bergetar.

Semakin lama...

Tubuh lelaki tua itu mulai gemetar.

"Tidak..." bisiknya.

"Itu tidak mungkin..."

Bima mengangguk pelan. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

"Yah..."

"Aku pulang."

Tongkat yang dipegang lelaki tua itu terlepas.

Jatuh ke lantai teras.

Tok...

Tubuhnya ikut bergetar hebat.

"Bima...?" Suara itu kini terdengar pecah.

"Bima..."

"...anakku?"

Bima tak mampu lagi menjawab. Ia hanya mengangguk berulang kali. Lelaki tua itu melangkah tertatih.

Semakin dekat.

Tangannya yang penuh keriput perlahan menyentuh pipi Bima.

Hangat.

Nyata.

Bukan mimpi.

Bukan bayangan.

Air mata mulai mengalir deras di wajahnya.

"Ya Allah..."

"Ya Allah..."

Beliau berulang kali mengucapkan kalimat itu. Seolah tak sanggup mempercayai apa yang sedang dilihatnya.

"Dulu..."

"...wajahmu seperti ini."

bisiknya.

"Kenapa..."

"...kenapa tidak berubah?"

Bima hanya menangis. Tak ada satu pun kata yang mampu menjelaskan semuanya.

Tiga puluh tahun.

Bagi dirinya...

Hanya terasa beberapa hari.

Namun bagi ayahnya...

Adalah penantian sepanjang separuh hidup.

Tanpa mampu menahan diri lagi...

Lelaki tua itu memeluk anaknya.

Pelukan itu begitu erat.

Meski tenaganya tak lagi sekuat dulu.

Bima membalas pelukan itu sambil terisak.

"Maaf, Yah..."

"Maaf..."

"Aku pulang terlambat..."

Tangis lelaki tua itu pecah.

"Tidak..."

"Tidak..."

"Yang penting..."

"...kamu pulang."

Di belakang mereka...

Ibu Arga menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya ikut mengalir. Arga menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak menyaksikan pertemuan itu. Ayah hanya mengusap pelan sudut matanya.

Beliau sengaja memalingkan wajah agar Bima tidak melihat matanya yang mulai basah. Beberapa warga sekitar mulai keluar rumah. Mereka heran melihat seorang kakek menangis sambil memeluk pemuda yang tak mereka kenal.

Namun bagi Hendra Kusumah...

Tidak ada lagi yang penting.

Anak yang selama tiga puluh tahun setiap malam selalu ia doakan...

Yang setiap hari ia tunggu kepulangannya...

Yang bahkan makamnya pun tak pernah ada...

Kini benar-benar berdiri di hadapannya.

Masih hidup.

Masih memanggilnya...

dengan satu kata yang paling ia rindukan.

"Yah..."

Dan untuk pertama kalinya setelah tiga puluh tahun penantian...

Seorang ayah akhirnya dapat memeluk kembali anaknya.

Pelukan itu berlangsung lama. Tidak ada yang berusaha memisahkan. Tidak ada yang sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Yang terdengar hanyalah isak tangis seorang ayah dan anak yang akhirnya dipertemukan kembali setelah penantian yang terasa mustahil. Beberapa menit kemudian, Pak Hendra perlahan melepaskan pelukannya. Kedua tangannya masih memegang bahu Bima, seolah takut jika anak yang berdiri di hadapannya akan kembali menghilang.

Beliau mengusap wajah Bima berkali-kali.

"Ya Allah..."

"Benar kamu..."

"Benar-benar kamu..."

Bima mengangguk sambil tersenyum di balik air mata.

"Iya, Yah."

"Aku pulang."

Pak Hendra kembali menangis. Beliau lalu menoleh kepada Ayah Arga.

"Silakan..."

"Silakan masuk."

"Maaf..."

"Saya sampai lupa mempersilakan."

Ayah Arga mengangguk sopan.

"Terima kasih, Pak."

Mereka pun masuk ke ruang tamu. Rumah itu jauh berbeda dari yang diingat Bima. Dindingnya sudah direnovasi. Lantai semen telah berganti keramik. Perabotan juga tampak lebih modern. Namun ada satu benda yang membuat langkahnya terhenti. Sebuah foto keluarga berukuran besar tergantung di dinding. Bima mendekatinya perlahan. Di dalam foto itu tampak Pak Hendra yang masih jauh lebih muda. Di sampingnya berdiri seorang perempuan yang langsung dikenali Bima.

"Ibu..." bisiknya lirih.

Tangannya terangkat, menyentuh bingkai foto itu. Senyumnya masih sama. Tatapan matanya masih sehangat yang ia ingat.

Namun...

Di sudut bingkai foto itu terdapat pita hitam kecil. Tubuh Bima seketika melemas. Ia menoleh perlahan kepada ayahnya. Pak Hendra menundukkan kepala.

"Ibumu..."

"...sudah berpulang." Suara itu begitu pelan.

Seolah setiap katanya ikut membawa luka yang belum pernah benar-benar sembuh. Bima terdiam. Air matanya kembali mengalir.

"Kapan...?" tanyanya dengan suara serak.

"Delapan tahun yang lalu."

Pak Hendra mengusap matanya.

"Ibumu sakit."

"Jantungnya semakin lemah."

"Sejak kamu hilang..."

"..beliau tidak pernah benar-benar berhenti menunggu."

Ruangan kembali sunyi. Pak Hendra memandang foto istrinya.

"Hampir setiap sore..."

"Beliau duduk di teras."

"Kalau ada suara motor berhenti..."

"...selalu berharap itu kamu."

"Kalau ada orang mengetuk pintu..."

"...beliau selalu bergegas membukanya."

Bima menutup wajahnya. Dadanya terasa sesak.

"Maaf, Bu..." bisiknya.

"Maaf..."

Pak Hendra menggeleng pelan.

"Jangan menyalahkan dirimu."

"Ibumu tidak pernah menyalahkanmu."

"Beliau selalu bilang..."

"'Anakku pasti sedang berjuang pulang.'"

Kalimat itu membuat tangis Bima pecah. Ia tak lagi mampu menahannya. Arga yang duduk di sampingnya hanya menundukkan kepala. Matanya ikut berkaca-kaca. Tak ada seorang pun yang sanggup menghibur kehilangan yang baru saja diketahui Bima.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu pagar dibuka dari luar.

"Ayah..."

"Saya pulang."

Suara seorang perempuan terdengar dari halaman. Pak Hendra mengangkat kepala.

"Itu Maya."

Jantung Bima kembali berdegup kencang.

Adik kecil yang dulu selalu menangis saat ia pergi mendaki...

Kini tentu telah menjadi wanita dewasa.

Tak lama kemudian, seorang perempuan berhijab memasuki rumah sambil membawa tas belanja.

Usianya sekitar empat puluh tahunan.

Begitu melihat ada tamu, ia tersenyum sopan.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." jawab semua yang ada di ruang tamu.

Maya meletakkan tasnya.

"Yah, ada tamu ya?"

Pak Hendra berdiri perlahan. Tatapannya berpindah kepada putrinya.

"Maya..."

"Sini dulu."

Maya mendekat dengan wajah penuh tanda tanya.

"Iya, yah?"

Pak Hendra menoleh kepada Bima. Suara beliau kembali bergetar.

"Coba..."

"...lihat baik-baik."

Maya mengalihkan pandangannya kepada Bima. Awalnya biasa saja.

Namun semakin lama ia memperhatikan...

Wajahnya perlahan berubah.

Tatapannya berpindah dari mata...

Ke alis...

Lalu ke senyum yang berusaha ditahan.

Entah mengapa...

Ada sesuatu yang terasa sangat akrab.

"Saya..."

"...seperti pernah melihat Mas." gumamnya pelan.

Pak Hendra mengangguk.

"Iya."

"Karena memang..."

"...kamu pernah melihatnya."

Maya mengernyit.

"Siapa, yah?"

Pak Hendra menarik napas panjang. Lalu dengan suara yang dipenuhi haru, beliau berkata,

"Ini..."

"...Bima."

Seketika kantong belanja di tangan Maya terlepas dan jatuh ke lantai. Matanya membelalak. Bibirnya bergetar. Ia memandang pemuda di hadapannya tanpa berkedip.

"Mas..."

"...Bima?" Ia menggeleng pelan.

"Tidak..."

"Itu tidak mungkin..."

Namun ketika Bima tersenyum sambil menahan air mata, lalu berkata,

"Maya..."

"Maaf..."

"...Mas baru bisa pulang."

Tangis Maya langsung pecah. Ia berlari memeluk kakaknya tanpa memedulikan apa pun lagi.

"Mas..."

"Mas Bima..."

"Mas benar-benar pulang..."

Tangis dua bersaudara itu kembali memenuhi rumah sederhana di sudut Kota Bandung.

Dan di luar rumah...

Langit sore yang mulai menguning seolah ikut menjadi saksi bahwa penantian yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun...

Akhirnya benar-benar berakhir.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!